DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Bentuk wajah petak


__ADS_3

Hari ini Melati masuk siang kuliahnya. Ilham yang tidak ada kegiatan, berinisiatif mengantarkan Melati kuliah. Hitung-hitung alasan untuk lebih dekat.


Sepanjang perjalanan menuju kampus. Melati lebih banyak diam. Bahkan, saat Ilham mengajaknya bicara, dia tidak menggubrisnya. Pikirannya sedang penuh, dengan dugaan dirinya hamil.


Tadi pagi, dia sudah mensearching di google tentang masa subur. Dia belum memahami artikel itu. Karena, siklus menstruasinya tidak pernah tepat. Kadang 28 hari, kadang 30 hari dan kadang 35 hari. Itulah yang membuatnya semakin bingung.


Kalau dia hamil, tentu tanda-tanda hamil sudah dirasakannya. Seperti kata orang, muntah-muntah, tidak selera makan, pusing dan lainnya. Dia tidak mengalami itu semua. Bahkan nafsu makannya meningkat seminggu terakhir ini.


"Sudah sampai Dek!" Ilham memegang kaga Melati yang duduk menyamping. Sontak Melati terkejut, dia refleks menepis tangan Ilham dengan kasar.


"Maaf Bang, aku terkejut." Jawabnya penuh dengan rasa bersalah. Melati sudah turun dari motor bebeknya Ilham. Wanita itu menunduk tidak berani menatap matanya Ilham.


"Iya, Abang ngerti koq. Abang tungguin kamu."


"Gak usah bang. Aku pulangnya nanti naik ojek saja." Melati akhirnya menatap Ilham, yang tersenyum padanya. Wanita itu membalas senyuman Ilham dengan seadanya.


"Baiklah, kalau begitu, nanti malam Abang datang ke rumah ya? Assalamualaikum..!" Ilham langsung tancap gas, sebelum Melati memberi penolakan. Dia tahu Melati akan melarangnya datang mengunjunginya. Karena, Melati sudah memberi jarak padanya sejak kejadian malam naas itu.


Melati masuk ke ruang kelas dengan lemasnya. Pikirannya sibuk menduga-duga tentang dirinya yang hamil. Akhirnya terbersit dibenaknya untuk membeli test pack. Ya dia akan singgah di apotik atau I-mart setelah pulang kuliah.


***


"Mommy tidak menyangka, kamu sejahat itu Anggun." Ibu Jerniati sedang mengunjungi Anggun di tahanan. Mereka sedang duduk di kursi plastik, saling berhadapan di ruang besuk.


Hahhahah.... "Apa bedanya dengan Mommy." Anggun membuang wajahnya, setelah menertawakan Ibu Jerniati.

__ADS_1


"Ardhi tidak mau menikah denganmu! sepertinya dia akan menikahi pembantu itu." Anggun melototkan kedua matanya, dia tidak suka laporan itu. Dia tidak mau rencana gagal total, dia sudah banyak berkorban. Bahkan kini dia sudah di penjara.


"Kalau mommy tidak bisa membujuk dan menyakinkan Abang Ardhi. Ya siap-siap saja, video memalukan Mommy itu akan tersebar." Anggun berbicara Dengan ekspresi wajah menyebalkan, dia bahkan memoyongkan bibirnya. Kemudian membelakangi Ibu Jerniati.


"Kamu menjebakku!" ketus Ibu Jerniati, menarik bahu Anggun yang sedang membelakanginya. Saat itu juga, Anggun membisikkan sesuatu kepada Ibu Jerniati dengan tatapan devilnya.


"Aku tak mau melakukannya!" Ibu Jerniati, menjauhkan kepala Anggun.


"Sudahlah Mom, kita punya tujuan yang sama. Kalau mommy gak mau diajak kerjasama ya sudah." Anggun beranjak dari duduknya. Dia tidak mau basa-basi lagi. Tidak ada gunanya banyak cerita dengan Ibu Jerniati. Wanita tua ini harus ditekan.


Ibu Jerniati menendang kursi di hadapannya. Setelah Anggun kembali masuk ke tahannya. Wanita tua itu kesal dengan apa yang terjadi padanya. Dia tidak menyangka, hidupnya akan hancur begini. Dia telah salah dalam bergaul.


Terkadang ada niat untuk taubat, mengatakan semuanya pada Ardhi. Tapi, dia takut sekaligus malu.


