DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Dilema


__ADS_3

Baru saja Embun berteriak histeris mengingat kejadian masa silam. Suara gaduh di ruang tamu terdengar jelas ke kamar Embun. Yang membuat Tara dan kedua orang tuanya penasaran. Mereka berjalan cepat ke ruang tamu. Sedangkan Mama Nur, masih berusaha menenangkan Embun sambil terus memeluknya.


"Tenang sayang, semuanya akan baik-baik saja." Ucap Mama Nur, menatap Embun yang ketakutan wajahnya pucat dan tubuhnya masih bergetar, karena merasa kedinginan.


Sedangkan di ruang tamu, Pak Baginda nampak berontak saat tangannya ingin di borgol oleh Pak Polisi. Tara dan kedua orang tuanya dibuat tercengang melihat kejadian di ruang tamu.


"Ada apa ini Pak?" tanya Tara heran serta bingung, kenapa Tulangnya tangannya di borgol paksa.


"Ini surat perintah untuk menangkap Pak Baginda, karena telah melakukan pelanggaran hukum." Ucap Pak Polisi, menunjukkan surat perintah tugas untuk menangkap Pak Baginda.


Tara meraih surat tersebut, membacanya dengan seksama. Kemudian menatap Tulangnya yang berontak tidak mau diboyong ke kantor polisi. Sehingga Pak Polisi menarik paksa tangan Pak Baginda yang tidak mau diajak kooperatif.


"Oh iya pak." Ucap Tara tidak percaya. Menatap kedua orang tuanya dengan lemas. Kenapa begitu banyak masalah yang datang hari ini. Mulai dari Kejadian di kamar mandi bersama Embun. Embun yang menolak menikah dengannya. Kedatangan Ardhi kekasih Embun yang akhirnya menyebabkan pertikaian dan sekarang Pak Baginda ditahan pihak yang berwajib.


Tara mendekat kepada Pak Baginda yang sedang duduk di mobil tahanan bak terbuka itu.


"Jangan panik Tulang, semuanya akan beres. Tulang tenang dan bijaklah menjawab semua pertanyaan Pak Polisi." Ucap Tara penuh dengan kekhawatiran. Memperingati Tulangnya itu, agar jangan terpancing emosi.


Pak Baginda mengangguk, ekspresi wajahnya nampak ketakutan, membayangkan hal buruk yang akan menimpanya. Mau ditaruh di mana mukanya itu? Jikalau semua orang mengetahui Dia masuk jeruji besi.


"Iya Tara, Tolong jaga Embun. Jangan bolehkan Dia keluar rumah. Tolong bilang sama Nantulangmu, agar menebus saya." Ucapnya dengan lemah.


"Iya Tulang." Ucap Tara. Mobil pihak yang berwajib kini sudah menghilang dari pandangannya.


Tara mengusap wajahnya kasar, menyisir rambutnya dengan jemarinya sampai kebelakang kepalanya. Dia menghela napas dalam. Masalah yang datang beruntun menguras pikirannya.


"Ayo kita susul Tulangmu ke kantor Polisi!" ajak Ayahnya Tara, setelah Dia menghampiri anaknya yang masih berdiri di halaman. Sedangkan Mama Mira sudah masuk ke kamar Embun.


"Ayah tidak usah kesana. Biar Tara yang akan mengurus semuanya." Ucapnya menatap Ayahnya dengan frustasinya.


"Baiklah, Ayah yakin kamu bisa mengatasi semua masalah ini." Ucap Ayah Tara. Dia menepuk lengan atas anaknya itu dengan penuh semangat.


Tara mengangguk. "Ayah masuk ke dalam dulu." Tara kembali mengangguk. Setelah Ayahnya masuk ke dalam rumah. Tara merogoh ponselnya dari saku celananya. Dia dengan cepat menscrol ponselnya mencari kontak, yang melaporkan Tulangnya itu. Dia pun mulai melakukan panggilan suara. Hingga panggilan ketiga, baru terhubung.


"Assalamualaikum---" Ucap Tara sedikit ragu. Dia takut, orang yang ditelponnya tidak bisa diajak bicara, untuk kebaikan semuanya.


"Walaikumsalam..." terdengar jawaban tidak semangat dari sebrang sana.


"Maaf Pak Ardhi, bisa kita bertemu sekarang?!" ucap Tara langsung. Dia tidak mau berbasa-basi.


