DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Kena jebakan sendiri


__ADS_3

Setelah selesai makan malam bersama. Pak Baginda, mengajak Tara untuk bersantai di teras rumah. Sedangkan Embun langsung masuk ke kamarnya.


Dia mendudukkan bokongnya dengan malas. Memperhatikan pantulan dirinya di cermin meja riasnya dengan wajah kusut dengan mata berkaca-kaca.


Peristiwa di kamar mandi kembali melintas dipikirannya. Dia tidak menyangka, Tara akan senekat itu.


Jemari Embun yang lentik, langsung melap air matanya yang jatuh tanpa permisi itu. Dia benci Tara, karena telah mel*umat bibirnya tanpa izin terlebih dahulu.


Tapi, jikalau minta izin. Apa Embun akan mengizinkannya? sepertinya tidak.


"Aku benci, benci, benci kamu...!" Embun menggosok-gosok bibirnya dengan keras dengan jemarinya. Berharap bekas lumaa*tan bibir Tara menghilang. Dia terus saja menggosoknya, setelah bibirnya terasa panas karena terus digosok. Dia pun menghentikan aksi gilanya itu.


"Kenapa harus Dia yang mengambil keperawanan bibir ku ini. Ini hanya milik mas Ardhi." Embun kembali menangis tersedu-sedu. Memegangi dadanya yang terasa sesak dan sakit. Dia mengelus dadanya itu, berharap rasa sakit itu hilang.


"Aku harus membuat batasan kepadanya. Dia nampak seperti pria lugu. Tapi, ternyata Dia mesum. Dasar Tara gila...!" Embun bangkit dari duduknya, kemudian menjatuhkan tubuhnya di ranjang empuknya.


Ceklek...


Pintu terbuka, Embun terkejut. Dengan cepat Dia mendudukkan tubuhnya. Karena merasa takut, jikalau yang masuk adalah Tara. Setelah melihat siapa yang masuk, Embun menghela nafas legah.


"Mama, kirain siapa?" Embun tersenyum, berusaha menutupi hatinya yang lagi gundah gulana.


Mama Nur menghampirinya, mendudukkan bokongnya di tepi ranjang.


"Ini terimalah sayang." Mama Nur meletakkan sebuah buku tabungan dan sebuah kartu ATM .


Kedua bola mata Embun membulat, menatap heran benda di hadapannya. Meraih benda yang dikenalinya itu. Kemudian menampilkan ekspresi wajah kesal.


"Inikan buku tabunganku dan juga kartu ATM yang hilang waktu itu." Embun dengan tidak sabarannya membuka buku tabungan lembar demi lembaran memastikan kalau itu adalah miliknya yang hilang saat dirinya melarikan diri ke kebun salak milik mereka.


Mama Nur mengangguk. Embun masih saja, membolak-balik buku tabungan itu.


"Berarti semua isi tas ku yang jatuh ditemukan. dan kalian tidak memberitahuku." Embun yang tadinya kesal, kini kekesalannya semakin bertambah saja. Orang tuanya benar-benar menyita semua barang miliknya, yang dianggapnya hilang saat Dia mencoba melarikan diri.


"Ini terpaksa Ayah lakukan, agar kamu tidak macem-macem. Embun sayang, Mama mohon jangan kecewakan Keluarga besar kita. Bersikap baiklah kepada Tara dan lupakan pria yang bernama Ardhi itu." Embun membuang wajahnya, kesal jika harus dipaksa untuk bisa menerima Tara sebagai suaminya.


"Kamu harus bisa menjadi istri yang baik untuk Tara ya Nak. Layani Dia dengan baik dan ikhlas. Lihatlah tingkahmu saat makan malam tadi. Sedikit pun kamu tidak perduli dengan suami. Nasi dia ambil sendiri, lauknya juga begitu."


"Dia sudah besar Ma. Bukan anak TK yang harus disuapi dan diladeni saat makan." Embun berdecak kesal. Mengusap wajahnya kasar. Dia benci sekali jika topik pembahasan mengenai Tara.


"Embun sayang, kita sebagai istri harus bisa menunjukkan rasa cinta kita kepada suami."


"Apa? aduhh Ma. Mama tahu sendirikan, aku sangat membencinya. Mana mungkin bisa bersikap seolah-olah mencintainya." Embun menatap kesal Mamanya. Mama Nur menghela napas berat. Dia jadi takut, dengan kelanjutan rumah tangga putrinya itu.


"Sayang, kamu harus berhati-hati ketika seorang pria merasa dirinya tidak dicintai dan kurang diperhatikan oleh pasangannya. Dia mungkin akan mencari kepuasan melalui hal lain. Kepuasan itu mungkin bisa dia dapat dengan bermain video game tak kenal waktu, bekerja hingga larut malam, dan tidak menutup kemungkinan untuk berselingkuh.


"Jangan sempat Tara mencari kesenangan dan kenyamanan dengan wanita lain. Kamu akan merugi Nak. Tara itu sempurna dalam segala hal. Mama yakin, banyak wanita di luar sana yang menginginkannya. Tapi, lihatlah, Dia dan keluarganya masih mau melanjutkan perjodohan kalian. Ini suatu anugerah buat kamu sayang." Mama Nur memegang lengan putrinya. Meremasnya pelan. Berharap putrinya itu bisa mengerti.


