DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Kejanggalan sikap Embun


__ADS_3

Tara tidak menyangka Nantulangnya masih meragukan perasaannya. Kalau Dia tidak mencintai Embun, untuk apa Dia menerima perjodohan ini.


Melihat Tara tidak kunjung menjawab pertanyaannya. Mama Nur tiba-tiba saja memeluk Tara yang membuat Tara terkejut.


"Nantulang yakin kamu sangat menyayanginya. Berjanjilah untuk membahagiakannya. Bersabarlah menghadapinya, jika sikapnya seperti tadi terjadi lagi dikemudian hari." Ucap Mama Nur dengan terisak. Dia sebenarnya sangat kasihan kepada putrinya itu.


Mama Nur tidak mempermasalahkan Embun mau menikah dengan siapapun. Yang penting pria itu baik dan mencintai putrinya itu. Mendapati kenyataan Embun masih membenci Tara, membuat Mama Nur sangat khawatir dengan nasib pernikahan putrinya itu kelak.


Dia sangat takut, Tara akan menceraikan Embun jikalau Tara mengetahui kenyataan bahwa Embun mencintai pria lain. Jika itu terjadi, maka jelas sudah hubungan persaudaraan akan retak.


Lama Tara mencerna ucapan Nantulangnya itu. Hingga Dia pun mengiyakannya. Mama Nur melepas pelukannya.


"Nantulang sangat berharap dengan pernikahan kalian, hubungan persaudaraan dikeluarga kita semakin dekat dan harmonis. Hanya kepadamu Nantulang menggantungkan harapan itu. Kamu harus bisa mengerti keadaan Embun." Ucap Mama Nur dengan lembut, masih menatap lekat kedua mata Tara.


"Pernikahan ini akan membuat hubungan kekeluargaan semakin dekat dan harmonis Nantulang. Bagaimanapun akhirnya nanti, hubungan persaudaraan jangan sampai rusak." Jawab Tara memegang kedua bahu Nantulangnya itu. Dia yakin, akan bisa hadapi Embun nantinya.


"Itu yang kita harapkan semua. Baiklah, Nantulang ke kamar Embun dulu. Kamu hati-hati di jalan ya. Soal Ros, tidak usah dibawa ke jalur hukum. Kamu bicara baik-baik kepadanya. Bahwa Embun adalah calon istri mu." Ujar Mama Nur, Dia pun melepas tangan Tara dari bahunya. Bangkit dari duduknya berjalan menuju ruangan Embun dirawat.


Sepeninggalan Nantulangnya, Tara tidak langsung pulang. Dia masih terduduk di bangku panjang Stainles tersebut. Dia merasa ada yang janggal dengan sikap Embun. Tidak mungkin Dia cemburu kepada Ros. Padahal Embun saja tidak mengenalinya dan Ros. Alasan Embun mengatakan mereka sedang mesum di saung adalah salah besar. Karena, Tara dan Ros hanya bercerita.


Tara menceritakan kisahnya waktu kecil sering main di sawah. Kadang memancing belut dan main lumpur bersama Embun dan Doli. Ros tertawa, karena Tara menceritakan bahwa belut yang mereka dapat, susah ditangkapnya karena licin.


Lamunan Tara buyar, disaat ponselnya berbunyi. Dia melihat di layar Ros sedang memanggil VC.

__ADS_1


"Ada apa?" ucap nya malas, nampak wajah Ros memenuhi layar ponselnya.


"Aku sudah sampai di rumah mu. Pulang dengan Tante dan Om." Ucapnya dengan terseyum. Tara pun langsung mengakhiri panggilan VC tersebut, tanpa ada basa-basi menutup panggilan. Dia masih sedikit kecewa kepada Ros. Embun wanita yang disayanginya, harus babak belur di tangan Ros.


Tara menghela nafas dalam, mengusap wajahnya kasar. Dia pun bangkit dari duduknya berjalan lemas menuju parkiran tempat mobilnya berada. Dia melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang menuju rumahnya.


Sesampainya di rumah, Tara melihat orang tuanya sedang duduk bersama di ruang keluarga. Seperti sedang membicarakan hal serius.


"Tara, duduklah dulu. Ada yang mau kita bahas menyangkut Ros." Ucap Ayahnya. Menghentikan langkah Tara untuk masuk ke kamarnya di lantai dua.


Tara mendudukkan bokongnya dengan malas di sofa dan menyandarkan punggungnya, kedua kaki terbuka lebar, dan matanya menatap lampu hias yang menggantung di ruangan itu.


