DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Sisi lain


__ADS_3

"Mas, koq adek didudukkan di atas meja. Gak sopan tahu " Ucap Melati tersipu malu, setelah keduanya mengakhiri ciuman panas. Yang membuat wajah Melati kini merah merona.


Ardhi masih terus menatapnya dengan tatapan mendamba. Rasanya akan lebih asyik memadu kasih, saat merayakan hari spesial dari pada tiup lilin dan potong tumpeng.


"Baiklah, mas turunkan." Ardhi mengangkat Melati, sehingga kini kedua ya berdiri di sisi meja, tempat tumpeng, yang lilinnya sudah hampir habis meleleh.


"Ayo dong sayang, tiup lilinnya." Ucap Melati manja dan penuh semangat serta ceriah sekali. Ardhi semakin gemes lihat tingki sang istri. Ingin rasanya dia menelannya hidup-hidup, saking gemesnya.


huuuuffftt


Acara tiup lilin pun selesai dalam satu kali tiupan.


"Ye... ye...!" Melati tepuk tangan, dengan riangnya seperti anak kecil. Dengan cepat Ardhi mencium kepala sang istri dari samping. Entahlah ingin rasanya dia menggigit-gigit kecil istrinya itu saking gemesnya, memasukkan sang istri yang mungil itu ke tubuhnya.


Melati tersenyum manis, mendapatkan kecupan ekspres dari sang suami.


"Ayo mas, kita potong tumpeng mininya!" kali ini mereka berdua yang memotong tumpeng itu, meletakkan dia tas piring kecil.


"Aakkhh...!" Senyum manisnya Melati sungguh membuat hati Ardhi bahagia sekali. Nasi kuning buatannya sendiri itu pun, lolos masuk ke mulut sang suami.


"Enak mas?" tanya Melati, melihat ekspresi sang suami yang begitu menikmati nasi kuning buatan itu.


"Enak banget sayang!" mengambil nasi kuning itu dan menyuap sang istri. Lagi-lagi Ardhi meraih kepala istrinya itu, kemudian mencium keningnya Melati. Ardhi sungguh bahagia, sangat bahagia.


Kemudian mereka duduk dengan bersebelahan. Suap-suapan dengan penuh tawa kabahagian. Dan tak terasa nasi tumpeng mini itupun habis ludes. Ayam Kalasan, udang sambal telor puyuh, mie hun goreng, urap dan sambal nenas. Harusnya ada sambal terasinya. Tapi, Melati gak sempat lagi membuatnya.


"Sayang, sepertinya kita sudah bisa buka usaha baru nih?" ucap Ardhi, sembari menjilati tangannya dari bekas sambal nanas. Masakan istrinya itu sugguh nikmat, gurih, enak.


"Usaha tumpeng?" tanya Melati dengan tersenyum tipis. Ardhi mengangguk dengan semangatnya.


"Boleh."


"Eehhh gak usah, gak usah. Nanti adek kecapean lagi. Mas gak mau adek capek." Melati tertawa kecil. Dia senang sekali punya suami seperti Ardhi. Terasa sekali kalau suaminya itu sangat mencintainya. Apalagi tadi saat dia pura-pura merajuk. Wajah setres suaminya, sangat menggelitik hatinya. Ingin dia tertawa lebar saat itu.


"Terserah mas saja. Yang penting kita tetap seperti ini. Saling mengerti, dan membuang ego. Adek salut sama Mas. Adek marah-marah, mas mengalah. Tahu gak sih mas, adek jadi merasa bersalah sekali." Bergelayut manja di lengan sang suami. Ardhi yang gemes, mengacak rambut Melati. Hingga sanggul wanita itu lepas.

__ADS_1


"Biar, biarin saja sayang rambutnya tergerai. Adik cantik banget tahu, kalau rambutnya dilepasin seperti ini." Merapikan anak rambut sang istri dengan menyelipkan di balik daun telinganya Melati. Wanita itu jadi salah tingkah dan tersipu malu, dapat pujian dari sang suami.