Embun menghentakkan tangannya dari genggaman Mamanya.


"Cinta tidak bisa dipaksa Ma." Ketus Embun, berbaring membelakangi Mamanya.


"Walau kamu mengaku tidak mencintainya. Tapi, setidaknya kamu harus bersikap baik dan sopan kepada Tara. Dia suamimu Nak. Jangan buat Mama malu. Mama tidak ingin dinilai buruk oleh Tara. Karena punya anak gadis yang tidak punya sopan santun kepada suaminya. Dengar gak kamu....!?" Mama Nur kesal menggoyang kaki Embun.


"Iya, iya Embun mengerti." Jawabnya masih membelakanginya Mamanya.

__ADS_1


"Kalau kamu mengerti, ayo sekarang turun. Buatkan teh atau kopi kepada Ayah dan Tara. Kita temani Mereka ngobrol di teras." Mama Nur, menarik lengan Embun. Sehingga mau tak mau Embun pun menurut.


Setelah Mama Nur dan Embun turun ke lantai satu. Mama Nur meminta Embun untuk menanyakan Tara mau dibuatin minuman apa?


Embun menghampiri Ayah dan suaminya yang sedang sibuk membahas proyek baru mereka. Yaitu, mmbuat usaha pengolahan buah salak menjadi berbagai jenis makanan.


Tara tersenyum melirik Embun yang Berdiri di sebelahnya. Embun hanya menampilkan ekspresi wajah datar.


"Ayah mau minum teh atau kopi?" Embun menatap Ayahnya.


"Teh saja sayang." Jawab Pak Baginda dengan tersenyum. Dia bahagia sekali Akhirnya putrinya itu menikah juga dengan Tara.


"Kalau ka..mu, Eehh... kalau Abang mau minum apa?" lidah Embun keseleo, saat hendak bersikap manis kepada Tara.


Tara tersenyum lebar, senang sekali rasanya mendengar Embun memanggilnya dengan sebutan Abang.


"Eehhhmmmm.... Abang pingin dibuatin kopi susu." Ekspresi Tata masih tersenyum lebar.


"Gak ada pilihan itu, pilihannya hanya dua. Teh atau kopi?" sikap jutek Embun Akhirnya keluar juga. Dasar Embun tukang berdebat. Apa salahnya diiyakan dan pergi ke dapur untuk membuatnya.


"Embun, sepertinya kamu harus diajari Mama lagi. Sudah menikah lima hari, tapi minuman kesukaan suamimu pun, kamu tidak tahu. Sana buatkan kopi susu!" Ketus Pak Baginda melotot kepada Embun.


Dengan kesal Embun berjalan ke dapur. Dia benci sekali sama Ayahnya itu. Dia tidak terima dimarahi dihadapan Tara.


"Rasakan ini." Embun mencampur garam ke dalam minuman Tara.


"Asin, asin dah. Syukur aku masukin garam dapur. Tadinya Aku mau masukin garam Inggris." Embun tersenyum devil. Membayangkan bagaimana raut wajahnya Tara nantinya saat menyeruput kopi susunya.


Dia pun membawa minuman itu dengan senang hati. Tidak sabar rasanya melihat Tara kena kerjai.


"Nah, ini baru namanya Boru ni ayah yang baik." Embun tersenyum mendengar pujian ayahnya. Meletakkan gelas berisi teh di atas meja.


Mama Nur meminta Embun duduk di kursi di sebelah kanannya. Tepat di hadapan Tara.


"Berte Tara, Terimakasih sudah mau membantu Tulang." Ucap Pak Baginda dengan perasaan haru. Dia merasa sangat beruntung punya menantu seperti Tara. Sopan, pintar, kaya dan tampan.


"Iya Tulang, sama-sama. Kita ini Keluarga tidak seharusnya Tulang berterima kasih." Ucap Tara tersenyum. Embun menampilkan ekspresi wajah sepele. Merasa Ayahnya terlalu berlebihan memuji Tara.


"Iya Bere, ayo minum dulu. Nanti dingin jadi gak enak." Pak Baginda menjulurkan tangannya meraih teh di hadapannya.


"Iya Tulang." Tara pun meraih gelas berisi kopi susunya. Tersenyum kepada semua orang. Dia bahagia sekali. Karena Embun membuatkan minuman untuknya.


"Saya minum ya Tulang, Nantulang." Tara masih tersenyum. Kini Dia melirik Embun. Dan gelas sudah hampir menyentuh bibirnya. Sedetik kemudian.


Byurr-----.........


Kopi susu hangat itu menyembur ke wajahnya Embun. Saat Tara menyeruputnya. Perpaduan rasa kopi susu yang manis, pahit, asin membuat lidahnya tidak berterima.


"Ka---mu.... kurang ajar..!" Embun melap kopi susu yang membasahi wajahnya, yang kini memerah karena kopi susu itu masih sedikit panas.


