DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Suami idaman


__ADS_3

Hari terus berlalu, waktu terus berputar. Dua minggu pun telah terlewati. Hubungan pasangan pengantin baru Ardhi dan Melati semakin romantis dan harmonis. Seminggu ini mereka tinggal di rumahnya yang sederhana itu. Walau sesekali mereka berkunjung ke rumah Ayah Zainuddin. Tapi, kalau tidur selalu di rumah mungilnya mereka. Seberapa larut pun mereka mengunjungi sang ayah, pasti tidurnya di rumah mereka.


Ardhi tidak mau ada yang mengganggu aktifitas mereka di malam hari. Karena, keduanya benar-benar kecanduan melakukan ibadah yang menjanjikan pahala itu. Apalagi setelah kontrol kandungan, yang mengatakan kandungan Melati baik-baik saja. Dan rasa ngilu dan kram yang dirasakan Melati, kata sang Dokter, karena otot panggul wanita itu terlalu kuat kontraksi saat dirinya pelepasan, dan dokter menyarankan Ardhi, melakukan pelan. Intinya jangan sampai membahayakan janin di dalam kandungannya Melati.


"Kuku Mas bagus banget, jauh beda dengan kuku ku." Melati dengan penuh kelembutan memotong kuku sang suami yang sebenarnya belum panjang. "Pasti Mas suka pedicure medicure?" menampilkan ekspresi wajah kurang senang. Melati saat ini membayangkan Ardhi sedang berada di pusat kecantikan. Dan dilayani cewek-cewek cantik.


"Kuku adek juga bagus koq, jari adek juga bagus lentik tapi nampak kokoh. Tangannya juga mulus, padahal gak perawatan. Mas suka, meraih tangan sang istri dan menciumnya. Melati tersenyum tipis. Pandai sekali suaminya itu muji-muji tangannya. Tangan dia itu kasar, karena dia babu. Waktu kecil juga sering kerja keras di sawah. Megang cangkul, parang, babat, sabit, linggis. Pokoknya alat-alat untuk ngerampok.


"Kuku adek juga harus di potong ini. Tiap malam Mas selalu kena cakar." Membuka kaos oblong lengan pendek warna biru yang dikenakannya, menunjukkan bekas cakaran yang dilakukan Melati, yang tak bisa menahan dirinya kalau sudah merasa nikmat dibuat oleh sang suami. Melati tersipu malu, kalau diingat-ingat percintaan mereka memang membuat bahagia.


"Ya Allah Mas, kasihannya. Maaf ya adek gak tahu, bener deh." Melati memperhatikan bekas cakarannya di punggung Arhi yang berwarna merah itu.


Adhi tersenyum, "Gak apa-apa, mas senang koq." Melati mengerutkan keningnya. Koq suaminya jadi bahagia gitu.


"Koq mas senyam-senyum. Kirain tadi mau marahin adek." Memperhatikan wajah tampan nya Ardhi yang masih senyam-senyum itu.


"Gak apa-apa, mas gak nyangka, kita bisa cepat akrab. Kalau diingat-ingat, saat baru nikah. Mas sempat putus asa. Takut gak bisa luluhkan hati adek, dan terus-terusan membenci Mas." Meraih jemari Melati dan menggenggamnya erat. Menatap Melati dengan penuh cinta dan rasa syukur.


"Mas bahagia sekali bisa berjodoh dengan adek. Terkadang saat lelah bekerja di kantor. Mas istirahat sebentar. Pasti keingat adek. Teringat, pertama kali kerja di rumah. Saat Melihat adek, mas sudah ada rasa tertarik gitu."


"Maksud Mas?" Melati benar-benar penasaran.


Ardhi merebahkan tubuhnya berbantalkan paha sang isteri. Yang eskpresi wajahnya masih bingung dan penasaran. Ardhi menarik lembut tangan Melati, menuntun tangan sang istri untuk membelai wajah pria itu.


"Entahlah, saat melihat adek bersih-bersih di ruang tamu, pasti mas lirik-lirik adek. Habisnya, wajah adek mirip Embun." Muka Melati langsung masam, disaat sang suami sebut nama Embun. Tapi, dia tidak mau berkomentar dulu. Dia mau mendengarkan cerita sang suami.


"Koq masam gitu wajahnya." Mencubit gemes pipinya Melati. "Pasti, karena Mas sebut nama Embun."


Melati yang kesal, memonyong-monyongkan bibirnya. "Gak, adek gak marah koq, kalau mas sebut nama kak embun."


"Ehhmmm bohong,.sudah jelas, raut wajahnya jadi berubah masam. Masih gak ngaku."


"Itu mas tahu, tapi masih bahas kak Embun. Emang sih, siapa pun prianya pasti tertarik lihat kak Embun. Dia cantik, ceriah dan nampak kuat gitu." Masih membelai wajah sang suami dengan tatapan nerawang. Melati teringat kejadian di warung mie Aceh.


