DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Rose


__ADS_3

Embun tak kuasa membendung perasaan sedih di hatinya. Tontonan di depan matanya, benar-benar membuatnya meradang.


"Kalian sedang apa?" suara Embun terdengar begitu memprihatinkan. Seketika Tara melepas kedua tangannya dari pipi Rose yang tertutupi oleh rambut Rose yang panjang hitam dan lebat, serta lurus di rebonding. Tara pun menoleh ke arah Embun dengan ekspresi wajah terkejut. Tapi, pria itu langsung melempar senyuman kepada istrinya itu.


Embun yang terbakar api cemburu itu, berjalan perlahan dengan mata berkaca-kaca. Dia langsung meletakkan nampan di atas meja dengan kasar.


"Maaf mengganggu, silahkan dilanjut...!" ucap Embun ketus, melirik Tara dan Rose dengan pandangan membunuh. Rose sibuk membenahi rambutnya dan mengusap-usap wajahnya, yang membuat Embun semakin kesal melihat Rose.


Ciihhh... menjijikkan sekali wanita ini. Embun membathin, kemudian mencibikkan bibirnya kepada Tara. Suaminya itupun dibuat heran dengan tingkah Embun yang tiba-tiba dingin dan aneh.


"Waaah ada kopi, ada kue juga." Doly langsung senang menyamperin meja tempat cake diletakkan. Pria itu baru saja membuang hadast besarnya. Sehingga kini dia jadi lapar. Dia yang lama tinggal di kampung dan sudah bosan makan ubi. Merasa sangat senang, melihat ada kue brownies dihadapannya.


"Iya, makanlah Doly. Sepertinya hanya kamu yang selera melihatnya. Makhluk lain di ruang ini pasti tidak selera. Karena, kedatangan cake dan kopi ke ruangan ini membuat adegan enak-enak mereka terganggu." Ketus Embun, berbalik badan melangkahkan kakinya. Dia tidak mau di ruangan itu lagi. Dia kesal kepada Tara.


Pantesan dia baik pada si Rose itu. Ternyata mereka main gila.


Gerakan langkah kaki Embun, terhenti. Tara menahannya dengan memegang tangannya.


"Adek kenapa? koq bicaranya begitu?" Ucap Tara penuh kebingungan. Baru tadi pagi mereka berbicara dari hati kehati. Kenapa sekarang sudah tidak enak an begini.


Embun berbalik dan berontak agar tangannya dilepas.


"Aku kenapa? aku gak ada masalah tu?" Jawab Embun cuek.

__ADS_1


Rose pun tertawa melihat tingkah Embun.


"Dasar kamu wanita egois. Pasti tadi dia salah paham tu Tara, saat kamu bantuin aku bersihin mataku yang kelilipan. Dia mikirnya kita lagi kissing kali." Rose menampilkan ekspresi wajah mengejek, dia pun berjalan ke meja ingin minum kopi.


Embun terperangah serta semakin kesal mendengar ucapan rose. Sekretaris suaminya itu, memang ngomong selalu pedas padanya. Sesaat Embun mengutuk kebodohannya. Yang tidak bisa berpikir jernih, karena akhir-akhir ini sering terbakar api cemburu kepada Tara.


"Apa maksudmu mengatakan aku egois?" Embun melangkah ke arah Rose yang masih duduk di atas sofa. Dia masih kesal kepada wanita itu, apabila teringat perkelahian di sawah. Embun belum terima, dia sampai terkilir dan luka-luka dibuat oleh Rose.


"Ya kamu egois lah. Sudah punya suami juga. Masih mikirin pria lain. Terus anehnya, kamu jodoh-jodohin suami sendiri pada sahabatnya. Dan sekarang kamu sedang cemburukan, melihatku dekat dengan Tara? hingga pikiran burukmu itu semakin liar, hingga apa yang kamu lihat, beda dengan fakta sebenarnya. Kamu hanya menyimpulkan apa yang ada di pikiran kotormu itu." Ucap Rose dengan Ekspresi wajah merendahkan. Dia pun mencibikkan bibirnya. Menantang Embun yang melotot padanya.


Embun mengepal erat kedua tangannya. Ucapan Rose benar-benar membuat darah nya dipompa cepat. Sebentar lagi wanita itu akan kena serangan darah tinggi. Karena, dia sudah merasa sesak dan ingin meledak. Kepalanya pun jadi pusing. Rose memang selalu merasa paling benar. Embun benar-benar membenci Rose.


