
Tara dibuat terkejut dengan reaksi Embun, setelah membaca surat perjanjian itu. Dia membalas tatapan tajam Embun dengan penuh kekesalan, sambil meraih map dokument itu yang kini tergeletak di atas pahanya. Semua yang dilakukannya, selalu salah di mata wanita yang duduk di sebelahnya.
Benar memang kata orang, kalau kita membenci seseorang, maka semua yang dilakukannya akan terlihat salah. Walau Dia melakukan hal benar. Terkadang tidak ada perbedaan antara orang bijak dan orang bodoh, ketika jatuh cinta.
"Pak Andi, tolong menepi dan tinggalkan kami berdua." Ucap Tara dengan penuh ketegasan kepada Pak supirnya. Tapi, matanya masih membalas tatapan mata Embun yang menantang itu.
Pak Andi pun menepikan mobil, tepat dibawah pohon yang rindang. Kemudian Dia keluar dari mobil.
"Abang senang kalau kamu tidak setuju dengan perjanjian itu." Ucap Tara dengan serius, mereka masih bersitatap.
"Itu artinya, kita akan hidup bersama selamanya, sampai maut memisahkan." Ucapnya lagi dengan terseyum. Ucapan Tara membuat Embun semakin kesal.
"Ciihhh-- siapa juga yang mau hidup bersama denganmu. Selamanya? haahh---- jangan mimpi." ucap Embun keras, Dia geram bukan main. Sampai-sampai Dia menggigit bibir bawahnya dan membuang wajahnya ke jendela mobil. Dia mengomel-ngomel, mengeluarkan kata-kata yang tidak kedengaran jelas.
"Abang sudah terlalu malas membahas ini. Dari semalam Abang sudah setuju, untuk membatalkan pernikahan ini. Tapi, Keluarga kita tidak mau. Adek juga pasti tahu, konsekuensinya apabila pernikahan ini batal.
"Hubungan persaudaraan kedua belah pihak akan retak. Sudah jelas itu akan berdampak kepada kesehatan Ompung kita. Kamu juga mungkin sudah tahu itu.
"Abang kurang baik apa lagi coba? mana ada seorang suami yang akan menyerahkan istrinya kepada pria lain? tidak ada. Tapi, Abang lakukan itu. Agar kamu bisa bahagia bersama pria yang kamu cintai.
"Kita masih bersaudara Embun. Kamu sepupuku. Aku ingin memberikan yang terbaik untukmu. Aku pun tidak tahu lagi, bagaimana caranya keluar dari masalah ini. Agar kamu bahagia. Dan ide itulah yang muncul saat Abang menemui Pak Ardhi.
"Tapi, baguslah kalau kamu tidak setuju. Biar kita pulang ke rumah dan tidak perlu lagi menemui Pak Ardhi." Ucap Tara, Dia pun mengalihkan pandangannya dari Embun, disaat Embun memutar lehernya untuk menghadapnya.
Embun menangis, "Harusnya kamu tidak menerima perjodohan ini. Kalau toh, seperti ini. Kenapa Aku jadi merasa dipermainkan. Ayah pun tidak pernah memikirkan perasaanku. Memaksaku menikah tanpa menanyakan terlebih dahulu." Ucapnya dengan berderai air mata. Kini Tara Kembali menatap Embun yang nampak menyedihkan itu. Tara tidak tega melihatnya. Ingin sekali Dia melap air mata yang membasahi pipi Embun. Tapi, Dia tidak berani untuk melakukannya.
"Aku bingung, Aku bingung sekali. Aku hanya ingin sekali menikah. Menikah dengan pria yang ku cintai dan mencintaiku---!" Embun menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang sudah bergelimang air mata itu. Dia benar-benar frustasi. Masalah ini, lebih ribet dibandingkan dengan masalah dosen pembimbing yang selalu menolak ajuan proposal skripsinya.
Tara sungguh tidak tega melihat Embun yang menangis tersedu-sedu itu. Akhirnya Tara pun memilih diam. Menyandarkan tubuhnya di jok. Menarik napas dalam, untuk menenangkan dirinya yang kalut dan bingung itu.
"Aku setuju dengan perjanjian itu. Tapi, bagaimana nantinya. Kalau terjadi perceraian tentu keluarga besar kita juga akan kecewa." Embun akhirnya buka suara, setelah mereka lama terdiam.
__ADS_1
Tara mengubah posisi duduknya, mencari posisi yang nyaman.
"Untuk masalah itu, kita pikirkan nanti saja. Disaat waktunya tiba. Yang harus kita pikirkan sekarang adalah. Pernikahan ini terlaksana, agar keluarga besar kita tidak malu." Jawab Tara, kembali menatap Embun yang nampak resah itu.
"Untuk saat ini, perjanjian ini hanya kita bertiga yang tahu. Jadi, Adek tidak usah khawatir." Ucap Tara lembut. Setelah melihat ekspresi wajah Embun yang mulai tenang.
"Kenapa harus seperti ini--?" Embun kembali menangis, melap air matanya dengan jemarinya.
"Ini ambillah..!" Tara memberikan tisu kepada Embun.
❤️❤️❤️
Sesampainya di Hotel tempat Ardhi menginap. Tara menghubungi Ardhi, menanyakan dimana posisinya saat ini. Ternyata Ardhi sedang berada di taman Hotel yang menyajikan pemandangan indah kota PSP. Karena Hotel tempat Ardhi menginap, berada di dataran tinggi.
Setelah sampai di taman. Ardhi berlari menghampiri Embun yang kini berjalan ke arahnya bersama Tara.
Grapppp....
Embun membalas pelukan itu dengan menangis terisak-isak. Dia merasa dadanya sangat sesak saat ini. Sungguh takdir hidup yang dijalani nya begitu menyedihkan. Harus berpisah sementara dengan pria yang sangat dicintainya.
