
Melati yang duduk di kursi Stainles panjang itu, selalu dilirik-lirik oleh resepsionis yang bernama Kinan itu dengan tatapan sinis. Disaat temannya lewat di hadapannya. Resepsionis itu pasti memanggilnya, terus menunjuk-nunjuk ke arah Melati sambil tertawa mengejek. Dia tahu wanita itu sedang membicarakannya.
Sakit sekali rasanya tidak dihargai seperti ini. Tapi, Melati tidak terlalu memusingkan hal itu. Dia sudah terbiasa direndahkan. Memang seperti itu hukum di dunia ini. Manusia selalu menilai orang dari penampilan saja.
Melati sudah cukup lama menunggu, agar suaminya itu turun. Sudah ada satu jam setengah dia duduk di bangku Stainles itu. Karena sekarang sudah pukul 13.30. Rasanya begitu membosankan, apalagi saat ini kepalanya terasa semakin sakit. Wanita itu pun memijat keningnya dengan lembut. Berharap sakit kepalanya berkurang.
Melati menghampiri kembali security yang mengatakan bahwa Ardhi biasanya akan turun itu.
"Pak, ini sudah pukul 13.35 Wib. Tapi, kenapa Mas Ardhi belum turun juga?" Security cukup kasihan juga melihat keadaan Melati yang nampak pucat.
"Iya biasanya juga jam segitu si Bos turun dek." Jawabnya memperhatikan lagi Melati lekat dari atas sampai bawah.
"Ditunggu saja, beliau pasti turun." Melati mengangguk lemah. Dia kembali berjalan ke tempat duduknya. Dia akan menunggu sepuluh menit lagi. Kalau memang tidak kunjung keluar. Dia akan menunaikan sholat dzuhur dulu. Dan akan kembali menunggu Ardhi. Rasanya usahanya akan sia-sia. Kalau dia pulang, tanpa bertemu suaminya itu. Padahal dia sudah susah-susah memasak pagi tadi.
Melati baru saja mendudukkan bokongnya. Matanya yang tertuju ke arah lift, melihat lift itu terbuka. Seketika perasaannya lengah, karena melihat sang suami, yang nampak fokus dengan ponselnya. Dan perasaan legah itu pun seketika berubah jadi kecemasan dan ketakutan. Disaat seorang wanita berjalan cepat dari lift itu juga untuk menghampiri sang suami.
"Mas Ardhi...!"
Melati mematung mendengar suara manja seorang wanita yang memanggil suaminya. Ardhi yang fokus menatap ponsel dan tidak melihat sekeliling. Menghentikan langkahnya. Dia benar-benar tidak melihat keberadaan Melati di hadapannya.
"Ada pasta, di bibirmu." Tangan gemulai wanita itu dengan cepat melap pasta yang menempel di sudut bibir pria itu. Tanpa meminta persetujuan untuk membersihkan pasta yang menempel itu.
Melati syok melihat tontonan romantis di hadapannya. Dia pun bangkit dari duduknya dengan kaki gemetar. Kakinya terasa layu, seperti tidak ada darah yang mengalir di pembuluh darahnya saat ini. Ingin dia melangkah cepat menghampiri sang suami. Memanggil nama suaminya itu, agar sang suami menatap ke arahnya.
Tapi, mulutnya seolah terkunci. Pita suaranya terasa rusak ,saat dia berusaha keras untuk memanggil nama sang suami. Melati seperti itu, karena dia dalam keadaan tertekan, melihat suaminya itu diperhatikan oleh wanita lain. Dia jadi teringat ucapan sang suami tadi pagi, suami nya itu ingin diperhatikan.
"Mas.." Ucapnya yang hanya bisa didengar olehnya. Dia memutar lehernya, guna melihat sang suami yang sudah berlalu dari hadapannya. Dan akan keluar gedung itu.
"Mas..!" ucapnya masih dengan suara yang terdengar pelan. Padahal dia sudah merasa maksimal saat memanggil sang suami. Kepalanya juga semakin sakit saja terasa, keringat dingin sudah bermunculan di keningnya sebiji jagung.
__ADS_1
Melati semakin frustrasi sekali, suaminya itu benar-benar tidak menatap ke arahnya. Dia pun berusaha menggerakkan kakinya yang terasa lagu itu. Dia akan mengejar Ardhi. Baru satu langkah.
Prang ,.... peng ......peng .....penggg
Melati ambruk di lantai. Rantang susun Stainles yang ada di tas bekal itu. Jatuh membuat keributan karena terbentur lantai.
