
Ibu Jerniati syok mendengar ucapan Pak Zainuddin. Untuk kali ini, dia benar-benar merasakan yang amat sakit di dadanya. Jantungnya nyaris copot, darah naik dengan tekanan kuat ke kepala. Sehingga wanita tua itu, merasakan sakit yang luar biasa. Sepertinya pembuluh darah di otaknya pecah. Sungguh berita yang didengarnya dari Pak Zainuddin, sukses membuatnya drop.
"Tante, tante....!" teriak Lidya dengan heboh dan paniknya, memeriksa keadaan ibu Jerniati yang menggelepar, kejang-kejang di atas ranjangnya.
Ardhi yang menyusul Pak Zainuddin di luar kamar. Tidak mendengar teriakan Lidya lagi. Karena, saat ini. Ardhi dan Pak Zainuddin sudah bersitegang di lorong menuju kamarnya Ardhi.
"Ayah, dengarkan penjelasan saya dulu. Ayah salah paham." Ardhi berusaha kembali meraih tangan Pak Zainuddin dari belakang. Dia sedang mengikuti ayah mertuanya itu, yang selalu berteriak memanggil nama putrinya. Dan selalu menepis tangan Ardhi yang ingin menghentikan langkahnya.
"Melati.. Putriku Melati...!" Suara Pak Zainuddin terdengar begitu menyedihkan. Ucapan Anggun masih terus terngiang di telinganya. Dia sedih dan kesal sekali, mengetahui bahwa putrinya itu, sering dianiaya Ibu Mertuanya itu. Membayangkan kejadian mengerikan itu, membuat dadanya sangat sesak. Bahkan kini pria tua itu, menitikkan air mata, sembari memanggil-manggil nama putrinya yang tak kunjung keluar dari kamarnya Ardhi.
"Ayah, jangan pisahkan aku dari Melati. Dia sedang mengandung anak kami." Pak Zainuddin langsung membalik badan. Mengacungkan tangan sebagai tanda peperangan akan dimulai. Mata tua yang ditutupi kaca mata itu, nampak berkaca-kaca. Ardhi tahu ayah angkatnya itu begitu murka padanya.
"Itu kamu tahu, bahwa anakmu di rahimnya. Tapi, kenapa kamu masih memberi harapan pada ibumu." Ucap Pak Zainuddin kesal. Pria itu pun membuka kaca matanya. Berjalan lagi menuju kamarnya Ardhi yang tinggal satu meter lagi, dan memanggil kuat nama sang putri.
"Melati... Melati..!"
Ardhi langsung menghadang Pak Zainuddin dengan merentangkan kedua tangannya. Di depan pintu kamarnya. Dia tahu, ayahnya itu akan membawa Melati dari rumah itu.
"Ayah salah paham. Aku tidak memberi harapan pada Ibu. Aku hanya, mengkondusifkan keadaan. Kondisi kejiwaan dan jantung ibu, masih belum stabil. Jikalau aku menolak permintaan ibu tadi. Itu akibatnya fatal ayah. Aku hanya mengulur waktu saja. Menunggu kesehatannya benar-benar stabil." Pak Zainuddin yang masih diselimuti emosi itu tidak merespon ucapan Ardhi. Dia mendorong Ardhi agar menyingkir dari hadapannya.
__ADS_1
Ardhi pun terpelanting ke samping. Karena tarikan dan dorongan Pak Zainuddin ke tubuh tak berdayanya. Ardhi sudah merasa hidupnya hancur saat ini. Sehingga pria itu jadi lemah. Apalagi tatapan mata Pak Zainuddin begitu mengerikan. Dia tidak pernah melihat tatapan mengerikan seperti itu.
"Kamu memang anak yang berbakti sekali. Hingga prilaku ibumu yang lepas kontrol dan diluar jangkauan itu, tidak kamu permasalahkan. Sehingga ibumu tidak pernah merasa bersalah. Harusnya kamu, menegurnya. Mengungkapkan kekecewaanmu padanya. Agar dia malu. Tapi, lihatlah kamu lemah pada ibumu. Sehingga dia tidak memikirkan kebahagiaanmu. Dia hanya memikirkan kebahagiaannya saja." Ardhi terdiam, tidak berani menatap mata sang ayah. Pria itu pun menengadahkan wajahnya. Agar air mata yang mendesak untuk keluar agar terbendung. Ardhi menarik napas berulang kali. Dia harus tenang. Kemudian pria itu menatap sang ayah, yang masih menatap tajam dirinya.
"Dia ibuku ayah. Sebelum aku mengenal Melati. Dialah wanita yang sangat ku sayangi. Ini cobaan untukku, aku tidak mungkin menyakiti hati ibuku dan membuat dia menangis." Pak Zainuddin menggeleng dan kemudian menarik napas Kasar.
