
"Melati... Melati... Bangun Nang..!" Suara Ibu Khadijah terdengar samar di pendengaran Melati.
"Melati... Waktu subuh sudah mau habis Nang.!" Akhirnya Melati bangun sepenuhnya. Dia pun membuka matanya dengan terlonjak kaget. Karena saat ini mendapati dirinya sedang memeluk Ardhi dan wajahnya masih terbenam di dada bidangnya sang suami.
Melati yang terkejut itu, langsung menjauh dari tubuh sang suami. Dia langsung berhambur dari ranjang itu, dengan jurus lompat jauh. Melati tidak mau kalau Ardhi mengetahui dirinya yang memeluk sang suami saat tidur. Sebelum sang suami benar-benar sadar sepenuhnya, karena Ardhi memang sudah bangun. Dia harus pergi dari kamar itu.
"Kakak kenapa?" tanya adiknya Melati yang bernama Asrul. Dia heran dengan sang kakak yang terlihat seperti ketakutan. Mereka berpapasan di ruang tamu. Saat itu sang adik ingin ke dapur. Begitu juga dengan Melati.
"Gak apa-apa, kakak kebelet." Melati memang sesak pipis. Dia pun tersenyum pada sang ibu yang sedang mengukur kelapa di dapur. Keluar dari pintu dapur menuju kamar mandi umum
Dia sekalian aja sholat subuh di Mesjid itu.
Sedangkan Ardhi dibuat jantungan di atas ranjang itu. Melati yang takut kepergok itu main loncat saja. Kalau jatuh dan membahayakan dirinya dan jabang bayinya gimana? Sebenarnya Ardhi sudah bangun, saat Ibu Khadijah datang ke rumah itu. Setelah selesai sholat shubuh di Mesjid. Tapi, dia tetap saja di atas ranjang itu, karena Melati yang terus saja mengkekepnya.
Ardhi pun akhirnya keluar dari kamar itu, membawa perlengkapan mandinya.
"Selamat pagi Ibu Mertua cantik!" Goda Ardhi pada ibu Khadijah, dia sedang melintas di depan sang ibu mertua. Mau ke kamar mandi umum.
"Selamat pagi bere ganteng." Ibu Khadijah tertawa saat mengatakan itu. Dia merasa Ardhi itu sangat lucu dan ramah sekali.
"Maaf ya Nantulang. Telat bangun."
"Gak apa-apa dimaklumi. Sana mandi " Ibu Khadijah menggerakkan tangannya memberi kode pada Ardhi agar cepat mandi. Dengan tersenyum tipis Ardhi pun berjalan ke arah kamar mandi umum. Hal seperti ini bukan hal yang sulit buat Ardhi. Dia sudah sering mandi di kamar mandi umum atau di sungai.
***
Ardhi sudah selesai mandi. Saat dia masuk ke rumah itu melalui pintu dapur. Ternyata Melati sedang di dapur itu, wanita itu sedang asyik memasak sendirian. Tidak menyadari kedatangan Ardhi.
"Mana Ibu Dek?" Melati terlonjak kaget, mendengar suara Ardhi. Dia sampai memegangi dadanya yang jantungnya hampir copot itu.
"Pergi ke sawah sebentar Mas." Jawabnya, tak berani menoleh ke arah Ardhi yang duduk di kursi kayu meja makan.
"Baru juga tengah tujuh sudah ke sawah."
"Iya Mas, betulin jaring katanya. Semalam ada orang yang rusakin." Ucap Melati tersenyum tipis. Siapa lagi pelakunya kalau bukan mereka.
__ADS_1
"Bagusnya orang yang rusakin itu diapain ya?" Ardhi kini sudah berada di belakang Melati. Memperhatikan gulai ikan yang dimasak sang istri.
"Gak tahu Mas." Jawabnya malas. Dia sedang tak ingin bercanda. Ardhi yang berada di belakangnya juga membuat Melati tak nyaman. Setiap suaminya itu mengeluarkan suara. Bulu romanya meremang.
