DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Nempel terus


__ADS_3

"Begitu saja koq ngambek sih sayang?" Mama Nur, mengelus lembut punggung Embun yang sedang tengkurap di atas ranjangnya. Embun kesal, Ayahnya itu tidak pernah memujinya. Selalu meremehkannya.


"Mama senang lihat kamu sudah tidak membenci Tara." Ucap wanita paruh baya itu. Masih mengelus punggung Embun.


Embun mendudukkan tubuhnya dan langsung memeluk wanita yang melahirkannya itu.


"Iya Ma. Abang Tara ternyata baik. Tidak seperti penilaian ku selama ini. Aku banyak salah sama Abang Tara." Ucap Embun sendu, masih memeluk mamanya itu.


"Iya sayang, akhirnya doa Mama selama ini dikabulkan Allah. Mama selalu berdoa kebahagiaanmu dan Tara." Mama Nur, akhirnya legah, putrinya itu akhirnya bisa menerima Tara sebagai suaminya.


"Iya Ma. Terimakasih ya Mamaku sayang. Mama sudah dengan sabar mendidikku." Embun mengurai pelukannya. Menatap mamanya dengan penuh kasih sayang.


"Iya sayang. Ini baru awal. Kedepannya akan banyak masalah dan rintangan yang akan datang, menguji keutuhan rumah tangga kalian. Mama harap, kamu tetap Istiqomah dengan pernikahan kalian ini ya sayang." Mama Nur berbicara dengan mata yang berkaca-kaca. Dia tidak bisa membayangkan apabila Tara dan Embun tidak bisa mempertahankan rumah tangganya. Maka akan ada keretakan di keluarga besar mereka.


"Iya Ma. Semoga Allah. Menjauhkan marabahaya dari keluarga kami." Embun kembali memeluk mamanya itu. Embun merasa plong, telah memilih Tara.


"Kamu cantik banget sayang, pakai hijab. Apa ini hanya hari ini saja, atau seterusnya akan menutup aurat?" tanya Mama Nur tersenyum tipis. Dia meyakini Embun berhijab karena putrinya itu, malu menampakkan lehernya yang penuh dengan stempel miliknya Tara.

__ADS_1


"Insyaallah Istiqomah Ma." Embun tersenyum malu, dia tahu apa yang ada dipikiran Mamanya itu.


"Ayo sana buatkan minuman untuk Ayah dan suamimu." Mama Nur kembali mengelus punggung Embun. Ibu dan anak itupun keluar bersama dari kamar.


Tara tersenyum lebar, melihat Embun berjalan ke arah mereka dengan membawa nampak yang di atasnya ada minuman.


Saat ini Tara hanya ingin bersama dengan Embun setiap waktu. Ajakan Tulangnya atau Ayah mertuanya untuk bermain catur tidak menarik sama sekali buatnya.


"Siapa yang menang ayah?" Embun tersenyum manis pada kedua pria yang menyayanginya itu.


"Kalian nginap disini kan sayang?" tanya Mmaa Nur yang datang membawa cake. Menatap piti dan menantunya itu


Embun melirik Tara. Pria itu tersenyum.


"Iya Nantulang, tapi hanya satu hari. Besok lusa. Kita akan ke Lampung. Ada panen raya di perkebunan." Jawab Tara meraih tangan Embun yang ada di atas paha wanita itu. Kebiasaan Tara sekarang suka mengelus-elus tangannya Embun.


Tentu saja perlakuan Tara itu membuat Embun malu. Apalagi orang tuanya melihat kelakuan Tara itu.

__ADS_1


"Tulang dan Nantulang ikut ya? sudah lama Tulang dan Nantulang tidak berkunjung ke rumah yang di Lampung." Tara masih mengelus tangan Embun yang digenggamnya dengan ibu jarinya.


"Nantulang mu saja yang ikut, Tulang banyak kerjaan." Tolak Pak Baginda ramah.


"Bener nih Ayah gak ikut?" tanya Embun memperjelas keputusan Ayahny itu. Pak Baginda mengangguk lemah.


"Iya sudah lama kita gak ke Lampung. Kalau gak salah, kita terakhir kesana saat Embun berusia sepuluh tahun. Dulu Bere Tara masih gendut." Mama Mira mengembungkan pipinya, meledek Tara yang dulu pipinya chubby.


"Makanya dulu si Embun gak mau dekat sama nak Tara. Kalau sekarang sudah nempel terus kek prangko. Lihat saja itu Pa, tangan mereka tertaut terus." Mama Nur tersenyum hangat kepada putri dan menantunya.


Embun yang malu, mencoba menarik tangan nya dari genggaman Tara. Tapi, pria itu tidak mau melepaskannya.


TBC


Like coment positif dong say.


Ada yang mau gak dibuatkan cerita Ardhi? atau cerita Tara dan Embun saja sampai punya anak. Kira-kira anak mereka seperti apa? seperti yang ditakutkan Embun atau ?

__ADS_1


__ADS_2