DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Ikut kami


__ADS_3

"Awas, minggir kamu!" ketus ibu Jerniati kepada Ilham. Dia merasa langkahnya dihalangi Ilham di ambang pintu. Karena, Ilham sedang berdiri dengan memegang koper.


Ilham yang tidak suka melihat Ibu Jerniati, malah tetap menghalangi wanita itu untuk keluar. Tentu saja Ibu Jerniati semakin geram. Dia pun menggeser koper yang masih di pegang Ilham. Sehingga ada celah untuknya lewat.


"Kurang ajar!" Ibu Jerniati menendang kopernya Melati, setelah dia berhasil keluar dari kamar itu. Saat dia berbalik, kakinya saling menyilang. Ibu Jerniati pun terjatuh.


"Aakkhhh.... !" teriaknya penuh dengan umpatan. Ilham menoleh kebelakang. Dia pun bergerak hendak membantu Ibu Jerniati bangkit. Tapi, wanita tua itu menepis tangannya Ilham.


"Ini semua gara-gara kamu!" Ibu Jerniati berdecak kesal, berusaha bangkit. Tapi, heels nya yang tinggi membuatnya kesusahan untuk bangkit. Dia Kembali terjatuh. Ilham pun akhirnya membantu Ibu Jerniati bangkit. Bagaimana pun dia sangat menghormati orang tua.


"Lain kali ibu harus lebih hati-hati. Terus, pulang dari sini. Ibu harus sholat taubat!" ucap Ilham tegas, berjalan cepat dan menutup pintu. Dia tidak mau mendengar ucapan penuh umpatan.


Ilham berjalan mendekati Melati dengan canggungnya. Karena adanya adegan romantis di hadapannya. Siapa lagi pelaku nya kalau bukan Tara.


Dia memelukku Embun sangat erat dan mengecup kepala wanita itu bertubi-tubi.


"Abang gak bisa membayangkan, kalau adek benaran memilih Pak Ardhi. Hati Abang pasti hancur, melihat Paribanku ini, setiap hari dimarahi mertuanya." Ucapan Tara membuat Embun terharu, sebegitu besar cinta suaminya itu padanya. Embun pun hanya bisa pasrah dalam pelukan Tara. Dia juga bersyukur, tidak salah memilih.


"Eehhmmmm....Eehmmm..!" Deheman Ilham, membuat keduanya melonggarkan pelukannya. Pasangan suami istri melempar senyum manis penuh kebahagiaan kepada Ilham dan Melati.


Sedangkan Melati saat ini, semakin down saja. Air mata begitu deras mengalir dari sudut mata sembabnya. Dia terus saja menyekanya dengan jemarinya, masih dalam keadaan menunduk. Dia mengasihi dirinya yang begitu malang. Melihat perlakuan Tara pada Embun. Membuatnya iri, dia juga pingin dicintai seperti itu. Tapi, sepertinya dia tidak akan pernah bisa merasakan cinta lagi. Mana ada pria yang akan menerima dirinya lagi. Dia tidak suci lagi. Bahkan pria yang menodainya, ingin memenjarakannya.


"Adek jangan menangis lagi ya! tempat bekerja tidak di rumah itu saja. Nanti Abang bantu kamu Carikan pekerjaan." Ilham menatap sedih wanita yang sangat dicintainya itu. Harusnya hari ini dia mendapatkan jawaban dari Melati. Tapi, sepertinya bukan waktu yang tepat untuk membahasnya.

__ADS_1


Melati hanya diam, masih menundukkan. Dia merasa tidak tertarik lagi untuk melakukan apapun. Bahkan menurutnya, mati akan lebih baik. Teror ibu jerniati benar-benar membuatnya takut.


Embun melepas rengkuhan tangan Tara dari bahunya dengan lembut. Dia pun bergerak mendekati Melati. Mendudukkan bokong nya di tepi bed.


"Semua masalah ada jalan keluarnya Dek. Badai pasti berlalu. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah sabar, dan tetap istiqamah di jalannya. Kalau kamu mau kamu bisa tinggal di rumah kami." Tangan Embun terulur untuk merangkul wanita itu. Matanya melirik Tara, meminta persetujuan. Tentu saja suaminya itu setuju. Bahkan dia merasa bangga pada Embun. Ucalan Embun sudah seperti ustadzah saja.


Ilham merasa senang, ternyata masih ada orang baik yang mau menolong Melati dengan tulus. Ilham menatap Tara dengan tersenyum penuh syukur. Tara membalas senyuman itu dengan tulus.


"Ti--dak kak, aku mau pulang kampung saja." Melati masih saja menangis dalam rengkuhan Embun.


