DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Yang berlalu biarlah berlalu


__ADS_3

"MELATI...!" teriak Ardhi dengan suara bergetar dan menggema. Berlari cepat menghampiri sang istri yang terjatuh. Meraih dengan cepat tubuh sang istri kepelukannya.


"Sayang, dek, kamu baik-baik saja kan?" Melati hanya menatap sedih sang suami. Wajahnya terlihat pucat, pandangan juga berkunang-kunang. Seketika wanita itu pingsan di pelukannya Ardhi.


Ardhi membopong sang istri. Berlari cepat ke mobilnya. Luka serta badan yang remuk redam karena berkelahi tidak dirasakannya


Dia sungguh khawatir dan takut terjadi hal buruk pada sang istri.


Pak Zainuddin yang panik, langsung memerintah Bi Romlah, ART nya masuk ke dalam mobilnya Ardhi. Sehingga Bi Romlah kini sudah menjaga Melati yang terbaring di jok mobil baris kedua. Mobil pun melaju dengan cepat.


Tara mencoba menyadarkan sang istri. Dengan menggoyang pelan tubuh istrinya itu dan memanggil-manggil namanya Embun. Wanita itu pun tersadar. Tara sangat legah sekali. Tersenyum penuh syukur dan mengecup setiap inchi wajah istrinya itu.


"Bang, bagaimana keadaan Melati. Aku tadi melihat terjatuh." Embun bukannya mengkhawatirkan dirinya. Malah menanyakan keadaan sepupunya itu.


"Melati sudah dibawa ke rumah sakit. Semoga tidak terjadi apa-apa." Membopong sang istri masuk ke rumah Pak Zainuddin.


Pak Zainuddin nampak memarahi anak buahnya. Tara melewati saja Pak Zainuddin. Tidak mau ikut campur lagi


"Apa yang kalian lakukan. Saya hanya memerintahkan kalian memberi pelajaran saja, Bukan mau melenyapkan nyawanya dengan menggunakan senjata tajam." Suara keras Pak Zainuddin yang memarahi bawahannya terdengar sampai ke ruang tamu.


"Bang, apa yang terjadi di rumah ini. Kita niatnya mau silaturahmi ke rumah Tulang. Malah disini terjadi pertikaian. Kasihan Mas Ardhi dan Melati. Coba tadi kalau kita gak datang. Mungkin Mas Ardhi sudah tewas." Ucap Embun sedih dengan air mata terus bercucuran membasahi pipi pucatnya. Kini Embun sudah berbaring di sofa, tepatnya di ruang keluarga. Dan Tara duduk di sisi sang istri.


"Entahlah dek. Nanti kita tanyakan pada Tulang Zainuddin. Mengusap-usap lembut pipi sang istri dan merapikan hijabnya.


"Apa Tulang dan Mas Ardhi bertengkar? masalah apa? seminggu lalu kita kesini, nampak akur." Tara mengangkat bahu. Pertanda gak tahu apa-apa. Dia masih terus mengusap pipinya Embun. Melap air mata sang istri.

__ADS_1


Saat itu juga Pak Zainuddin menghampiri mereka ke ruang keluarga itu. Duduk di sofa, tepat di hadapan Tata dan Embun, dengan napas tersengal-sengal. Sepertinya pak Zainuddin kelelahan saat marah-marah kepada anak buahnya.


Seorang pelayan berjenis kelamin wanita datang membawakan minuman kepada mereka. Tara langsung membantu Embun untuk minum. Sedangkan Pak Zainuddin, terlihat masih berusaha menenangkan dirinya dengan menarik napas panjang berulang kali. Tara dan Embun tidak berani membuka suara. Keduanya memilih diam.


Lima menitpun berlalu. Akhirnya Pak Zainuddin mengeluarkan suara juga.


"Tulang tidak menyangka, kalau Ibunya Ardhi itu bukan manusia." Sontak Tara dan Embun menoleh kepada pria tua itu. Tatapan mata Pak Zainuddin penuh kekecewaan.


"Tulang tidak terima. Melati dianiaya saat tinggal bersama mereka. Kenapa harus Ardhi orangnya. Kenapa harus ibunya Ardhi. Tulang jadi merasa kesal, karena tidak bisa membalas sakit hati putriku itu. Tidak mungkin ku penjarakan menantuku sendiri. Apalagi Ardhi adalah pemuda yang ku bantu jadi orang sukses. Tapi, dia dan ibunya sudah mendzolimi putriku." Pak Zainuddin mengusap-usap dadanya yang terasa ngilu dan sakit itu. Kenapa orang yang dibantunya. Malah memberikan luka kepadanya.


