DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Banyak tamu


__ADS_3

Pukul 12.15 Wib. Mereka pun meninggalkan sawah itu. Adegan makan jagung romantis bersama istri tercinta gagal sudah karena kedatangan Ardhi ke tempat itu.


Ardhi sudah rapi, tidak pakai sarung lagi. Dia memerintahkan sang asisten mengambil pakaiannya yang memang ada di koper mobil mereka. Sedangkan Melati menolak untuk berhenti baju, karena memang gamis yang dikenakannya tidaklah terlihat kotor sekali.


Sesampainya di halaman rumah Pak Samsul, benar saja. Para tamu sudah banyak yang berdatangan. Ardhi yang sigap hari ini sudah menyiapkan tiga tenda dan kursi untuk duduk para tamu.


Tadinya acaranya hanya syukuran meminta doa saja, membacakan suroh yasin, tahtim dan tahlil tentu ditutup dengan doa yang akan dilakukan oleh kaum bapak-bapak. Tapi, nyatanya tamu yang datang bejibun. Bahkan dari kampung sebelah.


Beredar kabar di rumahnya Melati sedang ada makan gratis enak yang dimasak oleh koki Hotel Tor Sibohi dan bagi-bagi uang. Itulah penyebab para kaum ibu memilih datang ke rumah pak Samsul daripada pergi ke sawah atau ke ladang. Karena mereka ingin mencicipi makanan enak dan dapat uang.


Melihat banyaknya orang di depan rumah mereka. Nyali Melati langsung ciut. Matanya langsung berkabut. Dia tidak akan sanggup mendengar orang-orang membicarakannya.


Melati menunduk, tangannya saling remas. Dia benar-benar tidak sanggup untuk masuk ke dalam rumah melewati para tamu.


"Jangan.!" Melati refleks menjauhkan tangan Ardhi yang sempat memegang jari jemarinya yang saling meremas itu. Tahu kelakuannya salah. Dia pun menoleh kepada Ardhi dengan rawut wajah bersalah dan sedihnya.


"Gak usah dipikirkan dek. Ingat keadaan kamu. Kita harus kuat ya. Maaf.... Maafkan Mas ya?!" Keduanya bersitatap, saling memberi penguatan. Rudi sang asisten ikut sedih mendengar permintaan maaf Bosnya yang terdengar sangat menyedihkan itu.


Rudi pun heran, koq banyak sekali tamu yang datang. Syukur dia banyak menyiapkan ampau.


"Semangat, Semangat Non. Jangan terlihat lemah" ucap Rudi dengan tersenyum lebar. Melati menatap sedih Rudi dari kaca spion.


Ardhi yang sudah turun terlebih dahulu, membuka pintu mobil untuk Melati. Pria itu mengulurkan tangannya. Tak mau jadi pusat perhatian lebih lama. Melati pun meraih tangannya Ardhi. Dengan cepat Ardhi menggenggamnya. Membantu Melati turun dari mobil mewah itu.


Pasangan pengantin baru itu pun berjalan ke dalam rumah dengan melewati pagar betis yang sudah tercipta sendiri yang dibuat oleh para tamu.


Tak terdengar suara bisik-bisik membahas Melati yang sedang hamil diluar nikah. Tapi, yang terdengar adalah pujian serta rasa kagum kepada sang suami.

__ADS_1


"Ooiihhh... Ya ampun...Na ganteng Mantong suamini si Melati on. Tama, berwibawa, ramah Dope Tarida tie?" ( Ya ampun, tampan sekali suami si Melati. Ganteng, berwibawa, ramah juga ternyata.)


Walau Melati berjalan dengan menunduk, dia masih bisa mendengar suara bisik-bisik itu. Masih banyak suara-suara yang terdengar memuji Ardhi seorang pria kaya dan masih terlihat muda. Beda dengan dugaan para warga. Yang mengatakan Ardhi adalah om om tua, atau majikan tua yang sudah punya istri.


Sampai di gerbang pintu, Ibu Khadijah dan Embun menyambut Melati dengan penuh kasih sayang. Sesaat Embun menatap Ardhi dan tersenyum manis pada mantannya itu. Ekspresi wajah Embun memberikan semangat pada Arshi. Dia terharu juga, melihat sang mantan. Banyak sekali masalah yang dihadapi pria itu, setelah mereka putus.


Masalah baru yang datang pun sudah diketahui oleh Embun dari Tara. Yaitu masalah yang akan diselesaikan oleh Rudi. Sampai saat ini, Rudi belum membolehkan Ardi memegang ponsel. Dia tidak mau masalah yang datang, membuat mood bosnya rusak.


Melihat Melati nampak kucel, dan gamisnya sedikit kotor. Embun pun mengajak Melati untuk mandi. Saat ini, Melati sedang lemah dan tidak konsentrasi. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa.


"Ayo kak temani kamu mandi." Embun mengambil handuk dan perlengkapan mandinya dari tasnya. Menuntun Melati untuk mandi di kamar mandi umum. Ya, rumah Pak Samsul tidak memiliki kamar mandi. Karena, mereka memang sangat miskin. Bahkan toilet tidak ada di rumah itu. Jadi seumpama ingin BAB. Harus pergi ke belakang rumah. Karena di belakang rumah ada parit irigasi sawah yang airnya bersih sekali.


Setelah selesai mandi dan sholat Dzuhur. Embun merias sendiri Melati di kamar Melati yang kini sudah banyak berubah. dirinya.


