DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Fitnah


__ADS_3

Melati merasa perutnya sangat mual, badannya juga sakit semua. Ini dirasakannya, setelah mandi sore. Habis membersihkan kamarnya Ardhi. Setelah mandi, Melati kembali ke dapur. Minta izin kepada Bi Kom untuk istirahat sebentar. Karena dia merasa perutnya tidak enak, begah dan ingin muntah.


Bi Kokom yang melihat wajah Melati yang pucat akhirnya menginzinkan wanita itu untuk istirahat. Tapi, Bi Kokom meminta Melati untuk mencoba soup buatannya. Soup yang cara pengerjaan dan resepnya dipelajarinya dari Melati sendiri.


Untuk meredam rasa mual, Melati pun mencoba makanan segar itu. Menyantapnya disaat masih panas. Ternyata Bi Kokom sukses memasak soup persis seperti masakan Melati. BI Kokom tersenyum puas. Akhirnya dia sukses juga mempraktekkan soup daging seperti buatan Melati.


Nyonya besar meminta Bi Kom, belajar pada Melati. Agar nanti disaat dia melempar Melati dari rumah itu. BI Kom sudah bisa memasak soup daging, yang rasanya persis seperti masakan Melati.


Setelah selesai sholat Magrib. Melati mulai mengistirahatkan tubuhnya. Dengan melumuri minyak kayu putih di perut dan telapak kakinya. Saat ini yang dirasakan Melati tak hanya mual dan ingin muntah, tapi badannya sakit semua. Melati berusaha menahan, agar tidak muntah. Karena, memuntahkan makanan dari mulut, itu sakitnya luar biasa. Organ perut rasanya ditarik keluar semua.


Ternyata usaha Melati untuk menahan untuk tidak muntah, hanya sebentar. Perut yang sakitnya seperti diaduk-aduk itu, tak tertahankan lagi. Melati berlari ke kamar mandi belakang. Karena, kamarnya sama sekali tak memiliki kamar mandi.


Huuueekkkk .... Huuueekkkk ...Hueekkkkk...


Melati memuntahkan soup yang baru saja dimakannya. Semua isi perutnya keluar. Saat muntah tersebut. Rasanya sangat sakit, sakit sekali. Apalagi disaat isi perut masih ingin keluar.


Huuurkkk...Huueekk....!


Bi Kom, Yanti, Rudi yang kebetulan sedang berada di dapur kotor, sedang memberesi bekas makan nyonya besar, mendengar suara muntahan Melati.


"Melati muntah!" ucap Rudi, berjalan cepat ke arah kamar mandi belakang. Dia ingin memastikan, benarkah yang muntah itu adalah Melati. Kalau benar, dia harus membantunya.


Hueekkk... Hhuuuuekkk.... Hhuuuuekkk...!


Melati merasa sudah lemas, mulut rasanya sudah aneh. Perut sakit dan kram. Tenaganya pun habis sudah. Kini dia merasa kedinginan dan kepanasan. Keringat sebiji jagung sudah bermunculan di dahinya yang menjalar membasahi wajah cantiknya.


"Ma..!" ucapnya lirih, dengan berderai air mata. Ya, disaat kita sakit, hanya ibulah yang selalu setia menemani dan merawat kita. Karena hanya ibulah yang benar-benar mencintai kita.


Dengan tenaga yang tersisa, Melati membersihkan partikel muntahnya yang berserak di lantai kamar mandi itu. Menyiramnya dengan gayung. Saat itu juga dia kembali merasakan ingin muntah.


Hueekkk..Huekkk..


Kali ini yang keluar tinggal cairan saja. Tak ada lagi makanan. Dan warna muntahnya juga sudah berwarna kuning.


"Mel, Melati, kamu kenapa?" suara Rudi dibalik pintu kamar mandi, mengejutkan Melati. Rasanya dia tidak punya tenaga lagi untuk menyahutnya.


"Melati, kamu sakit? kamu muntah?" kini Bi Kom yang ikut bicara.


"Iya Bi." Ucapnya pelan, karena tenaga sudah terkuras habis. Karena muntah terus menerus.


"Buka pintunya, biar BiBi bantuin kamu." Mendengar ucapan Bi Kom, Melati pun semangat untuk membuka pintu. Dia perlu pertolongan saat ini.


Saat kakinya baru melangkah satu kali. Dia merasa sesuatu ingin keluar dari anusnya. Apalagi, kalau bukan kotoran. Karena, sudah tidak bisa ditahan lagi. Melati jadi mengurungkan niatnya membuka pintu kamar mandi.


Dengan tergesa-gesa, Melati melorotkan celananya, berjalan cepat ke WC. Dan keluarlah kotoran yang encer. Wanita itu mencret.


"Melati, Melati, ayo buka pintunya!" suara Bi Kom, terdengar begitu memperihatinkan.


Melati yang merasa perutnya dililit itu, tidak bisa membuka pintu. Karena, kotoran masih terus mengucur keluar dari anusnya.

__ADS_1


"Mel, Melati?!" kini Rudi yang memanggil nama wanita itu.