"Ardhi harus merasakan sakit, seperti yang dirasakan putriku. Sewaktu ibunya menganiaya Melati. Biar dia tahu betapa sakitnya, wajah ditampar secara membabi buta, hingga menimbulkan luka." Pak Zainuddin masih bicara dengan penuh kebencian. Tara dan Embun memilih jadi pendengar yang baik saat ini.


"Tulang tajut, di hati kalian pasti bertanya-tanya. Kenapa Tulang membiarkan anak buahnya tulang menghajar Ardhi. Biar dia merasakan sakitnya di tabok, seperti yang dilakukan ibunya." Pak Zainuddin masih mengomel penuh kebencian.


"Tulang, yang berlalu biarlah berlalu. Hanya ikhlas dan tobat yang membuat masa lalu menjadi pembelajaran. Semoga Ibu Jerniati berubah lebih baik. Tak ada gunanya Tulang membalas dendam pada Ardhi. Tulang lihat sendiri, gimana dia tadi paniknya. Saat melihat Melati terjatuh. Inilah takdir yang harus dilalui oleh mereka agar bersama. Seburuk apapun masa lalu, dia telah terjadi Tulang." Ucap Em un lembut, dengan sedikit merasa takut. Dia takut salah bicara, dan malah membuat Pak Zainuddin berang.


Pak Zainuddin menghela napas panjang. Dia pun menyeruput cappucino miliknya berulang kali. Tanpa ada komentar pada ucapan Embun.


"Bang, aku lapar. Ayo kita makan." Merasa tidak ada topik pembahasan lagi. Embun pun tak mau berlama-lama satu ruangan dengan Tulang nya yang nampak menyeramkan itu. Dia jadi lapar terus.


Tara tersenyum tipis, menjepit hidung mancungnya Embun dengan telunjuk dan jempolnya.


"Makan terus diotakmu sayang. Bisa-bisa nanti kamu besar, seperti gentong." Ucap Tara dengan tertawa kecil. Baru juga hamil 12 Minggu, berat badan Embun sudah naik lima kilogram.


"Anakmu ini yang rakus. Pinginnya makan terus." Cebik Embun. Pak Zainuddin yang mendengar perdebatan kemenakannya itu. Akhirnya meminta pelayan menyiapkan makanan.

__ADS_1


"Tulang, Tulang... Gak usah. Kami mau makan di luar.. Tadinya sih, ke sini juga mau ajak Melati untuk makan di luar." Embun tersnyum tipis pada Tulangnya itu. Dia pun bangkit dari tidurannya, yang dibantu oleh Tara.


"Oohh gitu, baiklah. Tulang pun mau ke rumah sakit. Mau melihat keadaan Melati." Pria tua itu pun bangkit dari duduknya. Embun yang sudah berdiri di hadapannya. Langsung pamit dengan menyalim tangan pamannya itu.


"Kasihan Mas Ardhi ya bang. Nasibnya apes terus. Padahal dia orang baik banget loh." Ucap Embun dengan penuh penghayatan. Matanya sampai berkaca-kaca saat ini.


Tara melirik sang istri dengan wajah masamnya.


"Apa maksud adek bicara seperti itu? mau men test Abang lagi? mau buat cemburu?"


Embun tertawa kecil, dia lupa Tara masih selalu cemburu pada Ardhi.


"Eehhmmm... Apa lagi si bang. Mas Ardhi melulu yang dicemburuin. Dia itu sudah menikah. Dan menikah dengan sepupuku sendiri. Kenapa harus dicemburui." Embun pura-pura kesal. Padahal hatinya senang. Tara cemburu, dasar ya suaminya itu bucin akut samanya.


"Jangan salah sayang. Sekarang banyak kasus yang CLBK, apalagi kalau sering-sering ketemuan." Ucap Tara serius, dengan tatapan fokus ke badan jalan.


"Iihh... apaan sih Hasian, Mas Ardhi itu sekarang sudah jadi adik ipar ku. Masak aku masih menaruh hati padanya. Kita ini orang Batak. Yang menjunjung tinggi adat dan martabat.


"Syukurlah, kalau adek sudah tidak ada rasa pada pak Ardhi." Tara tersenyum tipis, mencubit gemes pipinya Embun.


"Percaya deh bang. Aku tidak akan pernah berpaling. Di hati ini, sudah tertancap dalam namanya Abang. Di mata ini, hanya abanglah pria yang sangat tampan di dunia ini. Setiap tarikan napas ku, hanya ada nama Abang.'


"Adek... please... gombalannya di sempurnakan dulu. Kata-katanya kurang menyentuh." Ucap Tara cekikikan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2