
"Lepaskan..!" Embun berontak.
Tara tidak menggubris hardikan Embun, Dia malah semakin perkuat cekalan tangannya dengan tersenyum menyeringai.
Embun ketakutan, karena melihat gelagat Tara yang tidak seperti biasanya. Dia merasa terancam, apalagi sekarang di rumah itu hanya mereka berdua.
"Ka---mu mau apa?" Embun tergagap.
Dengan sekali gerakan, kini Embun sudah berada direngkuhan Tara. Embun berusaha untuk lepas. Tapi, usahanya sia-sia. Karena Tara merengkuh pinggan Embun dengan kuat.
Bahkan Tara mendekatkan wajahnya, sehingga Embun memundurkan kepalanya dan kedua tangannya bertumpu ke dada bidangnya Tara, mendorong tubuh pria itu agar menjauhinya.
"Lepasin, kamu jangan macam-macam. Ingat perjanjian. Kalau kamu macam-macam. Aku juga akan melanggar perjanjian itu, dan selamanya Aku akan membenci kamu...!" Ucapan Embun yang penuh kebencian, membuat Tara melonggarkan pelukannya. Dia paling takut, apabila Embun semakin membencinya.
Rengkuhan tangan Tara di pinggangnya Embun terlepas. Dengan lirikan mata penuh kewaspadaan Embun berlari menuju kamarnya, menaiki tangga dengan berlari kencang.
Embun ngos-ngosan, Dia telah sampai di depan pintu kamar. Embun menekan handle pintu, sambil menarik napas dalam dan mengeluarkannya pelan.
"Kurang ajar, laki-laki mesum. Enak saja main peluk-peluk. Mana itu tadi bibirnya mau menyosor lagi. Mas Ardhi saja belum pernah cium bibir gue. Masak si Tara mesum itu mau mencicipinya. Tidak...! Najis...!" Embun mengomel-ngomel setelah masuk ke kamar.
"Ku kunci pintunya, agar Dia gak bisa masuk." Ucap Embun mengunci pintu kamar mereka. Dia berbalik badan, dengan menepuk-nepuk kedua tangannya. Merasa hebat karena berhasil, lari dari Tara.
"Arrrrgghhhh...!" Embun berteriak, kemudian menutup mulutnya. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Matanya melotot sempurna.
"Ka---mu, Kaa--mu kenapa sudah sampai di sini?" ucap Embun gagap dan ketakutan melihat Tara yang duduk dengan tenangnya di tepi ranjang mereka dengan kaki menyilang. Embun heran, kenapa Tara bisa sampai duluan di kamar?
__ADS_1
Tara tersenyum, Dia malah menikmati wajah Embun yang panik itu.
"Ayo sini duduk, banyak yang harus Abang bicarakan padamu. Agar kamu tidak bengong begitu." Tara menepuk ranjang di sebelah kanannya. Embun menggeleng.
"Aku tidak mau." Ketus Embun melotot kepada Tara.
"Ya sudah." Ucap Tara santai, Dia pun membaringkan tubuhnya di ranjang. Melirik Embun yang mulutnya komat-kamit. Bicara sendiri karena terheran - heran, kenapa Tara sudah ada di kamar itu. Padahal saat Dia berlari dan menaiki anak tangga. Tara tidak mengikutinya.
Hening.... sesaat.
Embun berjalan ke arah pintu dan membukanya lebar.
"Keluar kamu, Aku ingin tidur. Aku mau istirahat, capek. Aku juga masih sakit. Jadi, butuh istirahat banyak agar cepat pulih. Melihat kamu di kamar ini, membuat Aku kesal, muak." Ketus Embun tangannya menunjuk arah pintu.
Tara tidak menggubris ucapan Embun, ucapan Istrinya itu benar-benar membuat hatinya hancur. Sebegitu bencikah Embun kepadanya?
"Eehhh, jangan pura-pura tidur. Aku tahu kamu belum tidur. Sana kamu cari kamar lain. Rumah ini luas. Pasti banyak kamar kosong. He, He, kamu bangun jangan tidur di sini." Ketus Embun dengan berdecak kesal menatap Tara.
"Ubah dulu cara bicara Adek, agar Abang bisa mencerna kalimat yang Adek ucapkan. Kuping ku ini tidak bisa mendengar ucapan yang tidak sopan." Ucap Tara lembut, dengan mata masih tertutup. Dia sebagai suami merasa harga dirinya diinjak-injak. Tidak bisakah istrinya itu mengucapkan kata-kata yang baik dan tidak menyakiti hati.
