
Melati bingung harus memasak apa. Dia hanya bisa memasak makanan rumahan yang sederhana seperti makanan di kampungnya. Saat jadi koki suaminya itu juga, seringan suaminya itu minta dimasakin sup daging, serta telor dadar, Ikan asam manis atau ayam goreng. Gak mungkin kan dia masak soup daging. Mana enak di makan kalau gak panas. Akhirya wanita itu memutuskan memasak ayam semur, tempe goreng, sambal ikan teri, bakwan jagung serta tumis brokoli. Kebetulan dia juga lagi pengen makan ayam semur.
Melati berkutat di dapur dengan perasaan yang bahagia. Rasa mual dan peningpun tidak dirasa wanita itu lagi, karena semangatnya yang
memasak makan siang untuk sang suami. Dia mengerjakannya sendirian. Tak satupun
ART ayahnya yang membantunya. Karena dia melarangnya. Sembari memasak, wanita
itu juga selalu mengecek ponselnya. Biasanya suaminya itu mulai mengirim pesan
padanya pada pukul sembilan. Tapi, kini sudah pukul sepuluh, suaminya itu belum
kirim pesan untuknya. Melati jadi kepikiran.
Melati yang tadinya semangat saat memasak, kini jadi lesuh tak energik lagi. Chat dari sang suami yang selama ini selalu menemani
hari-harinya tiga hari ini tak ada lagi. Ingin rasanya dia mengirim pesan
terlebih dahulu. Tapi, dia bingung mau menanyakan apa. Gak mungkin kan dia
nanya. Mas lagi apa? Sudah jelas
suaminya itu sedang bekerja. Melati tak mau memusingkan itu lagi. Dia harus
cepat menyelesaikan masakannya. Mungkin suaminya itu lagi sibuk, makanya tidak
ada kabarnya.
Pukul sebelas siang Melati bertolak ke kantornya Ardhi. Dia
meminta supir mengantarnya. Dia akan memberi kejutan pada suaminya itu.
Suaminya itukan mengatakan ingin diperhatikan. Inilah langkah awal yang bisa
dilakukannya, untuk membuktikan pada sang suami, bahwa dia sebenarnya serius
dengan pernikahan mereka dan tidak ada niat kembali pada Ilham. Seperti ucapan
suaminya tadi sebelum pergi bekerja.
Mobil sudah melaju, sepanjang perjalanan menuju kantornya Ardhi, wanita itu merasa senang sekaligus deg deg an. Dia teringat semua perlakuan Ardhi padanya. Cara Ardhi meyakinkannya yang tenang dan tulus itu,
membuatnya merasa dikejar, diistimewakan dan aman. Moment-moment saat indah di
sawah juga berputar terus di kepala wanita itu, yang membuatnya jadi senyam-senyum tak jelas. Dia memegangi bibirnya, mencoba mengingat gimana rasanya, saat bibir mereka bertumbukan dengan tanpa sengaja.
Melati menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka, dirinya bisa uring-uringan seharian ini, karena memikirkan suaminya itu. Pandai sekali suaminya itu membuatnya luluh, baru juga menikah seminggu. Traumah yang
dialaminya hilang sudah. Melati mengusap-usap dadanya yang bergemuruh itu.
Sembari berolah raga pernapasan, agar dirinya bisa tenang. Merasa sedikit rileks,
Melati memperhatikan penampilannya.
Melap sepatunya yang berwarna salem dengan hak tahu tiga cm itu dengan tisu.
Itu sepatunya paling bagus dan hanya itu sepatu satu-satunya miliknya yang
dibawanya ke rumah Pak Zainuddin. Merapikan gamis syar i nya yang berbahan
Maxmara lux warna salem mix abu coklat. Menurutnya penampilannya sudah sangat
__ADS_1
maksimal.
OOTD yang dipakainya hari ini adalah, outfid terbagus yang dimilikinya. Walau Melati ternyata anak orang kaya, sampai saat ini dia belum punya koleksi baju baru. Paling baju baru yang dimilikinya adalah gaun yang
dikenakannya saat akad nikah. Ingin sih dia membeli baju bagus, agar bisa
sepadan dengan sang suami yang selalu nampak kece. Jelas saja kece, semua pakaian
milik suaminya itu import dan limited edition. Beda degan dirinya, yang pakaian
itu banyak menjamur di pasar. Suami kaya, Ayah kaya. Tapi, dia tidak seperti orang kaya.