Melati merasa mual, mungkin karena mencium masakannya sendiri. Melati mematikan kompor, berlalu melewati sang suami ke belakang dan muntah-muntah. Ardhi dengan paniknya menyusul sang isteri. Dia memijat tengkuk Melati, membantu istrinya itu untuk mengeluarkan muntahannya.
"Sabar ya? setelah sampai di kota Medan. Kita periksa kandungan adek ke Dokter obgyn yang paling bagus." Masih mengusap-usap tengkuk dan punggung sang istri. Melati hanya mengangguk lemah. Tidak bertenaga lagi untuk bicara banyak.
"Mas gendong!"
"Gak usah Mas. Addk bisa jalan kok." Jawabnya, melepas genggaman tangan sang suami.
"Kalau masih mual kenapa tadi masih masak?"
"Tadi gak mual Mas. Ini mm mulanya mendadak."
Melati menyiapkan piring serta peralatan untuk makan. Karena adik-adiknya mau berangkat ke sekolah.
"Pagi ini kita harus pulang ke kota Medan. Kondisi adek harus cepat diperiksa. Jadi, adek jangan marah. Kalau kita gak jadi ke rumahnya Ilham."
Melati yang menghentikan kegiatannya menyendok gulai ikan yang dimasaknya ke wadah yang sudah disiapkannya. Dia terkejut mendengar ucapan Ardhi. Mereka cepat sekali pulangnya. Padahal janjinya dua hari di kampung.
***
Setelah selesai sarapan. Melatipun bersiap-siap di kamarnya, sedangkan Ardhi duduk santai di teras rumah. Sambil membaca pesan dari Rudi.
Pagi ini dia dapat tiga berita buruk. Satu mengenai Ibu Jerniati yang masuk rumah sakit tadi malam. Dua mengenai video syurnya akhirnya kena proses hukum dan ketiga sahamnya anjlok.
Hhuuffftt..
Ardhi menarik napas panjang. Semoga dia bisa melewati masalah ini. Semua masalah datang beruntun. Satu pun belum ada yang tuntas. Semoga semuanya selesai dalam waktu bersamaan.
Saat sibuk berbicara dengan Rudi. Pak Samsul dan Ibu Khadijah pulang dari sawah. Saat itu juga Ardhi minta izin untuk pulang. Dan dalam waktu dekat akan datang lagi bersama Melati.
Awalnya Pak Samsul tidak mengizinkan mereka pulang. Ardhi pun menjelaskan tentang keadaan sang ibu dan juga banyaknya pekerjaan. Akhirnya Pak Samsul memberi izin untuk mereka pulang.
__ADS_1
Ardhi dan Melati pun pulang ke kita Medan, melalui jalur darat. Tadinya Ardhi ingin main jet pribadi. Tapi, landasan tak memungkinkan di daerahnya Melati. Ardhi lagi memburu waktu. Dia harus cepat sampai ke kota Medan. Memastikan keadaan sang ibu dan menyelesaikan masalah hukumnya terkait kasus video syur.
Sepanjang perjalanan keduanya lebih banyak diam. Ardhi yang lagi banyak pikiran itu, tak henti-hentinya bertelepon. Entah siapa saja yang dihubungi pria itu. Yang membuat Melati memilih untuk tidur. Setelah meminum obat anti mual.
Tak terasa delapan jam perjalanan pun ditempuh. Kini mereka sudah sampai di depan sebuah rumah minimalis.
"Dek, Dek, bangun!" Ardhi mengelus lembut lengan sang istri yang tertidur dengan pulasnya. Tapi, usahanya untuk membangunkan Melati tak berhasil juga.
"Dek, kita sudah sampai di rumah." Ucapnya, kini pria itu mengelus lembut pipinya putihnya Melati. Tapi, istrinya itu tak bangun juga.
