
Dengan perasaan was-was dan bingung, Tara menerobos keramaian. Berlari cepat ke arah asal suara Embun yang berteriak. Pria itu berlari dengan cepat dengan gerak-gerik mata penuh selidik.
Dia menyesali kelengahannya. Padahal sudah ada tanda-tanda, kalau mereka sedang diintai.
"Tolong----!" lagi-lagi Tara mendengar teriakan Embun, dengan cepat Tara berlari menuju asal suara. Embun terus saja berontak sambil berteriak saat penjahat, memaksanya masuk ke dalam mobil. Sehingga kedua penjahat yang menggotongnya kesusahan memasukkannya ke dalam mobil.
Saat itu juga Tara melihat Embun, yang kini sudah masuk ke dalam mobil penjahat. Tara mengejarnya. Tapi, langkah kencang pria itu tidak bisa menyusul mobil roda empat itu.
Chittt.... Supir mereka ternyata sudah membawa mobil mereka dan ngerem mendadak di depan Tara. Pria itu langsung masuk ke dalam mobilnya. Duduk di jok sebelah supir.
"Ayo pak, lebih cepat lagi." Ucap Tara tidak sabaran. Matanya menatap tajam ke plat mobil. Pak supir yang mantan pembalap liar itu pun sangat lihai memacu mobil mereka. Padahal di jalan raya masih ramai, karena masih ada pawai boneka kayu Sigale-gale.
Mobil yang dikendarai penjahat membelok, untuk menghindari keramaian ke arah gunung. Kini jarak mobil Tara ke mobil penjahat sudah sangat dekat.
Aksi kejar-kejaran pun terjadi di jalan aspal yang sepi, dimana disisi kiri dan kanan jalan terdapat banyak pohon Pinus.
"Tuan berpegangan, saya akan menabrak dari belakang dan akan menyalip mereka." Titah sang supir. Tara dibuat takut dengan ucapan supir pribadinya itu. Dia takut, Embun yang ada di dalam mobil bisa cidera.
"Jangan, ada istriku di dalam. Aku tidak mau istriku cidera." Protes Tara panik, tidak setuju dengan tindakan yang akan dilakukan supirnya itu.
"Tenang Bos, Nona pasti akan baik-baik saja." Sang supir pun mulai melakukan aksinya.
Bruggkkk brukkkk...
Mobil yang dikendarai penjahat hilang keseimbangan, karena dapat serangan dari belakang. Sehingga kecepatannya melambat.
Supirnya Tara langsung mempercepat laju mobilnya, kemudian kembali menabrak mobil penjahat dari arah samping.
Tara mulai memberi ultimatum
"Berhenti, Berhenti, stop---- jangan sampai kalian terlempar ke neraka!" Teriak Tara, berusaha mempengaruhi para penjahat, yang kini mobil yang dikendarai penjahat sudah banyak mendapat serangan dari mobilnya Tara.
Kaca mobil yang tertutup rapat, membuat Tara kesulitan melihat keadaan Embun di dalam mobil tersebut.
"Tuan, berpegangan!" seru sang supir. Tara pun menurut. Dan Brugggkk... Sekali hantam, mobil penjahat sudah rusak parah bagian samping kanan. Mobil penjahat berhenti karena sudah di hadang.
__ADS_1
Jelas mobil penjahat hancur, karena mobil miliknya Tara punya body yang bagus, tahan banting. Maklum keluaran Eropa.
Saat itu juga supirnya Tara menyalip mobil penjahat. Tara dengan cepat turun dari mobil, meminta penjahat melepaskan Embun. Dengan menyambar balok, yang tergeletak di pinggir jalan.
Tara pun menghancurkan kaca mobil penjahat bagian depan. Karena saat itu, mobil penjahat berupaya hendak putar balik.
"Lepaskan istriku--!" Tara kembali menghantam kaca depan mobil, hingga kacanya hancur.
Embun hanya bisa menangis tanpa suara dan berontak, melihat Tara yang penuh emosi menghancurkan mobil penjahat. Mulutnya Embun sudah disumpal dengan lakban setan.
Penjahat sengaja melakukan itu, karena teriakan Embun membuat kuping serta konsentrasi mereka buyar.
"Bos, bagaimana? apa kita tembak langsung saja wanita ini." Ucap salah satu penjahat. Sepertinya aksi mereka akan gagal. Sehingga sang anak buah, ingin cepat menyelesaikan aksinya. Yaitu membunuh Embun.
"Jangan, cepat hubungi teman kita yang lain. Agar membawa mobil ke sini.
"Tidak bisa Bos, di markas tidak ada lagi mobil." Jawab sang anak buah.
"Sial, ini mobil dasar rongsokan. Baru juga disenggol sudah K.O." Ujarnya marah penuh kekesalan.