“Non, kita sudah sampai.” Suara supir mengangetkan Melati. Dia asyik melamunkan Ardhi dan penampilannya yang terkesan sederhana. Ingin dia berbelanja, tapi dia gak punya uang. Suaminya itu belum pernah kasih uang untuknya.
“Oohh iya Pak.” Melati menatap gedung pencakar langit itu. Dia pernah sekali ke gedung megah itu, bekerja satu hari di kantor itu dan keperawanannya juga hilang di ruang kerja suaminya itu. Mengingat kejadian
menyakitkan itu, Melati tiba-tiba bad mood. Tak bisa dipungkiri, jika dia mengingat itu, rasa kesal pada sang suami masih ada. Tapi, sampai kapan dia akan memelihara sakit hatinya itu? Toh tidak ada gunanya. Yang ada dia maki setres memikirkan pengalaman menyakitkan itu.
Melati menurunkan kaki kanannya dengan membaca basmillah. Berusaha menenangkan dirinya dengan menarik napas dengan berulang kali. Kepalanya juga tiba-tiba sakit, serta perutnya terasa diaduk-aduk. “Aduh, aku terlalutegang, sehingga kepala dan perutku jadi bermasalah.” Ucapnya memegangi kepalanya
degan tangan kanannya, wanita itu terus melangkah menuju pintu gedung itu. Saat
berjalan Melati kembali menarik napas dalam. Dia harus bisa tenang, agar tubuhnya tidak tegang dan setres.
“Ya Allah, aku kenapa sih? Kenapa begitu menegangkan? Terus kenapa
kepalaku jadi pusing, aku tadi sudah minum obat dan vitamin” Ucapnya sembari
berjalan ke pintu gedung kantornya Ardhi yang besar itu. Saat hendak memasuki
ruangan itu, dia sampai diperiksa satpam. Karena penampilan dia yang terasa
Melati akhirnya diperbolehkan masuk dan menunggu di ruang lobby setelah menunjukkan identitas dirinya. “Maaf Bu, ada perlu apa berjumpa dengan si Bos?” tanya seorang wanita cantik, yang bertugas sebagai receptionisitu.
“Saya mau mengantarkan makanan.” Jawab Melati ramah, karyawan itu tidak mengenal Melati, tentu saja tidak dikenal. Melati baru satu
hari kerja di kantor itu, dan langsung menghilang.
“Oh, mau antar pesanan si Bos. Titip saja di sini bu. Kami akan menyampaikannya, apa sudah di bayar?” Melati merengut kesal, dia dipikir
kurir gofood.
“Ini bukan untuk dibayar, saya memang ingin mengantarkan makan siang untuk Mas Ardhi.” Ucapan Melati kembali menarik perhatian
reseptionis. Dia pun akhirnya memperhatikan penampilan Melati dari kepala sampai
ujung kaki.
“Si Bos, tidak menerima titipan makanan bu.” Resepsionis benar-benar menjalankan tugasnya. Mengawasi ketat orang yang ingin bertemu degan Ardhi. Itu dilakukannya, sesuai dengan perintah Ardhi. Ardhi tidak mau banyak menerima tamu, apalagi kasus sang ibu belum tuntas.
Melati mendengus kesal, susah sekali untuk bertemu dengan suaminya itu. Tidak mungkin kan dia mengatakan, kalau dia istrinya Ardhi. Kalau dia mengatakan itu, tentu reseptionis itu tidak akan percaya. Belum ada orang
kantor yang tahu kalau Ardhi sudah menikah.
Dia pun merogoh tas ranselnya motif damar itu. Dia akan menelpon suaminya itu. Gak jadi buat surprise. “Mana ponselku, mana ponselku?’ ucapnya bingung dan cemas, ponselnya ternyata ketinggalan di rumah. Pasti ketinggalan di dapur, saat dia memasak, asyik menunggu chat dari Ardhi yang tak kunjung
datang.
“Tolonglah kak, hubungi Mas Ardhi, bilang saya Melati ingin bertemu.” Ucap Melati dengan memelas, dia sudah capek juga berdiri di hadapan wanita yang sok profesional itu. Kepalanya juga semakin sakit saja terasa.