***


Ilham ternyata tidak mengindahkan ucapan Melati. Pria itu tetap datang ke kampus sore ini. Walau tadi siang, dia mengiyakan ucapan Melati, agar jangan menjemputnya. Nyatanya dia ingin sekali mengantarkan Melati pulang. Entah kenapa dia begitu mengkhawatirkan wanita itu. Dia merasa sesuatu yang buruk akan menimpa Melati.


"Tet, Melati mana?" Ilham menghentikan langkah si Butet, yang baru saja turun dari tangga.


Butet tersenyum tipis pada Ilham. Sangat susah untuk bersikap biasa pada pria itu. Dia akan grogi, apabila berkomunikasi dengan Ilham. Dia sangat menyukai Ilham, mengagumi pria itu. Tapi, dia harus memendam rasa itu. Karena, Ilham menyukai sahabat nya Melati.


"Melati masih di dalam Bang. Dia tadi pamit ke toilet. Aku di suruh duluan. Dia tidak mau ku temani." Butet menunduk, tidak sanggup menatap lama-lama, pria pujaannya itu. Dia akan semakin salah tingkah, kalau terlalu lama bersitatap dengan Ilham.


"Oohh... Jadi kalian tidak mau pulang bareng?" Si Butet menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ok Butet, hati-hati di jalan. Oh ya Tet, rambut kribo mu mana?" Ilham yang baru ngeh, dengan penampilan si Butet, memperhatikan seksama wanita itu. Si Butet semakin salah tingkah, diperhatikan intens oleh Ilham. Tangannya sudah merayap mengusap-usap wajahnya. Dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana bersikap di hadapan Ilham.


"Cantik sih, tapi kamu itu lebih cocok kalau rambutnya yang kribo gitu. Lebih cocok ke wajah mu yang petak." Ucapan Apa adanya Ilham, membuat si Butet tersinggung. Katanya cantik, tapi ngatain wajahnya petak.


Si Butet cemberut, melirik Ilham dengan kesalnya. "Matamu itu harus dibersihkan. Jangan si Melati saja wanita yang cantik kamu lihat. Cantik itu relatif, tidak mutlak. Adek tahu, Abang mau caci aku kan? sebel...!" Si Butet menghentakkan kakinya. Menggigit bibir bawahnya, sebagai ancaman pada Ilham. Wanita itu pun akhirnya berlari dari hadapan Ilham.


Rasanya sakit sekali dicaci oleh pria yang kita sukai. "Wajahku gak jelek-jelek amat koq. Gak petak-petak juga, masih ada lonjongnya sedikit. Di kampungku, banyak yang bilang aku cantik. Hanya rambutku ini yang selalu dicaci orang. Katanya seperti Indomie." Si Butet mendumel sepanjang jalan, dia tidak suka cara Ilham mengkomentarinya.


Sementara Ilham, masih menunggu di koridor gedung kelasnya Melati. Dia bersandar di dinding dengan tatapan tertuju ke arah kelasnya Melati.


Sudah lebih dari sepuluh menit Ilham menunggu Melati agar muncul, keluar dari kelas itu. Tapi, wanita itu tidak kunjung muncul.


Ilham akhirnya berinisiatif menyusul Melati ke dalam gedung yang terdiri dari sepuluh ruangan yang berhadap-hadapan itu. Dia akan mencari toilet. Karena, kata si Butet, Melati pergi ke toilet.


Suasana di gedung itu sudah sunyi, bahkan langkah kakinya Ilham bisa didengarnya sendiri.


Kini Ilham mempercepat langkah kakinya. Karena dia mendengar suara orang berbicara dari dalam kamar mandi. Suara yang didengarnya, penuh dengan ancaman. Dia kenal suara itu. Dia pun menggedor-gedor pintu kamar mandi itu.


"Keluar... Keluar... Siapapun yang ada di dalam, harap cepat keluar. Sebelum aku mendobrak pintu ini!" teriak Ilham, penuh dengan penekanan. Dia tahu ada Melati di dalam kamar mandi itu.


Hening.... Tak ada lagi suara manusia yang terdengar dari dalam kamar mandi.


"Baiklah, kalau kalian tidak mau membuka pintu nya aku akan mendobraknya." Ilham pun langsung menendang pintu kamar mandi itu. Dan pintu itu langsung terbuka. Jelas gampang terbuka, karena bahan pintu kamar mandi itu adalah plastik.


TBC

__ADS_1


__ADS_2