DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Tidak diakui


__ADS_3

"Kirain Doly tinggal di sini." Ucap Embun lemas menatap kepergian Doly. Setelah Doly hilang dari jangkauan matanya. Dia pun melenggang pergi meninggalkan Tara yang masih belum selesai makan.


Tara menghela napas dalam, Dia sangat kecewa dengan sikap Embun. Ternyata ultimatum darinya hanya mempan sesaat.


Embun kini sudah berada di dalam kamar. Dia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja riasnya. Dia sangat merindukan Mas Ardhinya. Embun Mendudukkan bokongnya di kursi dengan lemas. Dadanya juga terasa sesak, karena begitu banyak kejutan yang membuatnya syok.


Rombongan air mata mulai dirasa pelan-pelan mengintip dari kelopak matanya. Tampaknya mereka tak sabar lagi ingin keluar dari persembunyiannya. Embun tak mampu lagi membendungnya. Diapun menangis sejadinya dan membiarkan mereka mengalir menelusuri garis wajahnya yang putih, sembari tangan halusnya mengusap foto dirinya bersama Ardhi.


"Aku tak akan pernah bisa lagi bermain bersama kenangan. Bernostalgia dengan daun kering yang kita kutip di pinggir danau. Hanya ada rindu di sini. Rindu yang harus kupeluk erat di setiap malamku. Haruskah kusalahkan rindu?" ucapnya lirih, menatap sendu foto-foto Mas Ardhinya.


"Baru beberapa hari, rasanya Aku tak sanggup lagi. Sanggupkah Aku menunggu sampai enam bulan?" Embun langsung melap air matanya, disaat Dia menyadari keberadaan Tara.


Dia beranjak dari duduknya, bersandar di meja rias dengan perasaan kesal dan sedih. Dia pun menunduk, merasa malu menangis dihadapan Tara.


"Tidak ada yang memberatkan Adek. Sikap Adek yang membuat Adek merasa tertekan. Cobalah rileks dan berdamai dengan hati. Jangan pupuk kebencian di hatimu." Ucapan Tara membuat Embun tersentak. Dia pun mengangkat wajahnya menatap Tara yang berdiri dihadapannya.


"Bicara itu gampang. Coba kamu berada di posisiku. Dipaksa menikah dengan orang yang kamu tidak suka. Ditambah kamu punya kekasih? apa kamu akan sanggup? aku yakin 1000% kamu tidak akan sanggup." Embun melap air matanya, menatap kesal Tara yang seolah menertawakannya.


"Kenapa kamu tertawa? senang lihat orang menderita?"


"Bukan gitu, Adek begitu menyiksa diri sendiri. Nikmati aja prosesnya, kalau memang Mas Ardhi jodohnya Adek. Yakinlah, kalian pasti bersatu." Ucap Tara menatap lekat Embun. Dia juga akan menerapkan prinsip itu pada dirinya. Dia tidak mau membebani pikirannya lagi dengan terlalu banyak memikirkan Embun. Toh Embun sangat membencinya.


Mungkin sudah saatnya Dia mencoba membuka hati pada wanita lain. Tara menghela napas dalam, Diapun berbalik hendak meninggalkan Embun untuk masuk ke ruang kerjanya. Tapi, Embun menahannya.


"Eehh kamu mau kemana? kamu belum jelasin, kenapa pria tadi kamu bilang sebagai Doly. Apa benar dia Doly? teman kita waktu kecil?" Embun langsung bertanya tentang Doly. Tidak mungkin Dia curhat mengenai Ardhi kepada Tara.


"Iya." Jawabnya pendek, Dia pun melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya. Embun langsung mengekori Tara.


Setelah masuk ke ruang kerjanya Tara. Lagi-lagi Embun dibuat takjub melihat desain interiornya. Benar-benar selera sultan.


Embun berdiri di hadapan Tara yang dibatasi oleh meja kerjanya Tara.


"Kenapa kalian menyembunyikan fakta, kalau Doly masih hidup?"


"Tidak ada yang menyembunyikan keberadaannya dari kita. Abang saja baru tahu, kalau Dia itu adalah Doly, dua minggu lalu. Bahkan Tulang dan Nantulang pun tidak tahu, kalau Dia adalah Doly. Padahal Dia sudah bekerja di kebun salak kalian sudah lama." Tara senang melihat reaksi Embun yang nampak menguasai diri, mengetahui tentang Doly. Padahal sebelum mereka menikah, Ibunya Embun melarang Tara untuk menceritakan tentang Doly. Karena Mama Nur takut, Embun kembali trauma.


"Gak masuk akal. Apasih yang kalian sembunyikan dariku?" cecar Embun, merasa tidak percaya dengan penjelasan Tara.


