
Tok tok tok...
"Nyonya, ada Pak Polisi !" Suara Bi Kom, membuat keduanya telonjak kaget.
Tangan Ibu Jerniati sudah bergetar di atas pahanya. Dia menatap Anggun dengan ekspresi wajah penuh ketakutan. Anggun berpura-pura tegar, seolah tidak takut dengan kedatangan polisi mencari mereka.
Orangtuanya punya koneksi yang berpengaruh, dia yakin bisa lolos lagi. Siapa Melati, hanya seorang pembantu. Siapa yang akan membelanya. Begitulah kira-kira pemikiran Anggun saat ini. Makanya dia tidak berfikir panjang untuk melenyapkannya. Uang bisa membeli nyawa manusia.
"Tenang Mom, kita akan baik-baik saja. Percaya padaku ya Mom." Anggun beranjak dari duduknya. Dia mengelus dadanya yang bergemuruh, sebenarnya dia juga sangat takut. Tapi, mentalnya sangat kuat. Anggun menoleh kebelakang, tersenyum manis pada Ibu Jerniati. Dia seolah memberi isyarat, ini masalah kecil. Anggun menekan handle pintu, dia menghela napas panjang, berusaha merilekskan dirinya.
Ternyata Pak Polisi sudah ada di depan pintu kamar itu. Tadinya Anggun mengira Pak Polisi menuggu di ruang tamu.
"Maaf Bu, apa benar saudari adalah Ibu Anggun Putri Wijaya?" Pak Polisi bicara penuh dengan ketegasan. Ekspresi wajah Pak Polisi juga menyeramkan.
"Iya, saya Anggun Putri Wijaya. Ada apa ini Pak?" Anggun menampilkan ekspresi wajah bingung.
"Ini, silahkan Ibu Baca." Pak Polisi memberikan amplop coklat kepada Anggun.
Anggun menatap tajam Pak Polisi. Dengan tangan bergetar dia pun membuka amplop coklat itu. Menarik kertas putih di dalamnya. Sebelum dia membaca lembaran yang bertorehkan tinta hitam itu, dia kembali melirik Ibu Jerniati yang masih duduk dengan tegangnya di atas sofa, di dalam kamar itu.
"Pak, Pak, a--pa ini Pak? kenapa saya ditangkap?" ucapnya dengan terbata-bata. Dia berpura-pura seolah tidak tahu menahu apa yang terjadi.
"Di surat sudah jelas Bu. Ayo kita ke kantor Polisi." Pak Polisi langsung memborgol tangannya Anggun. Wanita itu berontak, tidak mau tangannya diborgol.
"Tolong kerjasamanya Bu." Pak Polisi akhirnya bertindak tegas, memborgol kedua tangan Melati. Menggerek wanita itu, untuk masuk ke mobil patroli.
Melihat Anggun dibawa pihak berwajib. Ibu Jerniati mengejarnya. Membuat keributan, dengan berusaha membuka borgolnya Anggun.
"Jangan tangkap menantu saya. Menantu saya tidak bersalah." Ucapnya dengan histeris, menarik-narik lengan Anggun, yang digerek Pak Polisi.
__ADS_1
"Bu, mohon kerjasamanya. Jangan sampai kami berbuat kekerasan. Kalau ingin membuat pembelaan, tempatnya tidak di sini." Ucapan Pak Polisi tidak digubris Ibu Jerniati. Dia terus saja menahan tangan Anggun, agar tidak dibawa ke kantor polisi.
Anggun yang ketakutan, hanya bisa terdiam. Dia tidak menyangka, kelakuannya akan diproses hukum. Melati kan hanya pembangu miskin. Mana ada keluarganya di kota ini. Siapa yang membantunya?
Ibu Jerniati hanya bisa menatap penuh frustasi serta ketakutan yang besar sekali, saat melihat Anggun dibawa oleh Pak Polisi.
Wanita itu berlari cepat ke kamarnya dengan mencoba meredam rasa takutnya. Setelah sampai di kamarnya. Dia mengunci pintu kamar, mendudukkan tubuhnya di sofa. Dia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja yang ada di hadapannya. Dia akan menghubungi sang anak, Ardhi Shiraz. Tapi, nomor ponsel Ardhi tidak aktif-aktif.
"Ke mana kamu Ardhi? Ibu butuh bantuanmu." Ucapnya dengan tubuh bergetar. Ibu Jerniati tak kehabisan akal. Dia menghubungi Rudi, sang asisten.
"Ya Nyonya, ada apa?" Rudi langsung bertanya disaat menjawab panggilan telepon Ibu Jerniati.
"Mana anakku Ardhi? kenapa hapenya gak aktif-aktif?" suara Ibu Jerniati terdengar penuh kekhawatiran.
