
"Tidak.... Tolong....!" Teriak Ardhi untuk kedua kalinya.
Melati memegangi dadanya yang berdebar-debar, karena ketakutan mendengar suara teriakan Ardhi yang mengerikan itu.
"Ada apa dengan Mas Ardhi ?" ucapnya sembari bergegas menuju lantai dua gubuk itu.
"Iiihhh.... aduhhhh... Gimana ini?" Ucap Ardhi dengan geli bercampur takut. Saat itu juga Melati sudah sampai di lantai dua. Wanita itu langsung memalingkan wajah nya lagi. Terkejut melihat penampakan Ardhi yang terbaring dengan sarung tersingsing ke atas, dengan tangan nya menarik ujung sarung berusaha menutupi singkong batangnya.
Paha putih berototnya Ardhi tereskpos jelas. Ya pria itu punya kulit yang putih. Tentu saja, Melati yang tak biasa melihat aurat laki-laki jadi merasa tidak enakan. Walaupun itu suaminya sendiri.
"Dek, tolong ambilkan itu dek?!" titah Ardhi dengan wajah diangkat nya, munjukkan ketakutan, matanya mengarah pada pahanya.
"Astaghfirullah...!" Melati dengan cepat meraih kain Yang ada disekitarnya, sebagai alas menarik lintah yang menempel di pahanya Ardhi dekat dengan selan#gkangan pria itu. Wanita itu terlihat begitu mengkhawatirkan sang suami, dalam kebingungannya. Masak seorang pria takut lintah. Setahu dia suaminya itu kan seorang yang pecinta alam. Tentu binatang seperti ini bukan hal yang mengerikan atau menakutkan.
Melati tidak terlalu memusingkan hal yang mengganjal di hatinya, terkait Ardi yang bersikap berlebihan saat digigit lintah. Melati sebenarnya jijik dan takut lihat binatang tak bertulang penghisap darah itu. Tapi, mau gimana lagi. Ardhi butuh bantuannya saat ini.
Setelah lintah terlepas dari paha sang suami, Melati dengan tergesa-gesa turun ke lantai bawah, mencari sabun dan garam, mana yang lebih dulu terjangkaunya
Ardhi tersenyum penuh kepuasan, saat Melati dengan beraninya mengambil lintah yang menempel di pahanya itu. Dia sukses mengerjai sang istri.
"Terimakasih lintah, lintah darat." Ucapnya pelan sambil cengengesan, memperhatikan lintah yang masih hidup itu bergerak dengan jengkalannya di atas baju kerjanya Pak Samsul.
"Cepat lari, sebelum istriku membunuhmu." Ardhipun langsung menutup mulutnya disaat Melati sudah naik ke lantai dua. Membawa sebungkus garam dan langsung menaburkannya ke tubuh lintah yang tubuhnya sudah membulat itu. Sebenarnya lintah itu, sudah mau jatuh sendiri dari tubuhnya Ardhi. Karena, lintah itu sudah kenyang menghisap darah Ardhi.
"Sudah berhenti darahnya Mas?" Melati berjongkok di hadapan Ardhi yang duduk dengan mengangkang menekuk kedua lututnya. Dan sarung yang dikenakan Ardhi sudah menutupi paha pria itu.
"Gak tahu Dek. Sebentar Mas periksa dulu." Ardhi kembali menyingsingkan sarungnya. Saat itu juga Melati membuang wajahnya. Dia tahu suaminya itu tidak pakai CD. Sedangkan Ardhi senyam-senyum, merasa lucu dengan kelakuannya.
"Belum." Jawab Ardhi cepat.
"Ooh... Mas tempelkan ini ke bekas gigitannya." Melati memberikan sejumput dedaunan yang di remas-remasnya sehingga daun itu mengeluarkan air.
Ardhi melakukan perintahnya Melati masih dengan ekspresi wajah bahagianya. Saat ini dia sudah yakin, bahwa ketakutan istrinya itu padanya sudah jauh berkurang. Itu artinya Ardhi sudah mau membuka hati untuknya.
__ADS_1
"Bos.... Bos Ardhi...!" Ardhi tersentak mendengar suara Rudi sang asisten yang tak jauh dari tempat mereka saat ini. Rawut wajah bahagia kini berubah jadi kesal. Kalau itu beneran Rudi. Malay, acara berduaan dengan Melati terganggu dong. Padahal dia sedang berusaha mendekatkan diri dengan Melati hari ini. Siapa tahu nanti malam bisa tidur seranjang.
Melati yang masih memunggungi Ardhi, bergegas turun ke lantai bawah, disaat mendengar suara teriakan Rudi. Dia tidak mau Rudi memergoki mereka di pondok itu.
"Eehh Non Melati." Ucap Rudi dengan ramah, mendekati Melati yang kini masih berdiri di tangga pondok itu. Satu anak tangga lagi agar Melati sampai ke lantai bawah.