"Tidak ada yang disembunyikan. Belum ada waktu yang tepat untuk menceritakannya kepada Adek. Dan sekarang Adek sudah tahu bahwa Doly masih hidup. Jadi, Abang harap, kesalahpahaman diantara kita sudah selesai." Embun terdiam mendengar ucapan Tara yang menampilkan ekspresi serius itu.


"Hanya gara-gara masalah itu, Adek sampai memutuskan hubungan silaturahmi dengan Abang. Sebegitu berharganya Doly buat Adek." Raut wajah Tara kini berkabut. Dia merasa dikucilkan, padahal Dialah sepupunya Embun. Tapi, Embun lebih baik kepada Doly.


"Abang kira, dengan bergulirnya waktu. Dengan semakin dewasanya Adek. Maka Adek tidak membenci Abang lagi. Tapi, nyatanya penilaian Adek kepada Abang tidak berubah. Selalu menilai Abang buruk. Padahal, Abang tidak ada niat menyakiti Adek, dari dulu sampai sekarang. Bahkan Abang akan membantu Adek kembali kepada Pak Ardhi." Embun hanya bisa terdiam mendengar ucapan Tara, yang tepat sasaran itu. Embun jadi sedikit merasa bersalah.


"Ya mana ku tahu, pokoknya aku itu benci kamu." Ketus Embun.


Tara tersenyum kecut. "Ya Abang tidak bisa memaksa seseorang untuk menyukai kita. Tapi, cobalah bersikap bijak. Kita ini masih saudara. Kenapa Adek dendam berkarat kepada saudara sendiri."


"Mana ku tahu, pokoknya Aku benci. Ya benci." Embun ngeyel. Berdecak kesal.


"Sampai saat ini, Abang masih berharap. Kita baikan, bersikap sewajarnya saja. Tidak ada kebencian di hati. Asal Adek tahu, Abang sangat penasaran dengan alasan Adek membenci Abang. Padahal kita saudara. Ternyata alasannya hanya sepele. Hanya karena Abang sering jahili Adek sewaktu kecil dan karena Doly."


"Sepele? itu tidak sepele. Gara-gara kamu Doly celaka. Bahkan Dia menghilang dan dikatakan meninggal." Celah Embun kesal.


"Adek salah paham. Tidak ada niat Abang untuk melenyapkan Doly. Dia itu hanya main-main. Agar Adek semakin membenci Abang. Ya namanya anak laki-laki, pasti sering saling menjahili. Jadi, waktu itu, Doly sedang jahil. Mana kita tahu arus sungai naik." Keduanya berbicara nampak serius.


"Aku tidak perlu tahu itu, ya perasaan tidak bisa dipaksa. Aku benci kamu tahu."


"Iya Abang tahu itu." Tara langsung menanggapi ucapan Embun. Yang membuat Embun tercengang.


"Jujur sikap Adek ini membuat hati Abang sakit. Ucapan Adek itu, benar-benar membuat harga diri Abang terinjak-injak. Tapi, Abang berusaha untuk tidak dendam. Karena apa? karena kita masih saudara. Apalagi saat ini Adek istri Abang."


"Aku bukan istrimu....!" ketus Embun, menunjuk Tara dengan telunjuknya, matanya berkaca-kaca. Menahan air mata yang hendak jatuh.


Tara menghela napas dalam. "Di mata hukum dan agama kita sah sukai istri." Tegas Tara.


"Ingat perjanjian." Teriak Embun histeris. Dia merasa kesal bukan main. Dia merasa terjebak dalam pernikahan palsu ini.


"Iya, itu Abang ingat. Berapa kali Abang bilang. Abang akan kembalikan kamu kepada Ardhi."

__ADS_1


"Kalau begitu, kenapa kamu ingin menodaiku?" Embun menangis.


Tara menghela napas dalam. Tidak sanggup berdebat dengan Embun.


"Maaf, jika ucapan Abang membuat Adek tertekan dan malah membuat Adek semakin membenci Abang. Abang tidak akan berani melakukan itu, apalagi Adek tidak menginginkannya." Tara beranjak dari duduknya. Dia tidak tega melihat Embun yang menangis. Dia hendak memeluk Embun. Tapi, wanita itu menghindar.


"Jangan sentuh." Menatap tajam, sambil menarik ingus. Tara jadi semakin merasa bersalah.


"Iya, Abang tidak akan menyentuh Adek. Abang juga akan tidur terpisah dengan Adek. Yang penting Adek nyaman. Hanya satu yang Abang pinta. Jangan membenci Abang sebengis itu. Abang merasa tidak berharga sebagai manusia. Disini sakit dek, mengetahui orang g terdekat kita membenci kita sedalam itu." Tara mengelus dadanya yang terasa sesak. Wanita yang begitu dicintainya itu, selalu saja merendahkannya.