Melati memperhatikan reseptionis yang bernama Kinan itu sedang memeriksa catatan. “Maaf bu, di catatan saya, tidak ada nama ibu, Jadi maaf sekali lagi saya tidak bisa mengizinkan ibu ke ruangan beliau.”
__ADS_1
Melati berdecak kesal, rasanya sudah lelah dan lapar. Dia pun celigak celiguk memperhatikan sekitar, karena wanita itu seolah tidak
mempedulikannya lagi. Saat itu juga dia
melihat Lidya dengan centilnya menenteng sebuah paper bag dan menyandang tas
masuk ke lift khusus. Melati yang terkejut melihat Lidya masuk ke lift Bos itu,
berlari mengejar Lidya. Dia akan menegur pengacara itu, semoga lidya bisa
membawanya bertemu dengan Ardhi, karena dia yakin, Lidya pasti ingin bertemu
dengan Ardhi. Buktinya wanita itu masuk ke lift pimpinan.
“Pak, Pak itu tamu mau menerobos untuk masuk.” Security pun menghadang langkah Melati untuk masuk ke lift, yang akhirnya lift itu pun tertutup setelah lidya masuk ke dalamnya. Lidya tidak menyadari kalau Melati mengejarnya.
“Aku ingin memberikan ini langsung pada Mas Ardhi.” Melati menunjukkan tas bekal yang ada di tangan dengan kesalnya. Kenapa untuk bertemu dengan suaminya itu begitu susah.
“Ibu tidak boleh bertemu dengan beliau, kalau belum buat janji. Beliau sibuk dan tidak bisa diganggu.” Jelas wanita yang bertugas
sebagai reseptiois itu kembali. “ Di catatan, nama ibu gak ada.” Terang Kinan sang
reseptionis dengan nada kesal. Karena Melati notoi ingin bertemu dengan Ardhi
“Ini sudah waktu istirahat, Mas Ardhi pasti tidak sibuk lagi.”
“Bu, jangan buat keributan. Kalau belum buat janji dengan beliau. Ibu tidak boleh bertemu.”
“Aku ini istrinya, dan perusahaan ini, saham ayahku juga besar di sini.” Reseptionis dan security tersenyum mengejek, kembali menilai
Melati dari atas sampai ke bawah, terus ke atas lagi.
“Wanita gila pak. Jangan biarkan masuk ke ruangan bos, bisa-bisa kita dipecat nanti. Masak ibu-ibu ngakunya istri si bos. Istri bos
gak mungkin penampilannya seperti emak-emak mau pergi pengajian seperti ini.”
Reseptionis itu kembali duduk di kursinya, setelah tadi dia mengejar Melati
untuk menghentikan langkahnya.
Melati yang sudah tidak tenang itu tambah setres mendengar ucapan
reseptionis yang megejek penampilanya. Dia memang orang kampung bekas babu lagi.
Tentu image babu masih menempel di bahasa tubuhnya.
Tubuh Melati bergetar hebat karena menahan emosi. Mata indahnya kini sudah berkabut, menatap tajam pada respetionis yang sombong dan sok profesional itu. Sakit sekali rasanya dilecehkan. Ya begitu lah manusia pada dasarnya. Selalu menilai orang dari luar saja. Orang yang berpenampilan wah akan disegani dan dihormati. Walau orang itu banyak hutang. Tapi, orang yang terlihat lusuh akan disepelekan. Padahal banyak orang sederhana tak punya hutang.
“Bu, sebaiknya tunggu di kursi tunggu ya? Kalau benar ada janji dengan si Bos. Nanti sekitar pukul 12.30 atau pukul 13.00 tuan Ardhi
pasti turun.” Melati yang tidak bertenaga itu, tidak terlalu mendengarkan lagi
apa yang dijelaskan pak satpam. Dengan lemahnya dia pun melangkah menuju kursi
yang ada di sudut ruang lobi yang dekat dengan liftnya untuk para pimpinan. Rasanya dia tidak ada tenaga lagi. Mau memanggil supir yang mengantarnya tak mungkin, karena dia
sudah menyuruh sang supir pulang.
Ardhi selalu sholat berjemaah di Mesjid yang ada di kejar kantornya. Makanya Pak Satpam berkata seperti itu.
TBC
__ADS_1