DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Pingin cucu


__ADS_3

"Jadi, selama empat bulan ini. Marilah kita bangun komunikasi yang baik. Jikalau pun nantinya kita tidak berjodoh. Kita kan masih saudara." Ucapan Tara lagi-lagi membuat Embun terperangah. Sesimpel itukah jatuh cinta itu dikonsep otaknya? entahlah...


Yang bisa dilakukan Embun saat ini hanya menganggukkan kepalanya. Pertanda setuju dengan permintaan Tara. Menjalani sisa kebersamaan mereka yang tersisa empat bulan lagi, dengan baik, layaknya sebuah keluarga harmonis.


Embun tersenyum membalas tatapan sendu suaminya itu. Tara pun ikut tersenyum.


"Abang tahu, kamu sangat mencintai Pak Ardhi. Setulus apapun Abang padamu. Posisinya di hatimu tidak bisa Abang gantikan. Iya kan?" Embun terdiam mendengar ucapan Tara. Tidak bisa menyangkalnya. Karena, memang saat ini dia masih mencintai Ardhi. Tapi, Tara juga sudah memporak-porandakan hatinya. Apalagi sekarang, dia sudah tahu perasaan suaminya itu padanya. Ternyata, suaminya itu sejak kecil sudah mencintainya. Sedangkan Ardhi, mengatakan cinta padanya saat dia sudah kuliah. Kira-kira empat tahun lalu. Tapi, baru satu bulan ini mereka jadian. Karena Embun takut pacaran. Karena, dilarang ayahnya.


"Sikap Adek yang berubah baik pada Abang, sudah membuat Abang bahagia. Abang tidak berani memaksa agar Adek membalas cinta Abang. Karena, Adek masih mencintai Ardhi. Walau sebenarnya Abang sangat berharap Adek mencintai Abang nantinya." Tara menarik napas dalam, sembari tersenyum pada Embun yang nampak speechless itu.


Sangat wajar Embun bersikap speechless saat ini. Wanita itu benar-benar kehilangan kata-kata, untuk menanggapi semua ungkapan perasaan cinta suaminya itu. Dia terkagum-kagum pada sosok Tara. Dia pun jadi takut salah ucap. Biarlah dulu dia menyelami perasaannya kepada suaminya itu.


"A--ku, aku akan memikirkannya dulu. Jujur mengetahui fakta semua ini dari Abang, membuatku sangat terharu. Aku tidak menyangka, Abang mencintaiku sebegitu besarnya. Aku jadi merasa tidak pantas untuk Abang."


"Shiiittt.. !" Tara langsung menempelkan telunjuknya di bibir mungil istrinya itu. Dia tidak mau mendengar Embun mengatakan tidak pantas untuknya. Embun menatap sendu Tara. Meraih jari telunjuk Tara dari bibirnya.


"Tidak usah Adek jawab sekarang. Ok." Kini Tara menggenggam jemari Embun dan mengecupnya cepat. Entah kenapa dia senang sekaligus geram, kepada istrinya itu.


"Apaan sih, suka kali menciumku." Ketus Embun cemberut.


"Cium tangan saja masak gak boleh sih?" Tara merajuk, membuat ekspresi wajah lucu. Hingga keduanya tertawa lepas. Memandang indahnya ciptaan Allah di pagi hari dari atas balkon


"Jadi, siapa wanita yang menolak cinta Abang itu?" Tara menatap Embun, ternyata wanita itu belum percaya sepenuhnya padanya.


"Adek." Jawab Tara cepat.


"Koq aku, emang Abang pernah utarakan cinta padaku?" tanya Embun bingung, menunjuk dirinya.


"Gak Abang utarakan. Gimana mau utarakan, Adek aja berpecat sama Abang." Ujar Tara.


Embun tertawa kecil, dia malu dengan tingkahnya dulu.

__ADS_1


"Sudah Abang utarakan, moga nantinya diterima." Tara ikutan tertawa kecil, merasa iba pada diri sendiri.


"Adek perlu waktu." Ucapnya sendu teringat Mas Ardhinya. Saat itu juga Embun merasa mual. Dia pun muntah, Tara panik.


"Adek kenapa? kita masuk ke dalam. Disini terlalu dingin " Tanpa aba-aba, Tara langsung membopong Embun ke atas ranjang. Wanita itu masih merasa mual.


" Masih mau muntah, muntahkan aja Dek." Ujar Tara penuh kepanikan. Dia yakin Embun masuk angin ini. Karena tadi malam dia tidak makan. Hanya makan salad, sekitar pukul lima sore.


"Ke kamar mandi saja. Muntah disini nanti ranjangnya kotor. Kasihan Bu limah, capek bersihin nanti." Ujar Embun, mulai bergerak dari ranjang. Lagi-lagi Tara membopong Embun ke kamar mandi.


