DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Mengikhlaskanmu


__ADS_3

Di sebuah ruangan makan privat restoran. Sudah ada lima manusia yang sedang dinaungi oleh perasaan atmosfer yang berbeda-beda. Sesuai dengan suasana hatinya saat ini. Tentu saja, Tara dan Ardhi saat ini sedang dinaungi oleh atmosfer panas.


"Tinggalkan kami bertiga, kalian berdua tidak usah ikut campur urusan pribadi orang lain." Ardhi berbicara tegas, melirik Doly dengan sinis di sebelah kirinya.


Hening sesaat, Doly maupun Rose tidak mau mengindahkan ucapan Ardhi yang masih diselimuti emosi itu. Hanya suara isakan Embun yang terdengar begitu pilunya.


Embun duduk di sebelah kanan Tara yang disusul oleh Rose. Sedangkan Ardhi dan Doly duduk di hadapan mereka yang dibatasi oleh meja makan.


"Kami bukan mau ikut campur, kami hanya ingin mendamaikan." Ujar Rose, wanita itu pun menarik napas dalam. Merasa ketakutan melihat tatapan tajam Ardhi. Sedangkan Doly, masih saja bengong melihat Ardhi. Karena, dia baru kali ini bertemu dengan kekasihnya Embun itu.


"Suruh kacung-kacung mu ini keluar Tuan Tara. Anda jangan main keroyok." Raut wajah Ardhi penuh dengan penegasan. Menatap Tara tajam.


Tara melirik Doly dan Rose, memberi kode dengan matanya agar keluar dari ruangan itu.


Setelah Doly dan Rose meninggalkan ruangan itu. Ardhi langsung mengutarakan keinginannya.


"Aku tidak mau kau tipu lagi tuan Tara. Cukup sudah dua bulan yang lalu kamu mengelabui ku. Hingga aku mengikuti ide konyol mu itu. Mulai saat ini isi perjanjian itu hangus. Dan aku akan membawa Embun saat ini juga. Dan besok, gugatan cerai akan dikirim ke alamat mu." Ardhi bicara lantang, yang membuat Embun syok mendengarnya. Sedangkan Tara berusaha tenang menahan emosinya.


Kalau sok-sok an menganggarkan kekuasaan dan kekuatan. Seorang Ardhi sangat kecil buat Tara. Saat ini, Tara hanya menjaga perasaan Embun. Dia tidak mau menekan istrinya itu. Biarlah Embun yang memutuskan mau ikut dengan siapa.


Embun kembali terisak, dia sangat bingung dengan dirinya. Bukankah kembali kepada Ardhi adalah impiannya. Tapi, kenapa dia jadi tidak tega berpisah dengan Tara. Dia juga tidak tega berpisah dari Ardhi. Sungguh ini keputusan yang sangat sulit. Embun benar-benar lemah. Dia lemah, karena Tara tidak pernah mengungkapkan perasaannya. Jikalau dia memilih suaminya itu, dan ternyata Tara tidak mencintainya.


"Dek Embun, ayo kita pergi." Ardhi bangkit dari duduknya, menjulurkan tangannya kepada Embun. Wanita itu melirik Tara yang menampilkan ekspresi wajah penuh amarah, tapi pria itu menundukkan wajahnya.


"Ayo sayang, Mas akan urus semuanya." Ardhi masih menjulurkan tangan kanannya. Embun tidak bergeming. Air mata bercucuran deras di pipinya. Dia menatap sendu Mas Ardhinya itu. Pria yang baik, cinta pertamanya. Pria itu rela menunggu empat tahun, dan akhirnya Embun mau jadi kekasihnya.


Tara mengangkat wajahnya. Tatapan penuh ketegasan jelas terlihat.


"Embun tidak akan kemana-mana. Saat ini dia adalah istriku. Anda mengatakan perjanjian hanguskan? berarti dia adalah milikku."


Buugghhh...


