
Tara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang ke Rumah Sakit. Dia sebenarnya sudah tidak sabar untuk melihat kondisi Embun, tapi karena Dia punya sifat yang sabar, Dia tidak mau ugal-ugalan di jalan dengan ngebut agar cepat sampai.
Setelah memarkirkan mobil mewahnya di parkiran rumah sakit. Tara melangkahkan kaki lebarnya masuk ke gedung Rumah sakit tempat Embun di rawat.
Dia memasuki lift dan menekan tombol panel ke lantai 3 sesuai dengan tempat Embun di rawat. Sesampainya di depan ruangan Embun, Tara menarik napas dalam. Dia nervouse sekaligus takut. Dia harus menyiapkan mentalnya mendapatkan sikap jutek dari calon istrinya itu.
Tok..tok..tok
Tara mengetuk pintu, dan masih berusaha menenangkan dirinya. Hingga nampaklah Mama Nur dibalik pintu, disaat pintu terbuka.
"Nak Tara masuklah." Ucapnya dengan tersenyum. Dia senang sekali pagi-pagi sekali Tara sudah datang menjenguk Embun, ini bagus sekali. Karena ada yang membantunya untuk mengurus semuanya. Karena Embun memaksa untuk keluar dari Rumah Sakit, Dia ingin dirawat di rumah saja.
Tara berjalan ke arah Embun yang kini nampak bersandar di kepala bed nya dengan ekspresi wajah tidak senang. Cemberut, tapi Tara menyukai ekspresi itu.
"Bagaimana kabarnya Dek?" ucap Tara dengan tersenyum. Dia tidak tahu lagi cara berbasi-basi. Sehingga pertanyaan dijawab ketus Embun.
"Keadaanku sedang tidak baik, apa tidak lihat apa keadaanku yang berjalan aja susah. Ini semua gara-gara pacarmu itu." Jawab Embun panjang lebar dan melototkan matanya kepada Tara.
Jawaban Embun membuat Tara semakin tidak enak hati dan takut salah sikap lagi. Tapi satu hal yang membuat Tara penasaran. Suara Embun seperti pernah di dengarnya.
"Ros bukan pacar Abang, Dia hanya Sekretaris. Mana mungkin Abang bawa wanita kedalam keluarga kita. Padahal sudah jelas kita akan menikah." Ucap Tara serius menatap Embun dengan lekat, Embun juga menatap Tara. Dia tidak menyangka Tara bisa berkata seperti itu. Sedangkan Mama Nur dibuat senyum sendiri, mendengar ucapan Tara.
"Siapa juga yang mau menikah denganmu." Ucap Embun dan memalingkan wajahnya, dari tatapan Tara.
Ucapan Embun membuat hati Tara sakit, tapi Dia mencoba tenang. Tara melirik ke arah Nantulangnya yang sedang mempacking barang-barang Embun dan mengedipkan mata.
"Aku juga tidak ingin menikah denganmu." Ucap Tara serius, mendengar ucapan Tara. Embun kembali menoleh ke arah Tara.
"Ya iyalah kamu juga tidak mau menikah denganku, karena kamu kan sudah punya kekasih." Jawab Embun kesal.
"Jadi kamu cemburu nih ceritanya, dari semalam kamu bahas Ros terus." Tara kini menarik kursi yang ada di dekat bed Embun. Dia dudukan bokongnya di kursi itu, lebih dekat ke tempat Embun berbaring.
__ADS_1
"Siapa juga yang cemburu." Embun semakin kesal.
"Ya sudah, jangan bahas Ros lagi. Kita tidak bisa mengelak dari pernikahan ini. Apa kamu mau Ompung struknya kambuh." Tara menggerakkan tangannya Dia ingin menyentuh kening Embun yang memar itu. Dan Embun menepisnya cepat.
Melihat putrinya tidak sopan kepada Tara. Mama Nur menyamperin mereka.
"Kamu harus lebih sopan lagi kepada Tara." Mama Nur melirik Emhun.
"Dan kamu Tara, kenapa bohongin Nantulang. Bukannya kamu sangat ingin menikah dengan Embun. Kenapa bilang tadi tidak ingin menikah dengannya." Ucap Mama Nur menatap lekat kepada Tara. Mama Nur sengaja mengatakan itu, biar Embun sadar, bahwa Tara benar-benar menyukainya.
"Iya Nantulang, Tara minta maaf. Sebenarnya Tara senang bisa menikahi Embun. Tapi sepertinya Embun masih tidak menyukai Paribannya ini. Sepertinya Aku akan menikahi Ros saja." Ucap Tara mengedipkan matanya kepada Mama Nur.
"Lihat tu Ma, mereka ada apa-apanya itu." Ucapan Embun terhenti, karena Mama Nur meletakkan jari telunjuknya di bibir Embun.