"Saya sedang dirawat di rumah sakit, dan tidak ingin diganggu. Sudah dulu ya Pak Tara. Saya matikan. Saya ingin istrirahat." Ardhi langsung memutuskan panggilan suara dari Tara.


Ardhi meremas dengan kuat ponselnya, karena kesalnya. Rahangnya mengeras, sehingga menimbulkan suara dari deretan giginya yang saling bertabrakan. Kemudian Dia menarik napas dalam.


Dia tidak menyangka, akan mengalami nasib naas hari ini. Seminggu berpisah dan tidak ada kabar dari Embun. Membuatnya khawatir dan tidak tenang. Sehingga Dia melakukan segala cara untuk sampai ke rumah Embun.


Sesampainya di rumah Embun, Dia begitu senang dan bahagia. Apalagi Dia disambut hangat oleh Nenek-nenek yang ternyata Neneknya Embun.


Mereka bercerita, tapi saat itu Ardhi hanya mengaku temannya Embun. Karena Embun pernah mengatakan Dia dilarang pacaran. Sebelum tamat kuliah.

__ADS_1


Dia menunggu kedatangan Embun dengan perasaan tidak tenang. Karena Dia sangat merindukan dan mengkhawatirkannya. Tidak disangka saat bertemu, malah terjadi pertikaian.


Ardhi merasa syok saat itu, baru bertemu. Tapi Dia sudah mendapatkan perlakuan kasar. Dimana etika seorang pemilik rumah saat, ada orang bertamu. Bahkan, kesempatan untuk membela diri pun tidak ada.


Merasa dianggap tidak berharga dan dihajar babak belur. Ardhi merasa perlu memberikan pelajaran kepada calon mertuanya. Agar calon mertuanya itu, bisa menghargai orang lain.


Sudah pukul sepuluh malam, Ardhi tetap tidak bisa memejamkan matanya. Dia tidak bisa tenang, memikirkan Embun. Ternyata, Embun dipaksa menikah.


Dan sialnya lagi, calon suami Embun adalah rekan bisnisnya sendiri. Sutan Batara Guru Siregar. Pengusaha muda yang namanya sedang bersinar saat ini. Dan jauh dari skandal. Bahkan Ardhi jauh dibawah Tara dalam hal kesuksesan.


Ardhi mengusap wajahnya kasar, memijat-mijat kening dan pelipis nya yang terasa sakit dan panas. Dia tidak akan rela, jika Embun menikah dengan pria lain. Dia sangat mencintai Embun. Dia rela menuggu empat tahun, agar Embun mau menerimanya. Itu menurutnya perjuangan yang penuh dengan kesabaran. Dia tidak mau usahanya tidak mendapatkan hasil.


"Aku tidak akan membiarkan Embun, menikah dengan orang lain. Walau ku tahu, sainganku bukan orang biasa." Gumam Ardhi dalam hati i, berusaha untuk tenang agar bisa beristirahat.


***


Keesokan harinya.


Matahari nampaknya sedang cemberut, karena itu langit mendung tidak ceria. Suasana pagi ini, benar-benar mewakilkan perasaan Embun, Tara dan Ardhi. Ketiga manusia itu sedang berada di fase galau berat.


Setelah selesai sholat shubuh. Tak lupa Embun berdoa kepada Sang Khalik, agar masalah yang datang semuanya selesai dan Dia bisa menikah dengan Ardhi.


"Mas Ardhi." Ucap Embun lirih, kejadian kemarin kembali terputar di otaknya. Hatinya sangat sakit mengingat kejadian itu. Pria yang sangat dicintainya, harus mendapatkan perlakuan kasar.


Embun menyeka air matanya dengan jemarinya. Beranjak dari duduknya di atas sajadah. Merapikan alat sholatnya. Berjalan pelan ke balkon untuk menghirup udara pagi yang terasa sangat dingin. Ya karena kota PSP terkenal hawanya sejuk.


Dia melamun, sambil memikirkan kelanjutan hidupnya ke depan. Tara sudah mau membatalkan pernikahan dan Mas Ardhinya sudah bertemu dengannya. Dia harus membujuk Mamanya, agar membolehkan nya menikah dengan Ardhi.


