DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Ingin mati saja


__ADS_3

Melati menghela napas dalam dan menghembuskannya pelan. Dia memegangi dadanya yang bergemuruh, karena masih ketakutan. Belum hilang rasa sakit di sekujur tubuhnya, karena kesuciannya direnggut paksa oleh sang majikan. Dia juga harus merasakan tindak kekerasan dari Ibu Jerniati. Sungguh penderitaan yang dialaminya saat ini lengkap, selengkapnya.


Sempat melintas prasangka buruk pada sang Khalik. Kenapa dia mesti mendapat cobaan seberat ini. Kenapa dia diperlakukan tidak seperti manusia. Padahal dia tidak pernah berbuat jahat pada makhluk di bumi ini, dan sekarang kenapa dia seolah di hukum seberat-beratnya. Tapi, apa gunanya mengeluh. Semuanya telah terjadi.


Dengan langkah tertatih-tatih, karena menahan sakit dibagian intinya. Wanita itu harus pergi secepatnya dari tempat itu. Dia tidak boleh tertangkap. Kalau dia sempat tertangkap, maka penderitaan lebih pahit akan didapatkannya lagi.


Melati tidak menyangka, Ardhi sang majikan yang nampak baik itu. Ternyata iblis. Melati pun menyimpulkan bahwa, kebaikan Ardhi selama ini hanyalah palsu belaka. Kebaikannya itu, hanya untuk menjebaknya.


Sengaja majikannya itu, meninggalkannya di kantor. Agar pria itu bisa menggagahinya. "Bo-doh, kenapa aku bo"doh sekali!" umpatnya dalam hati. Kakinya melangkah terus, dia tidak tahu mau ke mana. Ini sudah dini hari. Ke mana dia akan pergi?


Kalau dia pergi ke kost an si Butet. Dia takut si Butet akan banyak pertanyaan. Dia belum siap di cejal dengan berbagai rentetan pertanyaan. Dia belum sanggup menceritakan, kejadian memilukan yang dialaminya saat ini.

__ADS_1


"Ya Allah,.. Ampunkan aku yang sempat berfikiran buruk padaMu. Ya Allah, tolong selamatkan aku, dari Nyonya besar." Melati berbicara sendiri dengan suara lemah. Kini dia sudah meninggalkan area perkantoran Ardhi.


Wanita itu pun baru tersadar, bahwa saat ini dia sedang berada sendirian di tepi jalan, di tengah malam yang sunyi dan dinginnya udara malam. Tubuh wanita itu bergetar, karena ketakutan, serta kedinginan. Melati celingak-celingukan, memperhatikan sekitar. Mawas diri, dia takut tiba-tiba orang jahat atau orang mabuk menghampirinya.


Tapi, untuk apa lagi takut, ada orang jahat atau orang mabuk mengganggunya. Toh, dirinya sudah hancur, tak ada lagi yang berharga pada dirinya. Mungkin solusi terbaik adalah bunuh diri saja.


Melati mendudukkan tubuhnya di depan ruko yang sudah tutup. Memeluk lututnya itu dengan menangis histeris. Kenapa dia harus mengalami kejadian mengerikan seperti ini.


Mana mungkin majikannya, mau bertanggung jawab. Dia hanya seorang pembantu. Dia saja yang bodoh, terhipnotis dengan sikap baik sang majikan.


"BO--DOH.. Harusnya aku tidak menunggunya di kantornya." Ucapnya menyesali diri sendiri. Dia kembali menangis tersedu-sedu. Kelakuan Ardhi saat merenggut paksa kesuciannya, melintas lagi di pikirannya.

__ADS_1


"Apa yang harus ku lakukan. Masa depan ku sudah hancur!" lirihnya dengan derai air mata yang tak berkesudahan.


"Mak..!" ucapnya lemah. Bagaimana kalau keluarganya tahu, dia tidak suci lagi. Bagaimana kalau dia hamil? membayangkan hal-hal mengerikan itu membuat Melati semakin syok.


"Tidak...!" teriaknya histeris.


Ngung...ngung..ngung..


Ponsel di dalam tas ranselnya berdering. Melati yang tidak berdaya itu, membiarkan ponsel itu terus berbunyi. Hingga panggilan ketiga dia pun merogoh ponsel itu dari tas ranselnya. Saat itu juga kedua mata sembabnya terkejut melihat nama yang menelponnya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2