"Makanya jangan buat aku kesal." Embun melunak, merasa kasihan dan tersentuh dengan ucapan Tara.


Tara hanya mengangguk, merasa malas berdebat lagi. Dia merasa tidak pernah membuat Embun kesal. Tapi, wanita itu selalu menilainya buruk.


"Iya, Abang akan jaga jarak. Tapi, Abang mohon. Bersikap wajarlah sebagai istri dihadapan Keluarga besar kita." Tara memohon.


"Iya." Embun melap air matanya keluar dari kamar itu dengan berjalan cepat.


❤️❤️❤️


Keesokan harinya. Setelah sholat shubuh. Ponsel Embun yang berada di atas nakas dekat tempat tidur berdering. Ada panggilan video dari Mama Nur. Dia menggeser icon hijau. Wajah sumringah Mama Nur dan Mama Mira sudah tampil di layar ponselnya.


"Assalamualaikum Maen? mana Tara, dari tadi Bou telpon gak diangkat?" Ucapan Mama Mira membuat Embun langsung mencari keberadaan Tara.


Dia langsung masuk ke ruang kerjanya Tara dan mendapati pria itu sedang sibuk di meja kerjanya. Padahal masih pukul enam pagi.


Apa Dia tidak tidur semalaman? Embun membathin, kaki jenjangnya bergerak ke arah Tara.


"Bou ingin bicara." Embun menyodorkan ponselnya kepada Tara. Dengan tersenyum Tara meraihnya.


"Sayang, anakku Tara, kenapa semua ponselmu mati?" wajah Mama Mira nampak kusut di layar. Dia kesal dengan kebiasaan putranya itu, yang sering me.atikan ponsel di malam hari, Samapi saatnya bekerja.


"Habis daya Ma." Jawabnya sambil menguap.


"Eehhmmm.... Mama hanya ingin mengingatkanmu. Agar menjaga Embun dengan baik. Sekarang musim hujan. Jadi, kamu jangan sering lembur di kantor. Embun takut hujan." Tara melirik Embun yang berdiri di sebelahnya. Embun tersenyum karena wajahnya nongol di kamera.


"Iya Ma."


"Acting, rileks saja." Embun melirik Tara, mencoba tersenyum.


"Iya Nantulang, mohon doanya. Agar usaha kami beberapa hari ini cepat membuahkan hasil." Embun langsung menyikut perut Tara. Dia merasa Tara tidak sopan, mengatakan seperti itu kepada Ibu mertuanya.


"Iya Bere, semangat...!" suara Mama Nur, terdengar bahagia.


"Iya Eda, tenang saja. Anakku itu bibit unggul." Kedua wanita paruh baya itu pun tertawa. Embun jadi malu, karena Dia merasa orang tuanya itu membuat mereka sebagai bahan lelucon. Tara hanya nyengir, sekaligus senang. Embun pagi ini bersikap manis padanya. Masuk ke ruangannya dengan tersenyum.


"Sudah ya sayang, kalian baik-baik jangan bertengkar." Ucap Mama Mira. "Bye... bye sayang...!" Conference Call pun berakhir. Tara menyerahkan ponselnya kepada Embun.


"Jangan murung gitu. Jangan ambil hati ucapan orang tua kita." Tara ingin meyakinkan Embun, kalau akan benar-benar menepati janjinya, mengembalikannya kepada Ardhi.


"Iya."


"Kamu bersiaplah, kita pergi bersama. Doly gak bisa kerja hari ini. Katanya Dia sakit perut, masuk angin."


"Iya." Lagi-lagi Embun menjawab singkat dan dengan nada lembut.


Kini keduanya sedang berada di dalam mobil, mereka duduk di bangku belakang supir. Tara memperhatikan penampilannya yang sangat elegant. Lagi-lagi Tara terpesona.


Embun yang merasa diawasi oleh kedua mata elangnya Tara, mencoba pura-pura tidak tahu. Dia sedikit penasaran dengan Tara. Apakah pria itu menyukainya?


"Kenapa bawa air minum?" Tanya Tara, setelah melihat Embun meletakkan botol minumnya di tempat yang disediakan di dalam mobil itu.


Embun menoleh kepada Tara. "Iya, aku lebih suka minum air mineral yang dibawa dari rumah. Lebih terjamin kebersihannya." Jawabnya dengan tersenyum. Sikap Embun sedikit berubah lebih ramah dan bersahabat. Tara senang, Dia melempar senyum manisnya kepada Embun. Embun membalas senyumannya.


