DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Pusing


__ADS_3

Dua hari telah berlalu, kehidupan pasangan suami istri Tara dan Embun masih seperti biasanya. Tidur terpisah dan bicara seperlunya saja. Tara benar-benar mengikuti apa maunya Embun.


Ucapan Rose benar- benar melekat dipikirannya Embun. Dia terjebak dalam permainannya sendiri. Tak seharusnya dia mencomblangin Tara dengan Lolita. Sehingga kini masalah jadi tambah runyam.


Embun menarik napas dalam dan menghembuskan pelan. Kini dia sedang berada di taman kampusnya. Duduk di bangku kayu di bawah pohon jambu air. Dia baru menyelesaikan semua urusannya, agar bisa wisuda bulan depan. Berfikir keras, mencari solusi yang terbaik untuk masalah yang dihadapinya. Harus ada yang dikorbankan. Ardhi atau Tara. Tentu itu pilihan yang sulit.


Jikalau dia memilih Tara. Maka dia menganggap dirinya telah mengkhianati Ardhi. Karena, pernikahannya dengan Tara adalah sebuah kesepakatan saja. Ditambah, Lolita juga akan kecewa padanya.


Jikalau dia memilih Ardhi. Maka keluarga besarnya pasti kecewa padanya. Tapi, Tara kan ikhlas memberikannya pada Ardhi.


"Aaahhkkk..... pusing aku, ribet banget sih. Mikirin masalah ini buatku setres." Ucapnya kesal, menendang menendangkan kakinya ke udara.


"Lolita apa kabarnya ya? sejak kejadian itu kami tidak pernah komunikasi. Di kampus pun dia tidak ada." Embun bermonolog, karena masalah yang rumit, ditambah urusan kampus. Embun Benar-benar tidak kepikiran kepada sohibnya itu.


Dia pun mengirim pesan kepada Doly. Doly, gak usah jemput aku. Aku ada urusan, sebelum magrib aku sudah pulang ke rumah. Pesan terkirim, nampak dilayar Doly sedang mengetik.


Mau ke mana? Bos khawatir ini. Dia takut kamu menjumpai si Ardhi. Balas Doly, si Doly jahil, dia menambah-nambahi ucapan Tara. Padahal Tara tidak menyinggung Ardhi.


Embun kesal membaca pesan itu. Tara tidak percaya padanya. Sepertinya masalah ini harus cepat diselesaikan. Menunggu empat bulan lagi membuat Embun bisa setres.


Doly yang mengatakan nama Ardhi, membuat wanita itu jadi sedih. Dia kasihan pada kekasihnya itu. Untuk bisa bersatu dengannya, Ardhi rela memutus kontak dengannya. Apalagi kejadian di restoran membuat Embun jadi tidak tega kepada Ardhi.


Embun pun memesan Gocar. Sepanjang perjalanan menuju rumah Lolita, Embun Benar-benar tidak tenang. Dia merasa bersalah kepada sahabatnya itu. Bagaimana dia akan menjelaskannya kepada Lolita. Akankah Lolita bisa mengerti?


Tidak mungkin juga dia mengatakan bahwa, dia sudah ada rasa pada suaminya itu. Tentu itu akan sangat melukai Lolita. Karena dirinya lah, yang membuat semakin tumbuh subur rasa cinta Lolita kepada Tara.


Coba seandainya dia tidak mencomblangin Tara pada Lolita. Tentu sahabatnya itu tidak akan berharap banyak pada Tara.

__ADS_1


"Pusing dech...! Capek Dech....!" Ucap Embun kesal, menendang jok supir dari belakang, saking kesal dan frustasinya dia memikirkan tindakan apa yang harus diambilnya.


"Masih waras kan Dek?" tanya Pak supir menatap Embun dari spion, dengan wajah mengejek. Sang supir terkejut bangkunya di tendang.


Embun terlonjak kaget mendengar ucapan pak Supir, dia pun cengir kuda, merasa malu dan salah karena kelakuannya.


"Masih pak, tapi kadang mau korslet." Embun membuang pandangannya. Dia tidak mau diledek oleh pak supir.


"Oohh biasa itu Dek, kalau korsleting. Asal jangan gila ajalah." Ucap Pak supir sok akrab.


