DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Hiburan murah


__ADS_3

Setelah selesai makan bakso dengan tidak berseleranya. Mereka kini sedang berada di pasar malam. Saat hendak pulang, ternyata ada pasar malam dekat rumah Ompung mereka. Saat melihat pasar malam itu, pasangan suami istri itu sangat senang sekali. Apalagi Tara, walau dia orang kaya. Tapi, sifat merakyat sangat melekat pada dirinya. Pasar malam menurutnya adalah hiburan paling meriah dan murah.


Buat Tara, Pasar malam. Meskipun sebuah ‘rekreasi’ sederhana jadul, namun entah kenapa malah lebih lengkap rasanya ketimbang hiburan zaman sekarang. Mungkin lantaran ada wahana menarik serta bisa interaksi dengan orang jadinya senangnya bukan main.


"Adek mau permen kapas?" Tara menoleh kepada Embun yang dirangkulnya. Mereka akan menaiki biang lala.


"Mau, mau!" Jawab Embun antusias. Mata bulatnya berbinar-binar. Embun sangat suka makanan manis itu. Mereka berjalan dengan Tara masih merangkul istrinya itu. Tara membelikan permen kapas yang berwarna warni untuk istrinya itu.


"Koq satu, untuk Abang mana?" tanya Embun heran, kenapa hanya membeli untuk dirinya saja.


"Satu saja, kita makannya berdua nanti saat naik biang Lala. Kan romantis tu." Tara mengedipkan sebelah matanya. Embun tersenyum tipis menanggapi ucapan suami mesumnya itu. Aduhhh.... suaminya itu ternyata maniak. Embun jadi tidak percaya, kalau suaminya itu tidak pernah pacaran.


Karena malam ini malam Minggu.


Pasar malamnya cukup ramai. Untuk beli tiket biang Lala saja, Tara harus antri panjang. Saat antri, keberadaan Tara dibarisan itu benar-benar mencolok dari pengunjung lain. Tentu saja karena Rara sangat tampan dan baju yang dikenakan sangat bagus. Menurut Embun pria itulah yang paling tampan, dari seluruh pengunjung pasar malam itu.


Kedua bibir Embun melengkung sehingga tercipta senyum manis penuh kebahagiaan. Sungguh dia sangat beruntung dapat suami seperti Tara. Baik, penyayang, sabar, tampan, kaya lagi.


"Aduh bang, kalau pas diketinggian begini. Adek takutloh." Embun sudah menggenggam erat tangannya Tara. Mereka duduk berhadapan. Kebetulan baru sekali putar. Kini posisi keranjang yang mereka naiki, berhenti di atas.


"Iya sayang, tenang ya. Jangan lihat ke bawah. lihat Abang saja." Tara tersenyum simpul menggoda istrinya itu.

__ADS_1


"Iihh... adek serius bang." Embun semakin ketakutan saja.


"Tenang sayang, lihat Abang saja. Tadi katanya berani. Koq sekarang jadi penakut gitu." Biang Lala kembali berputar sampai tiga kali putaran tanpa ada jeda. Embun masih saja memegang erat tangan suaminya itu. Disaat keranjang mereka meluncur, mama embun merasa darahnya tumpah ruah, dia terkejut. Sepertinya mereka harus turun sebelum waktunya turun.


Brugghh Brakkkk krekkk....


Biang Lala Kembali berhenti, masih sama posisi keranjang mereka masih ada di atas. Saat bianglala berhenti, maka keranjang mereka sedikit bergoyang.


"Sayang, adek takut. Kenapa berhenti lagi pas keranjang kita lagi di atas." Embun semakin ketakutan, ditambah cara bianglala. Berhenti tidak wajar.


"Sini duduk di sebelah Abang." Tara meraih tubuh Embun, sehingga istrinya itu, kini duduk di sebelahnya. Sesaat keranjang mereka bergoyang, saat Embun berpindah. Tapi, keranjang itu akhirnya seimbang juga. Mungkin keranjangnya sudah didesain sedemikian rupa. sehingga disaat berat kedua sisi berbeda. Keranjangnya masih bisa stabil.


Pasangan suami istri itu berpelukan dengan eratnya. Tara memberikan kenyamanan, agar Embun tidak takut. Mengecup kepala Embun yang ditutupi hijab itu beberapa kali.


