DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Jadi Makcomblang


__ADS_3

"Aaaaakkuuu..!" Embun langsung memotong ucapan Tara. Sehingga Tara tidak melanjutkan ucapannya. "Terimakasih bang. Kami cabut dulu." Embun menarik keras lengan Lolita. Mau tak mau Lolita pun mengikuti langkah Embun. Tentu saja Lolita masih menatap Tara dengan tersenyum sambil melambaikan tangan.


Tara hanya bisa terdiam melihat kepergian Embun dan kawannya. Tara tidak menyangka, Embun tidak mengakuinya sebagai suami. Hatinya sakit melihat sikap Embun.


Aku masih bisa bersabar sampai saat ini, namun alangkah baiknya jika kamu tidak menguji kesabaranku lagi. Tara membathin, masih menatap Embun yang berjalan meninggalkannya.


Ucapan Embun, benar-benar merusak moodnya. Tara menarik napas dalam, dan menghembuskan kasar. Dia menenangkan dirinya, kemudian melangkahkan kakinya dengan cepat dari gedung itu.


Embun dan Lolita kini sudah berada di perpustakaan. Setelah Embun selesai berjumpa dengan dosen pembimbingnya. Begitu juga Lolita yang sudah selesai dengan urusannya. Yaitu, untuk ujian sidang skripsi Minggu depan.


Keduanya memilih duduk di sudut ruang baca. Karena, Lolita yang kepo dengan Embun yang tidak kuliah selama dua Minggu ini, ditambah Embun ternyata mengaku bersaudara dengan Sutan Batara Guru Siregar. Pria yang disukainya dari dulu.


"Ya ampun Embun, kenapa kamu tidak pernah cerita padaku. Bahwa kamu ada hubungan saudara dengan Abang Sutan?" Lolita langsung semangat 45, setelah mengetahui Tara ada hubungan saudara dengan Embun.


"Lah kamu tidak pernah nanya?" ketus Embun. Meraih buku yang da dihadapannya.


"Nanya? bagaimana aku mau nanya, aku saja baru tahu kalau kalian ada hubungan saudara." Lolita kesal.


"Koq jadi menyalahkan aku sih?" Embun berdecak kesal.


"Bukan mau menyalahkan, tapi kamu benar-benar tidak mendengarkan curhatan ku selama ini. Pria yang selalu ku ceritakan padamu ya Abang Sutan itu." Lolita semakin kesal. Ternyata setiap curhat, Embun tidak memperhatikannya. Embun menganggapnya radio yang rusak-rusak.


"Padahal kalau kamu cerita tentang Mas Ardhimu. Aku selalu serius mendengarkannya.


Bahkan, Aku sampai sekarang masih hapal apa yang kamu ceritakan. Lah, kamu sedikitpun tidak ingat apa yang ku curhatkan." Lolita kesal, menarik buku dari tangan Embun.


"Shhiiittt.... ini perpustakaan, tempat untuk cari ilmu. Bukan menggosip." Petugas perpustakaan berjenis kelamin wanita, menegur mereka.


"Ayo kita ke cafe, aku ingin bertanya banyak hal padamu." Lolita beranjak dari duduknya. Sedangkan Embun menatap malas temannya itu. Dia masih mau mencari bahan skripsi, bukan mau menggosip.


"Ayo bangkit...!" Lolita menarik lengan Embun.


"Neng Lol, aku tu mau cepat wisuda. Aku harus kejar ketertinggalan, bulan depan aku harus ikut sidang skripsi." Embun menolak ajakan Lolita.


"Aku akan bantuin kamu ngerjainnya." Bujuk Lolita. "Kamu sih main menghilang segala, harusnya minggu depan kita sudah sama-sama sidang." Lolita menatap Embun dengan penuh harap, yang membuat Embun tidak tega melihat wajah memelas teman akrabnya itu.

__ADS_1


"Beneran, bantuin aku ngerjain skripsi?" Embun harus mempertegasnya. Dia memang sangat butuh bantuan kawannya itu.


"Iya, aku bantuin. Tapi, ada syaratnya." Lolita tersenyum penuh arti.


"Syarat apaan?" Embun menatap kesal Lolita. Ternyata kawannya itu, baik karena ada maunya.


"Comblangin aku dengan Abang Sutan."


"Apa....?" Embun menggebrak meja dengan buku yang dibacanya, saat mendengar ucapan Lolita. Seketika para pengunjung perpustakaan menoleh kesal kepada mereka. Sungguh Embun terkejut dengan permintaan sahabatnya itu.


Dan akhirnya mereka pun kena usir dari ruangan itu.


"Kamu apa-apa an sih Bun? gara-gara kelakuanmu tadi, bisa-bisa besok kita tidak dibolehkan lagi masuk ke perpustakaan.." cerocos Lolita kesal. Kini mereka sedang diperjalanan menuju tempat nongkrong yang lagi Hits di kota Medan tersebut.


"Gak usah banyak bacot. Fokus aja nyetirnya." Embun menatap lurus ke badan jalan. Ucapan Lolita saat di perpustakaan, masih terngiang-ngiang di pikirannya.