"Kamu menjaga perasaan Ibumu. Tapi, kamu tak menjaga perasaan istrimu."
"Aku menjaga perasaannya ayah. Aku tidak memaksa kehendak padanya. Melati tidak pernah menjenguk ibu di rumah sakit. Aku tidak permasalahkan. Karena, aku tahu dia belum siap bertemu dengan ibu. Dan aku, aku tidak akan menduakan dia ayah. Kenapa ayah tidak mengenalku?!" Ucap Ardhi dengan frustasinya. Sesaat hati Pak Zainuddin goyah. Ya dia kenal Ardhi. Ardhi bukan tipe pria yang suka bermain-main dengan wanita.
Tapi, pak Zainuddin belum bisa menerima kenyataan, tentang penganiayaan yang dilakukan ibu Jerniati pada putrinya itu. Sehingga dia kesal pada Ardhi dan ibu gilanya itu.
Saat Pak Zainuddin dan Ardhi masuk ke kamar itu. Suara ART terdengar panik memanggil nama Ardhi.
"Tuan Ardhi, tuan Ardhi... Nyonya tidak sadarkan diri. Mulutnya mengeluarkan busa." Ardhi terkejut mendengar ucapan ART itu. Dia pun berbalik badan dan akan ke kamar sang ibu.
"Urus saja ibumu itu. Istrimu yang dari tadi tidak nampak batang hidungnya tidak kamu pusingkan." Ardhi menghentikan langkahnya, tepat di ambang pintu. Akhirnya dia juga tersadar, bahwa Melati sudah tidak ada di kamarnya. Dan istrinya itu tidak menyahut panggilan ayahnya yang kuat dan tegas itu.
Ardhi semakin panik dan khawatir saat ini. Ke mana istrinya itu pergi? dan ibunya itu, sudah bagaimana keadaannya.
__ADS_1
"Apa kamu melihat Istri saya? apa dia tadi turun dan makan di ruang makan." Ardhi akhirnya bertanya pada ART. Saat ini dia bingung harus berbuat apa. Ibunya sudah drop, dan istrinya tidak ada di kamarnya ternyata.
"I--ya tuan. Saya melihat Nona Melati tadi..," Sang ART, tidak melanjutkan ucapannya karena Lidya dengan hebohnya datang ke tempat itu. Padahal ART berjenis kelamin wanita itu, ingin mengatakan bahwa Melati sudah berangkat kuliah dengan mata yang memerah, seperti baru selesai menangis.
"Mas Ardhi.... Mas Ardhi.... Tante sekarat." Napas wanita itu tersengal-sengal. Karena merasa takut dengan kondisi Ibu Jerniati.
Ardhi nampak kalut dan bingung. Dia tak bisa lagi mengambil keputusan. Mencari Melati kah, atau mengurus sang ibu.
"Urus saja ibumu. Dan jangan pikirkan putri saya " Pak Zainuddin keluar dari kamarnya Ardhi, dengan perasaan yang amat sakit dan sedih. Terdiam mematung di dalam kamarnya itu, melihat kepergian Pak Zainuddin dengan penuh keputusasaan.
Lidya yang menyaksikan tontonan penuh dramatis dihadapannya, senang bukan main.
Hatinya bersorak riang. Tapi, dia menutupi perasaan bahagianya itu dengan menampilkan ekspresi wajah sedihnya. Pria incarannya itu, kini akan jadi miliknya.
"Ibu sedang sekarat. Ayo Mas, kita bawa ibu ke rumah sakit." Lidya menarik lengan Ardhi. Pria yang masih linglung itu, kini hanya menuruti langkahnya Lidya, menuju kamarnya Ibu Jerniati.
Sesampainya Ardhi di kamar itu, memang benar keadaan ibu Jerniati sedang sekarat. Dia yang hatinya tidak tenang itu, karena memikirkan ucapan Pak Zainuddin. Tetap mengutamakan keselamatan sang ibu, dengan membawanya ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Pria itu hanya diam saja. Duduk dengan pikiran kalut. Benarkah istrinya itu sudah pergi kuliah seperti kata ART. Ardhi yang duduk disebelah pak supir, sesekali menoleh ke jok belakang supir. Ada ART mereka yang mengawasi Ibu Jerniati. Dan Lidya, sudah diusir Ardhi dari rumahnya. Tidak mengizinkan wanita itu, ikut ke rumah sakit. Bahkan, Ardhi memberi ancaman, agar menjauhi dirinya. Kalau masih ingin, karirnya lanjut.
__ADS_1
TBC