DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Satu titik terang


__ADS_3

Saat itu juga Ardhi memutar tubuhnya. Karena, matanya secara tak sengaja melihat Embun dan Tara bertukar Saliva di depan pintu rumah. Ya Embun mengantarkan Tara untuk berangkat kerja.


Pemandangan romantis itu tentu saja membuat hatinya sakit seperti dicabik-cabik. Dia belum bisa melupakan Embun. Ardhi kesal sangat kesal dengan semua yang terjadi padanya. Dia bukan malaikat, yang tidak punya rasa. Dia manusia biasa yang diberi Pitrah hawa nafsu serta emosi.


Ardhi menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Dia harus bisa menguasai dirinya sendiri. Akan sangat memalukan jika dia mewek melihat Embun bercumbu dengan Tara.


"Pak Ardhi?" Tara langsung menyapa Ardhi, saat dia membalik badannya melihat Ardhi berdiri mematung membelakangi mereka. Hot kis itupun baru saja usai.


Embun langsung mencari sosok pria yang disebutkan suaminya itu. Ya Embun tidak memperhatikan sekeliling lagi. Kalau sudah bermesraan dengan Tara.


Melihat Ardhi berjalan menghampiri mereka. Embun jadi salah tingkah. Dia malu pada kelakuan mereka. Dia yakin, Ardhi pasti melihatnya.


"Pagi sekali sudah datang Pak Ardhi?" Tara mempersilahkan Ardhi duduk di bangku teras rumah. Mereka bertiga pun langsung duduk dengan posisi. Embun duduk bersebelahan dengan sang suami, sedangkan Ardhi duduk di hadapan mereka.


"Iya, mau membicarakan tentang pernikahanku dengan Melati." Jawab Ardhi dengan ekspresi wajah datar. Kelakuan Embun dan Tara, masih melintas dipikirannya. Tontonan itu membuat mood Ardhi memburuk.


"Ooohh kalau begitu kita bicara di dalam saja pak Ardhi." Tara melirik Embun, memberi kode agar memanggil Melati.


"Iya." Jawab Ardhi masih dengan ekspresi wajah datarnya. Ketiganya pun masuk ke dalam rumah. Tara dan Ardhi duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan Embun masuk ke kamar Melati. Dia akan memanggil wanita itu.


"Sudah rapi kamu Mel?" tanya Embun tersenyum tipis.


"Iya kak, hari ini aku ujian." Jawabnya dengan sungkan. Melati merasa bersalah pada Embun. Dia terlalu banyak merepotkan wanita itu. Embun juga melarangnya bekerja. Padahal dia kan pembantu di rumah itu.


"Emang kamu sudah baikan?" Embun menatap lekat Melati yang menunduk.


"Iya kak, sudah lebih baik. Terimakasih ya kak." Melati langsung berhambur memeluk Embun. Dia merasa Embun sangat baik, sehingga dia terharu.


"Loh koq malah mewek sih?" Embun mengurai pelukan Melati. Menatap Melati yang menangis dalam keadaan menunduk.


"Aku merasa terharu kak, kalian begitu baik padaku. Entah bagaimana caranya nanti aku membalas kebaikan orang kak." Melati masih menangis. Jemarinya dengan cepat melap air matanya.


"Eehhmmmm... sudah, jangan menangis lagi. Nanti kamu jadi jelek, dilihat sama calon suami. " Embun mendudukkan Melati di depan cermin. Melati terbengong dengan ucapan Embun.

__ADS_1


Calon suami?


"Mas Ardhi menunggumu di depan." Embun mengoleskan lipstik warna chery di bibir pucatnya Melati.


"Punya lipstik koq gak dipakai sih Mel?" Embun memperhatikan wajah Melati yang sudah nampak segar, setelah dia mengoles lipstick di bibirnya Melati.


"Cantik, kamu itu cantik banget tahu." Pujian Embun, membuat Melati tersenyum tipis.


"Bulatkan niat dan tekad mu ya? saran ku sih, kamu menikah secepatnya dengan Mas Ardhi. Mas Ardhi itu pria baik. Kalau gak baik, mana mungkin kak dulu mau jadi pacarnya." Embun tersenyum manis. Ekspresi wajahnya memberi semangat pada Melati yang nampak belum yakin itu.


"Kamu harus tegas pada Ilham. Seperti nya dia tidak ikhlas melepaskanmu." Ucapan Embun membuat Melati jadi sedih, dia merasa bersalah pada Ilham.


"Ayo jumpai Mas Ardhi." Embun menarik pelan tangan Embun agar mengikutinya. Tapi, Melati tetap bergeming di tempat.


"A--ku, aku takut kak!" ucapnya gugup dengan berusaha meredam debaran jantungnya yang sangat cepat. Ya, Melati benar-benar ketakutan kepada Ardhi. Apalagi kalau mengingat perlakuan kasar Ardhi saat menodainya.


"Kakak bisa mengerti apa yang kamu rasakan. Tapi, percaya deh sama kak. Kak bisa jamin Mas Ardhi itu pria yang paling baik sedunia. Kamu akan bahagia bersamanya. Dia itu beneran baik orangnya. Perhatian, penyayang dan tidak egois." Embun bicara penuh dengan penghayatan, yang membuat Melati sedikit percaya dengan ucapan Embun.


