DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Tertangkap


__ADS_3

Embun memejamkan kedua mata sembabnya, dan membenamkan wajah di antara lutut yang menekuk, memeluk kedua kakinya sambil menahan diri untuk tak menangis lagi.


Dia harus kuat, harapan masih ada. Jikalau Tara tidak mau lagi kembali padanya. Dia akan mengadukan masalah ini kepada keluarga besar. Dia yakin, Keluarga besar mereka akan mempersatukan mereka.


Toh suaminya itu juga salah, suaminya itu yang membuat ide gila perjanjian sebelum mereka menikah.


"Kenapa sih? kenapa jadi begini? kenapa jadi aku yang pusing sendiri." Ucapnya kesal, masih membenamkan wajahnya diantara lututnya yang menekuk.


Embun meniatkan dirinya untuk tidak terpuruk. Malam belum larut, sepertinya masih ada angkutan ke kampungnya. Bukan pilihan yang tepat, mengasihani diri sendiri di tempat itu. Semakin lama dia merenung di tempat itu. Maka malam akan semakin larut. Kota Sibolga bukan kota besar. Tidak ada transportasi umum dua puluh empat jam. Bahkan transportasi online belum ada di kota itu.


Embun melap air matanya dengan baju yang menempel di lengannya. Mengusap wajahnya yang sembab. Serta merapikan rambutnya yang panjang, dia menyanggul rambutnya itu. Sehingga kini leher jenjangnya yang putih terekspos sudah.

__ADS_1


Dia merasa rambutnya yang panjang itu sangat mengganggu saat ini. Karena kelamaan menangis dia jadi sumuk. Hatinya juga masih panas, tidak terima ditinggalkan oleh Tara. Harusnya suaminya itu jangan main tinggal. Dia juga tidak tahu, bahwa Ardhi mendatanginya.


Embun bangkit, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Dan mengedip-edipkan kedua matanya yang sudah bengkak. Wanita yang lagi galau itu, menarik napas dalam dan menghembuskannya kasar. Mulai melangkah kakinya yang masih terasa tidak bertenaga itu.


Dia harus sampai ke jalan besar, untuk mendapatkan angkutan. Karena letak Hotel yang didatangi mereka saat ini ada di lokasi pantai. Tidak ada angkutan umum yang melintas di depan Hotel itu.


Langkah demi langkah Embun telusuri, air mata masih terus saja menetes membasahi pipinya. Semakin diingat-diingat semua perjalanan rumah tangganya dengan Tara. Semakin sesak saja dada Embun dibuatnya. Dia benci Paribannya itu.


"Dasar laki-laki aneh, gila---!" teriak Embun dengan kesalnya, menendang botol bekas minuman kaleng dengan sekuat tenaga sebagai bentuk pelampiasannya.


Botol minuman kaleng itu melayang ke sebuah mobil mewah yang melintas di depannya. Mobil itu hendak masuk ke kawasan hotel.

__ADS_1


Embun yang mengetahui kelakuannya salah, langsung ketakutan. Dia langsung memutar tubuhnya, memegangi dadanya yang berdebar. Karena merasa jiwanya terancam. Dia menunduk dan membelakangi mobil itu. Tanpa melihat dengan jelas mobil itu. Bersiap-siap melarikan diri, sebelum yang punya mobil menangkapnya.


Bagaimana kalau si pemilik mobil, meminta ganti rugi. Dia tidak punya uang. Tidak mungkin kan dia mengganti kerugian yang punya mobil, dengan perhiasannya.


Embun merasa hidupnya saat apes hari ini. Dia melihat bayangan yang punya mobil, sudah turun dari mobil mewah itu.


"Satu, dua, ti...!" sebelum dia berniat melarikan diri, tubuhhya sudah ditahan dari belakang. Tangan kokoh membelit di pinggangnya. Embun ketakutan, berontak dengan sekuat tenaga, dengan berusaha lari.


"Tolong---- lepaskan..!" seketika otak cerdasnya Embun akan memanfaatkan situasi ini. Dia akan berakting. Bahwa pria yang menangkapnya, akan melecehkannya. Dia akan membalikkan fakta. Agar tidak kena ganti rugi.


"Tolong----!" teriaknya lagi, seketika pria yang menangkapnya dari belakang itu, membalik tubuh Embun dengan cepat dan kuat, sehingga. Kini Posisi keduanya saling berhadapan.

__ADS_1


Melihat pria yang dihadapannya, air mata Embun langsung bercucuran tak terbendung. Dia kesal pada pria ini. Dia pun memukul-mukul keras dada pria yang dihadapannya.


TBC


__ADS_2