
"Adek belum mau hamil." Jawab Embun datar, menundukkan wajahnya yang masih dirangkum suaminya itu.
Tara mengangkat wajah sedih itu. Melap air mata Embun dengan jemarinya. "Kenapa Adek ambil keputusan sendiri. Harusnya ini kita bicarakan dulu sayang." Tara berbicara dengan lembut, memperhatikan Embun yang tidak berani menatapnya.
Pria itu kembali mengangkat wajahnya Embun. "Aku tidak mau punya anak. Tidak mau.. !" Embun berbicara dengan berurai air mata. Tara semakin panik saja dibuatnya.
Ada-ada saja masalah yang timbul. Tadi siang gara-gara ponsel. Sekarang masalah anak. Apa yang ada dipikiran istrinya ini sehingga dia tidak ingin punya anak.
"Pasangan yang sudah menikah, pasti menginginkan anak. Adek kenapa tidak mau." Tara harus bersikap lembut dan sabar. Mengorek alasannya kenapa istinya itu tidak ingin punya anak darinya.
"Aku tidak mau kita punya anak." Ucapnya lagi penuh ketegasan. Yang diinginkan Tara sekarang adalah alasannya.
"Alasannya apa? jangan bilang Adek mau kembali kepada pak Ardhi." Tara yang juga kalut itu, akhirnya mengucapkan praduga negatif dipikirannya.
Embun kesal, melepas tangan Tara dengan kasar dari wajahnya. Dia tidak suka suaminya itu mengungkit-ungkit Ardhi. Dia akan tambah sedih. Mungkin kalau menikah dengan Ardhi. Dia akan tenang. Tidak sekhawatir sekarang ini.
"Kenapa penilaian Abang begitu buruk padaku. Adek sudah memilih Abang. Tapi, Abang masih ragu. Ya sudah, kalau tidak percaya padaku. Sebelum terlambat kita pisah saja. Aku juga tidak mau punya anak dari Abang." Embun yang terpancing Emosinya itu. Akhirnya asal bicara.
__ADS_1
Membayangkan punya anak cacat nantinya, membuat wanita itu tidak bisa berfikir sehat. Dia bukannya tidak mau punya anak dari Tara. Mau sehat normal, ataupun ada kelainan dia ridho. Tapi, dia tidak akan sanggup kelak, melihat anaknya dibully orang ataupun dicaci orang. Tentu anaknya itu akan sering dikucilkan orang.
Lebih baik tidak usah punya anak. Daripada kelak, melihat anaknya jadi bahan bullyan atau dikasihani orang.
Tara sungguh syok dengan ucapan istrinya itu. Dia tidak menyangka Embun akan bicara seperti itu. Itu artinya Embun ingin pisah darinya. Apakah istrinya itu menyesal telah memilki dirinya.
Keduanya pun terdiam. Takut salah bicara. Akan lebih baik menenangkan diri masing-masing. Lebih baik masalah ini dibahas di rumah saja. Tara memberi kode kepada Pak Budi, dengan membuka pintu mobil.
Pak Budi datang. Mobil pun melaju ke sebuah restoran mewah. Sepanjang perjalanan keduanya tetap memilih diam. Tapi air mata Embun terus saja mengalir.
Sesampainya di depan restoran. Tara meraih jemari istrinya itu dengan lembut. Embun masih memalingkan wajahnya. Dia kasihan juga pada suaminya itu. Embun merasa malu dengan dirinya sendiri.
Embun pun mengangguk. Keduanya turun dari mobil. Begitu juga dengan pak Budi. Makan di ruang privat, tanpa ada yang bicara.
Setelah selesai makan, mereka pulang.
"Bang, Adek ingin ke rumah Mama." Akhirnya Embun membuka suara. Keduanya saling pandang.
__ADS_1
"Iya sayang, besok pagi kita ke rumah Tulang ya?" Tara melembutkan suaranya, memberikan senyum manis pada istrinya itu.
"Ini sudah terlalu larut, sudah pukul sepuluh malam." Tara memberi penjelasan, tidak baik bertamu disaat sudah larut malam.
Sebenarnya Tara masih ingin membahas tentang, Embun yang tidak ingin punya anak itu. Kalau mereka ke rumah mertuanya malam ini. Tentu itu tidak bisa dibahas mereka.
Sesampainya di depan rumah. "Pak Budi, itu mobil siapa?" Tara melihat mobil mewah terparkir di tempat parkir. Tara tidak mengenali mobil itu. Tapi, siapa tamu yang datang malam-malam ke rumahnya?
"Tidak tahu Bos." Jawab Pak Budi, Pria itu pun membuka pintu mobil. Tara keluar dengan cepat memutari mobil, membuka pintu mobil untuk istrinya itu.
Embun menyambut uluran tangan Tara dengan terseyum. Tara pun menggandeng Embun masuk ke rumah. Tentu saja Embun masih berjalan sedikit pincang.
Sepasang mata tajam sedang mengamati pasangi suami istri dari teras rumah, dengan tatapan penuh kebencian bercampur kecewa.
Saat Tara dan Embun sudah sampai di teras rumah. Pria bermata tajam itu pun sudah berdiri dihadapan mereka.
Embun terlonjak kaget dibuat sosok yang ada dihadapannya. Sontak dia melepas tangan Tara yang menggandengnya.
__ADS_1
"Sudah jebol ya, sampai jalan pun pincang." Ucap pria itu dingin.
TBc