Tidak ada sahutan dari dalam kamar. Akhirnya Dia memberanikan diri untuk membuka pintu itu. Dia terkejut, karena tidak ada orang sama sekali di dalam kamar itu. Bahkan Dia sudah mengecek ke dalam kamar mandi.


"Kemana Ayah dan Mama?" ucapnya sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing. Ternyata Embun belum tahu, kalau Ayahnya sudah masuk ke penjara.


Dengan langkah lemas, Embun pergi ke dapur mencari Mama Nur. Tapi, Dia tidak melihat Mamanya di dapur.


"Mama mana Siti?" ucapnya kepada ART, yang masih muda itu. Usia Siti masih 18 tahun.


Siti yang sedang mengupas bawang itu menoleh ke arah Embun yang berdiri dihadapannya.


"Gak tahu Non. Nyonya gak ada ke dapur pagi ini." Ucapnya pelan.


"BOu Niar, Mama di mana?" tanya nya lagi kepada ART satunya lagi.


Bik Niar menoleh kepada Embun. Dia sedang menggoreng ayam. "Coba cari di kamarnya Ompung Boru Non." Ucapnya ramah. Embun pun langsung berjalan ke kamar tamu, tempat Ompung mereka tidur.


Pintu kamar itu terbuka sedikit, sehingga orang yang berbicara di dalam akan kedengaran keluar.


Samar-samar Embun mendengar Ompungnya menangis. Embun pun akhirnya menguping dibalik daun pintu.


"Boumu ini akan mati, apabila Tara tidak menikah dengan Embun...." Ucap Ompung Boru sambil menangis. "Sejak kecil mereka itu sudah dijodohkan. Aku ini akan bahagia apabila mereka menikah. Aku akan tenang di alam sana, apabila bisa mewujudkan mimpiku melihat mereka terikat dalam pernikahan." Ucap Ompung Boru masih menangis.

__ADS_1


Embun yang mendengar ucapan Ompungnya itu, jadi sedih dan down, Dia pun akhirnya melangkahkan kakinya kesamping dan melorotkan Tubuh nya di dinding kamar itu dengan berderai air mata. Posisinya saat ini sungguh sulit. Menikah dengan pria yang tidak dicintainya. Itu sungguh sangat menyiksa. Apalagi Dia sudah punya kekasih.


Akan beda tadi ceritanya, apabila Dia tidak punya kekasih. Mungkin Dia tidak akan segalau ini.


"Iya bou, Embun pasti menikah dengan Tara. Tidak ada alasan yang akan masuk akal apabila Embun menolak Tara. Tara itu pria sempurna, Embun akan sangat beruntung apabila mendapat suami seperti Tara. Semua anggota keluarga juga mendukung perjodohan ini." Ucap Mama Nur sambil memijat-mijat kaki Ompung Boru yang sedang berseloncor.


"Iya, tapi sepertinya Embun tidak menyukai Tara. Dan Aku baru mengetahui Embun punya kekasih. Aku sempat cerita- cerita kepadanya semalam. Pacarnya Embun itu sangat sopan. Kami banyak bercerita. Tapi, Dia mengakunya hanya teman Embun. Makanya Aku ingin memberinya undangan pernikahan Embun." Ucap wanita tua itu dengan raut sedih.


"Iya bou, itu jangan terlalu Bou pikirkan. Bou harus sehat. Pernikahan Embun tinggal menunggu hari. Bou kan nanti mau manortor di pesta adatnya pernikahan mereka." Ucap Mama Nur tenang. Tapi jangan tanya perasaannya saat ini. Dag dig dug seerrr... Dia takut pernikahan Embun dan Tara gagal, padahal 90 persen persiapan sudah rampung. Undangan pun sudah disebar.


"Iya, tapi Aku tidak akan mau hidup lagi. Kalau Embun memilih pergi dengan kekasihnya itu. Benar memang kekasihnya itu baik. Tapi ada Tara yang lebih baik." Ucap Ompung Boru menatap lekat menantunya.


"Mereka harus menikah." Ucap Ompung Boru kembali dengan menitikkan air mata tanpa isakan.


"Iya Bou, apa bou mau ke taman belakang? biar Nur temani." Ucap Mama Nur dengan tersenyum.


"Tidak, sepertinya akan hujan. Tolong bawa Aku ke kamarnya Embun sekarang." Ucap Ompung boru, Dia mulai bangkit dari atas ranjangnya. Sedangkan Embun langsung berjalan cepat ke kamarnya di lantai dua.


