
Ungkapan hati sang suami yang tulus itu membuat Melati jadi terharu. Sebegitu rapuhnya suaminya itu sampai berkata seperti itu. Melati jadi teringat kejadian dua bulan yang lalu saat Ardhi marah besar di kamarnya. Ternyata suaminya itu tipe pria yang tidak mau larut dalam kesedihan. Cukup melampiaskannya sekali dan lalu bangkit, mencari cinta baru.
"Gak nangis koq mas. Adek terharu saja, gak menyangka kita berjodoh dengan cara yang tak terduga." Melati berjalan ke arah ranjang mereka yang memang dekat meja riasnya. Duduk di tepi ranjang dan masih memegangi hijab sorongnya.
Ardhi ikut duduk di tepi ranjang tepat di sebelah kanannya sang istri. Menatap lekat Melati yang tatapannya menerawang itu. Wanita itu sedang mengingat semua kejadian di rumah Utami Ardhi saat dia jadi pembantu di rumah itu.
"Iya Dek, gak menyangka. Tapi, mas bersyukur bisa berjodoh dengan adek." Ardhi meraih jemari Melati yang berada di atas paha istrinya itu. Melati yang terkejut itu hendak menarik tangannya. Tapi, keburu digenggam sang suami.
"Kenapa bersyukur?" tanya Melati melirik Ardhi dengan tersipu malu.
"Ya karena, adek itu wanita yang Soleha, dan sangat cantik."
"Jadi, seumpama adek jelek. Abang gak bersyukur dong?!" Sebenarnya Melati ke gr an di katakan cantik. Tapi, dia kesal juga pada Ardhi yang bilang seneng karena dia cantik.
Ardhi tersenyum tipis berusaha melihat wajah Melati yang nampak kesal itu.
"Cantik itu relatif dek. Bagi Mas, adek itu sangat cantik. Belum tentu buat yang lain. Begituloh!" terus menundukkan wajahnya dan mencondongkan kepada Melati. Ardhi dibuat gemes dengan Melati yang selalu menghindari tatapannya.
"Iiih.... Mas lihatnya begitu amat." Melati akhirnya menoleh kepada Ardhi yang tersenyum manis itu.
"Habis, wajahnya tertutup rambut adek yang panjang dan wangi." Ardhi akhirnya menyisipkan rambut Melati yang menutupi sebagian wajahnya ke daun telinga sang istri. Keduanya saling tatap, beradu pandang. Dari gerak-geriknya Ardhi, sepertinya pria itu ingin mengecup bibir sang istri.
Tentu saja Melati jadi tidak tenang. Dia akan di cium suaminya itu dengan sadar. Melati yang malu, seperti ingin menghindar dari Ardhi yang nampak memposisikan kepalanya guna bisa mengecup bibir Melati yang warna pink itu.
Melati menutup matanya dengan ekspresi wajah yang takut, tapi pasrah. Mencoba menenangkan debaran jantung yang tak jelas iramanya lagi.
Tiga
Dua
__ADS_1
Satu
"Allahuakbar.... Allahuakbar..."
Suara adzan terdengar kuat. Melati yang terkejut, mendorong wajahnya Ardhi refleks. Wanita itu bangkit dari duduknya sembari memegangi dadanya yang bergemuruh itu.
"Sho--Sholat, Sudah dapat sholat magrib Mas." Ucapnya dengan terbata-bata karena gugup. Memegangi dadanya yang masih bertalu-talu itu. Masuk ke kamar mandi untuk berwudhu.
Huufftttt...
Ardhi menarik napas panjang. "Kenapa begitu susah sih? aku seperti habis naik gunung saja, koq ngos ngosan gini sih?" ucapnya pelan, sambil menggeleng lemah menyusul Melati ke kamar mandi.
Mereka berdua pun akhirnya berwudhu dalam diam. Tak ada yang bicara satu sama lain. Karena keduanya diserang malu.
Mereka pun sholat berjamaah di dalam kamar itu. Setelah ciuman yang gagal itu, keduanya sudah nampak lebih akrab. Ardhi menyodorkan tangan dan Melati meraihnya cepat dan menyalimnya. Wanita itu langsung bangkit, tidak berani menyodorkan keningnya untuk dikecup Ardhi.
Saat itu juga suara bel rumah berbunyi. Ardhi melipat sajadahnya dan berjalan ke luar.