"Kak Embun juga orangnya perhatian. Apalagi sama Mas."


"Adek ngomong apa sih?" menarik tengkuk Melati, sehingga wajah wanita itu menunduk. Dengan cepat Ardhi menyambar bibir Melati yang manyun itu.


Berontak kecil, karena terkejut dengan serangan mendadak sang suami. "Iihh mas, buat adek gak bisa napas tahu." Menimpuk manja dada sang suami. Ardhi terkekeh menahan tangan sang istri dan mengecupnya dengan gemes. Kemudian pria itu menciumi perut datarnya Melati yang masih ditutupi oleh daster kutung.


"Mas seneng adek cemburu, itu tandanya cinta." Masih mengusap lembut perutnya Melati.

__ADS_1


"Tapi, jangan coba-coba untuk mentest Mas ya. Mas gak mau adek menghubungi Ilham atau ada niat bertemu dengannya. Cukup sekali adek ketahuan hubungi Ilham." Melati terdiam, ekspresi wajah sang suami begitu serius.


"Mas bicara apa sih? ngapain coba aku mau jumpa dengan Abang Ilham. Kan sudah mas bilang waktu itu. Menemui Mas Ilham, bukan ide yang baik untuk hubungan kita dan juga Abang Ilham. Adek waktu itu hubungi Abang Ilham. Karena, kepikiran mimpi adek."


"Emang adek mimpi apa?" Menatap serius wajah Melati yang sangat cantik di pagi hari ini.


"Adek bermimpi, bertemu dengan si Butet. Terus dimimpi itu juga ada, Abang Ilham. Si Butet dan Abang Ilham ternyata sedang cekcok. Abang Ilham sampai bawa golok. Tiba-tiba dimimpi itu, mas juga ada. Ilham marah-marah kepada Mas. Dan terjadi perkelahian. Mas kena sabetan goloknya Abang Ilham." Mata Melati berkabut, kalau mengingat mimpi buruk itu, dia bisa sesak napas.


"Adek kepikiran Mas, karena gak ada kabar seharian. Hape mas gak bisa dihubungi. Adek yang kepikiran mimpi itu menghubungi Abang Ilham. Karena adek beranggapan Abang Ilham mencelakai mas." Sejak mimpi mengerikan itu, Melati jadi takut kehilangan Ardhi.


"Iya sayang, jangan sedih gitu. Mana berani Ilham macem-macem sama Mas. Sekarang adek gak usah pikirin Ilham lagi ya? apa bagusnya pria itu. Gantengan mas juga." Menarik tubuh Melati hingga mereka berguling-guling di atas ranjang empuk itu.


"Mas, sudah akkh. Kita gak boleh banyak gerak, nanti anak kita terganggu di dalam." Ardhi menghentikan aksinya, mengguling-gulingkan badannya. Dan merenggangkan pelukannya, menatap syahdu Melati di bawah tubuhnya.


"Main satu ronde yuk sayang." Melati menahan tawa, melihat ekspresi lucunya Ardhi yang memelas itu. Wajah menyeringai Ardhi, membuat Melati bergidik ngeri.


"Iihhh., Adek lapar Mas. Mau makan, ini sudah pukul delapan pagi." Berontaknya kecil, saat Ardhi sudah menyusuri lehernya yang putih dengan lidah dan bibirnya. Setelah selesai sholat subuh. Keduanya memilih bercengkrama di atas ranjang. Sampai lupa menyiapkan sarapan.


"Sebentar saja koq sayang, ekspres. Tiga puluh menit pasti tuntas." Tidak memperdulikan Melati yang pura-pura berontak tapi sebenarnya mau juga.


"Emang Mas gak pergi kerja." Menggeleng pelan, menatap Melati dengan mulut menyedot pucuk gunung kembar yang semakin hari semakin padat, bahkan warna pucuk gunung kembar itu, semakin gelap, dari warna semula.


"Iya sayang, sebentar koq." Melati dalam sekejap sudah dalam keadaan polos dibuat sang suami. Melati yang sudah terangsang itu pun, dengan tergesa-gesa, melepas kaos yang dikenakan Ardhi. Kini Melati sudah berada di atas tubuh sang suami.


Kali ini, Ardhi meminta sang istri di atas. Guna, istrinya itu bisa mengontrol permainan. Agar tidak membahayakan anak mereka di dalam rahim sang istri.


Melati yang sudah tersulut birahi itu, melakukan apa yang diinginkan tubuhnya. Mengeskplore semua organ sensitif sang suami. Wanita itu benar-benar kecanduan mengulum milik sang suami. Padahal di awal-awal dia merasa aneh dan tak berani untuk melakukannya. Permainan pun semakin panas, disaat Ardhi mendudukkan tubuhnya, pasangan itu seolah lupa dunia. Saling menjelajahi tubuh keduanya dengan penuh gairah.


