DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Tafakur


__ADS_3

"Apa bedanya dengan yang aku alami Mas. Dulu juga aku menikah dengan Abang Tara saat, Aku cinta mati sama mas."


Krek....


Ucapan Embun terhenti, disaat pintu kamar itu terbuka. Nampak Tara dengan raut wajah kesal memasuki ruangan. Padahal Embun masih ingin bicara banyak pada Ardhi. Memberi pandangan pada mantannya itu, agar jangan menyia-nyiakan Melati. Tapi, melihat ekspresi wajah Tara yang tidak bersahabat. Embun akhirnya memilih diam, menyambut kedatangan Tara dengan senyum sumringah.


"Kalian reunian?" ucap Tara datar, mendudukkan bokongnya di sofa. Embun cemberut, karena Tara tidak membalas senyumnya. Sedangkan Ardhi yang masih berdiri, hanya tersenyum tipis mendengar ucapannya Tara. Ardhi tahu, Tara sepertinya cemburu. Hening dua detik.


"Selamat sore!" kedatangan perawat membuat tiga manusia yang sama-sama tidak enak hati itu, menatap ke arah perawat. Ucapan Tara tidak ada yang menanggapi. Mereka sedang di rumah sakit. Bukan saatnya membahas masalah asmara.


"Ibu Melati mana?" pertanyaan Perawat membuat Embun dan Ardhi tersadar. Bahwa wanita itu masih di dalam kamar mandi. Tadinya Embun memang mengkhawatirkan Melati yang di kamar mandi. Saat Ardhi mulai meluapkan kegundahan hatinya. Tapi, Embun yang larut dalam curahan hatinya Ardhi. Akhirnya melupakan wanita yang ada di kamar mandi itu.


"Masih di kamar mandi Sus." Embun pun akhirnya mengetuk pintu kamar mandi. Mendorong pintu yang tidak dikunci itu.


Di kamar mandi, mereka mendapati Melati dalam keadaan berdiri dengan wajah pucat pasi, gamis wanita itu sudah basah bagian bawahnya. Melati kesusahan membersihkan anusnya. Karena tangan kanannya masih diinfus.


"Ya ampun Bu. Kenapa tadi tidak minta bantuan dengan cepat." Perawat pun membantu Melati membersihkan diri. Dengan terlebih dahulu melepas infusnya.


"Sus, gak apa-apa infusnya dilepas?" tanya Embun, memegangi jarum infusnya Melati.


"Kalau sebentar tidak apa-apa Bu. Aku kasihan lihat Ibu ini. Berarti sejak aku pergi, ibu, Eehh, kamu masih muda kan. Aku panggil Adek aja ya? sejak tadi Adek di sini?" tanya perawat dengan tidak percaya, perawat kasihan juga melihat Melati. Akhirnya perawat Membantu Melati mengenakan piyama yang di bawakan Embun.


"Iya Sus, tadi perut saya masih sakit." Melati sebenarnya sudah lama selesai mengeluarkan tinjanya yang encer itu. Tapi, dia tetap diam saja di kamar mandi. Menguping pembicaraan Ardhi dan Embun.


Curhatan hati Ardhi, membuat hati Melati terusik, dia jadi tidak tenang. Bagaimana sikap yang harus ditunjukkannya pada pria itu

__ADS_1


Dia sebenarnya masih takut pada Ardhi. Melihat Ardhi saja, jantungnya terasa mau copot. Apalagi kalau kejadian malam mengenaskan itu melintas lagi di pikirannya. Melati pasti akan ketakutan.


Melati, Embun dan perawat keluar dari kamar mandi. Tentu saja, Melati masih dituntun oleh perawat berjalan ke bed nya.


Embun memberesi baju kotornya Melati. Kemudian mendudukkan bokongnya di sofa, tepat di sebelah Tara yang rawut wajahnya masih masam itu. Dicueki oleh Tara. Embun berdecak kesal. Dia menoleh ke arah Ardhi yang duduk di kursi tepat di belakang bednya Melati. Pria itu nampak sibuk dengan ponselnya.


Tara melirik Embun, yang sedang menatap Ardhi. Pria itu semakin kesal saja kepadanya istrinya itu, karena istrinya itu menatap Ardhi.


"Kita pulang sekarang!" Tara beranjak dari duduknya. Menghampiri Melati yang sudah berbaring dan infusnya sudah dipasang kembali oleh perawat.


"Cepat sembuh ya Melati. Kami pamit dulu." Ucap Tara tersenyum tipis. Kemudian Tara menoleh ke arah Ardhi yang juga menatapnya.


