DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Nafkah lahir dan bathin


__ADS_3

"Kalau semua perkataan orang kita masukkan ke hati. Kita pikirkan, kita baper, sakit hati dibuatnya, yang rugi kita sendiri Dek. Apapun omongan orang yang negatif terhadap kita, abaikan!. Karena yang jalani dan yang tau sifat asli diri kita cuma orang-orang yang terdekat.


"Jangan terlalu ambil pusing dengan omongan orang, kadang mereka punya mulut tapi tidak punya otak. Karena apapun yang kamu lakukan kalau dia membencimu maka sebaik apapun yang kamu lakukan atau perbuat, akan selalu salah dimata dia, tapi bagi orang yang mencintaimu apapun yang kamu lakukan, mereka akan selalu mencintai apa adanya kamu.


"Ingat siapapun berhak memberikan masukan, komentar dan berbicara apapun tentang kamu, tapi kamu juga berhak untuk menerima atau tidak menerima, jangan semuanya dimasukin kedalam hati dan pikiran. Karena pada akhirnya yang tuhan lihat apa yang kamu lakukan bukan yang orang lain katakan."


Melati akhirnya menoleh kepada Ardhi. Keduanya saling beradu pandang. Melati mencari ketulusan di matanya Ardhi. Benarkah mantan majikannya itu tulus dan serius padanya? Ya, ada ketulusan di senyum suaminya itu.


"Mas sudah dengar tadi gunjingan mereka tentang kita. Mereka bilang kamu jadi istri kedua Mas lah. Istri pertama Mas datang ke Hotel menggagalkan pernikahan kitalah. Kamu yang genit godain Maslah. Apa itu semua bener?" Pasangan suami istri masih saling pandang.


Melati menggeleng lemah.


"Semua sudah terjadi dek.  Tuhan yang menentukan, kita yang menjalankan, orang lain yang komentar. Ya begitu lah hidup. Namanya kita makhluk sosial. Kalau gak mau dikomentari, ya hidup di hutan saja. Sama si nyet nyet." Ardhi tertawa, Melati pun berdecak kesal. Membuang pandangannya ke hamparan sawah yang indah. Dia lagi serius, suaminya itu malah mengajak bercanda.


"Di hati kamu masih ada Ilham. Itu bisa Mas maklumi. Ya, mau gimana. Adek berjodohnya dengan Mas, bukan Ilham. Apa Adek mau sia-sia kan pernikahan kita, dengan asyikk mikirin Ilham terus? ingat, ada anak kita di rahim adek."


Serrrr...


Darah Melati berdesir hebat mendengar ucapan Ardhi yang begitu dewasa dan terdengar enteng itu.


"Patah hati memang sangat menyakitkan, hati ini terasa ngilu dan perih. Sakit yang kita rasakan itu tak dapat kita jabarkan dengan kata-kata, saking sakitnya. Apalagi kalau itu cinta pertama kita. Rasanya dunia ini menghukum kita. Rasanya sangat setres, terutama jika kehilangan berlangsung secara tiba-tiba.


"Masih ingat kejadian sekitar dua bulan lalu, di kamar Mas? kamu yang sembunyi dibalik gorden saat di balkon?" Ardhi memperjelas kejadian, saat dia frustasi di kamar nya.


Melati mengangguk dengan ekspresi wajah sedikit takut. Dia teringat Ardhi yang sangat mengerikan waktu itu. Tangan pria itu sampai berdarah-darah.


"Kita sama Dek. Ditinggal oleh orang yang kita cintai." Ardhi memalingkan wajahnya. Tidak sanggup lagi bersitatap dengan Melati. Matanya sudah berkabut.


Ardhi mendongak, agar air mata yang memaksa keluar itu tidak jatuh. Dia pun mengedip-ngedipkan matanya dan menghela napas dalam


"Sakit, sangat sakit. Yang buat setresnya lagi, dia selalu ada disekitar Mas. Embun, Siti Embun. Siti Embun Harahap. Embun itu cinta pertama Mas."

__ADS_1


"Iya, adek tahu itu " Jawab Melati cepat. Entah kenapa Melati jadi tidak senang, Ardhi membahas Embun.


"Adek tahu dari mana?" tanya Ardhi bingung. Dia tidak pernah bahas Embun pada orang lain. Bahkan sang ibu dulunya tidak tahu kalau dia menjalin hubungan dengan Embun.


"Kan ada foto kak Embun di kamar tuan."


"Ohh begitu, apa adanya foto sudah bisa disimpulkan dia orang spesial?" tanya Ardhi mengorek info lebih jelas.


"Aku tahunya juga dari kak Embun. Dia pernah cerita tentang tuan." Jawab Melati dengan ekspresi datar.