"Maaf ya Mas, adek gak ada kado buat mas." Menatap sang suami yang masih merapikan rambutnya. Bahkan kini suaminya itu mencium helaian rambutnya Melati yang sangat wangi.


"Kado?" Melati mengangguk.


"Ini kado spesial buat mas." Memegang perutnya sang istri dan mengelusnya penuh dengan kasih sayang. Lagi-lagi Melati dibuat senang dengan perlakuan sang suami.


"Sini deh sayang..!" Ardhi memundurkan sedikit kursinya ke belakang. Menepuk pahanya, agar istrinya itu duduk di atas pahanya itu.


"Adek berat loh mas" Tolak Melati, merasa malu sendiri. Entahlah Melati gadis polos itu, sangat susah diajak untuk adegan romantis. Tapi, kalau sudah setengah main, dia paling jago.


"Berat apanya, paling juga 48 kg." Menarik lengan sang istri lembut dan Melati pun terduduk di paha sang suami.


"Percaya pada mas. Di sini hanya ada nama adek seorang. Melati Assyifa Siregar." Menempatkan tangan nya Melati di dadanya yang kini berdebar-debar. Melati tersanjung mendengar ucapan suaminya itu.


"Adek marganya Siregar kan. Boru Regar dong? sama dengan ayah kan?" Ardhi ingin mempertegasnya. Takut juga dia salah ucap dan akhirnya membuat Melati merajuk lagi. Pasalnya saat ijab kabul, pria itu tidak menyebutkan marga istrinya itu.


"Adek gak usah cemburu sama Embun ya sayang. Embun masa lalu dan adek masa depan Mas." Melati mengangguk lemah, dia yang terharu menautkan dahi keduanya. Kemudian wanita itu mencium dahi itu, turun ke hidung dan berlabuh di bibirnya Ardhi yang memang sudah menanti kecupan itu.


Ingin memberi kesan berbeda pada sang suami. Wanita itu memulai aksinya membelit, mengulum lidah sang suami. Biasanya juga suaminya itu yang selalu melakukan itu terlebih dahulu.


Ardhi mulai panas dingin, atas aksi nakalnya Melati. Reaksi tubuhnya tak bisa dikendalikannya lagi. Pria itu ingin lebih. Ada hal aneh yang mendesak dan menjalar di dalam tubuhnya. Sehingga tangan nakalnya sudah berhasil melepas kancing piyama sang istri.


Melati yang juga ingin lebih itu. Ikut membantu melepas piyamanya dari tubuhnya. Hingga terpampang kulit mulusnya yang halus, yang membuat Ardhi kesusahan menelan ludahnya sendiri.


Semakin hari istrinya itu semakin menggairahkan. Apalagi gunung kembar yang masih ditutupi brA itu sekarang semakin padat dan besar saja. Sampai-sampai cup BrA yang istri tidak bisa menutupinya semua.


Ardhi yang tak tahan itu langsung melahap gundukan kenyal itu, setelah berhasil membuka pengait gunung kembar itu. Memainkannya dengan nakal, menjilat, menggigit kecil dan menyedotnya. Benar-benar heboh sendiri pria itu dibuat gundukan kenyal yang punya pucuk kecoklatan serta sedikit hitam itu. Ya warna pucuk gunung itu sekarang sudah sedikit gelap dari biasanya.


Melati yang terangsang pun memberikan ruang lebih untuk sang suami, dengan mendaratkan punggungnya di meja makan. Yang sebelumnya Ardhi sudah melempar benda-benda yang ada di atas meja, yang dianggapnya sebagai pengganggu.