"Iya sayang, tapi lebih indah wanita yang berada sekarang didalam dekapan Abang." Ucapan Tara yabg serius dan penuh penghayatan. Membuat Embun menoleh kepada suaminya itu dengan tersenyum manis.


"Pandai ngegombal." Embun tersenyum manis, menyentuh hidung Tara dengan hidungnya. Moment itu langsung dimanfaatkan Tara untuk menc"ium lembut bibir istrinya itu. Embun tersipu malu. Perlakuan Tara yang penuh kelembutan, membuat Embun tergoda dan ingin lebih.


Tara tahu, Embun menyukai ciumannya itu. Diapun kembali mencium bibir istrinya itu. Sedangkan tangannya memegang tengkuk istrinya itu. Ciuman panas pun terjadi di dalam keranjang bianglala itu. Syukur keranjang itu baknya tertutup, sehingga orang tidak bisa melihat dengan jelas apa yang mereka lakukan di dalam keranjang biang Lala itu.


Cara Tara memperlakukan Embun yang penuh cinta itu, selalu sukses membangkitkan gairahnya. Bahkan kini Embun yang lebih ganas membalas lum"atan suaminya itu.

__ADS_1


Embun jadi tera"ngsang begitu juga dengan Tara. Bahkan Embun sudah basah. Sepertinya bagian intinya ingin lebih.


"Sayang.. !" Bisik Embun dengan suara sensual menggodanya. Tara jadi tidak tahan, seperti mereka harus cepat sampai ke rumah. Birahi sudah sampai di ubun-ubun.


"Iya cintaku." Tara semakin memperdalam cium"annya, mengabsen satu persatu gigi Embun yang putih bersih dan rapi itu, melilit lidah sang istri yang membuat Embun jadi lupa daratan.


Tangannya kini menggerayangi tubuh atletis suaminya itu. Hingga tangan kanan Embun Embun mentok di benda pusakanya Tara yang sudah keras, terhimpit celana.


"Kita pulang saja ya dek. Ini sungguh menyiksa." Bisik Tara dengan suara serak, menahan gejolak birahi. Cara Embun meremas pisangnya, membuat pria itu semakin frustasi saja.


Embun menganggukkan kepalanya. Mereka kembali melakukan ciuman panas. Tangan Tara pun sudah tidak bisa dikendalikannya. Bergerilya menyusuri lekuk tubuh Embun yang masih ditutupi pakaian itu.


Saat tangan Tara mere"mas-re"mas gundukan kembar milik istrinya itu. Dia merasa ada sesuatu yang mengganjal yang terdapat dibalik BR-a istrinya itu. Embun yang terhanyut dalam cium*an panas itu. Sudah melupakan benda yang disembunyikan di balik dala"mannya itu.


Dia pun tersadar, disaat tangan Tara seperti mengambil sesuatu dari balik BH nya. Dengan cepat Embun menahan tangan Tara dan ciuman panas pun berakhir. Na*fsu yang melambung tinggi kini anjlok drastis. Embun menjauh dari Tara. Kembali duduk ke tempatnya semula. Embun terdiam, membuang wajah dari Tara.


"Kenapa sayang?" Tara heran dengan sikap Embun yang tiba-tiba berubah. Embun mengendarkan pandangan. Dia pun semakin takut, setelah melihat sekeliling. Tenyata listrik padam. Dan bianglala mereka macet.


Tara juga baru menyadarinya. "Listrik mati, apakah bianglala ini tidak menggunakan aki?" Tara jadi ikutan panik, karena mereka terjebak di ketinggian. Tapi, Tara berusaha menutupi kepanikannya. Dia kembali meraih istrinya itu kepelukannya.


"Tidak apa-apa sayang. Mereka pasti sudah mengantisipasi hal-hal seperti ini. Sebentar lagi juga jalan lagi." Tara berusaha menenangkan Embun yang ketakutan. Pikiran negatif istrinya itu sudah melanglang buana. Jikalau tiba-tiba keranjang mereka akan terjatuh.

__ADS_1


Tara pun melupakan benda yang membuatnya penasaran tadi, saat tangannya menyentuh gundukan kembar istrinya itu.


.


__ADS_2