Dert


Dert


Dert


Mengabaikan ponsel Ardhi yang tak henti-hentinya bergetar di atas meja riasnya Ardhi. Sebelum tuntas, mereka tidak akan menghentikan aksi panas yang membuat darah berdesir sampai ke ubun-ubun. Ardhi menuntun sang istri yang nampak malu-malu dengan gaya baru mereka itu.


Dert


Deret


Dert

__ADS_1


Suara getaran ponsel itu, akhirnya didengar oleh keduanya. Mereka sama-sama menatap ke meja rias, menatap ponsel yang berdering itu. Tapi, Keduanya bukannya mengakhiri permainan. Malah semakin melanjutkannya. Kini mereka sudah berganti gaya jadi misionaris. Ardhi yang ambil kendali. Ributnya suara getaran ponsel, beradu dengan suara tumbukan paha dan bokong keduanya


Ditambah dengan suara erotisnya Melati yang yang mengerang nikmat itu.


Permainan pun selesai, ponselnya Ardhi masih terus bergetar. "Mas, sepertinya, ada hal penting." Mendorong pelan wajah Ardhi yang terbenam di dada hangat sang istri. Ardhi pun bergulir meraih ponsel itu malas.


"Ada apa Rud?" ternyata si Rudi sang asisten yang menelpon tak sabaran itu.


"Pihak rumah sakit baru saja memberi kabar. Nyonya besar sudah bisa pulang ke rumah Bos." Ibu Jerniati, akhirnya terbebas juga dari jeratan hukum. Dengan alasan, dia adalah korban dalam video itu. Ditambah kondisinya yang lagi sakit parah.


Melati tersentak mendengar nama ibu mertuanya itu disebutkan oleh Rudi. Ardhi menghidupkan speaker, sehingga percakapan Ardhi dan sang asisten terdengar jelas oleh Melati.


Tiga Minggu ini Jerniati terbaring di rumah sakit dan Melati belum pernah menjenguknya. Bukannya dia tidak mau, tapi Ardhi selalu melarang. Karena demi kebaikan ibu dan mentalnya Melati sendiri.


"Sepertinya mas gak bisa masak hari ini. Kita pesan makanan saja ya sayang." Mengecup kening sang istri yang sudah memakai kembali dasternya.


"Mas pesan makanan dulu." Ardhi kembali sibuk dengan ponselnya. Ya dua Minggu ini, Ardhi selalu menyempatkan masak untuk sang istri, walau sebenarnya Melati juga ikut. Ardhi sedang menjaga pola makan Melati. Tidak boleh makan, makanan yang banyak mengandung zat kimia, seperti MSG atau micin.


"Adek ikut ya Mas ke rumah sakit." Menatap sedih Ardhi. Coba kalau ibu Jerniati tidak membencinya. Mungkin dia akan terus berada di rumah sakit menjaga ibu mertuanya itu. Melati juga sudah tidak membenci Ibu Jerniati. Dia sudah memaafkan wanita tua itu. Walau dia masih takut kepada wanita itu.


Ardhi tersenyum, mengelus pelan pipinya Melati. "Untuk sekarang gak usah ya sayang. Tunggu Ibu benar-benar pulih."


"Aku nunggu di luar saja, gak usah masuk."


"Lah, nanti pasti ketemu juga di mobil kan?" Melati terdiam, "Adek nunggu di rumah utama saja. Karena, ibu sudah pulang ke rumah. Gak apa-apa kan kita kembali ke rumah Mas." Melati menatap Ardhi dengan tidak yakin.


"Ibu nanti pasti di kamar nya saja. Gak akan bertemu dengan adek." Membelai rambut sang istri yang nampak sedih dan takut itu.


"Nanti secara perlahan-lahan, mas akan ceritakan semua. Mas yakin, ibu pasti mau menerima adek." Masih membelai rambut nya Melati dan sesekali membelai pipinya.


"Kita mandi dulu ya?" membopong Melati ke kamar mandi. Tentu saja Melati tersenyum manis. Dia tidak menyangka, Ardhi begitu baik dan perhatian padanya.


Pernikahan ini, benar-benar seperti pernikahan impiannya. Menikah dengan suami yang Sholih dan tidak egois, penyayang, mau membantu pekerjaan rumah tangga. Terus mau juga memijat tubuhnya Melati yang akhir-akhir ini sering pegal.


Seumpama dia menikah dengan Ilham, belum tentu Ilham mau melakukan seperti apa yang dilakukan Ardhi. Mau memasak, mencuci, menyapu rumah dan halaman mereka. Bahkan memijatnya tanpa diminta.


Di kampungnya Melati. Kebanyakan pria tidak mau membantu pekerjaan rumah tangga. Karena, sering sekali seorang pria yang mau bantu pekerjaan rumah tangga. Pasti kena ledek dan disuruh pakai rok.


TBC


Like, coment dan vote ya. Agar author semangat 😍🙂🙏

__ADS_1


__ADS_2