Pang


pang

__ADS_1


preng


peng


peng


Suara benturan Stainles, kaca dan plastik ke lantai menciptakan suara erotis dipendengaran mereka berdua, untuk aksi panas mereka. Benar-benar keduanya dimabuk cinta, kedua manusia yang memadu kasih, menjemput nikmatnya surga dunia, yang akan mendatangkan pahala. Bagi pasangan yang saling mengasihi dan menghormati.


Puas bermain di gundukan kembar kenyal nan hangat itu, pria itu kini turun ke perut setelah banyak meninggalkan tanda merah di gundukan kenyal itu. Kembali lidahnya dan bibir nakalnya menyapu, bermain-main di pusar sang isteri. Lidah agresif itu, mengebor lubang pusar istrinya itu, yang membuat Melati tersentak kaget. Dia tidak menyangka suaminya itu akan melakukan itu. Syukur saja dia sudah mandi dengan bersih, membersihkan pusarnya itu setiap hari. Karena, dia tahu, pasti suaminya itu akan melakukan hal seperti itu.


"Mas .. mmmmhhh ... ooohh..!" suara erotisnya Melati yang mengerang lembut itu sukses menyulut birahinya. Adik kecil miliknya di bawah sana sudah kepanasan ingin dilepas.


Dia tahu sang istri sudah mulai terhanyut dengan permainan panas mereka. Terbukti dengan sang istri yang berbisik manja meminta lebih.


“Sayang, sedikit ke bawah... that’s it!” Melati mengarahkan sang suami, tentang apa yang diinginkannya.


Tentu saja ucapan istrinya itu membuatnya tercengang sekaligus merasa puas dan bangga. Itu artinya sang istri menikmati setiap sentuhan yang diberikannya. Biasanya sang istri hanya menarik tangan atau bibir suaminya itu ke area intimnya. Ucapan istri nya sukses membakar gairahnya lebih membara dan berkobar-kobar.


Setelah Ardhi melakukan apa yang diinginkan sang istri. Lagi-lagi istrinya itu memekik penuh kenikmatan. "Eemmhhh Oohh mas..!"


"Kamu yang terhebat mas, kamu jago mas...!" Ardhi menganggap racau an istrinya itu sebagai bahan bakar untuk dirinya, agar lebih bisa memuaskan sang istri. Terus melakukan apa yang diinginkannya. Hingga kini istrinya itu sudah dalam keadaan polos. Di atas meja makan itu.


"Mas... Berdoa mas." Masih sempat-sempatnya sang istri mengingat itu. Padahal tadi istrinya itu sudah terlihat kehilangan akal.


Kegiatan mereka kali ini, bisa dibilang yang Ter hot dan paling nakal dalam sejarah mereka melakukan hubungan yang melibatkan emosi ini.


"Mas, Adek suka caramu mas memperlakukan aku mas!." Racau sang istri lagi. Disaat dirinya bermain di belahan otot pipi lembut dibawah sana. Menyibak helaian-helaian rambut-rambut cinta yang halus, untuk memberi kenikmatan pada sang istri.


Kali ini Melati mengumpat. Dalam bahasa Batak.


"Bah... Bah... Pelan-pelan mas!" entahlah wanita itu pun terlihat nakal malam ini. Sungguh istrinya itu sangat berbeda dari biasanya. Ardhi sangat terkejut oleh reaksi istrinya itu. Istrinya itu seorang wanita Yang sangat lembut dan santun. Namun percintaan mereka kali ini. Itu adalah cerita lain. Ardhi terkejut dengan kata-kata vulgar yang keluar dari mulut istrinya itu. Yang membuatnya menjadi sangat liar. Percintaan panas itu pun harus berakhir di atas meja makan.


Puas merengkuh nikmatnya surga dunia, yang membuat diri melayang-layangyang dengan begitu indah dan manisnya. Pengalaman kali ini, sebagai bukti. Kalau keduanya sudah sangat yakin dengan cinta yang dirasakan oleh keduanya.


TBC

__ADS_1


Like, content positif dan vote ya say ❤️


__ADS_2