DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Meledak


__ADS_3

Setelah mandi Embun malas-malasan di tempat tidurnya. Menscrol ponselnya melihat foto-foto kebersamaannya bersama Mas Ardhi. Pria yang sangat dicintainya itu.


Tanpa permisi air mata merembes sudah di pipi putihnya. Ingin rasanya Dia menelpon Ardhi, tapi Dia ingat isi kesepakatan mereka. Kalau ada kontak diantara mereka, maka perjanjian batal. Dan Embun tidak akan bisa kembali kepada Ardhi.


"Perjanjian Macam apa itu? apa salahnya dilanggar." Ucapnya kesal, sambil memukul ranjangnya yang empuk itu.


"Tapi, kalau benar Tara menahan ku bagaimana? sepertinya Dia cukup berkuasa. Buktinya Dia bisa mempengaruhi Mas Ardhi agar nurut dengan ide konyolnya." Embun mengoceh, mengeluarkan uneg-uneg nya sembari melihat foto-foto nya bersama Ardhi. Saking kangennya Dia bahkan menciumi ponsel itu.


Ceklek....


Embun langsung melap air matanya dan terduduk di ranjang, karena mendengar pintu di buka.


Dia bernapas legah ternyata Mama Mira yang masuk. Tadinya Dia berfikir Tara yang datang.


"Menantuku sudah mandi ternyata. Gimana sayang kabarmu?" Mama Mira meletakkan nampan berisi makanan di atas meja. Kemudian menyamperin Embun duduk di tepi ranjang.


"Sudah baikan Bou, tapi aku merasa tidak bertenaga." Ucapnya terseyum manis kepada Ibu Mertuanya itu. Mama Mira begitu menyayangi Embun.


"Tara tidak datang ke sini sayang?" Tanya Mama Mira lembut, merapikan anak rambut Embun kebelakang kepalanya.


Embun menggeleng malas, kalau nama pria itu disebut, Dia jadi kesal sendiri.


"Katanya tadi mau istirahat sebentar. Tapi, ke mana Dia?" Kini Mama Mira beranjak dari duduknya, berjalan ke meja tempat dia meletakkan makanan yang dibawanya.


"Makan dulu ya sayang, terus minum obatnya." Mama Mira menyuapi Embun. Embun pun dengan senang hati menerima suapan dari Bounya itu. Mama Mira, bener-bener seperti Mama Nur, Ibunya Embun.


"Bou senang sekali, Akhirnya Tara bisa menikah denganmu sayang. Bou yakin, kamu pasti bahagia bersama Tara." Mama Mira menatap sendu Embun sembari menyuapinya.


"Bou sempat khawatir dan takut sekali. Apalagi setelah mengetahui bahwa kamu punya teman pria. Tapi, Bou yakin, kamu sebagai wanita Batak bisa menjaga marwahmu sendiri. Tidak mungkin kan sayang, kamu akan bermain di belakang Tara dengan pria itu nantinya?"


Uhuk.....uhuk....


Embun tersedak mendengar ucapan Ibu mertuanya itu.


Dengan cepat Mama Mira menyodorkan air minum untuknya.


"Kamu baik-baik saja kan sayang?" Mama Mira mengelus pelan punggung Embun. Dia begitu mengkhawatirkan menantunya itu.


"Iya Bou." Jawab Embun tersenyum getir. Bagaimana jikalau Keluarga besar mengetahui isi kesepakatan itu. Tentu Keluarga besar akan kecewa Kepada mereka.


"Bou tidak mengenal teman pria mu itu. Tapi, dari Cerita Ompung Borumu waktu itu, bisa ku simpulkan bahwa kamu sangat mencintai teman pria mu itu. Bou sangat takut, jikalau pernikahan kalian akan gagal. Itu bisa membuat keluarga besar kita malu. Dan mungkin akan membahayakan nyawa Ompungmu. Tapi, syukurlah ternyata kalian Menikah juga.


"Bou sedih mengetahui fakta bahwa kamu masih membenci Tara. Bagaimana kalian akan menjalani pernikahan ini. Kamu membenci Tara, sedangkan Tara tipe pria yang dingin kepada wanita." Ucap Mama Mira menitikkan air mata. Sedangkan Embun dibuat tercengang.