Ilham tidak senang dengan ucapannya Melati. "Bagaimana kuliah mu Dek? di kampung pun kamu mau kerja apa?" Ilham nampak risau, dia tidak mau Melati pulang ke kampung. Dia tahu, itu bukan keinginan Melati sesungguhnya.


"Di sini perlu biaya hidup yang besar. Pakai apa aku bayar uang kuliah dan kebutuhanku. Cari kerjaan tidaklah mudah. Kalau di kampung aku akan bantu ayah dan Ibu ke sawah dan ke ladang." Ucapnya masih dengan derai air mata. Jemarinya dengan cepat melap air mata itu.


"Adek bisa tinggal di rumah. Boleh kerja di rumah, atau kerja di kantor." Ucapan Tara membuat Melati terkejut. Dia pun menoleh kepada Embun dan Tara secara bergantian secara terheran-heran, sekaligus merasa bersyukur, bisa dipertemukan dengan orang sebaik pasangan suami istri ini.


"Ya kalau kerja di kantor, nanti posisi adek sesuai dengan kualifikasi pendidikan dan kemampuan adek." Jelas Tara, tersenyum. Untuk kali ini, Melati merasa punya semangat hidup. Allah tidak sekejam itu padanya. Disaat terpuruk, masih ada malaikat yang datang menolong.


Dia pun tersenyum kepada semua orang di ruangan itu. "Iya, saya mau Pak. Saya bekerja di rumah saja. Saya tidak ada pengalaman bekerja di kantor." Ucapnya lemah, setidaknya dia ada tempat bernaung.


"Baiklah, kami permisi dulu. Mungkin sore ini Dek Melati sudah bisa keluar. Menunggu Dokter visit. Kabari nanti ya Dek Ilham. Biar nanti kami datang lagi ke sini. Save nomor ponselku." Tara langsung merogoh ponselnya dari saku celananya. Ilham dengan senang hati mensave nomor ponselnya Tara.


"Baiklah Dek Melati, kami pamit dulu." Embun kembali memeluk Melati dengan tersenyum lebar. Melati mencoba tersenyum, membalas senyum tulus nya Embun. Pasangan suami istri itu pun meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Sepeninggalan Tara dan Embun, suasana di ruang rawat inap itu jadi terasa canggung. Walau Melati dan Ilham sudah lama saling kenal, tapi mereka tidak terbiasa berduaan. Apalagi dalam satu ruangan. Melati hanya menundukkan kepalanya, dia tidak berani menatap Ilham. Dia takut, Ilham banyak bertanya. Saat ini dia belum siap menceritakan apapun yang menimpanya. Mungkin untuk selamanya dia akan menutup aib itu.


"Abang tahu, adek merasa risih dan sungkan berduaan di ruangan ini dengan Abang kan?" Ilham kini mengupas buah apel yang dibawa oleh Tara dan Embun. Pria itu fokus pada apel di tangannya.


Melati hanya melirik Ilham dengan ekor matanya. Dia tidak mau lagi terlalu dekat dengan pria itu. Dia sudah jadi wanita kotor.


"Ayo di makan!" Ilham menyodorkan piring yang berisi buah yang sudah di potong-potong. Ya di ruang VVIP itu semuanya tersedia.


"Mau disuapi?"


"Tidak, Tidak bang!" Melati dengan cepat menolak dengan kode tangannya. Dia harus membuat jarak dengan pria baik di hadapannya.


Memikirkan semua kebaikan Ilham, membuat Melati jadi sedih. Malang betul nasibnya, tidak bisa berjodoh dengan pria sebaik Ilham.


Melati langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak boleh lagi memikirkan pria itu. Dia tidak pantas untuk Ilham.


"Kalau tidak mau disuapi, adek makan dong buahnya. Biar adek nampak segar. Lihat tu mukanya kusut betul." Ilham mendekat wajahnya kepada Melati, sontak wanita itu memalingkan wajahnya. Dia juga tahu, pasti wajahnya sangat jelek saat ini.


Lagi-lagi air mata kembali keluar mengucur deras. Melati teringat malam mengerikan itu, saat Ardhi merenggut kesuciannya. Haruskah dia cerita kepada Ilham? Tapi, bagaimana kalau Ilham, langsung menjauhinya? dia masih butuh teman saat ini.


Dan kalau dia cerita kepada orang lain. Tentu Ibu Jerniati, akan mengetahuinya. Dia tidak mau, Ibu Jerniati mencelakai keluarganya di kampung.


"Adek sebenarnya kenapa? ayo cerita kepada Abang?" Ilham menatap Melati yang memalingkan wajahnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2