"Orang Aku benci kamu, mana bisa berkata manis." Jawab Embun ketus.
"Apa Adek tahu bagaimana perasaan ku pada Adek? tidak tahu kan? tapi, Abang selalu berusaha bersikap baik dan hangat." Tara membuka mata dan langsung terduduk, menatap Embun yang juga menatapnya.
"Aku tidak bisa bersandiwara. Kalau benci ya benci. Aku tidak bisa manis di bibir." Jawab Embun tak mau kalah.
__ADS_1
Tara bangkit dari ranjang, berdiri tepat di hadapan Embun.
"Bersikap sewajarnya saja. Jadi, disaat rasa bencimu itu hilang dan berubah jadi cinta. Maka kelak kamu tidak merasa bersalah dengan sikap kasarmu ini." Ucap Tara menatap Embun yang terkejut di hadapannya.
"Siapa juga yang akan mencintaimu. Dasar sok ke PD an." Ucap Embun meremehkan. Tara menghentikan langkahnya mendengar ucapan Embun. Dia mengelus dadanya. Merasa tenang, Tara menekan tombol. Dan pintu lift terbuka.
Kedua bola mata Embun kembali melotot melihat Tara memasuki lift.
"Apa? ada lift di rumah ini? pantesan Dia bisa sampai duluan di kamar ini." Ucap Embun takjub dengan fasilitas yang ada di rumah Tara.
Sepeninggalannya Tara, Embun langsung membaringkan tubuhnya di ranjang empuk itu. Sesaat Dia menyesali sikap kasarnya kepada Tara. Tak seharusnya Dia seperti itu. Tapi, Dia benar-benar membenci pria itu. Gara-gara pria itu, Dia jadi berpisah dengan Ardhi.
"Eeehh... Tapi, ini tidak kesalahannya seratus persen. Ini salahnya Ayah. Anehnya Dia malah mau menyerahkan ku kepada Mas Ardhi? koq Dia mau ya melakukan itu? apa sebenarnya tujuan Dia." Ucap Embun, otaknya berfikir keras. Menebak-nebak perasaan Tara kepadanya.
"Apa Dia menyukaiku? sehingga Dia mau menerima perjodohan ini? Tapi, tidak mungkin Dia suka padaku. Aku ini apalah, dibandingkan dengannya. Aku sih masih kalah jauh. Dia kaya, tampan, terus penyayang. Dia begitu menyayangi Bou dan Amangboru. Ompung juga." Embun terus saja mengoceh, sambil menatap langit-langit kamar yang dihias begitu indah itu.
"Koq Aku muji-mujji Dia sih? coba waktu kecil Dia baik padaku dan tidak membuat Doli meninggal. Mungkin hubungan kami tidak akan seburuk ini. Aku benci Dia, Dia selalu buatku menangis. Aku yakin, Dia juga melakukan pernikahan palsu ini hanya untuk membuatku menangis. Dasar pria aneh, jahat, psikopat." Embun mengumpat sembari memukul bantal yang di peluknya. Dia pun akhirnya berkonsentrasi, agar bisa tertidur dan tak butuh waktu lama Dia pun tertidur pulas.
Sedangkan Tara kini berbaring lemas menatap layar ponselnya yang menampilkan wajah Embun yang tertidur itu. CCTV di kamar itu, terhubung ke ponselnya.
"Ku harap nanti disaat kamu bertemu dengan Doli, kamu mengenalnya." Ucap Tara, mematikan ponselnya.
"Embun, akankah kamu akan membalas cintaku? Doli masih hidup, Aku tidak pernah jahat dan berniat membuat mu menangis. Aku hanya tidak tahu cara mengekspresikan rasa suka ku dulu padamu. Setiap tingkah usilku, kamu anggap serius." Gumam Tara dalam hati.
"Haruskah Aku melupakanmu dan membuang rasa cinta yang berkarat ini? rasanya Aku tidak punya harapan? kamu dan Ardhi saling mencintai. Pak Ardhi memang pria yang baik dan cocok untukmu. Haruskah Aku membuka hati pada wanita lain? agar hatiku tidak tersiksa begini? tapi, apakah Aku bisa melakukan itu?" Tara membathin, Dia menutup matanya. Membayangkan Embun saat masih jadi gadis kecil.
__ADS_1
TBC.
Like coment positif dan Vote say 😊 Mohon dukungannya.