Melati menarik napas dalam, dan menghembuskan pelan. Mengusap dadanya yang masih berdebar-debar itu. Dia benar-benar tidak siap untuk menikah dengan majikannya itu. Tapi, kalau dia tidak menikah. Bagaimana dengan anak yang dia kandung. Tadi, setelah bangun tidur. Dia sudah menggunakan testpack dan benar dia sedang hamil.


"Nanti kakak yang akan bicara, kalau kamu akan ke kampus. Terus kalian bisa atur waktu untuk bicarakan pernikahan kalian." Melati pun akhirnya mengangguk. Tapi, hatinya belum plong, dia harus mengatakan hal yang sangat mengganjal dan menakutkan selain takut pada Ardhi.


"Aku tidak akan bisa bahagia jikalau menikah dengan tuan Ardhi, seperti yang kakak bilang tadi." Ucapnya menunduk, menahan Embun untuk keluar dari kamar itu.


"Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Embun dengan penasarannya.


"Nyonya besar tidak menyukaiku kak. Dia ingin aku mati. Saat malam itu, aku ingin dibunuh. Karena Nyonya besar menyaksikan kejadian itu?"


"Apa? ibunya mas Ardhi menyaksikannya dan membiarkan anaknya melakukan itu padamu dan dia ingin membunuhmu?" tanya Embun tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari Melati.


Melati mengangguk lemah. "Saat itu, nyonya besar berada di luar. Pintu tidak bisa dibuka. Aku berusaha lari dengan terus berontak. Tapi, usahaku sia-sia. Aku tidak bisa melawan tuan Arshi. Setelah kejadian mengerikan itu selesai, nyonya besar baru bisa masuk ke ruang kerjanya tuan Ardhi." Melati kembali terisak, air mata bercucuran deras. Menceritakan itu membuatnya sedih sekaligus kesal.


Embun meraih Melati dalam dekapannya. Ternyata fakta sebenarnya lebih menyeramkan.

__ADS_1


"Saat itu nyonya besar ingin membunuhku. Karena, dia beranggapan dengan kejadian itu. Akan menggagalkan rencana pernikahan Tuan Ardhi dengan Non Anggun." Jelas Melati dengan berurai air mata dalam dekapan Embun.


"Oohh Anggun yang ingin membunuh mu di rumah sakit?" Melati mengangguk.


"Astaghfirullah.... kami yang sabar ya Mel. Aku akan membantumu. Aku akan bilang semuanya pada Mas Ardhi."


"Jangan kak, jangan..!" Melati menggeleng lemah, menatap sendu Embun. Dia tidak mau Terjadi masalah baru lagi. Kalau Embun membahas Ibu Jerniati pada Ardhi. Dia takut, Ardhi tidak percaya dengan kejadian yang sebenarnya.


"Semuanya harus diungkapkan. Agar tidak terjadi kesalahpahaman. Kakak gak mau mendiamkan ini. Semua harus jelas. Kak juga akan bilang pada Mas Ardhi, agar memberi jarak antara kamu dan ibunya." Jelas Embun tegas. Tersenyum memberi semangat pada Melati.


Melati hanya diam, tidak tahu berbuat paa saat ini.


"Sudah, jangan sedih lagi ya. Percaya sama kak. Ibu Jerniati tidak akan mengusikmu. Kamu harus menikah dengan Ardhi. Kamu mengandung anaknya. Tidak mungkin, si Ilham yang menikahimu. Kamu mengerti kan?" Melati mengangguk, kemudian menghela napas dalam.


"Ayo kita jumpai Ardhi." Lagi-lagi Melati mengangguk. Keduanya pun berjalan beriringan ke ruang tamu.


Di ruang tamu Tara nampak sedang bicara. Melati dan Embun bisa mendengar apa ya g diucapkan Tara.


"Pernikahannya harus tercatat di mata agama dan hukum. Diadakan pesta besar semewah-mewahnya. Semua rekan bisnis dan keluarga besar harus diundang." Melati terkaget-kaget mendengar ucapan Tara kepada Ardhi.


Ardhi sudah seperti anak buahnya Tara. Tak berkutik dihadapan pria itu dan mengangguk, pertanda setuju dengan ucapannya Tara.


"Kenapa wajah kalian terlihat serius begitu?" tanya Embun, menuntun Melati duduk di sofa tepat di sebelah Ardhi.


Ardhi menatap ke arah Melati yang menunduk tak berani menoleh ke arahnya. Ardhi tahu, Melati merasa tidak nyaman dengan tatapannya. Dia pun akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah Tara dan Embun.


"Terimakasih atas bantuan kalian. Aku merasa sudah legah saat ini. Karena, fakta inilah yang sedang ku cari kebenarannya" Ardhi menarik napas lega, satu hal yang mengganjal di hatinya sudah terjawab.


"Assalamualaikum...!" terdengar suara pria yang tak asing di telinga Melati. Siapa lagi kalau bukan Ilham


"Walaikum salam.." Jawab penghuni ruangan itu serentak. Tapi, Melati menjawabnya dengan suara pelan.


Melati merasa tidak tenang saat ini. Dia takut akan ada lagi perkelahian seperti semalam.

__ADS_1


"Aku kemari mau mengantarkan Melati ke kampus." Ilham tersenyum tipis pada Melati yang menunduk duduk di sebelah Ardhi. Kemudian pria itu mengalihkan pandangannya kepada Ardhi dengan wajah masam.


TBC


__ADS_2