Rudi yang ditanyain malah bingung. Dia baru saja berkomunikasi dengan Ardhi. Sekitar dua jam lalu. Saat itu Bosnya itu ingin menyendiri dan memintanya mencari nomor ponselnya Melati.
"Pak Ardhi lagi ada meeting Nyonya. Makanya ponselnya dinonaktifkan." Jawabnya bohong, dia tidak boleh menjawab dengan jujur. Dia harus minta izin dulu pada Ardhi.
"Iya Nyonya." Rudi menatap layar ponselnya, yang panggilannya sudah diputus oleh Ibu Jerniati.
Saat itu juga, Rudi langsung menghubungi no ponselnya Ardhi. Benar saja, semua no ponsel Bos nya itu tidak aktif.
"Kenapa dengan si Bos? apa dia setres, Karena mengetahui kelakuan buruknya Nyonya besar? tapi, Bos bukan pria semacam itu. Dia orangnya optimis dan tidak mau larut dalam masalah. Apa karena masalah yang bertubi-tubi, dia jadi ingin menenangkan diri?" Rudi berbicara sendiri, sembari memeriksa berkas-berkas di ruang kerjanya Tara. Rudi belum tahu, kejadian malam kelabu, saat Ardhi melepas keperjakaannya.
***
"Ya Dody, apa yang ingin kamu laporkan." Tara masih berkutat di ruang kerjanya. Dia saat ini sedang menerima panggilan telpon dari pegawainya. Orang yang dipercayainya untuk mengurus masalah Melati dan Anggun.
"Pihak dari Nona Anggun, memohon laporan dicabut Bos."
__ADS_1
"Gila kamu, kamu tidak dengar, apa yang saya perintahkan tadi. Dia harus diproses hukum. Bukti sudah kuat. Saya tidak mau dengar ada laporan seperti ini lagi. Kerjakan dengan baik, dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal." Tara memutuskan panggilan dengan kesalnya.
Dia benci wanita seperti Anggun. Wanita itu juga pernah ingin melenyapkan sang istri.
"Dia pikir dia siapa? kasihan sekali Pak Ardhi, calon istrinya wanita gila. Dasar Gila.. Perempuan Gila..!" Tara terkejut saat membuka pintu ruang kerjanya. Tenyata istrinya sudah berdiri di ambang pintu. Membawa teh untuknya.
"Siapa yang gila?" tanya Embun, menaik-turunkan alisnya. Guna menunggumu jawaban dari Tara.
Tara tersenyum manis. Mencuri satu kecupan di pipinya Embun yang putih dan lembut itu.
"Abang yang gila, karena mu sayang!' Meraih nampan yang di atasnya ada dua gelas teh panas dan kue bolu pisang kesukaan Embun. Pria itu pun membawa masuk nampan ke dalam ruangannya, tepatnya ke balkon.
Tara meletakkan nampan itu di atas meja. Mendudukkan bokongnya di kursi panjang empuk. Dia langsung menarik tubuh Embun, agar duduk di pangkuannya. Menatap Embun dengan penuh tatapan cinta. Embun akan salah tingkah kalau ditatap seperti itu. Dia menundukkan kepalanya malu-malu. Tentu saja Tara jadi gemes dibuatnya.
"Bagaimana keadaan Dek Melati?" tanya Tara meraih dagu Embun yang menunduk. Keduanya bersitatap, penuh dengan percikan cinta. Embun merasa bersyukur sekali, punya suami seperti Tara. Sudah baik, romantis, suka mengalah. Aduhh perfect banget.
"Dia sudah sedikit tenang. Dia sedang tidur." Jawab Embun meraih Kue bolu dengan tangan kanannya. Walau dia di atas pangkuan Tara, dia masih bisa menjangkau kue itu.
"Mau?" Embun mendekatkan potongan kue lembut dan wangi itu, ke mulutnya Tara.
"Mau dong, tapi harus bibir ini yang menyuapi Abang." Tara meletakkan jari telunjuknya di bibir lembutnya Embun yang berwarna Cherry nan menggoda itu. Pria itu mengusap lembut bibirnya Embun.
Embun menjauhkan jari telunjuknya Tara dari bibirnya. "Eehmmm... Pasti ujung-ujungnya minta dicium." Cibik Embun, memoyongkan bibirnya.
"Sudah tahu nanya lagi. Ayo dong suapi Abang!" rengek Tara, sok manja. Embun kesal, dia merasa Tara tidak cocok bersikap sok manja begitu.
"Baiklah hasian, suamiku." Embun pun menempatkan kue bolu pisang di mulutnya. Mulai menyodorkan kue itu ke arah mulutnya Tara. Wajah penuh kebahagiaan jelas terlihat pada keduanya.
.
__ADS_1
Perlahan-lahan kue bolu itupun sudah masuk ke saluran pencernaan. Kini tinggallah mereka berdua bertukar Saliva di sore hari yang indah.
TBC