"Kamu cemburukan? apa kamu sudah cinta pada Tara? bukannya dulu kamu mencaci dan Berucap kasar padanya? Hellow Embun pagi, apa kabarnya sahabat mu Lolita?"


Embun pun kini merasa lututnya sudah layu. Sungguh, ucapan Rose yang blak-blakan itu, membuat Embun sadar, dan merasa bersalah pada sahabatnya itu.


Kini kabut yang menggumpal di bola mata Embun, akhirnya luruh juga. Ucapan Rose benar-benar membuatnya tersudut. Dengan berurai air mata, Embun berlari hendak meninggalkan tempat itu. Sedangkan Tara, sudah geram melihat Rose, yang selalu ikut campur dengan urusan pribadinya.


"Embun sayang? ada apa ini?" Mama Mira dan Embun berpapasan di pintu ruang kerjanya Tara. Dia heran dengan Embun yang menangis dan Menyembunyikan wajahnya dengan menunduk.


Tara yang berniat menyusul Embun. Kini Berdiri mematung di belakang Embun. Dia pun mencoba menghindar dari tatapan Mamanya.


"Ada apa ini Tara? kenapa Embun menangis? apa yang terjadi disini?" Mama Mira nampak kaget, melihat Embun menangis. Sedangkan Tara nampak begitu khawatir pada Embun.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Ma." Ucap Tara pendek, melirik Rose dengan tatapan tajam.


"Tante, kami pamit pulang ya. Kerjaan kami sudah beres." Ucap Rose tersenyum kecut. Doly pun mengekori Rose. Mereka meninggalkan tempat itu dengan sikap biasa saja. Seolah tidak terjadi sesuatu.


"Iya. " Jawab Mama Mira pendek. Dia yakin, Rose yang membuat menantunya itu menangis.


"Jelasin pada Mama, kenapa Embun menangis? apa gara-gara Rose? Dulu Mama sudah bilang, keluarga besar sudah bilang. Rose pecat saja jadi sekretaris pribadimu. Atau kirim dia ke perusahaan kita yang di Australia


Tapi, kamu tidak mendengarkannya." Ujar Mama Mira, menatap kesal putranya yang terlalu baik pada Rose, yang lidahnya setajam silet itu.


Mama Mira kini mencengkram tangan Tara dengan kuat. Menarik putranya itu, agar dekat dengannya. Dia pun berbisik di telinga Tara.


"Dia itu berbahaya untuk hubungan mu dan Embun. Rose menyukaimu sayang. Kamu sadar gak sih Nak? apa kamu mau Embun, menarik diri. Karena merasa tidak nyaman dengan kehadiran Rose, ditengah-tengah kehidupan rumah tangga kalian." Ucapan Mama Mira itu, membuat Tara takut. Dia tidak mau Embun meninggalkannya. Dia pun menoleh ke arah Embun yang masih berdiri membelakanginya. Ingin rasanya dia memeluk istrinya itu. Dia juga kasihan pada istrinya itu.


Embun sengaja tidak berbalik, dia masih kesal sama Tara. Kenapa dirinya saja yang disalahkan. Kan wajar apabila dia terus berharap bersatu dengan pria yang pertama dicintainya. Tapi, kan kedepannya kita gak tahu.


"Ma, sudahlah. Aku pikirkan lagi baik buruknya, mengenai Rose." Tara menuntun ibunya untuk duduk di sofa. Sedangkan Embun pergi meninggalkan ruangan itu


Apakah Rose harus dipecat jadi asisten pribadinya? Tapi, pria itu sangat membutuhkan otak cemerlang nya Rose, untuk menangani perusahaannya. Wanita itu pintar dan tangguh. Tara sangat suka dengan kinerjanya Rose.


"Pikirkan baik-baik dan matang. Jangan gegabah mengambil keputusan. Jangan gara-gara Rose, hubunganmu dengan Embun hancur." Ketus Mama Mira, dia pun menghela napas dalam, meninggalkan putranya itu, masih dalam keadaan bingung.


Sepeninggalannya Mama Mira, Tara berdecak kesal. Pria itu pun mengusap wajahnya kasar, menyisir rambutnya sampai kebelakang dengan jemarinya.

__ADS_1


Sepertinya dia harus menjauhkan Rose dari hidupnya. Karena Ros dan Embun seperti Tom and Jerry.


__ADS_2