Bertemu dengan keluarga kandungnya, walau sang ibu sudah tiada. Menikah dengan Ardhi yang ternyata anak angkatnya Pak Zainudin. Dan fakta terakhir bahwa Embun yang pernah menolongnya adalah sepupunya.


"Iya, aneh ya. Semuanya seperti sudah diatur gitu." Embun memperhatikan lekat wajah Melati yang sangat cantik, setelah dirias olehnya. Melati yang terbiasa dengan wajah natural kini terlihat luar biasa. Padahal Embun hanya menambahkan soflent di matanya Melati.


Melati masih menatap Embun dengan tercengang nya. Dia tidak menyangka bahwa dia keturunan orang kaya juga.


"Apa kak dan Tuan Ardhi kenal saat di rumah Ayah Zainuddin?" kini Melati sudah mulai kepo dengan kehidupan Ardhi.


Embun mendudukkan tubuhnya di sebelah Melati. Wanita itu menghela napas panjang. "Gak Mel, Kak malah gak tahu kalau Mas Ardhi adalah anak angkatnya Tulang Zainuddin. Aku dan Mas Ardhi itu pacaran hanya satu bulan. Tapi, kami sudah kenal hampir empat tahun. Kami kenal di kampus." Embun tak mau menceritakan lebih detail lagi. Dia pun bangkit dari duduknya. Kembali memperhatikan lekat Melati yang terlihat sangat cantik hari ini.


"Kamu beruntung bisa menikah dengannya. Percaya deh sama kak. Jadi, kamu jangan takut lagi sama Mas Ardhi ya? dia itu suamimu sekarang." Embun meraih kedua bahunya Melati. Sehingga kini Melati sudah berdiri dengan senyum manis di hadapan Embun.


Setelah kejadian malam itu, Melati memang berpikiran buruk tentang Ardhi. Walau sebelumnya dia menilai majikan nya itu sangatlah baik. Tapi, setelah mendengar orang-orang terdekatnya memuji-muji Ardhi. Melati pun akhirnya bisa membuka hati pada sang suaminya itu. Mencoba melupakan sakitnya saat diperawani paksa oleh Ardhi.

__ADS_1


"Iya kak." Jawab Melati lembut, senyum manis masih terlihat jelas di wajah cantik wanita itu


"Acaranya sudah dimulai, ayo kita keluar." Melati diam mematung tak bergerak, saat Embun menarik tangannya Melati.


"Napa Mel?" tanya Embun dengan penasarannya. Raut wajah Melati tiba-tiba menegang.


"Aku takut kak, aku malu." Jawabnya menunduk, dan hendak menangis.


"Iya, kak mengerti apa yang kamu rasakan sekarang. Kak akan temani kamu sampai acara selesai. Kak akan dayang-dayangmu hari ini " Embun memberi semangat pada Melati.


Melati pun akhirnya punya keberanian untuk tampil di khalayak ramai. Benar saja saat Melati keluar dari kamar. Semua mata tertuju padanya. Melati terus saja menjndi disaat Embun mendudukkan Melati di tikar yang disiapkan khusus untuk pasangan pengantin baru itu.


Acara minta doa, diadakan di halaman rumah, tentunya kebanyakan bapak-bapak yang akan ikut di cara itu. Sedang kan di dalam rumahnya Melati yang sempit itu, ibu-ibu atau kaum wanita lah yang memadati tempat itu. Walau ada sebagian ada tamu undangan yang duduk di halaman rumah. Sedangkan Ardhi saat ini, ada dikumpulan kaum pria.


Acara itu pun berjalan dengan baik dan lancar. Sudah saatnya pasangan pengantin disandingkan. Dan para tamu undangan dipersilahkan mencicipi hidangan yang disajikan ala prasmanan. Tentu saja semua menu makanan dipesan dari hotel terkenal di kota itu.


Apa yang ditakutkan Melati saat ini tak semenakutkan apa yang dibenaknya. Kali ini paru tamu lebih banyak memujinya. Entahlah mungkin karena efek souvernir yang diberikan pada tamu adalah amplop berisi uang. Harus nya tamulah yang memberikan uang pada yang punya hajatan. Tapi, Kali ini sangat beda, yang punya hajatan yang bagi-bagi uang pada semua tamu undangan Pak Samsul. Bahkan lebih banyak tamu yang tak diundang datang.


Setelah selesai minta doa. Ardhi dan Melati di minta duduk di kursi yang ada di halaman rumah saja. Tidak ada pelaminan, namanya juga acara mendadak. Banyaknya tamu undangan yang datang membuat Melati sedikit kelelahan, saat menyalami tamu yang menghampiri mereka. Tapi, dia tidak memperlihatkan dirinya yang lemah itu. Dia takut jadi pembicaraan lagi, jikalau dia pingsan.


Menjelang sholat Ashar, para tamu sudah banyak yang pulang. Melati menarik napas legah, dia akhirnya bisa istirahat.


"Kak, aku boleh masuk kamar gak?" tanyanya pada Embun yang dari tadi jadi dayang-dayangnya. Raut wajah Melati memang nampak pucat. Ardhi jadi khawatir.


"Boleh Dek, kamu mau istirahat? Ayo..!" Ardhi memegang tangan Melati. Istrinya itu pun bangkit dari tempat duduknya. Saat hendak bangkit itu, tak sengaja mata Melati menoleh ke arah jalan lintas yang ada di depan rumah mereka.


Melati jadi mematung, disaat matanya menangkap sosok Ilham yang tengah berdiri di pinggir jalan menatap sedih ke arahnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2