"Mely tidak keberatan, kalau mulai besok Dia duluan kembali ke kota M. Karena pernikahan tinggal dua Minggu lagi. Kamu hanya bisa sibuk dalam satu Minggu ini. Minggu berikutnya, kamu harus stay disini." Ucap Ayah Tara. Bagaimana pun Dia harus ikut campur dalam ha ini. Karena, Embun mempermasalahkan Ros. Begitulah kesimpulan yang mereka ambil dari ucapan Embun. Mereka tidak tahu, Embun membenci Ros bukan karena cemburu. Tapi, karena dendam pribadi.


"Oh begitu. Ros, kamu jangan buat masalah lagi. Kamu sudah kami anggap sebagai putri sendiri. Embun itu Calon istrinya Tara, kamu harus baik sama Dia." Ucap Ayah Tara, Mata tuanya tak lepas dari wajah Ros yang menunduk itu. Pasalnya sebelum Tara datang, kedua orang tua Tara sudah memperingatinya bahwa Dia jangan sampai ada perasaan kepada Tara.


Ros nya mengangguk, pertanda Dia harus mengubur dalam-dalam perasaannya kepada Tara. Kedua orang tua Tara masuk ke kamar, begitu juga Ros, yang kemudian Tara juga meninggalkan ruangan keluarga itu dan masuk ke dalam kamarnya.


Setelah bersih-bersih, Dia membaringkan tubuhnya di ranjangnya yang berukuran 7kaki itu. Ranjang ini adalah ranjang baru, tentunya yang akan menjadi tempat tidur mereka setelah menikah dengan Embun.


Tara menatap intens foto dirinya bersama Embun yang terpampang di dinding kamarnya dalam bingkai yang ukuran 20 R. Melihat reaksi Embun yang masih membencinya, sepertinya memajang foto mereka di kamar ini adalah bukan ide yang baik. Besok Dia akan menurunkan foto itu. Dia pun mencoba untuk tidur.


🌻🌻🌻

__ADS_1


Udara sejuk masih terasa menyentuh kulit. Embun pagi masih menghiasi dedaunan. Sayup-sayup terasa belaian sinar matahari pagi menelusup masuk dari celah-celah jendela kamarnya Tara. Dia membuka mata dan melihat jam yang ada di dinding kamarnya, ternyata sudah pukul setengah tujuh.


Dia bergegas masuk ke kamar mandi, membersihkan dirinya dengan cepat. Sungguh Dia sangat menyayangkan dirinya yang terlambat bangun dan sholat shubuhnya lu terlewat.


Setelah rapi, Tara turun ke ruang makan. Nampak semua keluarga sudah berkumpul. Dan menikmati sarapannya masing-masing.


"Kenapa telat bangunnya? kamu sudah mau jadi suami. Kalau bangunnya selalu telat, bagaimana kamu akan membimbing istrimu. Kalau kamu saja tidak bisa jadi panutannya." Ucap Ayah Tara yang nampak melipat korannya, Dia memperhatikan putra nya itu dengan tatapan sedikit kecewa.


"Iya Ayah, lain kali tidak akan lagi." Ucap Tara, lalu menyendok nasi goreng yang ada di piringnya. Dia ingin cepat menyelesaikan sarapannya dan akan menjenguk Embun lagi ke rumah sakit.


"Tara, apa kamu tidak mengantar Aku ke bandara?" Ros nampak memperhatikan Tara dengan perasaan sedih, Karena Dia akan duluan berangkat ke kota M. Dia sudah terbiasa kemana-mana bersama Tara.


"Bandara itu jauh Ros, kalau Aku ikut hanya untuk mengantarmu. Itu sama saja buang waktu. Pesan mobil travel aja. Jangan lupa sampai di kantor, cepat laporkan semua perkembangan perusahaan." Ucap Tara, masih fokus memakan sarapannya. Dia sangat menyukai nasi goreng. Apalagi masakan Mamanya.


"Kamu rapi seperti ini kirain mau anterin Aku." Ros nampak bersedih dan berkecil hati. Tara diam, masih fokus dengan sarapannya.


"Apa kamu mau ke Rumah sakit?" ucap Mama Mira dan menyodorkan juice jeruk kepada putranya itu.


"Iya Ma." Tara meneguk juice yang diberikan Mamanya. Menyudahi sarapannya dan meninggalkan ruangan itu. Ros melihat kepergian Bos nya itu dengan perasaan sedih.


"Kenapa Dia buru-buru sekali, kan bisa bareng keluarnya." Ucap Ros, Dia melirik kedua orang tua Tara dengan tersenyum kecut. Mama Mira dan suaminya hanya diam menanggapi ekspresi Ros tersebut. Mereka juga sebenarnya kesal kepada Ros. Tapi, karena Tara masih membutuhkan Ros di perusahaannya. Mereka pun memaafkan kesalahannya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2