
"Masuk akal sih, Adek begitu mencintai Pak Ardhi. Beliau baik, mapan di usianya yang masih muda." Embun melongok mendegar ucapan Tara. Dia memuji saingannya. Sesaat Dia tersadar, bahwa Tara memang tidak ada niat menyakitinya dengan menerima perjodohan ini. Tapi, karena ingin membahagiakan keluarga besar mereka.
"Ini lihatlah, beliau masuk majalah forbes." Tara memberikan majalah yang ada di tangannya kepada Embun. Dengan ragu Embun menerimanya.
Dia tidak suka membaca majalah atau koran. Dia lebih suka mencari bahan bacaan dari internet, melalui handphone atau laptop.
Embun memperhatikan dengan detail sampul majalah tersebut, wajah Mas Ardhinya yang tampan menghiasi halaman utama.
Embun senang bukan main, ternyata kekasihnya itu adalah pria sukses yang sederhana. Selama mereka PDKT dan pacaran. Ardhi tidak pernah menunjukkan kekayaannya secara berlebihan.
Daftar 20 Orang Terkaya di Indonesia Tahun 2021 Versi Majalah Forbes. Begitulah judul artikel yang ada di halaman utama.
Dengan mata berkaca-kaca, Embun mulai membaca artikel itu. Mas Ardhinya tidak masuk di daftar no satu, tapi daftar terakhir. Yang menarik dari artikel ini adalah, Mas Ardhinya yang masuk urutan ke Dua puluh. Tapi, Ardhi yang jadi topik utama.
Ternyata, bisnis Ardhi melejit dalam kurung waktu satu tahun terakhir ini. Sehingga Dia menjadi sorotan. Sebagai pengusaha muda yang mendapat pundi-pundi rupiah dengan nominal yang pantastis.
Tangan Embun bergetar mengelus foto Mas Ardhinya di lembaran majalah itu. Dia terharu, sekaligus merasa rindu yang teramat dalam.
Puas membaca artikel mengenai Ardhi serta kekayaan yang dimilikinya. Kini Embun membaca semua daftar orang terkaya di majalah itu. Ternyata nama Tara ada di daftar itu dan masuk dalam daftar lima besar.
Setelah membaca daftar kekayaan yang dimiliki Tara dengan mata membelalak. Dia menatap Tara yang sibuk dengan ponselnya.
"Apa maksud kamu memberikan majalah ini padaku? mau pamer?" Embun marah, melempar majalah itu tepat ke dadanya Tara.
Tara terlonjak kaget, sehingga ponselnya terjatuh. Dia membalas tatapan tajamnya Embun. Merasa kesabarannya hampir habis, karena sikap Embun yang barbar.
"Apa-apaan sih? main lempar segala." Protes Tara, Dia pun mengambil ponselnya yang terjatuh dengan wajah kesal.
__ADS_1
"Kamu sengajakan memberikan majalah ini, untuk pamer. Karena kamu juga masuk dalam daftarnya. Dasar sombong." Ketus Embun penuh kekesalan.
Tara menghela napas berat dan menggelengkan kepalanya. Kenapa sih wanita dihadapannya ini selalu soudzon. Padahal Tara hanya ingin memberi tahu Embun, bahwa kekasihnya itu masuk majalah Forbes.
"Terserah Adek mau menilai Abang. Bosan berdebat terus dengan Adek." Tara Kembali menarik napas dalam. Embun merengut plus cemberut.
"Turunlah, kita sudah sampai di rumah." pintu mobil otomatis terbuka. Embun turun dengan kaki gemetar.
Lagi-lagi Embun dibuat takjub dengan rumah yang ada dihadapannya ini.
Inikan rumah yang sering dilewatinya, apabila bermain ke rumah teman kampusnya. Rumah yang selalu ditatapnya dengan kagum dan berharap suatu saat bisa bertamu ke rumah itu. Walau Dia tidak bisa melihat dengan jelas, karena dihalangi tembok yang tinggi.
"Iii--ni rumah siiiapa?" tanya Embun dengan terbata-bata. Tidak percaya dengan apa yang terpampang di hadapannya. Bangunan kokoh dan indah dengan warna cat rumah yang serba putih.Tampilannya semakin megah berkat pencahayaan temaram yang hangat di setiap sudutnya. Desain yang compact dengan adanya banyak model tangga mewah yang berundak nan megah di bagian outdoor-nya.