Satu tinju mendarat di pipinya Tara. Ardhi yang merasa dipermainkan oleh Tara. Tidak bisa menahan emosinya. Dia benci dengan Tara, pria itu menjebaknya. Sehingga Dia menyetujui perjanjian konyol itu.

__ADS_1


Tara mengguman, seperti harimau yang siap menerkam. Menatap penuh amarah kepada Ardhi. Melap sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah.


Embun ketakutan, dua pria yang memperebutkan dirinya, sepertinya akan baku hantam. Dia pun menahan tangan Tara yang hendak membalas serangan Ardhi. Embun bersujud di hadapan Tara. Memohon kepada suaminya itu, agar tidak berkelahi.


"Kenapa tidak ada yang mengerti perasaanku. Kalian semua mempermainkanku. Orang-orang disekelilingku, orang terdekatku, yang ku sayangi, yang ku hormati tidak menganggapku manusia. Aku seperti benda yang dilempar kesana-kemari. Aku punya perasaan,.!" Embun bersujud, tubuhnya bergetar karena menangis. Kenapa masalah ini semakin rumit.


Ardhi tidak tega melihat keadaan Embun yang sangat menyedihkan itu. Dia bergerak hendak menenangkannya. Tapi, Tara menahannya dengan tangannya.


Lama Embun bersujud sambil menangis. Tentu saja Tara merangkulnya. Ardhi hanya bisa menatap Tara dengan kesal.


Merasa sedikit tenang. "Embun mengangkat wajahnya, menatap sendu Ardhi yang kini jongkok di hadapannya.


"Kenapa Mas tidak ikhlaskan aku saja. Kenapa...?" Ardhi terkejut mendengar ucapan Embun. Dia tidak menyangka wanita itu berbicara seperti itu. Sungguh ucapan Embun begitu menyakitkan. Dia tidak bisa berkata-kata lagi, tubuhnya ambruk terduduk lemah seperti orang bodoh-bodoh dihadapan kekasihnya itu. Kedua matanya sudah berkabut.


"Abang juga, kenapa tidak mengikhlaskanku?" Embun meraih bahu Tara, air mata semakin deras saja bercucuran. Tara insecure, ucapan Embun benar-benar membuatnya jadi pria tidak percaya diri. Istrinya itu ingin dia mengikhlaskannya? ucapan Embun membuat hati Tara sakit.


"Abang ikhlas, asal kamu bahagia dengan dia. Tapi, bukan sekarang Adek pergi dengannya. Masih ada waktu empat bulan lagi." Ucapan Tara membuat Embun terdiam, dia terkejut dengan kalimat yang keluar dari mulut suaminya itu. Berarti Tara tidak benar-benar menginginkannya. Bukan jawaban seperti itu yang diinginkan Embun.


Dia ingin, Tara bersih keras mempertahankannya. Tidak akan mengikhlaskannya kembali kepada Ardhi. Tapi, lihatlah, suaminya itu mengatakan mengikhlaskannya.


Embun bangkit dan menepis tangan Tara yang ingin membantunya bangkit. Sedangkan Ardhi yang masih terduduk, terbengong melihat Embun yang menatapnya penuh kekecewaan.


Embun menarik napas dalam dengan gerakan cepat berlari meninggalkan ruangan itu. Tara yang terbengong-bengong, langsung mengejar Embun setelah sadar wanita itu sudah keluar dari ruangan itu. Begitu juga dengan Ardhi yang ikut menyusul Embun. Tapi, langkahnya ditahan Doly.


"Tuan, stop.... Anda tidak usah ikut campur lagi. Anda tidak perlu mengejar Embun. Ada suaminya yang akan menjaganya." Doly menahan lengan Ardhi yang terus berontak ingin dilepas.


"Tunggu situasinya tenang, baru anda muncul lagi. Jangan sekarang, Embun sedang tidak bisa berfikir jernih. Kalian bertiga sedang dipenuhi emosi. Diam lebih baik saat ini tuan." Doly masih menahan Ardhi agar tidak menyusul Embun.


