
POV Embun
"Hari ini Abang ingin mengajakmu jalan-jalan." Ucapnya dengan terseyum setelah menyeruput cappucinonya. Baru ku sadari senyumannya memang manis. Kalau dilihat-lihat dengan detail, Paribanku ini memang sangat tampan. Kulitnya juga putih bersih. Badannya tegap, Dia memang macho. Tapi, tetap saja pesona Ardhi tak bisa terkalahkan di hatiku.
Mas Ardhi sudah bagaimana kabarnya sekarang. Apakah Dia mencemaskanku yang tidak ada kabar ini? ternyata rekan bisnisnya Paribanku itu, bukan Mas Ardhi. Kata si Tara, teman bicaranya itu sudah Bapak-bapak. Bahkan si Bapak-bapak yang Dia maksud, wajahnya tidak dikenalinya. Karena Bapak-bapak yang namanya Ardhi itu, melakukan Zoom dengannya memakai masker dan topi.
Aku sudah mengirim pesan ke sosmednya Mas Ardhi, tapi ternyata Dia sudah dua hari gak aktif. Aku sangat berharap Dia membaca chat ku itu dengan cepat.
"Kenapa diam dan bengong begitu? Adek sepertinya sedang mengagumi ketampanan ku." Ucapnya lagi dengan tertawa kecil. Dia terlalu percaya diri sekali. Baru ku tahu, kalau Dia orangnya rame, walau pembawaannya cool. Seperti kulkas dua pintu.
Ya, kedua bola mataku memang melihat ke arah Dia. Tapi, Aku bukan sedang menikmati ketampanannya. Aku sedang berfikir, bagaimana caranya agar pernikahan ini batal. Dan tidak ada yang tersakiti. Aku hanya ingin menikah dengan Mas Ardhi.
Aku akhirnya mengalihkan pandanganku, menarik napas dalam, untuk menenangkan gejolak jiwaku yang sedang tidak karuan ini. Ku sedot juice sirsak ku sampai habis setengah tanpa jeda.
"Aku juga ingin bicara denganmu." Akhirnya ku jawab ajakannya dengan tidak semangat. Ya, ini kesempatannya untuk bicara dengannya. Aku akan memprovakasinya. Agar pernikahan ini bisa dibatalkan, walau sebagian undangan sudah disebar.
Dert----Dert---dert---
Suara ponselnya bergetar keras di atas meja. Abang Tara pun mengangkat panggilan itu.
Aku tidak tertarik untuk menguping pembicaraannya. Aku melempar pandanganku, menyoroti setiap sudut Mall. Memperhatikan orang-orang yang lalu lalang dan berbagai macam toko yang terjangkau mataku. Aku sedikit senang, satu Minggu dikurung Ayah akhirnya bisa melihat keramaian juga.
"Tulang menelpon, menanyakan keberadaanmu." Ucapnya, Aku pun menoleh kepadanya yang masih tersenyum. Aduuhh--- kenapa ya pria ini senyum terus. Apa kejadian di kamar mandi masih terekam dipikirannya? entahlah, itu urusan Dia. Malu, malu sih, tapi mau gimana lagi. Namanya musibah.
"Ayah sedang mengurungku. Aku tidak diperbolehkan keluar dari rumah. Tanpa persetujuan Ayah." Ucapku malas. Mengingat Ayah, darahku rasanya akan mendidih. Dia terlalu mengekangku. Semua serba di atur. Bahkan uang jajanku pun dibatasi. Mau cari uang tambahan dengan kerja freelance tidak dibolehkan. Tapi, uang dijatah. Syukur ada Mas Ardhi yang selalu royal kepadaku.
"Iya, Abang tadi sudah minta izin, untuk ajak kamu jalan-jalan." Ucapnya masih tersenyum.
"Emang dibolehin?" tanyaku girang.
"Boleh, Abang bilang kita perlu waktu berdua. Agar mengenal satu sama lain." Ucapnya dengan masih tersenyum, sekaligus mengedipkan sebelah matanya tepatnya mata kirinya.
Iiihhh---- koq Dia jadi nampak genit gitu ya? Apa Dia sedang menggodaku? Aku tidak akan tergoda
"Kamu tidak ceritakan kepada Ayah, membelikan Aku ponselkan?" tanyaku penuh selidik. Aku tidak mau Ayah tahu, kalau Aku punya ponsel. Dia pasti merampasnya lagi.
"Tidak." Jawabnya singkat dan menyeruput cappucinonya.
"Jangan ceritakan, Ayah tidak ingin Aku memegang ponsel." Jawabku malas.
"Ok." Jawabnya singkat, masih tersenyum manis. Aduhhh--- kenapa Dia tersenyum terus. Padahal kan bawaan tubuhnya cool gitu.
"Ooohh.... Apa kita bisa pergi sekarang. Aku ingin ke GraPARI." Ucapku. Aku harus cepat mengaktifkan nomor ponselku. Siapa tahu sudah ada pesan masuk dari Mas Ardhi.
