DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Rindu kampung


__ADS_3

Pagi ini Melati bangun dengan perasaan senang dan bugar. Efek dari pijatan sungguh terasa buat Melati, sehingga adannya yang terasa sakit semua kini telah hilang. Bi Kom mencarikan tukang pijat profesional untuknya.


Hal lain yang membuatnya senang pagi ini adalah, Ilham pria pujaan hatinya mengiriminya pesan. Menanyakan kabarnya, setelah dia membalas pesan. Pria itu malah menelponnya. Mendengar suara pujaan hati di pagi hari membuat Melati begitu semangat untuk menjalani aktifitas hari ini.


Melati ingin mandi sebersih-bersihnya. Walau dia sudah sehat, tapi dia kedinginan. Jadi, dia mau mandi pakai air hangat. Dia memutuskan mandi di kamar mandi belakang, yang dekat dengan dapur kotor.


Melati mengambil handuk dan pakaian gantinya. Berjalan dengan semangat ke dapur. Dia akan memasak air untuk mandinya.


"Mel, sudah sehat? mau mandi kamu?" Rudi memperhatikan Melati yang menyimpan pakaian ganti yang dibalut handuk di atas meja kosong dengan rak piring. Rudi dan ART lainnya sedang sibuk memasak.


"Iya Bang, biar segar. Habis mandi, aku akan bantuin Abang ya? seharian kita di dapur. Aku gak kuliah hari ini." Ucap Melati sambil duduk di kursi menunggu air masak.


"Tadi Nyonya besar nanyain kamu." Kini Si Yanti yang baru selesai mencuci piring ikut nimbrung dalam percakapan itu.


Mendengar Nyonya besar menanyakannya, membuat Melati jadi ketakutan. Akankah dia akan kena marah?


"Nyonya besar nanyain apa Yan?" tanya Melati dengan jantung berdebar-debar karena takut.


"Nanyain kamu sudah sehat apa belum." Yanti melap tangannya dengan kain lap yang menggantung di atas wastafel. Dia pun membantu Rudi mengiris bawang.


"Kalian jawab apa?" kini Melati sudah menuangkan air panas yang di masaknya ke ember plastik warna pink.


"Kami jawab belum sembuh dan kamu pingsan tadi malam. Terus tuan Ardhi bopong kamu." Yanti cengir.


"Apa? kenapa kalian cerita kepada Nyonya. Aduhh mampuslah aku. Tamatlah riwayatku. Nyonya tidak suka padaku, kalian tahu itu." Keluhnya dengan ekspresi wajah ketakutan.


"Sudah, jangan dibahas lagi. Mending kamu cepetan mandi, sebelum Bi kom, keluar dari kamarnya Nyonya." Ucap Rudi, memberi kode dengan kepalanya, agar Melati ke kamar mandi saja.


"Sana cepat, nanti air mu keburu dingin." Seru Rudi lagi, karena melihat Melati tak kunjung bergerak dari tempatnya.

__ADS_1


Melati pun akhirnya berjalan cepat ke arah kamar mandi, setelah mendengar suara Bi Kom yang menegur pembantu lainnya yang tidak beres membersihkan ruangan Ibu Jerniati.


Setelah selesai mandi dan berpakaian lengkap. Melati keluar dari kamar mandi dengan perasaan tidak tenang. Dia tahu, saat ini dirinya sedang tidak aman.


"Sudah sehat kamu Mel?" Melati kembali terkejut mendengar suara Bi Kom. Ya rasa takut yang berlebihan membuatnya jadi tidak tenang.


"Iya Bi." Jawabnya sopan.


"Kalau sudah sembuh, bantuin kami. Hari ini banyak kerjaan. Nanti Nyonya dan tuan Ardhi akan ke tempat Non Anggun. Acara lamaran." Ternyata walau pernikahan mendadak. Tapi, acara lamaran tetap diadakan.


"Iya Bi, aku jemur handuk dulu." Melati berjalan ke ruang loundry. Menjemur handuknya dan meletakkan pakaian kotor di keranjang khusus untuknya.


Dia kembali ke dapur, membantu mempersiapkan seal sesuatu untuk acara lamaran.


"Makan dulu kamu Mel! kamu kan mesti


minum obat." Melati menghentikan kegiatannya mencuci peralatan masak di atas wastafel.