Sesampainya di kamar, Embun naik ke ranjang. Menutup tubuhnya dengan selimut sampai dada dan pura-pura tertidur.


Ceklek----


Suara pintu dibuka membuatnya terkejut. Dia masih menutup matanya. Saat ini posisinya tidur miring menghadap jendela. Sehingga membelakangi Mama dan Ompungnya itu.


"Sayang, apa kamu masih merasa kurang sehat?" tanya Mama Nur lembut, wanita Yang melahirkan Embun itu sudah duduk di tepi ranjang. Menempelkan punggung tangannya di dahi Embun.


"Kamu sudah tidak panas lagi sayang. Bangun Yuk...!" Mama Nur mengusap lengan putrinya yang membelakanginya itu. Sehingga mau tak mau, Embun akhirnya membalik badannya. Sehingga Dia bisa menatap Mama dan Ompungnya, yang menampilkan mimik wajah sedih.


Embun duduk menyandarkan punggungnya di headbord tempat tidurnya. Kini manik matanya melirik Ompungnya yang mulai menitikkan air mata.


"Pahoppuku (cucuku), kebahagian yang Ompung tunggu selama ini adalah melihatmu menikah dengan Tara." Ucap Ompung Boru, menjeda ucapannya. Karena tidak kuasa menahan air matanya yang akan tumpah ruah.


Melihat Ompungnya menangis. Embun jadi merasa bersalah. Wanita tua ini sangat dicintainya. Dia tidak sanggup melihatnya menangis.


"Ompung tidak tahu, kalau kamu sudah punya Hallet( kekasih). Sehingga disaat ayahmu meminta pendapat untuk menikahkanmu dengan Tara, padahal kamu belum lulus kuliah. Ompung sangat setuju dan senang sekali. Tapi, ternyata kamu sudah punya Hallet." Ucap Ompung Embun dengan terisak menatap Embun dengan wajah memelas. Mama Nur tidak tahan melihat Ibu mertuanya itu menangis. Dia pun memeluknya dari samping.


Melihat Ompungnya sesedih itu, Embun pun tidak tega. Dia menangis dan memeluk Ompungnya itu. Sehingga ketiga wanita beda generasi itu saling berpelukan.


"Halletmu itu baik, kami sempat mengobrol banyak. Dia mengaku sebagai temanmu." Ucap Ompung Boru, setelah mereka melepaskan pelukannya. Embun tersenyum mendengarnya.


"Tapi, Tara jauh lebih baik sayang." Ekspresi wajah Embun langsung berubah masam, mendengar Ompungnya memuji Tara.


"Jangan lakukan hal seperti kemarin. Kamu pergi meninggalkan kami semua dan memilih pergi dengan lelaki yang kita belum kenal asal usulnya." Ucap Ompung Boru. Saat itu juga Embun menjauhkan tubuhnya. Dia kembali membuang wajah dari Mama dan Ompungnya itu.


"Embun, dengarkan Ompung. Dalam pernikahan itu tidak cukup hanya cinta. Tak hanya soal sah dan menyatukan antara kamu dan Halletmu itu sayang. Menikah juga merupakan salah satu proses menyatukan keluarga. Keluarga kita dan keluarga pasanganmu nantinya." Ucapan Ompung Boru terhenti. Karena Embun menampilkan wajah kesal. Dia turun dari ranjangnya. Berjalan ke arah jendela. Menyibak tirai itu dengan kuat.


"Restu Keluarga Adalah Kunci Bahagia Pernikahan. Sepertinya kamu tidak bisa diberi nasehat saat ini. Karena rasa cintamu sedang menggebu-gebu. Hanya satu pinta Ompung. Jangan permalukan Keluarga besar kita. Undangan sudah disebar." Ucap Ompungnya dengan menitikkan air mata. Wanita tua itu keluar dari kamar Embun dengan dituntun oleh Mama Nur. Saat itu juga, Ompung Boru terkejut melihat sosok pria di ambang pintu.


TBC

__ADS_1


Tinggalkan jejak nya dong kak, dengan like coment positif dan Vote. Karena point-point itu sangat ku harapkan untuk menaikkan popularitas novel ini. Terimakasih ❤️🤗


__ADS_2