DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Melupakan Melati


__ADS_3

Ardhi benar-benar ditahan oleh keluarganya Anggun di rumah itu, sampai sore hari. Ayah Anggun, banyak bercerita tentang kebaikannya kepada Ibunya Ardhi, saat membantu keuangan Ibu Jerniati dulu.


Ardhi sudah tidak ingin mendengarkan cerita Ayah Anggun lagi. Karena dia sudah hapal ceritanya. Ayah Anggun sudah tiga kali menceritakan kejadian yang sama.


Saat ini Ardhi kepikiran Melati. Pria itu meminta wanita itu menunggunya di kantor, dan mereka akan pulang bareng. Ardhi tidak menyangka bahwa dia akan ditahan di rumah Anggun. Bahkan sang Ibu, tidak mau pulang. Sang Ibu , Anggun dan calon Ibu mertuanya, sedang serius membahas segala sesuatunya untuk pernikahan mereka di ruang keluarga.


Lamunan Ardhi pada Melati pun buyar, disaat ponsel yang ada di saku celananya, terasa bergetar. Ardhi merogohnya dengan tidak sabaran, berharap yang menghubungi nya adalah Melati. Tapi, perkiraan dia salah. Yang menelpon adalah Rudi. Dia ingin menghubungi Melati. Tapi, dia tidak tahu no ponsel wanita itu. Dia pun kepikiran menghubungi Melati melalu telepon kantor saja. Setelah dia mengangkat telponnya Rudi.


"Om, Ardhi permisi sebentar. Ada panggilan penting." Ardhi berbicara sopan kepada calon ayah mertuanya itu.


"Iya Nak, silahkan. Aduuhh... Om banyak cerita ya?" Ayahnya Anggun, akhirnya sadar juga. Bahwa orang yang diajaknya bicara sudah bosan.


Ardhi hanya tersenyum tipis, menanggapi ucapan Ayahnya Anggun. Dia tidak mungkin mengiyakan ucapan pria tua itu. Ardhi sangat bisa menjaga perasaan orang lain. Apalagi lawannya bicara saat ini adalah orang tua.


Mendapat izin dari sang calon mertua. Ardhi bangkit dari tempat duduknya. Menjauh sedikit dari pria tua itu. Dia akan menerima telepon dari Rudi.


"Ya ada apa Rud?" pria itu kini mengusap-usap dadanya. Entah kenapa dia merasa tidak tenang. Jantung nya berdebar-debar. Sepertinya sesuatu hal buruk akan terjadi.


"Ada info sangat penting Bos. Aku tunggu Bos di club X." Ardhi berdecak kesal mendengar tempat yang diucapkan asistennya itu. Inilah kelemahan Rudi sang Asisten. Disaat suntuk, pria itu pasti melampiaskannya ke tempat hiburan. Apalagi yang dilakukan Rudi, kalau bukan mabuk-mabukan.


"Saya tidak mau ke sana. Apa hal penting itu, katakan saja sekarang." Desak Ardhi dalam sambungan telepon. Dia tidak akan mau menjumpai asistennya di tempat itu. Karena, dia pernah dikerjai sang asisten. Sehingga dia pun mabuk berat. Ardhi tidak suka mabuk-mabukan. Karena rasanya tidak enak banget. Mungkin karena dia tidak biasa minum alkohol.

__ADS_1


"Gak bisa dibicarakan di telpon Bos. Ini hal yang sangat penting, Bos harus ke sini. Ini menyangkut masa depan Bos." Suara Rudi sang Asisten yang terdengar begitu meyakinkan, membuatnya penasaran. Hal penting apa yang akan disampaikan asistennya itu. Sebini tidak bisa dibicarakan melalui sambungan udara.


"Om, kami pamit dulu. Ada hal mendesak yang ingin Ardhi selesaikan." Ardhi kembali duduk di sofa. Dia tidak mungkin pamit dalam keadaan berdiri.


Ibu Jerniati yang kebetulan datang ke ruang tamu itu, mendengar anaknya itu berpamitan.


"Sebentar lagi sayang, Anggun sudah siapkan makan malam." Ibu Jerniati tidak mau pulang, dia masih ingin bicara dengan Anggun. Ada hal penting yang mereka rencanakan.


