
"Aku kemari mau mengantarkan Melati ke kampus." Ilham tersenyum tipis pada Melati yang menunduk duduk di sebelah Ardhi. Kemudian pria itu mengalihkan pandangannya kepada Ardhi dengan wajah masam. Ardhi tidak mau menoleh ke arah Ilham. Dia bisa naik pitam, bila melihat pria itu. Rasa sakit dihajar oleh pria itu masih sangat terasa. Semalam Ardhi bukannya tak bisa melawan Ilham. Dia membiarkan dirinya dihajar pria itu, sebagai bentuk hukuman untuknya, karena telah melakukan kesalahan yang fatal kepada Melati.
Tapi, jikalau pagi ini. Ilham masih ikut campur dalam urusannya dia tidak akan tinggal diam. Tekadnya sudah bulat untuk menikah dengan Melati.
"Oohh begitu, tapi Dek Melati masih ada urusan penting dengan Pak Ardhi, Dek Ilham." Ujar Tara, langsung bersikap tegas. Dia tidak mau Ilham melangkah terlalu jauh dalam masalah ini. Padahal sudah jelas, yang dilakukannya akan sia-sia.
"Dek Melati, setengah jam lagi kamu ujian loh?!" Ilham mengabaikan ucapan Tara. Dia malah mendesak Melati agar pergi ke kampus.
"Saya yang akan mengantarnya ke kampus." Jawab Ardhi tegas. Dia harus menunjukkan posisinya saat ini. Dia akan jadi suaminya Melati.
Ilham terdiam, bukan saatnya lagi bersitegang. Diamnya Melati, sudah sebagai jawaban. Wanita itu tidak membutuhkannya lagi. Tentulah Melati memilih Ardhi pria kaya.
Mendapati kenyataan bahwa dia tidak akan bisa bersama Melati. Membuat hatinya Sakit, sangat sakit. Ilham memberikan hati dengan sepenuhnya, namun yang didapat hanyalah goresan luka. Wanita itu tidak memilihnya.
Tanpa banyak bicara lagi. Ilham memundurkan langkahnya. Dia harus cepat sadar diri. Sebelum dirinya malu sendiri.
Melati melirik Ilham dengan ekor matanya yang berjalan lemah keluar dari rumah itu. Melati sedih dan sangat merasa bersalah. Dia pun bangkit dari duduknya. Berlari dengan derai air mata yang jatuh membasahi pipinya, menghampiri Ilham yang sudah berada di atas motornya.
"Bang Ilham...!" Ilham mematikan mesin motor nya. Menoleh ke arah Melati yang berjalan sambil mengusap air matanya.
Melati sangat mencintai Ilham. Dia mencintai pria itu sejak dirinya tahu apa itu namanya naksir pada lawan jenis. Saat SMA, ia tidak menyangka, bahwa Abang kelas nya itu juga menyukainya. Dua manusia yang saling mencintai harus berpisah, karena keadaan yang memaksa.
"Maafkan Adek!" ucapnya menunduk dengan suara parau menyayat hati. Ilham turun dari motornya. Memperhatikan lekat Melati yang masih menunduk.
__ADS_1
"Semoga kamu bahagia Dek. Pilihanmu memang tepat. Dia pria kaya, pengusaha sukses. Kamu pasti senang nantinya. Tidak seperti Abang, yang tidak punya apa-apa." Ucap Ilham dengan mata berkaca-kaca.
Melati semakin tersakiti mendengar ucapan Ilham. Pria itu seolah menuduhnya memilih Ardhi karena hartanya.
"Kalau kamu butuh bantuan dari Abang kelak. Jangan sungkan, Abang akan membantumu. Semoga kamu bahagia." Ilham Menepuk pelan bahu Melati. Pria itu pun langsung tancap gas dari rumah itu. Melati menangis tersedu-sedu, menatap kepergian Ilham.
Tara, Embun dan Ardhi menyaksikan perpisahan kedua insan itu dari beranda rumah dengan ekspresi wajah sedih. Ketiga manusia itu, bisa merasakan apa yang dirasakan Melati saat ini. Karena, ketiga manusia itu, juga pernah pada posisi Melati.
"Sana ajak Melati masuk pak Ardhi?!" titah Tara pada Ardhi yang masih terbengong-bengong. Dia merasa sangat bersalah, karena kecerobohannya meminum minuman keras itu, membuat Melati berpisah dari Ilham.