'Dingin? Tara pria dingin? bukannya Tara selengek an dan usil padanya?' Embun membathin, berkonsentrasi mendengar cerita Bounya itu.


"Saat Ayahmu menghubungi kami, menanyakan apakah Perjodohan yang dari kecil bisa diseriuskan, saat itu Bou dan Ompungmu senang sekali mendengarnya. Dan ternyata Tara juga menyetujuinya. Itu hal yang sangat membahagiakan buat keluarga besar kita.


"Gimana tidak membahagiakan? Akhirnya Bou bisa bernapas legah. Karena Tara ternyata mau juga menikah. Padahal, semua gadis yang mengejar-ngejarnya ditolak mentah-mentah. Saat itu, Bou takut dan khawatir sekali. Karena sempat kepikiran bahwa Tara tidak menyukai wanita.

__ADS_1


"Nantinya kamu harus sabar ya sayang, menghadapi sifat dinginnya Tara. Ditambah banyaknya wanita yang perhatian terhadapnya. Rose saja sampai klabakan meladeni wanita-wanita yang mencari Tara ke kantor.


"Dua tahun terakhir ini, Tara sering dikejar-kejar wanita yang menawarkan diri jadi istrinya. Wanita-wanita itu pada tidak gengsi menawarkan diri. Ya sejak Tara masuk pemberitaan sebagai pengusaha muda yang sukses." Mama Mira bercerita panjang lebar, memberitahu keadaan putranya, jangan sempat Embun terkejut nantinya.


"Terus kenapa Tara mau menikah denganku Bou? aku kan masih anak kuliahan. Terus kami kan bukan Keluarga kaya. Apa Bou tidak merasa rugi menikahkan Abang Tara kepadaku." Ucap Embun dengan bingungnya. Kalau bicara dengan orang lain, Embun memanggil Tara dengan Abang. Tapi, kalau mereka berinteraksi, Embun gengsi memanggil Tara dengan sebutan Abang.


Mama Mira tersenyum, mengelus kepala Embun. Dia gemes kepada menantunya itu.


"Kenapa Bou harus merasa rugi. Kamu itu, parumaen Bou. Keponakan kandung Bou. Bou akan lebih merasa rugi lagi. Apabila kerja keras Tara. Wanita lain yang menikmati. Kamu gimana sih sayang?


"Intinya, kamu harus bisa sabar-sabar saja nantinya. Apabila banyak kado atau bunga yang dikirim ke rumah kalian. Itu pasti dari wanita-wanita yang mengejar-ngejar Tara. Apalagi Tara tidak mempublikasikan pernikahan kalian ke relasi bisnisnya. Berarti orang tidak tahu Dia sudah menikah. Hanya keluarga dekat dan orang kampung yang tahu.


"Bou sempat kesal dengan keputusan Tara. Kenapa tidak buat resepsi saja, mengundang semua rekan bisnis. Biar orang tahu bahwa Dia sudah menikah. Tapi, kamu jangan khawatir, Bou tetap akan terus membujuknya, agar hubungan kalian dipublikasikan." Mama Mira tersenyum hangat.


Embun juga tersenyum. "Siapa juga yang ingin pengakuan sebagai istrinya. Aku juga senang, orang luar tidak tahu bahwa Dia suamiku. Setidaknya setelah berpisah dengannya dan kembali kepada Mas Ardhi. Orang tidak mengatakan aku janda." Embun membathin menatap lekat Mama Mira yang begitu menyayangi nya.


"Bou yakin padamu sayang, bahwa kamu akan menjadi istri yang baik. Seperti wanita-wanita batak lainnya. Setia, hormat pada suami, melayani suami dengan baik. Seperti Ibumu kepada Abang Baginda." Ucap Mama Mira tersenyum.


"Karena, Bou yakin. Mama Nur sudah mendidikmu dengan baik." Lagi-lagi Mama Mira mengelus kepala Embun dengan sayangnya.


"Sudah, nanti kalian agak siangan saja ke pelaminan. Kamu istirahat saja dulu ya sayang." Mama Mira mengecup kening Embun dan meninggalkannya di kamar itu.


Embun sudah satu jam malas-malasan di atas ranjang. Tapi, Tara tidak kunjung masuk ke kamar itu.