"Gak bisa Ma. Ardhi harus pulang sekarang. Rudi, ingin bicarakan sesuatu yang penting. Mungkin masalah perusahaan. Kalau Mama masih ingin di sini, ya gak apa-apa. Nanti Ardhi jemput Mama." Ardhi menatap satu persatu orang di ruangan itu. Dia harus pergi, karena dia juga sangat penasaran dengan info yang akan disampaikan Rudi sang asisten.


"Baikah sayang, Mama nunggu kamu di sini. Kalau urusanmu sudah selesai, cepat datang ya!" Ibu Jerniati mengantar putranya sampai ke beranda rumahnya Anggun. Begitu juga dengan Anggun dan orang tuanya.


Sesampainya di club, Ardhi langsung mencari keberadaan Asistennya itu. Tapi ,dia tidak menemukannya. Dengan kesal dia pun menghubungi asistennya itu.


Karena suara bising dari dentuman musik, Ardhi mencari tempat yang tidak terlalu bising. Agar bisa mendengar suara Rudi dari sambungan telepon.


Ternyata asistennya itu sedang berada di lantai empat. Bangunan yang didatangi Ardhi terdiri dari lantai empat. Club ini sangat populer, karena menampilkan sejumlah DJ lokal dan asing. Pada lantai dua disediakan ruangan diskotik yang luas, pada lantai 3 adalah area bar sebagai tempat bersantai dan nongkrong menikmati berbagai hidangan cocktail, dan ruang terbuka di lantai 4 Rooftop Garden Lounge menghadirkan suasana romantis beratapkan langit dan bintang.


Rudi sedang berada di lantai empat saat ini. Club' ini sudah mulai buka pukul 16.00 WIB. Sedangkan Ardhi sampai di club sudah pukul 18.00 WiB.


Benar saja, Rudi sudah duduk santai di ruang terbuka itu dengan sebotol minuman keras di atas meja beserta gelasnya. Ternyata sang asisten sudah mulai meminum minuman haram itu.

__ADS_1


"Bos, sini duduk Bos." Rudi beranjak dari duduknya, menyambut kedatangan Bos nya itu. Ya Rudi dan Ardhi memang dekat, mereka dulu satu teman kuliah.


Ardhi duduk di hadapan Rudi, menatap Rudi dengan masam. Ini nih yang tidak disukai Ardhi dengan asistennya itu. Rudi sangat susah meninggalkan prilaku buruknya itu, padahal organ pencernaan sang Asisten sudah bermasalah.


"Bos, jangan menatapku seperti itu. Bos tahu sendiri aku gimana orangnya. Jika masalah menumpuk, pasti larinya kesini. Mau menghilangkan sebentar masalah itu." Rudi masih bicara dengan sadar, walau pria itu sudah meneguk, minuman beralkohol itu.


"Apa hal penting yang ingin kamu katakan. Kenapa harus di sini kita membahasnya?" Ardhi menolak gelas yang berisi minuman alkohol yang disodorkan oleh asisten nya itu.


"Ayolah Bos, coba dulu." Rudi masih getol, menyodorkan gelas yang berisi alkohol itu pada Ardhi.


"Tidak Rud, saya tidak bisa. Kamu tahu sendiri. Aku bukan peminum." Ardhi meraih juga gelas dari tangannya Rudi. Tapi, pria itu tidak meminumnya. Dia meletakkan gelas itu di atas meja yang bentuk bulat di hadapan mereka.


"Bos harus coba kali ini. Agar disaat Bos mendengar informasi yang aku katakan. Bos tidak terkejut batin." Rudi menatap Ardhi dengan sedih. Ada rasa berat untuk mengatakan informasi yang didapatnya barusan.


"Informasi semengerikan apa yang akan membuat aku sampai tertekan batin itu. Cepat lah katakan!" Desak Ardhi sudah tidak sabar ingin mendengar berita dari asistennya itu.


Rudi merogoh satu map file dari tas kerjanya. Tangannya menjulur ke arah Ardhi. Dengan ragu Ardhi menerima map file itu.


"Ibu nya Bos menjual rumah yang di Surabaya. Apa Bos tahu alasannya?" Ardhi belum membuka lembaran dalam file yang sudah ada di tangannya. Cara Rudi berbicara membuat Ardhi tidak tertarik memeriksa lembaran dalam map itu. Dia lebih penasaran dengan apa yang akan di ucapkan Rudi berikutnya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2