Melati merapikan sajadah serta mukenahnya. Dia menatap dirinya di cermin dengan tersipu malu. Merasa wajahnya sedikit pucat. Dia pun mengambil Liptin dari tas make up nya yang masih ada di tas ranselnya. Menoleh ke arah pintu, mawas diri, siapa tahu suaminya itu sudah masuk. Dengan cepat Melati mengoles Liptin itu. Entah kenapa dia ingin terlihat cantik untuk suaminya itu.
"Astaghfirullah...!" Suara getaran ponsel Ardhi terdengar keras di atas meja rias. Melati sampai terjingkat saking terkejutnya. Dengan memegangi dada yang masih berdebar-debar, Melati memperhatikan nama yang sedang memanggil itu. Ada nama Rudi.
Ceklek...
Melati kembali terkejut, mendengar suara pintu kamar itu dibuka. Ada Ardhi yang masuk dengan tersenyum manis.
"Siapa yang menelpon?" tanyanya menghampiri sang istri.
"Rudi Mas." Jawab Melati memberi jarak pada sang suami, agar suaminya itu punya ruang untuk meraih ponselnya.
__ADS_1
Ardhi mengangkat telepon dari Rudi. Tapi matanya terus saja menatap sang istri yang terlihat berbeda dari tadi. Hanya goresan liptin di bibir yang tambah. Sudah membuat wajah Melati berbinar-binar.
"Iya, iya. Kamu urus semuanya. Sebentar lagi saya akan ke sana." Melati akhirnya penasaran. Suaminya itu mau ke mana?
"Ayo kita makan Dek." Ardhi langsung merangkul pundak Melati. Mereka pun berjalan ke arah ruang tamu yang luasnya 3x6 itu, dipojokan ruangan itu ada meja makan dan dua kursi. Sebenarnya rumah ini terlalu kecil. Ardhi kurang suka. Tapi, mau gimana istrinya itu maunya begini.
"Mas pesan semua makanan ini?" Melati memperhatikan makanan yang sudah di hidang di atas meja itu dengan tak percaya. Banyak sekali makanannya.
"Iya Dek, mas lapar. Gak apa-apa ya kita makan di rumah saja." Ardhi merasa tidak enak. Tadikan dia bilangnya mau makan di luar bersama istrinya itu.
"Iya Mas gak apa-apa." Jawab Melati masih dalam ketercengangannya. Menatap satu persatu makanan itu. Ada daging asam manis, ayam penyet, muzair bakar sambal Bali, capcay, telur dadar, serta minumnya juice tiwung. Menu Indonesia banget. Mungkin suaminya itu menyesuaikan dengan seleranya. Maklum Melati lama tinggal di kampung dan merantau ke kota pun hanya jadi pembantu. Main ke Mall saja masih bisa dihitung dengan jari.
Kali ini Melati pun makan dengan lahap. Entah karena lapar, atau makanan mereka itu yang enak. Dia pun tak tahu. Walau begitu Melati tidak ingin makan banyak. Dia takut muntah-muntah lagi.
"Sudah selesai?" tanya Ardhi melihat nasi sang istri sudah habis di atas piring.
Melati mengangguk dengan tersenyum tipis. Menatap sang suami yang masih makan dengan lahapnya.
"Itu," Ardhi menjulurkan tangannya, ingin melap saos yang menempel di sudut bibir sang istri. Tapi, belum sampai tangannya Ardhi. Melati sudah terlebih dahulu menjilat saos itu dengan lidahnya dan cangir pada Ardhi.
"Makan saja belepotan." Ucapnya kembali melanjutkan makannya. Melati hanya tersenyum manis menanggapi sang suami.
Melati merasa senang sekali. Baru kali ini dia makan berdua dengan pria dan itu suaminya sendiri. Acara makannya lumayan romantis, karena ada lilin di tengah meja makan mereka.
Melati yang sudah selesai makan itu pun langsung meminum obatnya. Memperhatikan Ardhi yang masih lahap makan ikan bakar.
"Mas harus ke rumah sakit. Adek ikut ya?" Ardhi sudah selesai memberesi piring membawanya ke wastafel. Melati hanya terbengong melihat sang suami yang memberesi piring dengan cepat selesai makan. Suaminya itu mau mencuci piring mereka.
"Siapa yang sakit Mas?" tanya Melati dengan penasarannya. Masih duduk di kursi meja makan, memperhatikan sang suami mencuci piring.
__ADS_1
"Ibu." Seketika raut wajah Melati muram.
TBC