Setelah selesai makan, Melati kembali ke kamarnya. Dia akan meminum obat. Setelah selesai minum obat. Ponsel di atas tempat tidurnya berdering. Dia pun dengan cepat mengangkatnya. Karena dia tahu yang menelpon itu adalah keluarga dari kampung.


"Assalamualaikum Umak!" Umak adalah panggilan untuk ibu, di kampungnya Melati.


"Walaikum salam Butet," Suara ibunya Melati terdengar bahagia di ujung sana. Melati di rumah mereka dipanggil dengan nama Butet. Butet adalah sebutan untuk anak perempuan di suku Batak.


"Uang yang kamu kirim baru bisa di ambil hari ini. Ini Ayah dan Umak masih di ATM. Terimakasih banyak ya Tet." Air mata langsung menetes mendengar ucapan ibunya itu. Mesti kali ibunya itu mengucapkan terimakasih. Harusnya dia yang berterima kasih sudah dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Walau keadaan mereka sangat miskin.


"Iya Mak, maaf Mak, hanya bisa kirim segitu." Jawabnya sopan.


"Jangan marah ya tet, jika uang yang kamu kirim ini nanti gak jadi umak belikan handphone android, seperti apa katamu seminggu lalu. Mama ingin menyimpan semuanya. Gak apa-apa kan Nang?" mendengar umaknya mengatakan Nang, membuat Melati semakin bersedih saja. (Nang\=Putriku)

__ADS_1


Dia sengaja mengirimkan uang lebih dari biasanya. Berharap orang tuanya membeli ponsel Android. Sehingga disaat dia rindu keluarga di kampung. Dia bisa melihat wajah orang tua dan adik-adiknya. Tapi, apa hendak dikata. Ternyata orang tuanya tidak membutuhkan ponsel android.


"Ayah dan Umak sehatkan?" tanyanya menahan Isak tangis. Sudah setahun dia tidak pulang kampung.


"Sehat Nang." Jawab sang ibu sendu.


"Mak, si Juwita kan ada ponsel android nya." Juwita adalah anak tetangga mereka yang punya ponsel android yang bisa video call.


"Iya, kenapa dengan si Juwita?" tanya sang Mama bingung.


"Nanti malam, aku akan menelpon si Juwita. Melati rindu kalian semua Mak. Jadi nanti malam, si Juwita ku mintain datang ke rumah." Ucapan Melati membuat sang ibu terharu. Dia juga sangat merindukan putrinya itu.


"Iya Nang," ucap sang mama lirih.


Tok tok tok


Suara ketukan di pintu yang keras, akhirnya membuat Melati harus mengakhiri telepon itu.


Dia pun tergesa-gesa membuka pintu kamar. Tampaklah ibu Jerniati dengan segala kebenciannya kepada Melati.


"Iya Nyonya, ada apa?" ucapnya gugup, dengan pandangan menunduk.


Nyonya Melati menutup pintu kamar itu. Hingga kini mereka berdua berada di kamar itu. Suasana tegang langsung terasa di kamar itu.


"Saya sudah dengar kejadian yang terjadi tadi malam. Beraninya kamu menggoda putra saya." Ibu Jerniati menunjuk-nunjuk wajah Melati. Gadis itu hanya bisa diam dan menunduk. Tidak berani menjawab. Karena, apabila dijawab pun tidak ada guna nya. Pasti nanti juga dia yang disalahkan.


"Aku tidak mau dengar lagi, ada cerita. Kamu dekat dengan putra saya. Sempat ku lihat kamu cari perhatian dan menatapnya. Kamu ku lempar dari rumah ini." Ancam Ibu Jerniati dengan tatapan membunuh. Seketika Melati menundukkan pandangan. Takut melihat wajah ibu Jerniati yang glowing, walau sudah ada keriput di bawah mata.


"Jawab, kenapa diam saja kamu. Mendongkol kamu, gak suka saya peringatkan." Ibu Jerniati malah semakin marah, karena Melati memilih untuk diam. Ternyata semua sikap salah di mata wanita itu. Dijawab salah, diam pun salah.

__ADS_1


"Ada apa ini Ma?" Ardhi tampak masuk ke kamarnya Melati.


__ADS_2