"Listrik kali pak korsleting." Jawab Embun malas.


"Ya gitu dech. Orang jatuh cinta kan sering tekanan emosinya tidak stabil. Apalagi kalau kita betah menjalani Love-hate relationship."


"Love-hate relationship? pacaran model benci tapi rindu maksud bapak?" tanya Embun tercengang. Pak supir ini gaul juga, padahal nampak sudah berumur.


Pak supir mengangguk, kini Embun membenarkan posisinya jadi ditengah. Dia jadi tertarik curhat sama pak supir.


"Kasusnya bukan seperti itu pak. Kasusku beda. Kalau yang ku alami sekarang bukan benci tapi rindu. Tapi benci jadi cinta." Embun menghela napas berat setelah mengatakan itu.


"Ya sama saja tu dek. Kalau sudah cinta pasti rindukan?"


"Iya sih." Ucap Embun lirih, dua hari ini dia bersikap dingin kepada Tara. Dan Tara juga melakukan sikap yang sama. Biasanya juga suaminya itu menjahilinya. Menciumnya dengan paksa. Dan selalu curi-curi kesempatan.


"Ya sudah, ungkapin saja dek. Bilang sama dia, kalau Adek itu sekarang cinta sama dia." Ucap Pak supir, menatap Embun dari spion. yang nampak murung itu.


"Tak semudah itu pak. Aduhhh... ribet dah...!" Embun teriak, kesal pada dirinya sendiri. Kalau dia bilang cinta pada Tara. Terus bagaimana Mas Ardinya. Terus bagaimana dengan sahabatnya Lolita.

__ADS_1


Pak supir menepi, merasa terganggu dengan teriakan Embun. Dia jadi kesal kepada Embun.


Embun heran, kenapa pak supir berhenti, padahal belum sampai di rumah Lolita. Malah berhenti tepat di rumah mereka. Ya rumah Tara dan Lolita satu jalur.


"Koq berhenti sih pak, kan belum sampai di tempat tujuan." Ucap Embun bingung, sekaligus merasa takut melihat Pak supir yang wajahnya berubah drastis jadi menyeramkan.


"Adek silahkan turun, aku tidak mau jiwaku terancam. Jangan lupa bayar argonya." Pak supir menatap kesal.


Embun yang menyadari kesalahannya karena teriak. Akhirnya pasrah saja. Dia tidak mau ribut.


"Aku tidak gila. Ini bayarnya. Jadi supir tidak profesional sekali." Pak supir meraih uang pecahan seratus ribu dari tangannya Embun.


"Kembaliannya sama bapak saja." Ketus Embun, dia kesal dikatain orang gila. Dia pun menutup pintu itu dengan keras. Langsung berjalan ke rumah mereka.


"Kan orang gila, masak gedor-gedor pagar rumah orang kaya." Ucap Pak supir memperhatikan Embun yang meminta penjaga membuka pintu.


"Kasihan sekali, cantik-cangik gila." Pak supir bergidik bahu. Dia menyayangkan gadis secantik Embun, gila karena cinta. Pak supir pun melajukan mobilnya.


"Non Embun, koq gak naik mobil." Ucap Penjaga heran.


"Keluarkan mobil pak, aku mau pergi. Ku tunggu disini." Ketus Embun kesal, dia pun duduk di pos satpam.


"Bapak turun saja, aku mau bawa mobil sendiri." Embun memerintahkan supir mereka turun. Dia tidak mau orang tahu dia ke rumah Lolita.


"Baik Non,"


"Awas kalau ada yang Cerita kepada Abang Tara, kalau aku nyetir mobil sendiri." Ancam Embun dan langsung tancap gas ke rumah Lolita.

__ADS_1


Semoga, sesampainya di rumah Lolita, tidak terjadi pertengkaran. Karena sering sekali terjadi. Dia sahabat hancur, karena memperebutkan laki-laki.


"Aduhhh.... pusing aku bahh....!" teriak Embun dengan logat bataknya, memukul keras setirnya. Dia pusing mikirin masalah hatinya. Dia tidak tahu, banyak orang yang masalahnya lebih pelik lagi.


__ADS_2