Sesampainya di kamar mandi. Embun muntah sehebat-hebatnya. Hingga isi perutnya kosong. Dan cairan yang keluar pun sudah berwarna kuning pucat. Bahkan Embun sudah merasa air ludahnya pahit.


"Adek masuk angin ini." Tara membantu Embun membersihkan mulutnya penuh dengan sentuhan penuh kasih sayang. Embun jadi terharu, Tara begitu mengkhawatirkan dan sangat menyayanginya.


Kenapa sih dulu benci banget sama suaminya ini. Dan sekarang dia menyesalinya. Harusnya mereka sudah dekat dari awal.


"Embun sayang, kamu kenapa?" Mama Mira yang datang membawa sarapan untuk anak dan menantunya, mendegar Embun muntah-muntah di kamar mandi.


"Ya Allah, terimakasih akhirnya aku akan punya cucu." Mama Mira langsung berhambur memeluk Embun yang baru saja selesai dengan ritual muntahnya.


Wajah pucatnya kini berubah jadi bingung dan kaget. Begitu juga dengan Tara, dia sangat terkejut mendengar ucapan syukur ibunya.


Gimana mau hamil, tidur saja pisah. Tara membathin, menatap dua wanita dihadapannya dengan lesu. Dia pun teringat bahwa tiga hari yang lalu, Embun baru menstruasi dan pagi ini istrinya itu sudah sholat shubuh. Apa istrinya itu sudah tidak haid lagi. Koq cepat ya, tiga hari sudah bersih.


Tara pun teringat tadi malam, saat melepas pakaian Embun. Pembalut yang dikenakan istinya itu bersih.


"Mama senang sekali sayang." Mama Mira mencium keningnya Embun dengan hangatnya. Wajah cantiknya Mama Mira sumringah.


"Ini harus dirayakan. Kita harus banyak bersedekah." Kini Mama Mira memegang perut Embun dan mengelus-elusnya.


Tara dan Embun saling pandang, dengan raut wajah penuh kebingungan. Bagaimana mau hamil belah duren saja belum pernah. Lagi-lagi Tara membathin.

__ADS_1


"Tara sayang, ayo gendong istrimu. Dia tidak boleh kecapean. Ini kandungan harus dijaga betul. Ayo sayang, gendong Embun.


Tara dan Embun kembali saling pandang, raut wajahnya penuh kebingungan. Embun mengkode Tara dengan gerakan bibirnya. Agar suaminya itu, mengatakan bahwa dia belum hamil. Tapi, Tara tidak mengiyakan kode dari Embun.


Akan ku manfaatkan moment ini untuk lebih dekat dengannya. Tara membathin, dia pun menggendong Embun dengan raut wajah penuh kebahagiaan. Kapan lagi dia bisa bebas menyentuh istrinya itu. Kalau bukan sekarang.


Setelah Embun berbaring di atas ranjang. Dia pun mengubah posisinya jadi duduk dan bersandar di headbord tempat tidurnya.


Mama Mira langsung meminta Tara untuk menyuapi Embun.


"Suapin Embun ya Tara. Mama ke kamar ambil Handpone dulu. Mau kabari Tulang dan Nantulang mu di kampung." Ujar Mama Mira dengan tidak sabarannya.


"Mama, sepertinya Embun tidak hamil. Embun hanya masuk angin ini Ma." Ujar Embun tegas, sehingga Mama Mira menghentikan langkahnya.


Wanita yang berumur 45 tahun itu pun, berbalik badan. Berjalan lemas ke ranjang Embun.


"Koq Bilang begitu sayang?" Tanya Mama Mira sedih. Menatap Tara, yang melototkan matanya kepada Embun. Tara kesal, sepertinya Embun akan ngomong kalau dia tidak hamil.


Embun menunduk, dia malu.


"Embun baru tadi pagi mandi wajib Bou. Embun batu selesai Menstruasi, ya berarti Embun belum hamil.


Mama Mira sedih dan merengek. Dia menatap kesal anaknya, yang menurutnya tidak berguna. Masak menghamili istri sendiri tidak bisa. Padahal dirinya dulu, langsung berisi setelah menikah. Karena Mama Mira tidak menstruasi lagi setelah malam pertama.


"Sebelum mama kembali ke Lampung. Sudah Mama bilang, cepat beri Mama cucu. Tapi, lihatlah. Membuat Embun hamil saja, kamu tidak bisa." Ketus Mama Mira. Sambil berdecak kesal, menatap putranya itu.


"Iya Ma, sabar. lagian Embun masih muda. Dia juga masih mau melanjut ambil S-2." Bujuk Tara memberi pengertian pada Mamanya.


Embun jadi sedih, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Jikalau dia berpisah dari Tara dan kembali kepada Ardhi.


TBC

__ADS_1


__ADS_2