Penjahat pun keluar dua orang, satu menahan Embun dengan menempatkan pisau di dekat leher wanita itu. Dan satu penjahat lagi sebagai pengawal. Sedangkan dua lagi masih di dalam mobil
Tara sungguh tidak tega melihat keadaan istrinya itu. Wajah pucat pasi, serta bibir yang bergetar, karena menangis. Membuat Tara berang. Dia tidak akan melepaskan semua penjahat yang menculik Embun.
"Lepaskan istri saya!" teriak Tara, sudah menyiapkan diri untuk bergulat.
"Istrimu tidak akan kami lepaskan. Dia harus mati didepan kedua mata Bos kami. Atau lehernya harus lepas, dia harus digorok." Ujar penjahat yang perawakannya sangat kekar. Kulit hitam, dengan rambut kriting sepanjang bahu. Sungguh penampilannya sangat menyeramkan.
"Berapa kalian dibayar bos kalian? saya akan beri dua kali lipat. Dan sekarang lepaskan istri saya. Jangan sempat istri ku terluka. Kalian semua yang akan saya gorok." Tara masih berusaha memprovakasi, agar penjahat terpengaruh.
Penjahat tertawa lebar dan keras.
"Kami tidak percaya." Penjahat masih saja tertawa. Saat itu juga Embun menendang organ vital penjahat dengan gerakan kaki kebelakang. Dan dengan cepat melepaskan diri dari tangan kekar yang mengalung di lehernya. Dia tidak mau lehernya di gorok. Sehingga keberanian nya muncul untuk melawan.
Sang penjahat meringis kesakitan, sedangkan penjahat satu lagi, berusaha menangkap Embun, tetapi Tara langsung menendang perut si penjahat.
__ADS_1
Embun langsung berhambur ke pelukan Tara sembari membuka lakban yang menyumpal mulutnya. Kedua berpelukan erat, tanpa disadari Tara, balok yang dilepasnya kini sudah berada di tangan penjahat.
"Bos---!" teriak supirnya Tara, melihat Bos nya akan di pukul dari belakang. Sang supir, yang sibuk menghubungi polisi, tidak sempat lagi membantu bosnya melawan penjahat.
Tara berusaha menghindar, dengan berbalik badan dan masih dalam posisi memeluk Embun. Sehingga serangan yang hendak melayang kekepalanya Tara tidak kena. Dan saat menghindar, penjahat kembali memukul Tara dan sasaran kena, tepat ke punggung Tara.
Tara meringis, pukulan dengan balok itu cukup keras. Saat penjahat hendak melancarkan pukulan ketiganya. Sang supir sudah datang menghalau.
Tara menarik napas dalam, memastikan istrinya dalam keadaan baik-baik saja.
Tapi, saat itu juga penjahat lainnya langsung menyerang Tara dengan sebuah pisau. Tara berhasil melawan penjahat dengan tetap berusaha melindungi Embun.
Kedua penjahat yang masih di dalam mobil pun turun. Kini perkelahian sudah tidak seimbang lagi. Empat melawan dua.
Tara berusaha menghalau serangan, sembari berlari dengan Embun ke mobil.
"Dek, masuk ke mobil cepat. Terus kunci--!" teriak Tara, sambil melawan dua penjahat.
Embun pun bingung bagaimana cara untuk masuk ke mobil. Karena penjahat masih menyerang mereka.
Embun berlari dari belakang Tara, untuk menyelamatkan diri. Tapi, satu penjahat mengejarnya dengan sebuah pisau tajam di tangannya.
Saat Embun sudah sampai di dekat mobil. Embun pun di hadang penjahat. Tara yang melihatnya jadi panik. Istrinya itu akan di bunuh.
Dengan kekuatan tak terduga, penjahat yang menyerang Tara bisa dilumpuhkannya. Dia pun berlari ke arah Embun, karena melihat istrinya itu akan di tusuk.
Tara berusaha menghadang serangan penjahat yang memegang pisau tersebut. Hingga naas pun terjadi. Satu sayatan mengenai pergelangan tangan Tara.
Embun berteriak, merangkul Tara dari belakang. Dia ketakutan bukan main. Tingkah Embun saat ini sangat menyulitkan Tara untuk melawan penjahat, yang kini sudah siap menyerang dengan pisaunya. Harusnya Embun tidak usah memeluknya erat.
Sedangkan supirnya Tara masih baku Hantam dengan dua penjahat.
"Sebaiknya kita bunuh saja keduanya Bos. Ayo Bos, jangan banyak gaya, seperti di sinetron-sinetron. Langsung saja kita ekskusi." Ucap anak buah sang penjahat geram, dia kesal dengan bosnya yang banyak gaya. Ya kalau mau di bunuh, bunuh saja. Gak usah banyak cerita.
TBC.
__ADS_1