DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Pria najis


__ADS_3

Embun mencibikkan bibirnya, tidak mau terpancing dengan kelakuan Tara yang pura-pura kesakitan. Wanita itupun berlari ke kamar mandi, meninggalkan Tara yang terduduk kesal di atas ranjang.


Tara menghela napas berat. Dia merasa tidak siap untuk berpisah dengan istrinya itu. Tapi, mau bagaimana lagi, Istrinya itu sudah ngotot ingin kembali kepada Ardhi. Memikirkan akan berpisah dengan Embun, kepala Tara jadi pusing. Dia Mengusap wajahnya kasar, begitu juga dengan kepalanya, pria itu nampak frustasi. Dia telah kalah, sudah siap menelan pahitnya rasa sedih yang amat mendalam.


Saat memikirkan semua itu, ponsel Embun berdering. Tara mencari asal suara ponsel istrinya itu. Ternyata berada di tas selempang nya Embun.


Tara bangkit dari ranjang, berniat mengambil ponselnya Embun yang tak kunjung diam itu. Dengan ragu, Tara membuka tas selempangnya Embun, merogoh ponsel nya Embun. Saat itu juga, hati Tara hancur berkeping-keping saat melihat nama kontak yang memanggil.


My soulmate


Itulah nama kontak Ardhi dalam ponselnya Embun. Istrinya itu benar-benar sangat mencintai kekasihnya itu. Pantas saja Embun tidak sabar ingin bersatu dengannya.


Tangan Tara ikut bergetar, saat menggenggam ponselnya Embun, karena menahan amarah. Bagaimana pun juga, dia jelas cemburu. Dia begitu mencintai Embun.

__ADS_1


Ponsel terus berdering, Tara pun menggeser icon hijau. Suara penuh kebahagiaan Ardhi jelas terdengar di telinganya Tara.


"Assalamualaikum sayang, Mas sudah sharelock, tempat kita bertemu, dan juga waktunya. Mas sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu cintaku belahan jiwaku." Wajah Tara merah padam mendegar ucapan Ardhi. Rasa cemburunya, benar-benar menggelapkan hatinya.


"Ini aku Tara!" ucapnya tegas.


"Oh Pak Tara, mana Embun? semalam dia sudah mengirim pesan padaku. Dia katanya akan kembali padaku. Tidak perlu menunggu empat bulan lagi." Terdengar suara Ardhi penuh kepercayaan diri, dia dan Embun memang saling mencintai. Cintanya yang tulus akan mempersatukan mereka.


"Embun sedang mandi." Lagi-lagi Tara menjawab pendek.


Setelah panggilan terputus, pria itu menatap nanar ponselnya Embun. Ingin rasanya dia membanting ponsel itu, saking kesalnya.


Tara pun mulai membuka pesan yang dikirim oleh Ardhi. Membacanya lamat-lamat. Kemudian membaca semua pesan antara Embun dan Ardhi dua hari belakangan ini.

__ADS_1


Setelah selesai membaca pesan Ardhi. Tara kembali memeriksa pesan yang masuk ke ponsel Embun.


Ada banyak pesan yang belum dihapus dengan nama kontak Pria Najis.


Dengan hati berdebar-debar, karena penasaran serta was-was. Tara yang takut, dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa nama kontak Pria Najis itu adalah nama dirinya sendiri pada ponsel istrinya itu. Ternyata dugaannya benar.


Tara langsung lemas, tulang-tulangnya rasanya mau remuk. Dadanya terasa sesak, mendapati kenyataan, bahwa kebencian Istrinya padanya masih mendalam. Sikap manis dan rasa cemburu yang ditunjukkan istrinya itu akhir-akhir ini, ternyata hanya basa basi saja. Dirinya belum ada di hati istri itu.


Tara mencoba menenangkan dirinya, dengan menarik napas dalam. Dia pun meletakkan ponsel Embun di atas nakas dekat tempat tidur. Meraih dompetnya dari atas meja. Keluar dari kamar itu dengan lesunya. Dia akan ke kamar supirnya saja. Menunggu kedatangan tukang pijat, dan kemudian ke rumah sakit untuk ganti perban di tangannya. Dia tidak mau terlalu banyak berinteraksi lagi dengan Embun saat ini.


Bahkan sebelum semua urusannya selesai. Dia tidak akan kembali ke hotel. Jikalau pun dia kembali ke hotel. Itu artinya mereka akan berangkat ke kota Sibolga. Dia juga akan membelikan pakaian pada Embun.


TBC

__ADS_1


like coment positif dan Vote


__ADS_2