DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Minta maaf


__ADS_3

Melati sadar dari pingsannya. Dia mulai membuka kedua matanya yang masih terasa sangat berat itu. Tangan kanannya nampak meraba-raba tempat tidur. Ingin memastikan di mana keberadaan dirinya saat ini. Yang dia ingat, dia sedang melakukan perjalanan pulang kampung bersama Ilham dan Butet. Kemudian ia pergi ke toilet saat mobil berhenti di SPBU.


Sedikit demi sedikit ia mengumpulkan kesadarannya, menatap penasaran sekelilingnya dengan mata yang memicing, Karena cahaya matahari yang masuk dari sela-sela jendela kaca yang masih ditutupi gorden itu sangat silau. Saat ini penglihatannya juga masih berkunang-kunang.


Aku di mana ini?


Melati membathin, masih dalam keadaan berbaring, dengan mata yang berkunang-kunang berusaha memperhatikan sekitarnya. Dia pun berusaha untuk mendudukkkan tubuhnya. Kepala terasa sangat pusing, dia juga merasa mual.


Melati yang merasa tidak bertenaga itu, akhirnya bisa duduk di atas ranjang. Menyandarkan tubuhnya di headboard tempat tidur.


"Ini seperti di sebuah kamar hotel?" ucapnya lirih, dia mengucek-ucek kedua matanya, agar penglihatannya bisa jelas.


"Sadar juga kamu?" Melati langsung menoleh ke asal suara yang dikenalnya. Dengan debaran jantung yang cepat karena ketakutan. Wanita itu kembali mengucek-ucek, indera penglihatannya. Guna memperjelas penglihatannya.


"Tu--an...!" ucapnya dengan gugup, jantung nya semakin cepat berdetak, karena ketakutan yang berlebihan itu, apalagi melihat tatapan mata Ardhi yang menghunus tajam sampai ke jantung itu.


Melati langsung mengalihkan pandangannya, dia tidak sanggup melihat tatapan matanya Ardhi yang tajam itu. Tatapan mata itu menyiratkan kesedihan dan kekecewaan yang mendalam.


Puk


puk


puk


Melati kembali menoleh ke arah Ardhi yang menepuk tangan itu. Ekspresi wajah pria itu masih tetap sama. Datar dan menyiratkan kekecewaan.

__ADS_1


Sejenak Melati memperhatikan penampilan Ardhi yang sudah rapi dengan stelan jas hitam. Sungguh pria yang nampak cool itu terlihat begitu rupawan dan penuh kewibawaan.


Setelah merasa puas menilai Ardhi. Melati kembali mengalihkan pandangannya. Dia menatap lagi sekeliling, dia ingin memastikan saat ini pukul berapa?


Terus kenapa dia kini bersama Ardhi. Mana Ilham dan Butet? Perasaan Melati semakin tidak tenang, disaat tiga orang masuk ke ruangan itu. Dua berjenis kelamin wanita dan satu lagi berjenis kelamin anta beranta, alias bencong.


"Laksanakan tugas kalian!" titah Ardhi tegas. Menurunkan kakinya yang menyilang dan beranjak dari tempatnya. Meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh lagi kepada Melati. Sedangkan Melati yang masih terkejut bathin itu, memperhatikan Ardhi yang keluar dari kamar hotel itu dengan hati yang memanas.


"Kalian mau apa?" tanya Melati bingung, disaat ketiga manusia itu mulai mendekatinya, ingin melaksanakan tugasnya.


"Maaf ya Dek. Kami ditugaskan untuk makeover adek jadi pengantin yang sangat cantik." Ucap Si bencong dengan gaya centilnya, tersenyum manis.


"Pengantin?" Melati berpikir keras, dia bangkit dari duduknya. Dia baru sadar, bahwa dia akan menikah dengan Ardhi. Ke mana Ilham? apa yang terjadi setelah dia keluar dari toilet?


"Tunggu, tunggu... jangan ada yang mendekat!" teriak Melati, dia sampai memegangi dadanya yang bergemuruh, karena menahan emosi.


"TIDAK...!"


Melati memotong ucapan para MUA itu. Wajah panik dan ketakutan jelas terlihat di wajahnya.