Tanpa permisi air mata langsung jatuh membasahi pipih itu. Dia menatap tajam Tara yang masih syok dengan kelakuannya. Gelas masih di pegang oleh Tara.


"Sayang, kamu baik-baik sajakan?" Mama Nur, meraih wajah putrinya dan memperhatikannya dengan detail dengan perasaan sedih. Sedangkan Pak Baginda meraih gelas dari tangan Tara yang masih bengong. Dan menyeruputnya.


Byurr-----..... Kali ini pak Baginda memuncratkan kopi susu itu ke sebelahnya. Wajahnya berkerut, karena kopi susu yang di rasainya.

__ADS_1


Embun menangis, yang membuat Tara merasa bersalah.


"Kenapa kamu menangis? itu hukuman pada kamu yang suka usil. Senjata makan tuan." Pak Baginda berang, Dia merasa tingkah Embun sudah keterlaluan.


Embun yang tadinya merasa sebagai korban. Kini jadi takut. Dia meninggalkan teras tuamh dengan perasaan dongkol.


"Ayah kenapa sih? Embun itu sudah besar dan sudah menikah. Ayah tidak seharusnya memarahinya." Mama Nur kecewa dengan sikap suaminya. Dia beranjak dari duduknya berniat menghampiri Embun ke kamarnya.


"Jangan susul Dia. Dia terlalu kamu manja." Pak Baginda menatap kesal Mama Nur.


"Bere Tara maafkan Embun. Tulang mohon, kamu jangan membenci kelakuan Embun ya?" pak Bagiinda menampilkan ekspresi bersalah. Memohon kepada menantunya itu, agar jangan membenci Embun.


"Iya Tulang, tidak apa-apa. Itu hal biasa, mungkin Embun tidak sengaja. Aku masuk dulu ya Tulang, Nantulang." Tara bangkit dari duduknya setelah Pak Baginda menganggukkan kepalanya.


"Ayah, tidak semestinya memarahi Embun dihadapan Nak Tara." Mama Nur menatap kesal suaminya.


"Jadi maunya Mama gimana? menertawakan kelakuannya?" Pak Baginda meninggalkan teras dengan kesal.


Ceklek..


Embun terlonjak kaget mendengar suara pintu dibuka. Kini Dia sedang memperhatikan wajahnya di pantulan cermin yang nampak sedikit memerah, seperti habis tersengat cahaya matahari.


Dia melirik Tara yang menghampirinya dengan cemberut.


"Maaf ya Dek, Abang tidak sengaja. Sini Abang bantuin oleskan pelembabnya" Ucap Tara lembut. Kini Dia berdiri di sebelah kirinya Embun.


"Kamu sengaja, aku tahu itu." Embun membuang wajahnya. Masih terus mengoleskan gel lidah buaya di wajahnya yang memerah.


"Ya sudah kalau Adek tidak percaya. Terserah mau bagaimana pendapat Adek tentang Abang. Yang jelas, Abang tidak ada niat sedikit pun mencelakai Adek. Apalagi Adek ini istri Abang." Embun menyangkal ucapan Tara dengan cepat.


"Istri? kita hanya menikah bohongan." Embun kesal, bangkit dari duduknya dan memilih berbaring di tempat tidur. Tara menarik napas panjang memperhatikan cara tidurnya Embun yang menguasai ranjang.


"Kalau Adek tidak mengakui Abang sebagai suami, tidak apa-apa. Tapi, selama enam bulan ini, Abang tetap menganggap Adek itu istrinya Abang." Tara masih Berdiri di dekat ranjang.


"Terserah...! yang jelas, kamu tahu batasannya. Jangan sekali-kali kamu mencoba untuk menciumku lagi. Iihhh. Najis tahu bibirmu itu." Embun menampilkan ekspresi wajah jijiknya dan membuang wajah dari Tara.


Sakit, sangat sakit dianggap najis oleh istri sendiri. Tara mencoba tenang dan sabar. Dia mendudukkan bokongnya di tepi ranjang.


"Sana, kamu jangan tidur di sini. Sana kamu...!" Embun menendang bokongnya Tara. Sehingga Tara bangkit dari ranjang itu, dengan hati hancur dan kesal. Kelakuan Embun sungguh kurang ajar.


"Kamu tidur di sofa. Aku tidak mau bersentuhan denganmu najis....!" Embun menampilkan ekspresi wajah benci.


Ceklek...


Nampak Mama Nur masuk ke kamar membawakan dua gelas susu. Embun langsung terduduk.


"Sudah diolesi pelembab sayang?" Mama Nur menyamperin Embun, setelah meletakkan dua gelas susu di atas meja rias.


"Sudah Ma. " Jawabnya malas.


"Kalian sudah mau tidur?"


"Iya Ma." Jawab Embun malas.


"Oih iya, sayang Nak Tara diminum susunya sebelum tidur ya?"

__ADS_1


"Iya Nantulangnya." Jawabnya pendek. Wajah Tara nampak begitu memprihatinkan.


"Ya sudah, kalian istirahatlah." Mama Nur merasa ada yang tidak beres, kenapa di atas sofa ada bantal dan selimut.


__ADS_2