
Tara hanya pasrah saja, mendapat serangan dari istrinya itu. Hingga Embun puas memukulnya. Tara diam membeku, menyadari kesalahannya. Karena salah mengambil keputusan dulu. Padahal, Tara sengaja membuat perjanjian itu, agar pernikahan berjalan lancar tanpa ada gangguan dari Ardhi dan berharap pernikahan mereka langgeng sampai maut memisahkan.
Tapi, nyatanya pernikahan hanya sampai dua bulan. Bahkan Embun tidak sabar menunggu sampai enam bulan bersamanya.
Tidak ada gunanya lagi berdebat panjang. Intinya Tara sudah mengatakan isinya hatinya. Kalau dia mencintai Embun sudah dari kecil. Kalau toh Embun masih saja ingin kembali pada Ardhi. Tara tidak bisa berbuat banyak, dia tidak mau memaksa wanita itu lagi untuk lama-lama berada disisinya. Karena istrinya itu mengaku menderita bersamanya.
"Abang akan mengantarkan kamu esok kepada Ardhi. Kalau memang itu maumu Dek." Sangat sakit hati Tara mengatakan itu, dia harus mengikhlaskan istrinya itu kembali kepada kekasihnya. Karena, Embun tidak mencintainya.
"Terserah!" ketus Embun, dia akhirnya sadar. Bahwa memang suaminya itu tidak menginginkannya.
"Kita pulang ya, Abang saja yang nyetir." Membujuk Embun, dengan berusaha tersenyum menyembunyikan hatinya yang sakit.
Embun pun turun dari mobil, mereka bertukar tempat. Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam. Larut dalam pikiran masing-masing. Hingga Tara sempat hilang kendali saat mengemudi. Dia tidak konsentrasi saat menyetir. Syukur tidak terjadi kecelakaan. Embun hanya melirik Tara, karena suaminya itu tidak hati-hati dalam berkendara. Sedangkan Tara tidak menoleh sedikit pun kepada Embun.
Tara merasa, Embun Benar-benar egois. Tidak memikirkan kebaikan untuk keluarga besar mereka. Apa yang akan dikatakan pria itu, Minggu besok. Di acara panen raya di Lampung? Entahlah.
Sesampainya di rumah, Embun langsung berlari meninggalkan Tara menuju kamarnya. Pria itu hanya bisa menatap Embun, yang kini kembali dingin kepadanya. Setelah istrinya itu hilang dari jangkauan matanya Tara, masuk ke ruang kerja, melalui pintu rahasia yang diikuti Doly dari belakang.
Mama Mira sudah pulang ke Bandar Lampung. Padahal, Embun dan Mama Mira sepakat akan berangkat bersama untuk ikut merayakan panen raya perkebunan tebu mereka.
"Doly, besok aku akan ke luar kota bersama istri ku Embun. Semua pekerjaan, ku serahkan padamu." Ucap Tara datar. Memasrahkan tubuhnya di kursi kerjanya. Tara merasa sangat lelah. Lelah hati, pikiran dan badan juga.
Doly yang merasa ada yang tidak beres, tidak mau ikut campur urusan pribadi keduanya.
Dia takut kena imbas, seperti Rose yang ikut campur. Akhirnya Tara memecat Rose jadi sekretarisnya dan dibuang ke Negerinya Australia.
Doly masih ingat ekspresi wajah Rose yang kesal penuh kekecewaan kepada Tara. Bahkan Rose sampai mengumpat, menyumpahi Embun mati.
Doly merinding mengingat saat dirinya menemani Rose, di club malam. Wanita bar bar itu, memaki habis-habisan Embun. Rose begitu dendam.
Doly hanya berharap, nasehat serta dalil-dalil yang diucapkannya masuk ke relung hatinya. Agar wanita itu jangan membenci istri Bos nya yaitu Embun.
__ADS_1
"Doly--!" tegur Tara, karena Tara melihat Doly melamun.
"Ya apa Bos?" Maaf bos bilang apa tadi?" Doly Benar-benar tidak tahu apa yang dikatakan Tara. Karena mengingat ekspresi Rose yang begitu menyedihkan. Dia nyengir kuda, karena Tara menampilkan ekspresi wajah masam.
"Apa masih ada dokumen yang perlu aku periksa? atau pekerjaan yang tidak kamu mengerti." Tara menatap tajam Doly.
"Tidak ada Bos. Saat ini aku lapar Bos. Boleh aku makan dulu Bos." Ucapnya polos.
"Boleh, masak makan dilarang. Sekalian bilang sama Bu Limah, mengantarkan makanan pada Embun."
"Bos gak makan?"
"Tidak, saya tidak selera. Saya mau istirahat." Tara bangkit dari kursinya, dan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang yang ada di ruang kerja itu
"Ok Bos. Selamat istirahat, kalau ada perlu hubungi aku. Saya tetap standby disini. Saya akan tidur di sini juga Bos." Ucap Doly tersenyum. Dia senang berada di rumah Tara, banyak makanan. Sedangkan di apartemen, kulkasnya seringan kosong. Doly lagi berhemat, mengumpulkan gajinya untuk investasi beli tanah di kampung.