Huffttt...


"Rasa cinta itu candu dek. Disaat yang membuat kita candu, tak ada lagi, ya gini. Kita jadi uring-uringan, marah-marah. Kayak adek tadi marah sama Mas. Itu, karena adek kehilangan Abang Ilhammu kan?" Ardhi sudah kembali ceriah, dia menatap Melati dengan tersenyum.


Melati merasa diledek. Dia pun memalingkan wajahnya.


"Kita mengalami hal yang sama, serupa tapi tak beda." Ardhi kembali tertawa garing. Melati dibuat heran degan sikap suaminya itu. Kadang serius kadang tertawa.


"Untuk apa Mas memikirkan si Embun lagi. Dia saja sudah bahagia. Ngapain Mas membuang waktu memikirkan dia. Emang dia saja wanita di dunia ini? adek juga harus punya prinsip seperti itu." Tangan Ardhi refleks menyentuh lengan atasnya Melati. Seolah memberi kekuatan pada istrinya itu.


"Sekarang ikhlaskan semua. Kita bangun rumah tangga kita dengan baik, ada anak kita di rahim adek. Soal cinta belakangan saja kita bahas nya. Yang penting, kita jalankan tugas kita masing-masing sebagai pasangan suami istri." Masih memegang lengan Melati dengan tatapan mata penuh ketulusan.


"Abang akan bertanggung jawab penuh kepada adek. Memberi nafkah lahir dan batin."


"APA....?"


Melati menjauhkan lengannya dengan keras dari cengkraman lembut tangan Ardhi. Melati takut mendengar kata nafkah batin. Rasa sakit saat diperawani masih membekas di hati wanita itu. Rasanya sangat sakit.


Ardhi terkesiap melihat reaksi Melati yang tiba-tiba, menjauh darinya.


"Sekali lagi untuk kejadian malam itu.

__ADS_1


Mas minta maaf! kejadian Itukan yang membuat adek takut sama Mas?"


Melati langsung mengangguk lemah.


"Tak seharusnya Mas ikut minum minuman keras itu bareng Rudi. Saat itu mas lagi kacau, sangat kacau. Selain ditinggal kawin, mas dipaksa ibu untuk menikah dengan Anggun. Ditambah Mas mengetahui kelakuan buruknya Ibu." Ucap Ardhi menunduk. Diantara ketiga masalah itu. Fakta tentang ibu jerniati yang suka melakukan maksiatlah yang paling memukul batinnya.


"Ibu memang jahat," Melati langsung menangis.


"Iya Dek. Maafkan Ibu ya?" Melati diam, dia tidak mungkin memaafkan ibu jerniati, karena perlakuan wanita itu sangat menyakitkan.


"Nyonya besar jahat, malam itu aku dipukuli sampai babak belur. Aku tidak mau berjumpa dengan Nyonya besar. Aku takut, aku gak mau tinggal di rumah Mas. Nanti aku mau tinggal di rumah Ayah Zainuddin saja. Atau, aku dikampung saja bersama ayah. Aku gak mau ke kota Medan lagi." Melati bicara sambil menangis tersedu-sedu. Ardhi semakin merasa bersalah. Ingin rasanya dia membuat Melati tenang. Melap air mata yang tak henti-hentinya bercucuran itu.


"Iya, nanti kita tinggal di rumah yang lain. Tidak di rumah itu lagi. Adek gak boleh tinggal di kampung, tanpa Mas. Mana mungkin Mas tega ninggalin kamu di sini."


Melati merasa tenang dengan ucapan Ardhi.


"Aku ingin tinggal di rumah yang mungil. Gak mau rumah gedong."


"Iya, nanti kita tinggal di rumah RSSS."


"Apa itu RSSS?" tanya Melati heran.


"RSSS ( Rumah sangat sederhana sekali) rumah tipe 36. Kamarnya hanya satu." Melati mengangguk.


"Nanti di Rumah sangat sederhana sekali itu. Setelah shalat subuh, Mas akan memasak, saat memasak disempatin nyuci, pakai mesin cuci tentunya. Terus bersih-bersih rumah 15 menit. Kita mandi, nanti Mas mandiin adek juga. Setelah mandi, kita sarapan. Setelah sarapan Adek bantuin mas pakai baju ke kantor, siapkan bontot Mas juga. Mas pergi cari nafkah lahir. Pulangnya dikasih nafkah batin dong?!"


Hahahaha.....


Ardhi tertawa keras, dia merasa lucu dan geli, melihat ekspresi wajah Melati yang takut dan terheran-heran itu.


TBC.

__ADS_1


like, coment positif vote ya😀❤️😍


__ADS_2