"Ooh i-ya." Jawabnya gugup, berjalan menghampiri Melati.
"Saya akan antar kamu ke kampus." Ardhi jadi bingung harus bertutur sapa apa kepada Melati. Jadilah dia memanggil Melati dengan sebutan 'kamu'.
Melati mengekori Ardhi ke dalam rumahnya Tara. Ardhi berpamitan pada Tara dan Embun. Begitu juga dengan Melati. Wanita itu pun meraih tas selempangnya yang tergeletak di sofa tempat dia duduk tadi.
"Saya perlu bicara dengan orang tuamu. Dan saya juga perlu alamatmu di kampung." Ucapan Ardhi membuat melati terlonjak kaget. Dia yang dari tadi melihat ke luar jendela, akhirnya menoleh ke arah Ardhi. Mereka sedang diperjalanan menuju kampusnya Melati. Saat ini mobil Ardhi dikendarai supir.
"Un--tuk, untuk apa tuan?" ucapnya tergagap. Dia tidak mau orang tuanya di kampung mengetahui keadaan yang hamil.
"Kita akan menikah. Jadi saya perlu izin pada orang tuamu. Menanyakan bagaimana maunya orang tua di kampung." Lagi-lagi Melati tersentak mendengar ucapan Ardhi. Benarkah pria itu serius mengajaknya menikah.
Melati sempat mengira. Ardhi hanya menikahinya siri saja. Karena tidak mungkin orang sesukses Ardhi mau menikah dengan gadis biasa sepertinya.
__ADS_1
"Koq malah bengong? Mana nomornya, biar saya hubungi?" Ardhi sudah memegang ponsel, siap untuk menghubungi orang tuanya Melati.
"Oohh iya tuan, sebentar." Melati pun mengambil note nya, dia ingin memastikan no ponsel yang diberikannya pada Ardhi adalah benar. Walau sebenarnya dia hapal no ponsel orang tuanya.
"Ini tuan." Menyodorkan catatan nomor telpon orang tua nya Melati, serta alamat orang tuanya di kampung.
"Ehhhmmmm.... Bagusnya saya yang bicara langsung pada orang tuamu di kampung. Atau kamu duluan yang bicara?" Ardhi merasa takut juga, untuk bicara dengan orang tuanya Melati. Dia takut salah ucap.
"Aku gak tahu." Jawab Melati lemah. Dia langsung memalingkan wajahnya ke luar jendela. Dia juga merasa tidak sanggup bicara dengan orang tuanya di kampung. Pasti orang tuanya akan mencercanya dengan banyak pertanyaan. Dia ke kota mau mencari kerjaan, sekaligus kuliah bukan mau menikah.
"Eehhmmmm ribet juga ya? pak Tara kasih waktu seminggu, untuk menyiapkan semua. Dan itu tidak mungkin bisa selesai dalam waktu seminggu." Ucap Ardhi dengan menghela napas berat. Pria itu melirik Melati yang masih setia menatap ke luar jendela mobil. Wanita itu tidak tahu harus bicara apa. Jadilah dia memilih untuk diam.
Dia juga merasa kasihan melihat Ardhi saat ini. Lebam di bawah mata, serta luka di sudut bibirnya masih terlihat jelas. Tapi, pria itu seolah tidak merasakannya.
"Jam berapa kamu pulang, nanti saya jemput." Ujar Ardhi, Melati pun tidak jadi menekan handle pintu. Dan wanita itu menoleh kepada Ardhi yang juga menatapnya.
"Jam dua siang tuan. Saya bisa pulang sendiri. Tidak usah dijemput." Ucapnya sopan. Membuka pintu mobil dengan pelan. Melati merasa tertekan selama diperjalanan. Dia masih takut pada Ardhi. Dan mereka berada dalam mobil yang sama.
"Saya jemput kamu jam dua di sini. Jaga diri baik-baik. Ada anak saya dalam tubuhmu." Nyut..... Ucapan Ardhi membuat Melati sedih. Dia jadi teringat kejadian malam kelam itu.
Melati tidak menjawab ucapan Ardhi. Dia melangkah cepat masuk ke gedung kampusnya.
TBC
__ADS_1
Like, coment positif dan vote ya say❤️🙏🤧