Seandainya Aku hapal nomor ponselnya, Aku sudah menghubunginya dengan nomor baru ini.
"Ayok---!" ucap Iban Tara bangkit dari tempat duduknya dengan semangat. Dia menjulurkan tangannya, ingin membantuku bangkit dari kursi.
__ADS_1
Eeemmmm---- Aku bisa sendiri kali. Aku pun mengabaikan tangannya. Dia pun tersenyum kecut. Aku mengekori nya. Tidak sudih berjalan beriringan dengannya.
***
POV Tara
Kami sudah berada di dalam mobil. Aku akan mengajaknya ke kota Sipirok. Yaitu kota kecil yang mempunyai pemandangan indah bak negara New Zealand. Jarak dari kota PSP ke kota Sipirok sekitar tiga puluh menit.
Suasana hawa sejuk dengan pemandangan perbukitan dan persawahan yang indah, membuat pikiran rileks.
Aku mengenderai mobil dengan kecepatan sedang. Embun sedari tadi hanya diam, menampilkan ekspresi wajah kusut, penuh dengan pikiran. Aku jadi penasaran apa yang dipikirkannya. Apakah mengenai hubungan ini? entahlah, Aku akan menanyakan semuanya nanti di atas bukit Simago-mago.
Simago-mago adalah sebuah bukit, yang menampilkan pemandangan indah kota Sipirok.
Flashback on
Kejadian di GraPARI cukup lucu, Dia yang tidak hapal dengan no ponselnya sendiri. Membuatnya kesusahan untuk mengaktifkan kembali no nya yang lama.
Ego nya masih tinggi, hingga Dia tidak mau bertanya kepadaku. Apakah Aku menyimpan no ponselnya atau tidak.
Sehingga Dia terus saja memberi no acak kepada petugas GraPARI tersebut. Aneh, memang aneh. Tapi, akhirnya Dia mendekatiku juga, di kursi tunggu.
"Eeemmmm itu, tolong hubungi Mama. Tanyakan kepada Mama berapa no ponselku." Ucapnya dengan memelas, meremas-remas jemarinya.
Aku menampilkan ekspresi wajah datar, saat menatapnya yang nampak ragu meminta bantuan.
"Iya benar juga. Kamu juga sudah pasti tidak tahu no hp ku kan? Sudahlah----!" ucapnya kesal, mengibaskan tangan kanannya sebagai ekspresi kekesalannya.
Aneh wanita ini, Dia bertanya dan Dia menjawab sendiri. Padahal Aku punya no ponselnya. Karena Dia tidak meminta, ya udah. Aku diam saja.
Flashback off
Kami sudah duduk di atas rumput di atas bukit Simago-mago. Tempat ini mirip Savana, tapi di atas Bukit.
"Kenapa Abang menerima perjodohan ini?" tanyanya menatap ke arahku. Aku pun menoleh, sehingga kami bersitatap. Tapi, Dia dengan cepat memalingkan wajahnya.
Aku bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin ku katakan terus terang. Bahwa Aku mencintainya sejak kami remaja. Tepatnya sejak Aku suka kepada lawan jenis. Dia bisa GR.
"Tidak ada alasan khusus. Aku hanya ingin membahagiakan Ompung dan orang tua kita." Jawabku. dengan ekspresi wajah serius. Memang benar, walau Aku sangat mencintai Embun. Tidak pernah aku meminta orang tuaku untuk meminta Embun jadi istriku. Karena ku tahu Embun membenciku, sejak kejadian mengerikan bersama Dolly. Teman masa kecil kami.
Aku juga sempat terkejut, disaat Tulang. Ayahnya Embun, memintaku menikahi putrinya. Ditambah Ompung juga menginginkannya.
"Kalau itu alasannya, bisakah kita batalkan pernikahan ini. Aku tidak bisa menikah denganmu." Ucapan Embun, membuat jantungku berhenti berdenyut. Kata-katanya itu, sangat menyakitkan sekali. Rasanya dadaku sakit dan sesak. Aku seperti terlempar ke dasar bukit Simago-mago ini. Benar-benar Aku merasa tidak diinginkan.
Aku membuang wajahku dari tatapannya
Menatap lurus ke depan. Memandang indahnya kota Sipirok dari ketinggian ini. Menarik napas dalam, mempersiapkan kata-kata yang tepat untuk beradu argumentasi dengannya.
__ADS_1
"Adek pikir, Aku juga senang dengan perjodohan ini. Tidak---!" ucapku bohong, tidak berani menatapnya. Aku sebagai pria juga punya harga diri. Aku tidak akan menunjukkan sikap begitu menginginkan pernikahan ini.
"Kita sama-sama tidak ingin pernikahan ini. Orang tuaku sudah tahu, Aku tidak ingin menikah dengan Abang. Tapi, mereka selalu membuat Ompung Boru sebagai alasan. Abang begitu dekat dengan Ompung Boru. Sebelum terlambat, mari kita memohon kepada Ompung Boru. Agar pernikahan ini dibatalkan." Ucapan Embun membuat hatiku hancur. Aku meremas kuat rerumputan di sebelahku.