"Aku, aku tidak mau menikah. Aku tidak mau menikah dengannya. Aku tidak mau mati konyol. TIDAK....!" teriak Melati histeris, dia sudah seperti orang kesurupan saja. Wajahnya pucat, tubuhnya gemetar hebat. Air mata bercucuran sudah membasahi pipi pucat itu, kini dia sudah turun dari ranjang.


Petugas MUA itu pun terkejut melihat reaksi Melati yang berlebihan itu. Sehingga salah satu dari mereka keluar dari kamar. Mereka akan memanggil Ardhi.


"Aku, Aku tidak mau menikah. Keluar kalian..!" Melati menunjuk pintu kamar itu. Mengusir para MUA. Saat itu juga Ardhi masuk ke kamar. Dengan penasarannya.

__ADS_1


Melati menatap tajam Ardhi. Kini tangannya mengarah kepada Ardhi dengan ekspresi wajah penuh kebencian. Tangan yang menunjuk-nunjuk itu bergetar, karena kondisi kejiwaan Melati yang masih terguncang.


"Kalian keluar dulu. Nanti saya panggil lagi." Ketiga orang itu pun keluar dengan banyaknya tanda tanya di hati masing-masing.


"Kau, kau, jangan mentang-mentang kamu kaya, sesuka hatimu padaku. Aku tidak mau menikah denganmu..!" tangan Melati masih menunjuk-nunjuk Ardhi penuh dengan kekesalan. Melotot tajam pada Ardhi. Tatapan wanita itu seolah ingin menelan hidup-hidup Ardhi yang berusaha menenangkan wanita itu. Kata-kata yang keluar dari mulutnya juga tidak di filter lagi. Melati sungguh kecewa pada pria itu.


Kalau benar ingin menikahinya. Kenapa tidak dibicarakan lebih serius dengannya. Memang pernah Ardhi mengajak menikah. Menanyakan nomor ponsel serta alamat orang tuanya di kampung. Tapi, setelah itu pria itu tidak pernah membahasnya lagi.


Ardhi berjalan pelan ke arah Melati, dan Melati terus saja memundurkan langkahnya. Melati merasa dipermainkan pria itu. Dia merasa harga dirinya diinjak-injak. Seenaknya saja mengajak nya menikah mendadak. Dia pikir semua orang bisa dia kendalikan.


"Kenapa kamu ingin menikah dengan ku, kenapa?" Melati masih berdiri dengan tubuh bergetar hebat. Tatapan matanya yang tak berdaya itu, sungguh membuat Ardhi semakin merasa kasihan pada wanita itu. Ini salah nya, tak seharusnya dia mabuk-mabukan malam itu.


"Alasannya karena aku sedang mengandung anakmu kan? hanya itu kan alasannya. Kalau hanya itu alasannya. Aku tidak mau menikah dengan mu tuan. Aku tidak mau mati konyol nantinya di tangan Ibumu. Aku belum mau mati. Aku tidak mau mati di tangan tunanganmu. Aku masih masih mau hidup." Melati mendudukkan bokongnya di tepi ranjang. Dia merasa tak punya tenaga lagi.


"Lepaskan aku, aku tak ingin punya suami bejat sepertimu. Aku tidak mau punya suami yang suka bermaksiat." Kali ini suara wanita itu sudah melemah, selemah tubuhnya saat ini.


Lidahnya terasa keluh mengatakan kalimat Sekasar itu. Tapi, apa yang mengganjal di hatinya harus dikeluarkannya. Fakta-fakta yang didapatkannya dari Ilham, benar-benar membuatnya tidak percaya. Tidak mungkin dia mau menikah dengan pria yang suka bermaksiat.


Kalau dia menikah dengan Ardhi, pria yang suka bermaksiat itu. Bagaimana nantinya pria itu mendidik anaknya. Karena, terdidik nya seorang anak itu sebenarnya ditentukan oleh didikan sang ayah.


Kening Ardhi mengerut mendengar ucapan Melati yang tajam itu. Apa maksud ucapan wanita yang kini masih menangis tersedu-sedu di hadapannya itu.


Dia suka bermaksiat? Wanita itu akan mati konyol jika menikah dengannya? mana mungkin dia akan membunuh istrinya sendiri.


"Saya tahu, kejadian malam itu sungguhlah tidak baik. Kelakukanku juga malam itu sangat keterlaluan. Untuk kekhilafan ku itu, saya minta maaf!"

__ADS_1


TBC


__ADS_2