Akhirnya Ardhi membopong tubuh sang isteri untuk masuk ke dalam rumah yang diinginkan oleh Melati. Rumah yang sangat sederhana sekali. Membaringkan sang istri di ranjang. Dan menyelimutinya. Semua perlakuan Ardhi, tetap tak mengusik tidur nyenyak Melati. Seperti nya wanita itu begitu kelelahan dan kekurangan waktu istirahat. Maklumlah, tadi malam mereka baru bisa tidur setelah pukul dua dini hari.
Ardhi tersenyum penuh kebahagiaan memandangi wajahnya Melati yang cantik saat tidur itu. Naluri kejantanannya menariknya untuk mengecup kening dan bibir sang istri. Dia pun mencuri satu kecupan secara ekspres. Rasanya begitu mendebarkan. Dia takut kepergok, saat mencuri ciuman itu.
Ardhi juga melepas hijab sang istri. Karena menurutnya hijab istrinya itu sudah berantakan. Dan malah akan menggangu tidurnya Melati.
Dengan pelan pria itu melepas hijabnya Melati. Hingga wajah cantik putih mulus itu terpampang sudah. Lama dia memandangi wajah cantik itu. Mengingat semua kenangan nya bersama Melati saat wanita itu jadi kacungnya. Dia tidak menyangka akan berjodoh dengan Melati. Putri dari pria yang mengangkat martabatnya.
Ardhi tidak merasa heran dengan dirinya yang begitu cepat menerima Melati di hatinya. Karena memang sejak melihat wanita itu, dia sudah merasa klik. Walau dia tidak merasakan jatuh cinta pada wanita itu. Tapi kini dia yakin, kalau dia sudah suka beneran pada istrinya itu, apalagi Melati mengandung anaknya sekarang.
"Kapan ya ayah bisa berinteraksi dengan mu Nak?" Ardhi mengusap pelan peut Melati yang masih tertutup oleh gamis istrinya itu. Dia merasa sedih, Melati masih menjaga jarak dengannya.
Hhuufftt.... Ardhi menarik napas panjang, melirik jam yang ada di kamar itu, ternyata masih pukul lima sore. Pria itu pun memilih untuk membersihkan badannya di kamar mandinya yang mewah, walau rumahnya hanya berukuran 36+. Di kamar mandi itu tetap ada bathtub, pilihan air panas pun ada. Walau rumah itu tidaklah luas. Tapi, dia ingin memberikan kenyamanan pada sang istri.
Ardhi yang punya perusahaan kontraktor. Tentu punya banyak rumah. Jangan tanya lagi berapa unit perumahan yang dimilikinya.
Ardhi yang merasa lelah itu memilih berendam air hangat di bathtub. Sudah dua hari dia mandi di kamar mandi umum. Tentu itu sebenarnya kurang bersih. Tapi, seperti itulah dulu keadaannya.
Tiga puluh menit pun berlalu. Ardhi keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai boxer, tangannya bergerak cepat mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil sambil bersiul. Setelah mandi, perasaan pria itu jadi lengah. Tubuh terasa fresh, kepala terasa dingin. Hanya kepala bawahnya yang mulai panas dan nyut-nyutan.
Dia pria normal. Hasrat terus membuncah. Tapi, istri tidak boleh disentuh.
"Aduhhhh kenapa jadi pengen sih? apa tadi karena makan kerang rebus?" ucap Ardhi mengintip adik kecilnya yang ada dibalik boxernya.
"Kamu kenapa bangun sih? menyiksa tahu." Ucapnya lagi dengan kesalnya. Berjalan ke almari. "Aku tuh gak mau main sendiri, maunya ada lawan." Ucapnya lagi, sambil memilih kaos yang akan dikenakannya.
__ADS_1
Setelah mendapat apa baju yang menurutnya nyaman dia pun memakainya dan langsung membalikkan badan ke arah ranjang. Mendapati sang istri terbengong menatapnya.
TBC.