Saat kita menaikinya, pasti akan ada sensasi bagaikan seorang putri kerajaan yang sedang berjalan menuju istana. Rumah mewah ini terdiri dari tiga lantai dengan desain rumah modern minimalis.
Astaghfirullah..... Begitulah ganjaran bagi orang yang memutus hubungan silaturahmi. Sehingga, rumah saudara kita sendiri, tidak kita ketahui. Seperti kasus yang dialami Embun.
"Bagus, tapi rumahnya terlalu heboh. Banyak sekali tangga di depannya." Embun masih bersikap sombong. Tidak mau mengakui bahwa rumah itu sangat disukainya. Kening Tara menyergit mendegar ucapan Embun, yang bertolak belakang dengan ekspresi wajahnya saat ini.
"Apa di dalamnya juga ada lift?"
"Ada, ayo masuk Dek. Kalau Adek tidak suka tinggal di sini. Kita akan cari tempat tinggal lain." Tara menuntun langkah Embun masuk ke dalam rumah. Tapi, Embun memilih menaiki tangga untuk masuk ke rumah itu. Dia beracting seperti princes saja dengan langkah gemulai.
Sesampainya di depan pintu, orang tua Tara sudah menyambut mereka dengan sumringah.
Mama Mira langsung memeluk Embun untuk masuk ke dalam rumah itu. Lagi-lagi Embun dibuat tercengang dengan interior rumah tersebut. Tapi, Dia berusaha bersikap biasa saja. Sambil memegangi dadanya yang bergemuruh. Karena senang sekali bisa berada di rumah ini.
__ADS_1
"Kamu capek sayang?" Mama Mira mempersilahkan Embun untuk duduk di sofa ruang keluarga.
"Gak Bou." Jawabnya pelan dengan berusaha menutupi rasa bahagianya. Melirik Tara yang duduk di dekat Pak Ahmad Ayah mertuanya. Kedua pria nampak sibuk membahas sesuatu.
"Ayo Bou tunjukkan kamar kalian." Mama Mira menuntun Embun masuk ke pintu lift dan menekan tombol lift di panel." Saat ini Embun merasa sedang menginap di Hotel mewah saja. Saat hendak ke kamarnya.
Kamar itu berada di lantai tiga. Saat Mama Mira membuka pintu kamar tersebut. Lagi-lagi Embun dibuat takjub dengan desain interiornya yang seperti kamar hotel bintang lima, yang didominasi warna nude dan gold. Beda sekali dengan cat luar rumah yang berwarna putih.
kamar yang akan ditempati mereka menghadirkan living room. Terdapat dua sofa besar untuk bersantai, juga televisi.
Masih di ruang yang sama, ada walk in closet yang cukup besar, yang menggunakan lemari kaca untuk penyimpanan sepatu, tas, aksesori, hingga pakaian. Dari spot ini, mata akan langsung disuguhkan dengan pemandangan kolam renang.
"Waahhh....!" ucap Embun takjub. Dia terlihat norak. Padahal di kampung, Keluarga mereka sudah termasuk dalam kategori orang kaya.
"Kamar mandinya bagus banget Bou." Lagi-lagi Embun dibuat terperangah melihat lampu kristal di dalam kamar mandi itu.
"Iya sayang, Bou senang kamu menyukai desain kamarnya." Mama Mira menuntun Embun untuk duduk di sofa.
"Bou bahagia sekali. Akhirnya kamu dan Tara bisa bersatu. Tidak kebayang jadinya, jikalau kamu tidak jadi menikah dengan Tara. Mungkin anak itu akan memilih untuk jadi bujang lapuk. Dasar anak keras kepala." Ucapan Mama Mira membuat Embun terkejut. Apa maksudnya itu? Apa Tara sangat ingin menikah denganku? tapi, itu tidak mungkin. Dia tidak pernah mengatakan suka atau mencintaiku. Bahkan sejak kecil Dia selalu membuatku menangis.
Embun menilik. "Maksud Bou apa ya? tadi Embun kurang jelas mendengarnya."
Ceklek...
TBC
Terimakasih atas dukungannya say. Yang telah memberikan tips, like, vote dan coment positif nya.
__ADS_1