
"Ini cewek kenapa tertidur? sudah dibangunin, tidak mau bangun lagi. Macem kerbau saja. Bagaimana ini kita lupa membangunkannya?" Ucap Rose dengan sedikit panik.
Mobil pun berhenti di depan pagar rumah tujuan. Nampak Pak Satpam membuka gerbang. Mobil yang ditumpangi mereka memasuki pekarangan rumah dan berhenti di depan Rumah megah dan nampak baru selesai dibangun itu.
"Waaawwww... Rumah yang kamu bangun megah banget." Ucap Ros dengan takjub, setelah Dia membuka kaca mobil. Mulutnya sampai menganga dengan mata melotot, Dia berdecak kagum.
Rose pun turun dari mobil, Dia sampai melupakan keberadaan Embun yang masih tidur pulas di bangku mobil. Dia sangat menyukai rumah yang dibangun Bos nya itu. Sangat asri, cuacanya sangat sejuk. "Ini rumah, tapi seperti Vila." Teriak Rose, dia berputar-putar, merenggangkan tangannya dan menghirup udara bebas sedalam-dalamnya.
Sementara yang punya rumah turun dari mobil dan membayar argo kepada supir yang mobilnya mereka tumpangi. Mereka berdua-dua benar-benar melupakan keberadaan Embun.
"Anakku sayang Tara.... kalian sudah sampai?" ucap seorang Ibu yang berlari kecil dari dalam rumah menuju beranda depan rumah, Dia ingin menyambut anaknya.
Ibu dan anak itu berpelukan, kemudian Rose juga memeluk wanita yang sudah dianggapnya keluarga dekat itu.
"Kenapa sich sayang, kamu tidak membolehkan supir kita menjemputmu ke Bandara?" ucapnya sambil merangkul putranya masuk ke dalam rumah.
"Ya gak apa-apa Ma, biar tidak repotin saja. Terus, biar bisa berbagi rezeki kepada orang lain dengan menyewa mobilnya." Jawabnya sambil meneruskan langkahnya ke dalam yang diikuti oleh Ros.
Tiba-tiba saja ponsel Mamanya berdering, yang tergeletak di meja ruang tamu. Ya, tadi Mamanya sedang bertelepon dengan suaminya. Karena anaknya datang, Dia berlari ke halaman depan dan meletakkan saja ponsel itu di meja ruang tamu.
"Ada apa sayang?" ucapnya Mama Mira.
"Apa anak kita sudah sampai?" ucap suaminya dari sambungan telepon.
"Sudah Ayah, sampai dengan selamat dan sangat tampan." Ucapnya sambil tersenyum kepada putranya.
"Mama sekarang datang ke rumah Ibu ya?"
"Ok." Panggilan pun berakhir.
Seketika Ros teringat dengan Embun. Dia melihat ke arah Bos dan sekalian temannya itu.
"Cewek yang di dalam mobil tadi, bagaimana ceritanya?" tanya Ros berbisik pelan di telinga Tara.
__ADS_1
Mamanya yang melihat Anaknya itu menaikkan bahu, jadi penasaran.
"Ada apa Tara?" selidik Mama Mira.
"Tadi ada wanita gila dan genit, nebeng sama kita Tante. Tapi, anehnya Dia tertular seperti kebo. Sampai ku bangunkan gak mau bangun juga. Ceweknya aneh, gak punya malu." Ucap Ros dengan wajah kesal. Dia tidak terima Embun yang memeluk-meluk Tara. Bahkan sampai ke parkiran pun mereka tetap berpelukan, dimana Embun menyembunyikan wajahnya di dada bidang Tara dan tidak mau melepas pelukannya dari Tara.
"Jadi sekarang di mana wanita itu?" tanya Mama Mira.
"Ya di mobil yang kami tumpangi tadi kali. Mungkin Dia sudah dibawa yang punya mobil." Jawab Ros.
"Oooh...!" Jawab Mama Mira, Dia masih sedikit bingung.
"Apa Dia masih tidur di Mobil saat kalian turun?" tanya Mama Mira.
"Iya Tante." Jawab Ros, Dia pun mendudukkan bokongnya di sebelah Tara yang terlebih dahulu sudah duduk. ART mereka pun datang membawa 3 gelas juice jeruk. Tara pun meminumnya, kemudian merogoh ponselnya dari kantong celananya. Dia pun menyibukkan dirinya dengan benda pilih di tangannya.
"Apa yang kalian lakukan? kenapa kalian tidak membangunkannya. Kalau Dia kesasar bagaimana nak?" tanya Mama Mira dengan panik dan khawatirnya. Rasa kemanusiaannya meronta, melihat anak dan Ros tidak memperlakukan dengan baik orang yang meminta bantuan sama mereka.
"Dia sudah besar Tante, pasti Pak supir sudah membangunkannya dan menanyain tujuannya." Jawab Ros. Dia pun ikut memainkan ponselnya.
Kedua bola matanya bergerak ke kanan-kiri, mengamati keberadaannya sekarang. Setelah kesadarannya penuh. Dia bangkit dari dan duduk sambil mengucek matanya dan membuka masker. Dia melihat jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 10.00 Wib.