"Iya Bi, Bang Rud. Aku muntah mencret." Jawabnya pelan, menahan rasa sakit diperutnya.


"Astaga Mel, ayo buka pintunya!" desak Bi Kom.


"Sebentar Bi, masih mules." Melati yang membuang kotorannya di closed jongkok itu, memegangi perutnya. Maklumlah, kamar mandi para pembantu seperti Melati. Closednya masih jongkok, bukan closed duduk.


Merasa sedikit baikan. Melati menyiram kamar mandi itu berulang kali. Bahkan dia membersihkan dengan pembersih lantai kamar mandi. Saat itu juga dia kembali merasa perutnya mules. Lagi-lagi dia harus mengeluarkan kotoran encer itu.


Ada setengah jam Melati di kamar mandi. Dan tingkah Bi Kom serta Rudi yang panik, menyita perhatian Nyonya besar, yang kebetulan pergi ke dapur kotor.


"Ada apa kalian ribut-ribut?" tanya ibunya Ardhi dengan suara keras.


"Ini Nyonya, Melati sakit. Dia lagi muntah." Si Nyonya besar, yang sudah bisa berjalan pelan itu. Menghampiri mereka. Ingin memastikan info yang didengarnya.


"Melati, Melati muntah-muntah?" tanya Ibunya Ardhi dengan ekspresi wajah terkejut. Kemudian ekspresi wajah itu berubah seketika jadi sinis.


"Hamil dia itu, makanya muntah-muntah." Ketus Ibunya Ardhi, menatap para ART, yang kini sudah ramai di depan kamar mandi.


"Hamil?" tanya Rudi tidak percaya. Darimana pula si Nyonya besar bisa menyimpulkan seperti itu?


"Kenapa, gak percaya kalian? dia itu penampilannya saja yang alim. Tapi, kelakuannya binal. Dia itu gatel. Ya itu, hasil dari kegatelannya. Hamil kan dia. Dia itu wanita munafik. Menyembunyikan sifat buruknya dengan berpenampilan layaknya wanita soleha. Dasar wanita murahan. Lebih berharga pe-lacur, dari pada dia. Pe-lacur masih dibayar, diberi uang. Lah dia ngangkang gak dapet apa-apa." Ucapan Nyonya besar yang panjang lebar dan penuh kebencian itu, membuat para ART mematung mendengarnya. Mereka tidak menyangka, wanita paruh baya itu, tega mengatakan seperti itu.


Saat ini para ART, tidak mempercayai ucapan Nyonya besarnya. Karena menurut mereka Melati, tidak mungkin seperti yang dituduhkan nyonya besar itu.


Melati yang sudah merasa tidak muntah lagi. Akhirnya membuka pintu kamar mandi. Walau perutnya masih mules.


Brakkk...


Melati kembali menutup pintu kamar mandi, sebelum dirinya menanggapi ucapan majikannya itu. Desakan dari anusnya harus dikeluarkan.


"Lihatlah, tidak sopan sekali dia. Saya bicara, dia langsung menutup pintu dengan kuat. Dia pikir itu kamar mandi, dia yang bangun." Ibunya Ardhi berang, dia tidak terima Melati yang buru-buru menutup pintu kamar itu. Wanita yang selalu shoudzon kepada Melati itu, akhirnya menggedor-gedor pintu kamar mandi dengan kuat. Dia harus memberi pelajaran pada wanita itu. Minimal satu tamparan di pipinya.


Dia merasa malu, kepada ART lain. Dengan sikap Melati yang menurut nya merendahkannya.


"Melati, Melati.... buka pintunya?" suara teriakan nyonya besar, membuat melati sangat ketakutan. Dia mengejan, matanya tertutup tapi, air mata bercucuran deras.


"Melati---Melati----! Buka...!" ibunya Ardhi tak pantang menyerah, mendesak Melati untuk membuka pintu.


"Ada apa ini Bu?" Ardhi yang baru tiba di rumah, dibuat penasaran dengan suara ribut Ibunya di belakang. Sehingga pria itu menunda langkahnya menuju kamar dan mencari asal suara gaduh.


"Syukur kamu datang sayang. Bagus, bagus, kekhawatiran ibu selama ini, ada buktinya juga. Melati hamil, hamil, hamil dia!" Ibunya Ardhi bicara penuh hasutan kebencian, ekspresi wajahnya begitu meyakinkan. Dia bahkan memberi kode dengan tangan di perutnya, bahwa Melati sedang hamil.


Ardhi bingung, serta kaget mendengar penjelasan Mamanya.


"Ha--mil? Melati hamil?" tanya Ardhi tidak percaya. Mana mungkin wanita itu melakukan dosa besar itu.


"Bu, tidak baik berprasangka buruk." Ardhi tidak mempercayai ucapan Ibunya.

__ADS_1


"Dia lagi sembunyi di dalam kamar mandi. Muntah-muntah. Ibu juga ada buktinya yang lain. Ibu ada foto nya dengan pria yang menghamilinya. Tadi sore, mereka berdebat di gerbang rumah kita. Sepertinya Melati minta pertanggung jawaban kepada pria itu. Dia menunduk dengan ekspresi wajah sedih." Ucapan Ibunya Ardhi yang menggebu-gebu, langsung di potong Ardhi. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan ibunya itu.