"Iya Pak Rudi."
"Apa? jangan panggil Bapak dong Non. Kalau didengar Bos, bisa dipecat saya." Ucap Rudi bergidik bahu, karena ketakutan dimarahi sang Bos.
Melihat Melati berada di sawah Pak Samsul. Rudi pun yakin bahwa Bosnya itu ada di tempat itu.
"Bos mana Non?"
"Iiitu, itu,"
"Aku di sini." Ardhi langsung memotong ucapan sang istri. Turun dengan telanjang dada, dan mengenakan sarung. Saat Ardhi menuruni anak tangga yang tidak panjang itu. Kedua bola mata Rudi membulat melihat Bos nya itu.
"Napa loe tertawa?" ketus Ardhi.
"Gak ada Bos, lucu saja penampilan Bos. Pasti lagi membebasin, burung dalam sangkar ya Bos?" Rudi tersenyum mesum. Melati tahu betul arah pembicaraan sang asisten. Dia yang tidak terbiasa dengan candaan seperti itu, memilih memasak air, untuk membuat kopi.
Pukkk..
Satu tendangan melayang ke bokongnya Rudi. Tentu saja Ardhi hanya bercanda. Dia kesal pada sang asisten yang tak punya moral itu. Berani sekali dia mengolok-olok Bosnya.
"Apasih Bos, kutarik sarung itu baru tahu rasa loe Bos."
"Apa loe bilang. Berani loe?" Tantang Ardhi menatap kesal Rudi.
"Berani dong?!" Rudi tercengir. " Gak berani deng!" Rudi mengangkat kedua tangan pertanda menyerah pada Bos nya itu.
Kini kedua pria itu pun langsung membakar jagung. Sedangkan Melati sibuk menyiapkan kopi.
__ADS_1
"Lagi bulan madu ya Bos?" goda Rudi, Ardhi langsung menimpuk kepala Rudi dengan ranting yang ada di tangannya.
"Sudah tahu nanya, ganggu aja kamu." Ardhi masih kesal, pada sang asisten. Sedang kan Rudi tertawa mengejek pada Bosnya itu.
"Bukan gitu Bos. Ini sudah puku 11 siang. Acara di mulai pukul 14.00 Wib. Orang di rumah panik, karena pengantin baru gak nongol-nongol. Padahal banyak tamu yang ingin memberi selamat pada Bos dan NoNa." Ucap Rudi panjang lebar, sambil membolak balik jagung bakar nya. Ardhi yang tadi menatap lekat Rudi yang bicara. Kini mengalihkan pandangannya ke arang untuk membakar jagung.
"Penduduk kampung hanya kepo saja itu, terkait masalah kami." Jawab Ardhi datar. Dia jadi merasa bersalah sekali pada Melati
"Iya Bos" Jawab Rudi lemah. Dia juga sempat mendengar fitnah pada Melati saat di Hotel dan juga di pekarangan rumah Pak Samsul pagi tadi.
"Sudah kamu handle semua untuk acara syukuran nanti?" Ardhi menatap tajam sang asisten. Sempat kerjaannya tak beress hari ini. Siap-siap lah sang asisten akan dipecat.
"Sudah Bos. Makanan dan sumbangan sudah rebes. Tinggal tayang." Jawab Rudi bangga.
"Berapa jumlah uangnya yang kamu masukkan di dalam amplop itu?"
"Per amplop akan mendapatkan uang sebesar Rp.200K Bos." Jawab Rudi tenang.
"Bagus, semoga tatapan kebencian menjauh dari kita."
"Bagus, bagus, saya ingin pas acara nanti, semua orang memuji kita. Bukan mencibir dan memfitnah istri saya."
Deg..
Melati tersentak kaget mendengar ucapan sang suami. Dia tak sengaja mendengar percakapan Ardhi dan Rudi. Fitnah itulah yang membuat Melati jadi takut pulang ke rumah orang tua angkatnya Pak Samsul dan Ibu Khadijah. Tatapan orang yang menghakiminya, akan membuatnya down. Makanya dia memilih menenangkan diri di sawah. Untuk menolak membuat acara syukuran, tidak mungkin, dia takut Pak Samsul kecewa, karena penolakannya.
"Bos, habis acara saya pamit pulang." ucap Rudi lemah dan langsung menunduk. Ada masalah di kantor dan di rumah saat ini. Rudi ingin menyelesaikan sendiri masalah itu, tanpa ada perintah dari sang Bos.
Saat ini Ardhi tidak tahu masalah itu, karena. Dia belum pegang Hape dari sejak mereka berangkat dari hotel menuju rumah pak Samsul.
Rudi tidak ingin mengganggu hari bahagia sang majikan karena masalah yang datang.
TBC. Kantuk say
__ADS_1