
"Adek kenapa diam saja?" Tara menatap lekat Embun yang termenung. Wanita itu sejak naik ke dalam mobil tidak banyak bicara dan lebih banyak memandang ke luar jendela mobil.
"Dek," Tara akhirnya menyentuh bahu sang istri. Embun terlonjak kaget, dia pun memegangi dadanya yang berdebar-debar, menatap Tara dengan kesal. "Dari tadi Abang panggil, adek gak nyahut. Arek mikirin apa?"
"Mikirin kamu.!" Embun tertawa mengejek.
"Sweett banget sih." Tara meraih jemari Embun dan mengecupnya.
"Mulai deh." Embun menarik tangannya, dengan ekspresi wajah pura-pura cemberut. Wanita itu sedang kepikiran Ardhi, sang mantan kekasih. Dia tidak percaya, kalau Ardhi melakukan hal yang dikatakan Tara.
"Sudah, gak usah terlalu dipikirkan ucapan Abang tadi. Abang hanya menduga-duga saja. Tidak mungkin Pak Ardhi melecehkan pembantunya." Tara mengelus-elis tangan Embun yang lembut. Memberi sentuhan cinta pada sang istri.
Tak terasa mereka sudah sampai di tempat tujuan. Malam ini Tara dan Embun, sedang menghadiri acara resepsi pernikahan rekan bisnisnya Tara.
"Setelah adek wisuda, kita buat resepsi pernikahan kita di kota ini ya?" Embun menoleh kepada sang suami yang menggandengnya. Kini mereka sedang memasuki tempat acara diadakan. Acara itu diadakan di rumah. Tadinya Embun mengira, mereka akan menghadiri acara resepsi pernikahan di Hotel.
"Iya sayang." Jawab Embun tersenyum manis. Dia sebenarnya tidak terlalu tertarik untuk mengadakan resepsi lagi. Dia tipe orang yang tidak suka berpesta-pesta. Tapi, karena ini permintaan keluarga besar dari pihak suami. Embun pun setuju saja. Kata Tara sih, dia ingin diperkenalkan ke semua rekan bisnis suaminya itu.
"Waawww... acaranya Kren banget." Embun takjub dengan konsep pernikahan Pernikahan yang menggunakan tema Modern Traditional, yang menonjolkan sisi budaya.
"Yang nikah orang Batak kah?" tanya Embun melihat keramaian. Ternyata acara sudah dimulai.
"Iya sayang, tapi pihak laki-laki yang orang Batak, ceweknya orang Melayu." Tara tetap menggenggam tangan Embun, yang selalu ingin dilepaskan. Wanita itu ingin melihat lebih dekat acara yang sedang berlangsung. Yaitu acara manortor.
Lama Embun memperhatikan dengan seksama dan penuh penghayatan, acara manortor. Tanpa disadarinya, tetes demi tetes cairan bening sudah jatuh membasahi pipi putihnya. Dia teringat acara resepsi pernikahan mereka saat di kampung. Saat itu Embun sangat tidak menyukai Tara, sehingga dia tidak bisa meresapi acara sakral itu. Dia hanya menggerutu dalam hati saat acara adat mereka.
__ADS_1
"Kenapa menangis?" Tara merangkul bahu sang istri. Langsung menuntun Embun berjalan untuk duduk di kursi yang tak jauh dari acara berlangsung. Embun dengan cepat melap air matanya dengan sapu tangan yang diberikan oleh sang suami.
"Gak apa-apa bang. Lihat acara tadi, jadi teringat Ayah dan Mama." Embun menunduk, dia malu dengan tingkahnya dulu, yang selalu cemberut di acara adat yang mereka lewati.
"Oohh... Besok Abang akan minta Tulang dan Nantulang datang ke rumah ya sayang. Sudah jangan menangis lagi." Tara merangkum wajah Embun, menatapnya lekat. Embun jadi tersipu malu. Dia pun melepas kedua tangan Tara dari wajahnya, mengalihkan pandangan ke arah prasmanan.
Salah satu hal penting saat acara menikah yakni momen resepsi pernikahan. Momen ini dimana para tamu undangan bakal dijamu dan disuguhi berbagai makanan yang sudah tersedia. Seperti yang dilakukan oleh pasangan pengantin saat ini.