"Pak, pak supir.....!" ucapnya berteriak sekencang-kencangnya. Dia syok mengetahui dirinya tertinggal karena tertidur di mobil. Sedangkan sepasang manusia yang dimintainya tolong untuk nebeng sudah tidak ada lagi.
Pak supir sangat terkejut mendengar teriakan Embun. Dia pun menepikan mobilnya. Dan langsung mengucek-ucek kupingnya. Dia menoleh ke arah jok belakang. Betapa terkejutnya Dia, ternyata masih ada penumpang di dalam mobilnya.
Embun bergegas dari tempat duduknya, pindah ke bangku belakang supir. Dia langsung membuka kaca mobil dan memeriksa daerah sekitar. Dia mengenali daerah tempat mereka sekarang berhenti. Ini daerah yang sering dibuat orang untuk tamasya, piknik atau hanya untuk jalan-jalan sore. Karena tempat ini berada di dataran tinggi. Rumah sangat jarang di tempat ini. Hanya orang-orang kaya yang biasanya membangun rumah di tempat itu.
Daerah itu namanya Tor simarsayang merupakan salah satu bukit yang ada di kota PSP. Pemandangan Kota PSP terlihat indah dari atas ketinggian. Menuju Simarsayang maka akan terpapar pandangan hijau, melewati jalan berkelok menuju perbukitan.
"Kenapa Aku kembali balik ke kota ku?" Gumamnya dalam hati. Dia merutuki nasibnya yang selalu terhalangi untuk kabur. Sudah berulang kali kabur, toh akhirnya kembali lagi.
"Kenapa Aku tidak dibangunkan Pak?" ucap Embun ketus dan kesal kepada Pak supir yang tidak tahu menahu itu.
Pak supir yang sudah berusia sekitar 40 tahunan itu pun dibuat bingung. Dia mana tahu, masih ada penumpang di dalam mobilnya. Karena saat Tara dan Ros keluar dari Mobil. Dia menoleh ke belakang dan tidak melihat siapa-siapa di dalam mobilnya.
__ADS_1
"Saya mana tahu kalau masih ada penumpang." Jawab Pak supir juga ketus. Dia masih kesal terhadap Embun, gara-gara suara Embun gendang telinga hampir pecah.
Melihat ekspresi wajah Pak supir pun seperti tidak bersahabat, akhirnya nyali Embun ciut. Dia harus bisa mengontrol emosinya. Tidak mungkin Dia melampiaskan kemarahannya kepada Pak supir ini. Jelas ini bukan salah Pak supir. Ini salah pasangan itu yang tidak membangunkannya.
Embun frustasi, Dia menghentakkan kakinya dan memukul bangku di sebelahnya. Tingkah Embun membuat Pak supir marah.
"Sebaiknya Adek turun saja, jangan merusak mobil saya." Ucapnya dan membuka kunci pintu mobil yang ada disebelahnya.
"Turun saja Dek, tidak usah bayar ongkos." Jawab Pak supir kesal. Embun melongos Dia harus bisa membujuk pak supir ini mengantarnya ke loket yang berangkat siang menuju kota M. Moga saja masih ada angkutan.
"Maaf Pak!" Ucap Embun dengan wajah memelas, serta suara mengibah. Pak supir diam saja.
"Tolong ya Pak antar Aku ke loket yang rutenya ke Kota M. Ku mohon Pak. Jangan turun kan Aku disini. Disini tidak ada angkutan Pak. Ku mohon, Aku sudah telat Pak." Ucapnya dengan suara yang lembut tapi, orang yang mendengarnya tidak bisa menolak permintaannya.
"Baiklah, tolong jangan teriak lagi. Kuping saya sakit mendengar suara mu itu." Ucap Pak supir, Dia pun menghidup mesain kenderaan roda empatnya dan melajukan mobil menuju loket.
"Pak terima kasih. Ini Pak." Ucap Embun masih duduk di dalam mobil. Dia memberi uang 50 ribu kepada Pak supir. Pak supir menerimanha dengan tersenyum. Kemudian Embun urun dari mobil dengan wajah sedikit kesal. Karena semua rencananya tidak sesuai ekspektasi.
Dia pun berjalan menuju pembelian tiket.
"Kak, masih ada Bus atau angkutan lainnya menuju kota M, siang ini?" tanya Embun kepada petugas penjaga pembelian tiket yang ternyata seorang lelaki yang nampak masih muda.
"Ada Dek, tapi berangkatnya jam 13.00." Jawabnya tersenyum kepada Embun.
Embun melirik jam yang melingkar di tangannya, baru pukul 10.30wib. Berarti waktu menunggu masih lama.
"Baiklah saya pesan satu tiket." Ucapnya dan merogoh dompetnya dari tas ranselnya.
Tanpa Embun sadari, sejak Dia turun dari Mobil, ada sepasang mata yang sudah melihatnya. Dan yang punya mata itu kini sudah berada dibelakang Embun.
Setelah Embun membeli tiket, Dia berbalik dan....
Bersambung
Mohon beri like, coment, rate 🌟 5 dan favoritkan ya kak.
__ADS_1
Mohon beri seikhlasnya vote hadiah dan vote rekomendasi.