"Syukurlah, berarti Dia benar-benar mendengar ucapan ku. Ya memang betul, kalau melihat wajahnya. Aku mau muntah. Dia seperti sampah saja di mataku. Syukur kalau jadi sampah yang bisa di daur ulang. Ini mah sampah busuk, pembunuh." Ucapnya bersungut-sungut. Mulai konsentrasi untuk tidur.


❤️❤️❤️


"Rose sebaiknya kamu pulang duluan ke kota Medan. Lihatlah file yang dikirimkan Doly ini pada bersalahan semua. Dia belum mengerti, tapi kamu sudah melepasnya. Dan malah datang kesini." Ucap Tara menghela napas dalam. Dia yang dapat kata-kata penuh kebencian dari Embun, membuat moodnya jadi buruk.


"Baiklah, malam ini Aku akan pulang. Tara, bukannya Si Embun itu, wanita yang menabrakmu di bandara Kuala Namu waktu itu? dan dengan cepat Dia di bopong seorang pria. Dan pria itu Pak Ardhi. Aku sih menyimpulkan Seperti itu, setelah bertemu dengan Pak Ardi saat bahas kerjasama kita dengannya." Ucap Rose penuh semangat.


Tara bangkit dari kursi kerjanya, berjalan ke arah jendela.


"Mungkin, untuk apa kamu bahas itu. Aku peringatkan kamu rose, jangan terlalu ikut campur urusan kami berdua. Embun tidak suka denganmu. Aku tidak mau kalian bertengkar lagi. Kalian sama-sama keras, apalagi Dia dendam kepadamu karena kamu mencelakakannya di sawah tempo hari." Ucap Tara, sembari memandang ke arah galanggang tempat acara Margondang berlangsung.


Rose berdecak kesal.


"Semalam juga kalian bertengkar dikamar. Dia menangis kamu buat." Jelas Tara, masih menatap ke arah acara Margondang berlangsung.


"Bisa juga wanita tidak tahu sopan santun itu menangis." Ketus Rose, menampilkan wajah sombongnya.


"Rose, Dia istriku. Aku ingin kamu bersikap baik kepadanya. Aku belum memeriksa CCTV. Nanti jika Aku mendapati kamu bersikap kasar kepadanya. Lebih baik kita akhiri hubungan pertemanan kita dan kamu kembalilah ke Negaramu." Hardik Tara menatap tajam Rose yang duduk di sofa.


"Ya ampun, segitu cintanya kamu pada Dia. Apasih yang kamu lihat dari si Embun pagi itu? udah kasar, anak kuliahan, keluarga nya juga tidak kaya-raya. Jauh keluarga kalian lebih kaya. Lebih bagus lagi, kamu menikah dengan wanita-wanita yang mengejar-ngejar mu selama ini. Mereka putri pengusaha sukses juga. Kan lumayan tu dua keluarga pengusaha sukses disatukan.


"Yang anehnya, kamu akan mencampakkanku Padahal Aku yang membantumu, jadi pengusaha yang sesukses ini. Dia hanya enam bulan jadi istrimu. Sadar kamu Tara.!" Ucap Rose penuh amarah. Dia bangkit dari duduknya, keluar dari ruangan itu dengan menutup pintu dengan kerasnya.


Tara kembali mendudukkan bokongnya di kursi kerjanya. Menghela napas berat dan mengusap wajahnya kasar. Kalau mengingat perjanjian itu, Tara akan kesal sekali.

__ADS_1


Pukul sepuluh pagi, Tara memasuki kamarnya karena Dia akan ganti kostum.


Dengan senyum lebar Dia memasuki kamarnya itu. Nampak Embun sudah selesai di rias. Embun masih mengenakan pakaian adat warna merah dan kepalanya masih dihiasi Bulang. Embun sangat cantik, Tara terkesima. Dia tidak sadar menatap Embun lamat-lamat. Embun membuang mukanya.


Setelah Tara berganti kostum, dimana kali ini Dia hanya mengenakan jas warna hitam dan kemeja warna merah yang senada dengan baju Embun. Ditambah aksesoris adat Batak.


Tara dan Embun di arak lagi menuju pelaminan. Kali ini Tara lebih banyak diam. Dia melakukan itu karena, takut mendapat sikap kasar dari Embun nantinya dihadapan khalayak ramai. Dia juga ingin memberi kenyamanan kepada Embun, karena kata Embun. Dekat dengannya membuat darah Embun mendidih.


