
"Lagunya menyentuh banget ya Nona?" ucapan Pak supir yang sok akrab itu, hanya dijawab Embun dengan deheman. Dia tahu, supirnya itu sedang mengejeknya.
"Ini juga lagunya buat baper Nona." Embun tidak merespon lagi ucapan sang supir. Dia melirik Tara yang duduk tenang, dengan pandangan fokus kedepan. Suaminya itu berubah dalam hitungan jam.
Apa karena kami akan berpisah, sehingga dia nampak sedih. Sepertinya begitu. Embun membatin, masih menatap lekat Tara di sebelahnya.
"Terimakasih ya Bang. Aku sudah dibelikan baju, sepatu dan perhiasan. Aku sangat menyukai perhiasannya, bajunya juga, sepatunya juga." Embun berbicara sembari memegang barang-barang yang diberikan Tara kepadanya dengan lembut, kedua bibirnya menyimpul tersenyum manis. Dia begitu senang dikasih hadiah oleh Tara.
Tara menoleh kepada Embun memperhatikan lamat-lamat istrinya yang bicara dengan lembut itu dengan tersenyum tipis. Walau dia kecewa kepada Embun. Dia tidak bisa membalas wanita itu dengan kebencian. Seperti Embun yang begitu membencinya "Iya sama-sama. Sampai detik ini, Adek masih istri Abang. Sudah seharusnya Abang memenuhi kebutuhan Adek." Pria itu pun kembali memutar lehernya, kembali bersikap datar kepada Embun.
"Iya, Terimakasih sekali lagi Adek ucapkan." Jawab Embun tertunduk lemas. Sikap Tara yang mendadak dingin, membuat nyali jadi ciut.
Setelah percakapan itu berakhir tidak ada lagi komunikasi yang terjadi antara pasangan suami istri itu. Bahkan disaat mereka berhenti untuk sekedar makan minum dan ke kamar mandi. Keduanya saling diam, Embun yang gengsinya tinggi, sangat berharap disapa duluan oleh Tara atau sekedar basa-basi kepadanya. Tapi, suaminya itu nampak acuh, sikapnya biasa saja. Embun jadi kecewa.
__ADS_1
Tanda-tanda akan sampai ke kota ikan, Kota Sibolga sudah semakin dekat. Itu ditandai dengan mereka yang akan melintasi jalan batu lubang. Batu lubang adalah batu besar seperti gua yang dilubangi sehingga menjadi jalin lintas sumatera. Jumlah batu itu ada dua.
Gua tersebut memiliki keunikan tersendiri. Bila masuk ke dalam, pengunjung akan merasakan tetesan air segar yang terus berjatuhan dari celah dinding batu. Selain itu, pengunjung juga dapat melihat air terjun yang mengalir tepat berada di sebelah dinding gua.
"Bos, bulu kudukku pasti meremang, apabila melintas di batu lubang ini. Apalagi sekarang, kita melintas di waktu senja, menjelang magrib." Ujar Pak Budi, dengan bergidik bahu. Ini ketiga kalinya Pak Budi melewati batu lubang itu. Dia selalu merasa ngeri saat melewatinya.
Tara tidak terlalu menanggapi curhatan supirnya itu. Dia merasa supirnya itu kurang iman. Hanya Embun yang antusias dengan ucapan Pak Budi.
"Jelaslah Bapak merinding, katanya dulu saat melobangi batu ini agar bisa jadi jalan, banyak menelan korban, jatuh ke jurang itu tuh." Embun menoleh ke arah kirinya, tepat beradanya jurang.
"Ya ampyun, indah banget ya Allah pemandangannya." Embun membuka jendela kaca mobil sebelah kanannya. Pemandangan laut Sibolga yang dihiasi oleh beberapa pulau, sangat indah terlihat dari tempat mereka saat ini. Karena mereka sedang berada di bukit.
Melihat indahnya pemandangan laut Sibolga, membuat Embun, sesaat melupakan kesedihan hatinya, Dia benar-benar menikmati pemandangan itu. Lebih baik, menikmati apa yang tersuguh di depan mata. Daripada pusing, memikirkan sikap Tara yang tiba-tiba dingin.
__ADS_1
Tara menatap Embun dengan perasaan kacau sedih gundah gulana. Mengabaikan istrinya itu selama perjalanan, benar-benar membuat bathinya tersiksa. Tapi, hatinya masih sakit, mengingat kontaknya disimpan dengan kata-kata penuh umpatan.
Saat Embun menoleh kepadanya, pria itu langsung membuang muka.
Sampai kapan rasa cinta ini terus bertahan di relung hatinya. Padahal jelas-jelas orang yang dicintai, tak kan pernah membalas cinta itu. Pernah diberi harapan, tapi ternyata hanya pemberi harapan palsu.
"Bos, kita sudah sampai di Hotel." Pak Budi mengangetkan Tara yang masih terbengong. Pria itu pun menarik napas dalam, menggerakkan bokongnya yang sudah terasa panas, karena kelamaan duduk.
Tara menoleh ke arah Embun, yang menampilkan ekspresi wajah sedih. Kedua mata indah wanita itu sudah berkaca-kaca.
Ya, Embun merasa sedih. Karena akan berpisah untuk selamanya dengan suaminya itu. Dia hanya akan menunggu surat cerai keluar. Walau sekarang Tara belum mengucapkan Talak untuknya.
"Pak Ardhi menunggu Adek di hotel ini. Kata beliau, kalian akan bertemu pukul 20.00 Wib . Dan sekarang masih pukul 18.30 wib." Ucapan Tara membuat hati Embun sedih. Ternyata sudah saatnya mereka berpisah.
__ADS_1
"Abang akan antarkan Adek ke dalam." Tara turun dari mobil.
TBC