"Eehhh... Dek, dek...!" teriak pak satpam refleks tepat di sebelah Ardhi. Pak satpam yang melihat Melati jatuh pingsan itu pun berlari menghampirinya. Seketika Melati dan pak satpam jadi pusat perhatian.
Ardhi juga akhirnya menoleh ke asal suara ribut itu. Dia tak kalah terkejutnya melihat pemandangan di hadapannya. Istrinya pingsan terkapar di lantai dan Satpam sedang berusaha mengevakuasi sang istri.
"MELATI...!" teriak pria itu berlari menghampiri sang istri yang sudah ada dalam rengkuhan satpam.
"Melati, Melati..!" Ardhi dengan penuh kekhawatiran dan sedih meraih sang istri dari satpam yang sedang menyanggah tubuhnya Melati, yang masih terkulai tak berdaya di lantai kinclong itu.
Dia begitu khawatirnya sekaligus heran, kenapa istrinya itu sampai pingsan di loby kantornya.
"Dek, Dek, Melati...!" masih berusaha menyadarkan Melati dengan menggoyang tubuh lemah wanita itu dengan pelan. Melihat Melati tidak meresponnya. Ardhi pun langsung membopong sang istri ala bridal style, menuju ruangannya.
Para karyawan yang tadi menyepelekan Melati, kini ketar ketir melihat tontonan di hadapan mereka. Terutama Kinan, sang resepsionis, wanita itu ketakutan sekali melihat si Bos mengenal Melati, wajahnya pucat pasi, tamatlah riwayatnya.
Ardhi berteriak penuh kekhawatiran memerintah sekretarisnya mengambil air minum, saat melintas di ruang kerja sekretarisnya itu.
Dengan tergesa-gesa masuk ke ruangannya. Membaringkan Melati di ranjang yang ada di kamar itu. Menepuk pelan dan mengusap lembut lengannya Melati. Berusaha menyadarkan istrinya itu.
"Dek, dek bangun..!" Kini Ardhi meraih jemarinya Melati. Mengecupnya lembut dengan begitu khawatirnya. Kenapa istrinya itu ada di kantor.
"Pak, ini air nya."
"Untuk apa air, emang orang pingsan bisa minum?" Ardhi marah-marah tak jelas pada sekretarisnya. Wanita itu pun bingung dan terdiam. Bos nya itu yang minta dibawakan air dan kenapa jadi menyalahkannya.
__ADS_1
"Ambil obat atau panggil Dokter sekarang!"
"Oooh iya Pak." sekertaris keluar dari kamar itu dengan kesal.
"Wanita ini," Ucap Lidya sembari berpikir. Dia pernah ke rumah Ardhi sekitar enam bulan lalu. Dan dia bertemu di rumah itu dengan Melati.
"Ini kan ART, wanita ini kan ART di rumahmu Mas." Lidya yang mengekor Ardhi. Dibuat heran, dengan sikap berlebihan pria itu, yang sangat mengkhawatirkan Melati.
"Iya, wanita ini kan ART, dia juga kemarin aku lihat di rumah Pak Zainuddin." Lidya yang penasaran, mengatakan apa yang dia tahu.
"Kamu keluar dulu. Aku akan kabari nanti, jam berapa kita pergi ke rumah sakit." Nada bicara Ardhi tegas dan dingin. Melirik tajam Lidya yang ada di sebelahnya.
"Tapi, tapi, siang ini kita harus ke rumah sakit. Berkas Ibu Jerniati harus cepat masuk beserta dokumen pembelaan." Lidya ngotot, dia ingin pergi bersama Ardhi sekarang.
"Nanti saya kabari lagi. Sebaiknya kamu pulang atau keluar dari sini. Kalau kamu tidak mau bantu kasus ini. Saya bisa cari pengacara lain." Ucapan Ardhi benar-benar kejam.
Lidya yang bingung dan penasaran itu pun keluar dari kamar itu dengan kesalnya.
"Iihh.... koq jadi gini. Buat kesal aja " Ucapnya dengan menghentakkan kaki. Menutup pintu ruang kerja Ardhi dengan keras. Sekretarisnya Ardhi dibuat jantungan melihat sikapnya Lidya.
"Pak pakai ini." Sekretaris Ardhi menyodorkan minyak kayu putih.
"Kamu keluar, periksa CCTV di ruang loby sekarang. Aku ingin tahu apa yang terjadi di sana tadi." Bicara tegas tanpa menatap sekretarisnya itu.
"Baik pak." keluar dari ruangan dengan bergidik ngeri.
TBC
Tetap dukung dengan like, coment positif dan vote ya kak🙂 Mohon kerjasamanya.
__ADS_1