"Aku tidak ingin mengecewakan mereka. Semua keluarga besar ingin kita menikah." Ucapku memberi alasan.
"Menikah tanpa cinta, itu sama saja kita sedang berada dalam neraka." Ucapnya mulai terisak. Akupun akhirnya menoleh kepadanya.
"Please---- Jangan siksa hidupku lagi. Aku juga ingin bahagia. Aku tidak bisa menikah denganmu. Aku membencimu." Ucap Embun masih menangis. Dia menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya.
Lagi-lagi pernyataannya membuat hatiku terluka, sakit tapi tidak berdarah. Sebegitu bencikah Dia kepadaku.
Iya benar Dia sangat membenciku. Itu terbukti sudah belasan tahun, sejak kejadian bersama Dolly Dia tidak mau melihat wajahku.
"Apakah hanya kebencian itu, alasannya kamu menolak perjodohan ini?" ucapku sedikit ragu. Tapi Aku penasaran. Jikalau alasannya menolak perjodohan ini karena Dolly. Maka itu masalah bisa ku atasi. Aku akan menjelaskan duduk permasalahan sebenarnya.
Tapi, kalau alasannya adalah karena adanya pria lain. Aku pun akan mundur. Karena, Aku sempat mendengar kalau Dia sudah punya kekasih.
Dia mengangkat wajahnya. Mengusap wajahnya yang kusut dengan jemarinya, sampai menyisir rambutnya yang tergerai panjang dengan jemarinya, sampai kebelakang.
"Aku sudah punya kekasih," ucapannya terhenti. Dia nampak menarik napas dalam. "Aku dan Dia akan menikah setelah wisuda. Tapi, Ayah memaksaku menikah denganmu." Ucapnya menatap ku penuh dengan kekesalan. "Padahal Aku sedang mempersiapkan sidang skripsi. Kenapa mendadak dipaksa menikah?" Dia meninggikan nada bicaranya. Dia benar-benar nampak frustasi.
Aku terdiam, karena merasa tidak berharga dan diinginkan. Hatiku sedih dengan penuturannya. Tapi, Aku juga tidak boleh egois. Aku menyayanginya. Kalau menikah denganku membuatnya menderita. Itu akan membuatku akan semakin bersalah.
"Please--- Ayo kita batalkan perjodohan ini." Tangannya refleks memegang pahaku yang berseloncor di atas rerumputan. Dia menatapku mengibah.
"Aku akan memaafkanmu, kita akan baikan. Tapi, ku mohon menolaklah menikah denganku." Ucapannya yang tulus, menyayat hatiku. Sebegitu tidak diinginkannya diriku ini.
"Kamu tidak tahu bagaimana kerasnya Ayah kepadaku. Aku menderita selama ini. Semua serba dikekang." Ucapnya dengan menangis, tangan kanannya masih berada di atas paha kiriku.
"Setidaknya, Aku masih bisa merasakan bahagia menikah dengan pria yang ku cintai dan mencintaiku." Ucapannya itu, membuat hatiku berperang. Haruskah ku akui, kalau aku mencintainya dan akan melakukan apapun untuk kebahagiaannya? tapi, Dia tidak akan percaya, karena diawal pembicaraan. Aku mengatakan mau menerima perjodohan ini karena orang tua dan Ompung. Bukan karena Aku mencintainya.
"Kamu begitu sempurna sebagai laki-laki. Banyak wanita yang mau jadi istrimu. Kenapa kamu mau menerima perjodohan. Ini zaman modern. Bukan zaman Siti Nurbaya." Ucapnya lagi, mengeluarkan semua pendapat dan pemikirannya. Aku hanya terdiam mendengar ocehannya ya g masuk akal itu. Mencoba meredam rasa sakit hati.
"Kenapa kita tidak coba. Setidaknya kita membuktikan bakti kita kepada orang tua kita." Ucapku, masih mencoba membujuknya pelan.
"Aku ingin merasakan kebahagiaan disisa hidupku." Ucapnya masih menangis. Kali ini Dia tidak menatapku lagi.
"Semua orang ingin bahagia."
"Aku tidak bisa bahagia denganmu." Ucapnya cepat memotong ucapanku. Lagi-lagi kata-katanya menyayat hati.
Aku pun terdiam, melempar batu kecil yang ku dapat di atas rerumputan. Aku kesal begitu kesal. Bagaimana caranya menjelaskan kepada keluarga besar. Padahal semuanya sudah dipersiapkan.
Embun pun akhirnya bungkam, keheningan diantara kami pun tergantikan dengan ketegangan disaat ponselku bergetar di dalam saku celanaku. Ada panggilan dari Tulang.
"Assalamualaikum Tulang--!" ucapku melirik Embun, yang juga kini menatapku.
__ADS_1
"Walaikumsalam--- Tara cepat bawa pulang Embun." Suara tulang begitu tegas, tapi terdengar khawatir. Sepertinya ada yang tidak beres.