"Melati, Melati, apa kamu baik-baik saja?" kini Ardhi yang mengetuk pintu kamar mandi itu.


Melati ketakutan sekarang di dalam kamar mandi. Nyonya besar telah memfitnahnya. Nyonya besar berprasangka buruk padanya. Kali ini habislah riwayatnya. Dia pasti akan dipecat dan diusir dari rumah itu.


"Iya tuan, saya akan keluar." suara wanita itu terdengar lemah menahan rasa sakit. Melati membersihkan dirinya. Menyabuni tangannya. Dia yakin, dia kena munmen (Muntah mencret) penyakit ini bisa menular. Dia tidak mau, orang lain tetular dari dirinya. Sehingga dia membersihkan betul jemarinya.


Kreeekkkk....


Suara pintu yang ditarik terdengar nyaring. Karena tak ada suara gaduh lagi di luar. Semua mata sedang menunggu penampakan Melati dari dalam kamar mandi.


Merasa semua mata menatapnya tajam, seolah menelanjangi. Melati menunduk. Tatapan orang di hadapannya, membuat Melati semakin tertekan dan ketakutan. Sehingga perutnya kembali merasa seperti di aduk-aduk, cairan hendak keluar cepat lagi dari anusnya.


Tanpa menoleh kepada orang-orang di hadapannya. Melati kembali menutup pintu kamar mandi itu. Dia kembali mencret.


Ardhi yang sempat melihat keadaan Melati jadi tidak tega. Tapi, jikalau dia tetap di tempat itu. Maka ibunya akan semakin berang kepada wanita itu. Karena, ibunya akan menganggap Melati sedang cari perhatian.


"Bi Kom, urus Melati dengan baik. Panggilkan dokter keluarga. Kalau tetap dia seperti itu. Untuk sementara dia pindahkan ke kamar yang ada toiletnya di dalam." Titah Ardhi tegas. Sang ibunda mencibikkan bibirnya. Merasa kesal dengan putranya. Dia merasa perhatian putranya itu, terlalu berlebihan kepada wanita gatal itu.


"Iya tuan." Jawab Bi Kom patuh.


"Ma, ayo!" Ardhi merangkul Ibunya dengan lembut. Dia harus bersikap seperti itu, agar sang ibu bisa tenang.


Setelah sampai di kamar sang Ibu.


"Nak, perempuan itu sedang hamil." Ibunya mulai lagi membahas Melati.


"Bu, itu bukan urusan kita." Jawab Ardhi cepat.


"Apa? apa katamu? bukan urusan kita? dia pekerja disini. Di rumah ini. Ibu tidak mau punya pelayan yang tidak punya moral. Pecat saja dia." Sang ibu masih saja marah.


"Ardhi lelah Bu. Jangan habiskan tenaga ibu. untuk mengurusi para pembantu. Biar Ardhi yang urus. Sudah ya, Ardhi ke kamar dulu. Ardhi lelah Bu." Ardhi mengecup kening sang ibu, menutup pintu kamar sang ibu dengan tersenyum manis. Meninggalkan sang ibu yang masih menggerutu penuh kekesalan.


Ardhi benar-benar masuk ke kamarnya. Dia sangat menyayangkan sikap ibunya yang kelewat batas itu. Masak Ibunya itu takut sama pembantu. Katanya pembantu itu akan menggodanya.


Melati memang cantik, tapi, sedikit pun dia tidak tertarik kepada wanita itu. Dia hanya kasihan saja. Lagian dia juga baik pada semua ART nya. Bukan pada Melati saja.


Melati kini dipapah ke kamar yang lebih bagus dan di dalamnya sudah ada kamar mandi. Para ArT memang penasaran dengan ucapan Nyonya besar. Tapi, mereka tidak mau sepenuhnya percaya akan kata-kata Nyonya besar mereka. Tidak semua orang yang muntah, dikatakan hamil.


"Terimakasih Bi kok dan Abang Rudi." Ucapnya lemah, berbaring di atas ranjang ukuran 3 kaki.


"Iya, sama-sama.!" Jawab Bi kok dan Rudi.


"Yang dikatakan nyonya itu tidak benar Bi. Aku tidak hamil. Aku seperti nya masuk angin, atau munmen. Yang jelas aku tidak hamil Bi." Kini air mata berhamburan sudah membasahi pipi mulusnya Melati. Dia merasa perlu membela diri.


"Iya, kami percaya." Jawab Bi Kom.


Embun tersenyum, ternyata teman seperjuangannya, masih percaya padanya.

__ADS_1


Tiba-tiba, Melati Kembali merasa perutnya mules. Dia pun beranjak dari ranjang, berlari ke arah kamar mandi. Lagi-lagi dia harus mengeluarkan cairan itu dari anusnya. Rasanya sakit sekali.


"Rud, kamu balik kerja. Biar aku yang urus si Melati." Ucap Bi kok kepada Rudi. Si bencong itu pun meninggalkan kamar itu.


__ADS_2