Lolita yang menyaksikan semuanya dibuat ketar-ketir. Lutut nya terasa lemas. Dadanya sesak, dia tidak menyangka akan jadi korban dari permainan Embun.


Dengan lemas dia meninggalkan tempat itu. Melap air matanya yang berjatuhan deras menganak sungai di pipinya. Saat berjalan, Lolita dikejutkan oleh suara petir yang saling bersahutan, badai akan datang.


Embun yang sudah berada di luar hotel. Restoran tempat mereka makan, dibuat ketakutan dengan kilat yang nampak terang di langit yang gelap, suara petir saling bersahutan, dia semakin ketakutan. Dia fobia suara petir dan hujan badai.

__ADS_1


"Ma---Ma-- Tolong----!" teriaknya ketakutan. Dia membungkuk, menutup kedua telinganya dengan tangannya. Niat menyetop taksi gagal sudah. Karena Embun sudah tidak bisa bergerak lagi. Tubuhnya membeku, dibawah guyuran hujan.


Orang-orang yang melihat Embun berteriak-teriak tidak jelas, tidak berani mendekat, mereka beranggapan Embun adalah orang gila.


Tara yang melihat keberadaan Embun, langsung berlari ke arah istrinya itu. Dia merangkul Embun dengan posesif dan penuh kekhawatiran. Dia berusaha menyadarkan Embun, agar tidak teriak-teriak minta tolong.


Tara sungguh tidak tega melihat keadaan Embun saat ini, wajah pucat karena ketakutan, terlihat jelas di wajahnya. Penyakit Embun kambuh lagi.


Tara membopong istrinya itu dengan begitu khawatirnya, menuju mobilnya di tempat parkir. Tapi, ternyata Doly sudah bergerak cepat membawa mobil itu dan berhenti di hadapan Tara. Dengan paniknya Tara masuk ke dalam mobil dan mendudukkan Embun di jok belakang supir.


Dia menepuk pelan pipi istrinya itu yang seperti ingin pingsan. Pelukan Tara membuat Embun menghentikan teriakannya. Dia merasa sudah aman dari suara petir.


"Nona Embun Fobia petir dan hujan ya Bos?" tanya Doly penasaran, menatap bos nya itu dari kaca spion. Tara hanya mengangguk.


Selama perjalanan menuju rumah, Embun tak henti-hentinya mengingat. Memanggil Mamanya dan juga Lolita secara bergantian. Ya, selama kuliah di Medan. Disaat hujan badai. Lolita akan menginap di kost an Embun. Menemaninya melewati hujan badai yang disertai suara petir yang mengerikan.


"Iya sayang, kamu akan baik-baik saja. Nantulang akan datang ke rumah. Kamu tenang ya. Ada Abang." Tara yang sudah basah kuyup, tetap berusaha menenangkan Embun.


Karena hujan deras, jalanan banyak yang banjir. Sehingga jalan macet. Kini Embun sudah kedinginan karena bajunya basah semua.


"Doly, bisa lebih cepat. Embun sudah kedinginan. Aku takut dia Hipotermia." Ucap Tara panik. Dia terus saja memberi kehangatan pada istrinya itu dengan menggesekkan tangan nya ke tangan Embun.


"Banjir Bos, macet. Cium saja Nona, beri kehangatan." Ucap Doly tertawa kecil. Tara kesal mendengarnya.


"Bisa-bisanya otakmu kepikiran kesana. Dasar mesum kamu. Keadaannya sudah memprihatinkan, dia sudah susah bernapas ini." Ketus Tara.


"Kalau begitu kita ke rumah sakit saja bos." Doly panik.


"Ke rumah sakit kelamaan. Kita sudah mau sampai. Sambil nyetir, kamu telpon Dokter. Suruh ke rumah." Titah Tara. Doly mengangguk.


Mobil pun melaju, dan dibelakang mereka Doly melihat sebuah mobil mengikuti mereka.


TBc

__ADS_1


Mohon dukungannya dengan like coment positif dan Vote


__ADS_2