Mencomblanginnya dengan Tara? sepertinya itu gagasan yang bagus. Setidaknya Lolita, bisa dibuatnya sebagai alasan nantinya, agar bisa cepat lepas dari Tara.


Apabila keluarga besar mereka menanyakan kenapa mereka berpisah. Dia akan mengatakan bahwa Tara selingkuh dengan teman akrabnya.


Sebenarnya Embun bisa mengerjakan skripsi sendiri. Dia akan merasa lebih puas, apabila mengerjakannya sendiri. Tapi, waktunya sudah mendesak. Jadi bantuan SDM sangat dibutuhkannya. Lagian Lolita yang menawarkan diri. Jadi dia akan dimanfaatkannya. Apalagi, dosen pembimbingnya masih punya hubungan famili dengan Lolita.


Kini mereka sudah sampai di cafe favorit mereka berdua. Perut sudah mulai keroncongan. Karena memang sudah waktunya makan siang.


"Bun, aneh ya. Kamu bilang, punya hubungan saudara dengan Abang Sutan. Tapi, kenapa kamu tidak tahu, bahwa rumah megah dan besar yang sering kamu pelototin dengan takjub itu, adalah rumahnya Abang Sutan." Ucapan Lolita, membuat Embun mengalihkan pandangannya dari daftar menu yang ada di tangannya kepada Lolita yang nampak begitu penasarannya dengan Tara.


Ya, rumah Tara searah dengan rumahnya Lolita. Jadi, disaat Embun berkunjung ke rumah Lolita. Maka Dia akan selalu menatap dengan takjub rumahnya Tara.


"Koq aneh sih? ya aku baru tahu, kalau kami masih saudaraan. Itupun tahunya, saat semua saudara pulang kampung." Jawab Embun.


"Emang silsilahnya darimana? koq kalian bisa jadi saudaraan?" Lolita benar-benar penasaran.


"Silsilahnya, karena kami sama-sama keturunan dari nabi Adam." Embun tertawa kecil. Dia malas mengakui kalau Tara adalah sepupu kandungnya.


"Serius lah Bunbun." Lolita berdecak kesal. Embun masih saja bercanda.

__ADS_1


"Aku serius koq."


"Aku juga umat keturunan dari nabi Adam. Maksudku, seberapa dekat kekerabatan kalian?" Desak Lolita.


"Eemmmm.... lumayan dekat sih, Dia itu sepupu aku." Jawab Embun malas.


"Sepupu? sepupu yang bagaimana?" selidik Lolita. "Apa ibumu dan ibunya kakak beradik? atau Ayahmu dan Ayahnya yang bersaudara?" Lolita sungguh penasaran. Embun hanya diam, mulai menyantap makan siangnya.


"Abang Sutan itu marga Siregar dan kamu Harahap. Berarti kalian sepupu, yang sering dikatakan orang Pariban. Apa Abang Sutan itu Paribanmu Bunbun?" Kedua bola mata Lolita membulat. Kalau benar Abang Sutannya adalah paribannya Embun. Itu artinya, Embun bisa menikah dengan Abang Sutannya.


"Iya, Dia itu Paribanku." Jawab Embun malas. Seketika Lolita lemas.


"Biasanya di suku kaliankan, sering ada perjodohan untuk Menikahi Pariban. Kalian tidak dijodohkan kan? tapi, kenapa kamu sekarang tinggal di rumahnya?" Lolita benar-benar penasaran.


"Kami ini sepupu jauh, lagian untuk apa aku mau dijodohkan dengannya. Mau dikemanakan Mas Ardhiku sayang." Embun menghela napas, kemudian melanjutkan makannya.


"Syukurlah, aku tadi sempat takut gagal sebelum berjuang. Aku suka sekali sama Abang Sutan. Please... Bun, bantu aku bisa dekat dengannya." Ekspresi wajah Lolita penuh harap.


"Iya bawel. Ayo cepat makan." Embun lagi-lagi menarik napas dalam. Semoga Tara juga menyukai Lolita. Sehingga Dia bisa cepat lepas dari Tara.


"Aku tidak mau bergerak lambat, malam ini aku harus action." Ucapan Lolita, membuat Embun tersenyum.


"Semoga berhasil." Lagi-lagi Embun menyemangati Lolita.


"Bagilah no ponselnya!!" Lolita memelas. Sehingga Embun menurutinya. Dia pun memberikan no ponselnya Tara kepada Lolita. Tanpa persetujuan Tara.


❤️❤️❤️


Malam harinya, Embun nampak sibuk di dalam kamarnya. Dia mulai mengerjakan skripsinya. Sepulang dari Cafe.


Mulai dari sore hari sampai saat ini, pukul sembilan malam. Tanda-tanda kedatangan Tara belum ada. Bahkan pria itu tidak ada menghubunginya seharian ini. Padahal tadi pagi, mereka tukeran no ponsel.


"Kenapa sih, aku jadi kepikiran sama Dia? apa karena sudah biasa ribut seharian dengannya ya?" Embun berbicara sendiri, sambil memeriksa kerjaannya yang sedang diketiknya.


"Eeemmmmm....

__ADS_1


TBC.


__ADS_2