Begitu banyak menu makanan bahkan pengantin itu menggaet vendor gerai Starbucks dan Sushi Tei.
"Waaahh... Makanannya ada sushi Tei juga?" Embun menyoroti hidangan yang tersedia dihadapannya. Saat itu rawut wajah Embun langsung berubah sendu. Melihat makanan Sushi tei, dia jadi ingat Ardhi. Sushi Tei makanan kesukaan pria itu.
Deg
Deg
Deg
Embun sedikit terkejut melihat penampilan Ardhi yang banyak berubah. Terutama model rambut dan bentuk tubuh Ardhi yang nampak lebih berotot.
Keduanya saling pandang. Selain melihat banyaknya perubahan fisik Ardhi, pikiran Embun juga dipenuhi dengan ucapan Tara, yang mengatakan bahwa Ardhi melakukan tindakan pelecehan. Haruskah dia menanyakannya? tapi, untuk apa?
"Hai Pak Ardhi, apa kabarnya?" Suara Tara langsung membuyarkan lamunan Embun. Sumpit yang ada di tangan kanan wanita itu terjatuh sudah. Ya Embun ingin mencoba memakan sushi.
Ardhi tersenyum tipis penuh keterpaksaan. Bagaimana pun dia belum bisa melupakan Embun. Dia masih mencintai wanita itu.
__ADS_1
"Hai Pak Tara, apa kabarnya?" Ardhi langsung menyambut juluran tangan kanannya Tara. Keduanya saling berjabat tangan penuh dengan kekuatan. Seolah-olah kedua pria itu sedang menyalurkan amarah terpendamnya. Embun Dibuat takut, melihat ekspresi kedua pria itu.
"Baik pak Ardhi." Tara langsung merangkul Embun. Embun tersenyum tipis menatap Tara yang juga menatapnya.
"Apa kabar dek Embun?" Embun menoleh kepada Ardhi. Wanita itu membalas senyum tipis pria itu.
"Baik bang. Abang apa kabarnya?" tanya Embun berbasi-basi, dengan senyum manis menghiasi wajah cantiknya. Kalau Embun sudah tersenyum seperti itu, Ardhi akan terus menatap Embun. Dia suka senyum tipisnya Embun.
"Ya begitulah, seperti yang adek lihat saat ini." Ardhi menggerakkan kedua mata tajamnya, menunjukkan perubahan banyak yang ada pada dirinya.
"Pak Ardhi nampak makin Tampan dan mapan. Wajar sih melakukan perubahan." Kali ini Tara ikutan nimbrung menilai fisik Ardhi.
"Iya Pak Tara, harus dibuat perubahan. Biar gak ditinggal kawin lagi." Jawab Ardhi cuek, ketiganya kini berdiri sejajar dengan posisi, Embun berada di tengah. Ardhi langsung berjalan ke sebelah Embun.
"Ayo kita ke meja yang di sana. Ada banyak hal yang ingin ku bicarakan." Ardhi menatap Embun dan Tara secara bergantian, memberi kode dengan matanya. Agar dirinya diikuti pasangan suami istri itu.
Perasaan Embun sudah tidak tenang saat ini. Debaran jantung nya sudah cepat dan kuat. Dia takut, khawatir, was-was dan penasaran, bergabung jadi satu.
"Ayo sayang!" Tara meraih jemari Embun dan menggenggamnya. Menarik Embun agar mengikuti Ardhi yang berjalan ke arah meja yang ada di sudut pekarangan itu. Ya acara diadakan outdoor.
"Gak mau, untuk apa kita gabung dengan Mas Ardhi." Embun tetap tidak bergerak dari tempatnya
"Ya gak apa-apa. Abang penasaran juga dengan kasus tertutupnya Pak Ardhi. Abang ingin korek informasi." Embun merengut, tidak suka dengan ucapan sang suami. Kenapa suaminya itu jadi seperti emak-emak yang suka dengan gosip.
"Aakkhh.. gak mau, adek gak mau cari masalah. Nanti Mas Ardhi marah, terus terjadi keributan. Kan bisa malu kita bang." Embun tidak mau bergabung dengan Ardhi.
__ADS_1
TBC
Kencang like, vote, coment positif. Pasti crazy up