Doly yang dulunya hidup susah, sangat jarang makan enak. Dia lebih sering makan roti sumbu dan pisang rebus. Sedangkan makan keseringan tanpa lauk. Hanya makan pakai sayur kangkung. Kalau pun mau makan lauk, dia harus menangkap ikan ke sungai.
Pagi ini tampak mendung. Terasa gelap tidak seperti biasanya. Padahal sudah pukul tujuh pagi. Langit seolah ikut prihatin dengan suasana hati Embun saat ini.
Pagi yang mendung semendung hatinya.
Embun yang bermalas-malasan di atas tempat tidur, setelah sholat shubuh akhirnya bangkit juga. Dia memegangi perutnya yang terasa lapar. Jelas saja lapar, dia menolak makan saat ART mengantarkan makanan untuknya.
Embun pun bergegas masuk ke kamar mandi, semalaman menangis, benar-benar membuat badannya terasa tidak enak. Pegal dan panas di punggung, belum lagi matanya masih nampak bengkak.
Setelah selesai mandi dan berhias seadanya. Embun berusaha tampil ceria dan semangat. dia turun ke lantai bawah dengan senyum mengembang, berjalan ke taman samping rumah. Ingin melihat keberadaan Tara. Semalaman tidak melihat pria itu, dia jadi kecarian.
"Biasanya juga masih disini sebelum pukul delapan pagi. Apa dia sudah ke kantor?" Embun masih mencari keberadaan suaminya itu, di tempat itu. Tapi nihil, saat hendak masuk ke lift. Embun berpapasan dengan Doly.
Pria itu ingin sarapan.
__ADS_1
"Doly, Abang Tara di mana?" tanyanya pelan, takut ART dengar. Masak suami sendiri tidak tahu di mana keberadaannya.
Doly melirik Embun dengan wajah masam. Dia kesal juga pada teman masa kecilnya itu. Dia merasa Embun egois.
"Masak suami sendiri, tidak tahu dimana berada? apalagi aku." Jawab Doly mengejek, mengangkat bahunya. Dia jadi kurang simpatik kepada Embun. Embun dibuat kesal dengan sikap Doly, dia pun meninggalkan Doly dan masuk ke dalam lift.
Setelah sampai di kamar nya dia pun bergegas masuk ke ruang kerja Tara. Embun begitu terburu-buru membuka pintu ruangan kerjanya Tara, tanpa memperhatikan bahwa Tara yang baru selesai mandi, ingin masuk ke kamar untuk pakai baju. Saat itu juga mereka bertabrakan.
Embun benar-benar dibuat terpesona dengan penampilan Tara pagi ini. Tubuh atletis Tara, membuat Embun kesusahan menelan ludahnya pagi ini. Tangan lembutnya yang bersentuhan dengan otot dada Tara yang liat, membuat hatinya bergetar. Ini dia jebakan itu, ini dia kelemahannya sekarang. Semua yang ada pada diri suaminya itu benar-benar membuat tidak bisa berpaling. Tapi, apa daya, keputusan sudah diambil. Sudah saatnya mereka berpisah. Embun tidak mau setres, karena terlalu lama bersama pria ini.
"I--tu, maaf aku gak ketuk pintu dan langsung nyelenong masuk. Aku mau memastikan, apa Abang benar akan mengantarkan aku kembali kepada Mas Ardhi, atau aku sendiri yang pergi dari rumah ini." Ucap Embun gugup, dia lagi terprogok. Jadi, otaknya gak bisa diajak berpikir jernih.
Ucapan Embun pagi ini benar-benar membuat Tara down. Tapi, dia harus nampak tegar. Karena, ini salah nya juga. Kenapa mesti pakai perjanjian segala.
Embun memberi jarak, melirik Tara sekilas yang ekspresi wajahnya tidak semangat.
"Mas Ardhi hari ini ke kota Sibolga. Aku ingin Abang mengantarku kesana." Ucapnya lagi dan langsung menunduk.
"Iya dek." Jawabnya pendek, berjalan menuju ruang ganti. Embun mengekorinya.
"Mau membantu Abang memakai baju?" tanya Tara, setelah berbalik cepat dan lagi-lagi Embun menabrak suaminya itu. Dan kali ini Tara langsung meraih pinggang Embun, sebelum terjatuh.
Keduanya lama saling pandang, menilik wajah dihadapannya dengan detail. Mereka seolah menorehkan lukisan wajahnya satu sama lain. Karena mungkin setelah hari ini, mereka akan jarang bertemu. Atau mungkin tidak akan pernah lagi bertemu.
"Lain kali berjalanlah lebih hati-hati. Terus suara melengking saat terkejut, tolong volumenya di stel ya Dek." Ucap Tara melepas rengkuhan tangannya dari pinggang Embun.
Embun hanya membulatkan mulutnya, sebagai jawaban atas ucapan suaminya itu. Ternyata Tara tidak suka, dengan latahnya Embun, jikalau terkejut. Jelas saja orang tidak suka mendengarnya, teriakan Embun menimbulkan polusi suara.
Embun jadi menciut mendegar ucapan Tara. Dia jadi semakin merasa minder dan tidak pantas untuk suaminya itu. Tentu saja Tara dengan gampangnya mengatakan ikhlas, memberinya kepada Ardhi lagi.
TBC
__ADS_1
Tinggalkan jejak dengan like coment positif dan Vote. Karena itu sangat berarti buatku say.😍🙏