"Bergerak cepat pak Ardhi. Jangan sampai untuk kedua kalinya kecolongan." Tara tersenyum sinis. Ardhi tertawa pelan, merasa lucu dengan sindirannya Tara.


"Kali ini tidak akan Pak Tara." Ardhi mengulurkan tangan. Tara pun menyambutnya, kedua pria itu pun bersalaman.


"Cepat sembuh Mel, besok kakak datang lagi ya." Embun mengelus lembut lengan atasnya Melati.


"Iya kak, terima kasih banyak." Melati memb alas senyumnya Embun.


Tara menggandeng Embun, mereka pun keluar dari kamar itu. Sepanjang melewati koridor rumah sakit menuju mobil. Tara masih saja cemberut. Tapi, tangannya menggenggam erat tangan istrinya itu. Embun merasa geli dalam hati, tingkah Tara yang cemburu itu.


Embun pun memilih diam, mengikuti alur maunya suaminya itu. Nanti Tara juga yang mencak-mencak sendiri.


***

__ADS_1


Mendengar suara adzan yang dikumandangkan dengan merdu dan mendayu-dayu seakan menimbulkan kerinduan di hati untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Ardhi bangkit dari duduknya. Dia akan melaksanakan sholat Magrib di Mushollah Rumah sakit itu. Meminta petunjuk akan masalah yang dihadapinya.


"Sus, saya pamit dulu. Pastikan dia makan dan minum obat Dengan baik." Ardhi meninggalkan kamar itu dengan perasaan yang kacau. Mencurahkan uneg-uneg di hatinya kepada Embun. Nyatanya malah membuatnya semakin tersiksa. Tak seharusnya dia mengungkapkan itu. Karena, tak ada lagi gunanya. Toh, Embun tidak akan bisa kembali padanya.


kegalauan dan kegelisahan adalah hal yang wajar. Yang tidak wajar adalah saat kegalauan dan kegelisahan berlarut-larut dan tidak mampu berbuat apa-apa karenanya.


Silakan galau, asal tetap tegar. Silakan gelisah, asal jangan berkeluh kesah. Silakan sedih, asal jangan meratapi. Silakan gundah, asal bisa bersikap dewasa dan silakan risau, asal jangan terus-terusan.


Semua sifat itu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari manusia, hanya saja bagaimana bisa mengaturnya dengan baik sehingga berubah menjadi inspirasi. Inspirsi yang kemudian berubah menjadi solusi.


Setelah sholat Maghrib berjemaah di Musholla Rumah sakit. Ardhi masih tafakur, di dalam Musholla itu. Merenungkan dan memikirkan perbuatannya yang lalai, dzolim pada Melati dan tidak patuh kepada Allah.


Ardhi merasa malu, bersalah dan menyesal. Karena, larutnya dia dalam galaunya. Membuatnya terjerumus, dengan bermaksiat. Bukannya semakin mendekat kepada Allah, justru semakin menjauh. Padahal Allah yang Maha Membolak-balikkan hati.


Allah mampu menjadikan hati setiap manusia untuk tidak kembali galau, Allah akan tunjukkan jalan keluarnya. Bagi seorang muslim, Allah adalah sumber sekaligus muara dalam hidup. Cukup Allah sebagai tempat curahan hati, bukan pada sesama makhluk.


Manusia dan benda mati tidak akan bisa membuat hati kita damai sepenuhnya. Hanya Allah satu-satunya tempat kembali. Segala kegalauan, kegundahan, kesedihan, dan kebimbangan adukanlah kepada Allah. Allah adalah tempat mengadu seluruh mahkluk. Dia yang Mahatahu jalan terbaik bagi permasalahan hamba-hamba-Nya.


Tidak ada yang kita dapatkan saat mengadu kepada Allah, kecuali Allah akan memberikan jalan keluarnya. Allah akan membuka pikiran yang masih bebal, membuka inspirasi dan hikmah, memberikan kemudahan dalam menghadapi persoalan, memberikan kekuatan dalam menyelesaikan masalah.


Karena itu, tidak ada dari kegalauan itu saat diadukan kepada Allah, kecuali iman kita semakin bertambah. Sebab kita sudah yakin sepenuh hati bahwa Allah sedang berpihak pada kita, selama kita berpihak kepada-Nya.


TBC.

__ADS_1


Author sangat mengharapkan dukungan readers dengan like, coment positif dan vote. Share juga, agar pembaca setianya semakin banyak.❤️😊🙏


__ADS_2