"Sudah, jangan dibahas lagi. Mau atau tidak kalian berdua. Kalian harus tetap menikah." ;
Mama Nur melanjutkan kegiatannya mempacking barang-barang Embun. Keduanya pun terdiam, Tara masih setia menatap wajah Embu yang sangat cantik menurutnya pagi ini, walau tanpa riasan make up.
Dokter dan satu perawat masuk ke ruangan Embun, memeriksa kondisi Embun sebelum diperbolehkan pulang.
"Bagaimana perasaan mu Gadis cantik?" ucap Dokter dengan ramahnya yang membuat Tara melototkan matanya kepada Dokter yang menangani Embun. Tara merasa Dokter ini ada hati kepada Embun.
"Calon istri saya sudah baikan Dok, pagi ini juga kami akan keluar dari rumah sakit." Ucap Tara dengan tegas kepada Dokter, kemudian Dia menatap Embun yang nampak kesal sekali kepadanya. Bisa-bisanya Dia yang menjawab padahal pertanyaan ditujukan kepada Embun.
Dokter itu pun bengong mendengar jawaban Tara. Memang Dokter itu sempat suka kepada Embun. Secara Dia menyukai wajah cantik Embun dan juga tubuh Embun yang Proporsional ditambah kulit Embun yang putih dan halus itu. Saat Embun diperiksa dan dibawa ke ruang Rontgen, Dokter itu terpana dengan kecantikan yang dimiliki Embun.
"Sebenarnya belum bisa pulang, tapi kalau Adek Embun mau di rawat di rumah juga tidak masalah." Ucap Dokter dengan wajah kalah sebelum bertempur. Dia meninggalkan ruangan itu, kemudian diikuti oleh perawat.
Tara pun keluar dari ruangan menyelesaikan semua biaya administrasi.
"Sayang, Mama mohon jangan buat masalah lagi. Ingat kesehatan Ompung. Mama mengerti dengan perasaan mu. Tapi sayang, kalau memang Tara adalah jodohmu. Bagaimana lun caramu menghindar. Pasti kalian akan berjodoh. Jangan lagi mencoba atau mengeluarkan kata-kata yang membuat hati orang sakit. Ikhlas dan sabar, kita lihat kedepan apa yang akan terjadi." Ucap Mama Nur, Dia membelai kepala putrinya itu dengan sayang.
__ADS_1
Sedangkan Embun dibuat tersentak dengan ucapan Mamanya itu. Ucapan Mamanya ada benarnya. Sudah tiga kali Dia kabur, tapi tetap tertangkap, bahkan pelariannya ketiga, malah Dia sendiri yang mau ikut dengan Tara.
Embun bergidik ngeri, bagaimana nantinya jikalau Tara tahu, bahwa wanita yang memeluk-meluknya di bandara adalah Embun. "Aduuhh.... itu memalukan sekali." Gumamnya dalam hati.
Tara sudah selesai membayar semua biaya administrasi. Dia kembali membantu Nantulangnya beres-beres.
"Nantulang, apa tulang tidak datang kesini menjemput Embun." Ucap Tara.
"Tidak Bere, kita kena musibah. Kebun salak kita terbakar." Ucap Mama Nur dengan lesunya. Dia mendudukkan bokongnya di sofa.Berusaha tenang, karena perkebunan mereka dilalap si jago merah, yang terbakar Sampai 10 Ha.
"Astaghfirullah..." Ucap Embun.
"Oohh, sabar ya Nantulang." Ucap Tara sedih.
"Iya, kita sudah bisa pulang sekarang?" tanya Mama Nur kepada Tara.
"Sudah Nantulang."
"Sebentar, Nantulang panggil supir ke sini untuk membawa Embun ke mobil." Mama Nur berniat menelpon supirnya, yang sudah dari tadi pagi, menunggu di parkiran.
"Tidak usah dilibatkan supir Nantulang. Biar Aku saja yang membawa Embun." Ucap Tara.
"Tidak apa-apa supir disini koq, biar ada yang bawain barang-barang." Ucap Mama Nur dan menghubungi supirnya.
"Iya Nantulang, kita memakai mobil saya saja ya Nantulang?"
Mana Nur mengangguk. Tara mendekati Embun. Dia pun menaruh tangannya dibawah paha embun dan melingkarkan dipunggung Embun.
"Kamu mau apa?" teriak Embun sangat kesal, berani sekali Dia menyentuh tubuh Embun.
"Ya mau gendong Adek lah. Emang Adek bisa jalan." Ucap Tara, Dia kembali berniat menggendong Embun. Tapi Embun tidak mau.
__ADS_1
"Aku mau didorong dengan kursi roda saja." Ucap Embun, menatap ke arah Mamanya. Dia tidak mau digendong Tara.
TBC