Acara demi acara pun telah berlangsung, kini tiba saaatnya kepada kedua mempelai untuk manortor.


Gerakan Tara dan Embun saat manortor sangat bagus, semua orang terkesima melihat penampilan mereka. Ditambah onang-onang yang diucapkan mengena ke hati keduanya. Tanpa sadar Embun menangis sambil manortor. (Onang-onang adalah nyanyian yang berisi pantun untuk menceritakan kehidupan kedua mempelai secara garis besar).


Seorang wanita paruh baya nampak menghampiri Embun. Wanita itu melap air mata yang jatuh di pipi Embun. Dia jelas kelihatan menangis walau pakai kaca mata hitam.


Setelah acara manortor pengantin selesai. Kini mereka harus melewati acara Patuaekkon. Lagi-lagi nasehat dan Doa-doa diperdengarkan, yang membuat hati Embun merasa sedih. Kenapa pernikahan palsu ini sangat sakral.


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, acara terakhir adalah acara Mangupa-upah. Acara ini sama dengan acara yang diadakan di rumah Embun. Yaitu dihadapan mereka sudah terhidang makanan pangupa yaitu kepala kerbau. Nasi yang diatasnya ada telur ayam dan garam.


Acara Mangupa-upah pun berlangsung dengan banyaknya nasehat petuah-petuah dari orang tua, tokoh adat dan tokoh agama, dan acara itupun berakhir menjelang dapatnya waktu Magrib.


Embun dengan lemasnya berjalan dipapah oleh keluarga Tara ke kamarnya di lantai dua. Dia kembali merasakan demam. Mungkin karena kelelahan dan setres. Sehingga Embun susah sembuhnya.


"Inang istirahat dulu ya? nanti habis sholat isya masih ada acara makan bersama. Dan inang yang harus menyajikan semua makanan kepada tamu kita atau istilahnya Marsonduk. Inang Embun mengerti kan apa itu Marsonduk?" tanya wanita paruh baya itu. Embun bertutur sapa denhan inang atau Butet kepada wanita itu.


"Iya Inang, saya mengerti." Ucap Embun ramah. Ya Embun ramah kepada keluarga besarnya Tara. Hanya kepada Tara Dia darah tinggian.


"Baiklah, inang keluar dulu. Mau sholat Magrib." Inang nya si Embun meninggalkan mereka berdua di kamar.


Embun mau berbaring, tapi Tara menahannya. Dia ingin Embun minum obat sebelum tidur.


"Apa lagi? lebih baik kamu keluar. Aku mau istirahat." Ketus Embun, disaat tangan Tara ingin menyentuh bahunya.


"Adek minum obat dulu. Ini Abang sudah ambilkan." Jawab Tara lembut dan tersenyum tipis. Tapi jangan tanya perasaannya sekarang. Sakit dan sedih.


"Kamu gila ya, menyuruh Aku minum obat. Padahal belum makan. Mau membunuhku." Ucap Embun marah, melotot kepada Tara.


Tara menghela napas kasar, Dia ingin menenangkan dirinya agar jangan terpancing. Dia juga lelah.


"Maaf, Abang salah lagi. Abang hanya ingin Adek cepat sembuh. Tadikan saat diupah-upah kita juga sudah makan nasi dan telor. Abang rasa itu sudah cukup sebagai syarat untuk Adek bisa minum obat ini." Tara menatap lekat Embun. Di tangannya masih ada obatnya Embun.


Mendengar ucapan Tara, Embun terdiam. Tapi, Dia masih kesal. Kesal kenapa harus menikah dengan Tara.


"Kalau begitu, Adek minum dulu. Agar demamnya cepat turun. Adek harus minum banyak." Tara menyodorkan gelas berisi air putih hangat.


Embun yang kesal kepada Tara, langsung menjauhkan gelas itu dari hadapannya. Tapi karena Dia diliputi rasa benci yang berapi-api, Sehingga Embun menepisnya dengan kuat. Gelas pun terplanting ke lantai dan pecah.


Prangg.... takkk.... Gelas pecah.


Ceklek....

__ADS_1


Suara pintu kamar terbuka.


__ADS_2