Sementara Tara yang jadi obat nyamuk di sebelah mereka. Hanya bisa beristighfar dalam hati, agar darahnya yang mendidih melihat tontonan di sebelahnya, bisa meredam, sabar dan tenang. Tidak terpancing dengan adegan romantis dan mengharu biru itu. Dia pun berjalan ke gazebo, meninggalkan pasangan kekasih itu.
Tara duduk membelakangi Ardhi dan Embun. Tapi, matanya sesekali mengekori pergerakan Embun dan Ardhi yang kini memilih duduk di gazebo lain.
Dengan menahan kekesalan di hati, karena cemburu. Tara mengelus dadanya. "Sabar, sabar pria bodoh." Tara membathin, Dia cemburu. Disaat Embun begitu perhatiannya kepada Ardhi, memperhatikan luka-luka Ardhi dengan ekspresi wajah penuh cinta dan ke khawatiran.
Tiga puluh menit pun berlalu, Tara sudah mulai merasa tidak tahan. Melihat tontonan kemesraan yang dipertontonkan oleh Embun dan Ardhi. Walau mereka hanya pelukan tanpa ada kissing. Tapi, adegan biasa itu, sudah membuat darah Tara mendidih sampai ke ubun-ubun. Dia tidak menyangka efeknya akan sehebat dan mengerikan ini.
"Bodoh, bodoh, bodoh, Aku memang BODOH---!" teriaknya dalam hati, tanpa sadar gelas yang kini ditangannya sudah pecah, karena terlalu kuat di remasnya. Bahkan Tara tidak sadar, kalau tiga jarinya sudah terluka. Karena Dia tidak merasakannya lagi. Sebab, luka dari torehan kaca itu tidak sebanding sakitnya dengan luka di dalam dadanya. Tepatnya di hatinya. Lukanya tidak berdarah, tapi rasanya begitu sakit.
Tara rela melakukan itu, agar tidak terjadi pertikaian dalam keluarga besarnya. Dia juga tidak ingin bersaing dengan Ardhi untuk mendapatkan Embun. Karena Embun begitu membencinya.
__ADS_1
"Tara, Tara......!" Tara yang melamun, tidak mendengar panggilan Ardhi yang kini sudah berdiri disebelah nya bersama Embun. Hingga Dia pun terlonjak kaget. Disaat tepukan terasa di pundaknya. Dia menoleh dan kembali terkejut. Karena Ardhi dan Embun sudah berada di sampingnya.
Dia pun baru menyadari, kalau gelas yang digenggamannya sudah remuk dan membuat luka di jemarinya.
Ardhi menatap Tara dengan ragu. "Kamu baik-baik sajakan Tara?" Ardhi menilik, menduga-duga perasaan Tara. Dia yakin, Tara mencintai Embun.
"Oohh iya, saya baik-baik saja." Tara dengan cepat meraih tisu di atas meja, melap tangannya yang mengeluarkan darah. Disaat itu juga, Dia melirik Embun yang juga menatapnya dengan tatapan datar. Tidak ada kekhawatiran di tatapan wanita yang dicintainya itu. Yang membuat hatinya terasa makin sakit.
Ardhi melepas genggaman tangan Embun dari tangannya dengan terseyum, menuntun Embun duduk di kursi tepat dihadapan Tara.
Tara merasa tidak punya harga diri, menyerahkan wanita yang sangat dicintainya kepada pria lain. Dia lemah, tidak bisa berbuat apa-apa. Karena, apabila Dia menunjukkan kekuatannya, tentu Ardhi tidak akan mau kalah. Akhirnya Tara pun akan bermain cantik.
Tara yang cemburu itu, dengan cepat menyodorkan map dokumen kepada Ardhi. Agar Ardhi menandatanganinya. Berlama-lama di tempat ini. Tara tentu tidak tahan melihat Ardhi dan Embun yang menampilkan tontonan mesra.
"Saya sedikit ragu kepada kamu Tara. Tapi, Aku percaya. Bahwa kamu tidak akan melanggar perjanjian ini. Karena apabila kamu melanggarnya. Denda yang ku inginkan tidak tanggung-tanggung." Ucap Ardhi menatap Tara dengan terseyum merendahkan. Membubuhkan tanda tangannya di atas materai itu.
Tara membalas senyuman Ardhi. Meraih map dokumen dari Ardhi.
"Kita lihat saja, siapa yang akan melanggar kesepakatan. Saya yakin, Pak Ardhi yang akan melanggarnya." Ucap Tara, matanya fokus ke kertas perjanjian dan menandatangani nya
"Apa maksudmu?" tanya Ardhi bingung sekaligus was-was. Dia mulai terpancing dengan ucapan Tara.
"Apa Bapak bisa tidak komunikasi dengan Dia selama enam bulan?" tanya Tara dengan menaikkan kedua alisnya bergantian. Yang membuat Ardhi berfikir sejenak mencerna perkataan Tara.
Ardhi menatap Embun di sebelahnya.
"Mas tidak akan melanggar perjanjian. Mas sangat mencintaimu. Mas akan memendam rindu selama enam bulan ini, untuk tidak komunikasi denganmu. Karena Mas yakin, pengorbanan Mas akan membiahkam hasil." Ucap Ardhi, meyakinkan Embun dan mencium punggung tangannya. Sikap Ardhi itu, membuat Tara semakin down dan kebakaran jenggot.
"Pak Ardhi, sepertinya urusan kita sudah selesai. Kami pamit pulang." Ucap Tara, ingin menghentikan aksi Embun yang memeluk Ardhi kembali.
TBc
__ADS_1
like, coment dan vote nya ku harapkan..!'