Senyuman manis Embun di pagi hari ini sebagai mood booster alami buatnya. Dia merasa lebih bersemangat. Seperti imun tubuhnya juga meningkat, berkat senyum manisnya Embun.


"Kebiasaan yang bagus." Jawab Tara, masih menatap Embun, yang berusaha menghindari tatapan Tara dengan melihat keluar kaca jendela mobil.


"Nanti, kalau Doly sudah baikan. Aku akan suruh dia menjemputmu. Kabari Abang, kalau urusan Adek di kampus sudah selesai." Embun Akhirnya menoleh ke arah Tara.

__ADS_1


"Menghubungi?" tanyanya ingin kejelasan.


"Iya."


"Aku tidak tahu no teleponmu."


"Baiklah, Abang hubungi no Adek."


"Emang kamu tahu no ku?" tanya Embun bingung. No lamanya kan tidak jadi di aktifkan.


Tara tergagap.."Eeehh mana Abang tahu, kita belum pernah tukeran no." Tara tersenyum tipis.


"Berapa no ponselmu. Biar Aku saja yang miscall." Embun pun mengubungi no ponsel Tara. Ponsel yang berdering saat ini adalah ponsel yang ada di tas kerjanya Tara. Bukan ponsel yang sedang di pegang nya.


"Sudah ku hubungi." Embun menatap Tara.


"Iya, nanti Abang cek." Jawab Tara tersenyum.


"Eemmmmm... Bolehkah, aku menghubungi Mas Ardhi?" pertanyaan Embun, membuat Tara terkejut. Dia berasa seperti kena korslet listrik. Dia menatap kesal Embun.


"Maaf, aku hanya bertanya." Hati Tara langsung mencolos mendengarnya. Sepertinya, tidak ada tempat setitikpun di hati Embun untuknya.


"Sabar, anggap ini ujian. Hanya enam bulan." Jawab Tara datar. Tak terasa merasa sudah sampai di parkiran, tepat di depan ruang dosen.


"Aku turun dulu." Embun turun tergesa-gesa. Dia tersadar, telah salah bersikap dengan membahas Ardhi.


Tara yang mengiyakan kemauan Embun, dengan tidak tidur seranjang dan jangan jahil kepadanya. Membuat Embun sedikit merasa nyaman. Jadi Dia akan berusaha bersikap baik kepada Tara.


Tara memperhatikan Embun yang berjalan dengan cepat. Setelah wanita itu, bilang dari pandangannya. Dia pun menyandarkan tubuhnya, sembari menatap kursi kosong di sebelahnya. Saat itu juga Tara melihat botol minum Embun yang ketinggalan. Dia pun turun dari mobil, berlari masuk ke gedung perkuliahan untuk mencari Embun.


Saat Tara mencari keberadaan Embun, seketika dia menjadi pusat perhatian di tempat itu. Karena, penampilan Tara yang Kren dan terlihat Formal. Ditambah wajahnya yang tampan.


"Pak Sutan?" Tara menoleh ke asal suara seorang wanita yang memanggilnya. Dia pun memperhatikan wanita yang berjalan ke arahnya.


"Pak Sutan kan?" suara wanita itu manja sekali.


"Iya." Jawab Tara seadanya.


"Ada perlu apa Abang ke sini?" Tara sedikit bingung. Tadi wanita ini memanggilnya Bapak dan sekarang koq jadi Abang.


"Itu, mencari mahasiswi bernama Siti Embun Harahap Jurusan Ekonomi." Tara melayangkan pandangannya, mencari keberadaan Embun.


"Embun, Embun maksud Abang?" tanya si wanita tak kalah terkejut. Kenapa si Embun bisa kenal dengan Sutan Batara Guru Siregar. Ini kan pengusaha sukses yang sedang digandrungi banyak putri-putri para pengusaha sukses. Termasuk Dia salah satunya.


"Iya." Jawab Tara singkat, mulai risih dengan sikap wanita dihadapannya yang sok akrab.


"Embun sedang di ruang dosen." Masih menatap takjub Tara


"Ooohh... di mana ruangannya?"


"Emang ada urusan apa bang? Aku teman dekat Embun. Kalau ada hal penting, bisa titip pesan sama saya. Nanti saya kasih tahu." Masih bersikap sok akrab.


"Ini, botol minumnya ketinggalan di mobil." si wanita memperhatikan botol minum yang di pegang Tara.


"Emang Abang siapanya Embun? koq bisa botol minumnya ada sama Abang?" si wanita penasaran tingkat tinggi.


"Lolita....!" teriakan Embun terdengar jelas, saat memanggil wanita yang berbicara dengan Tara. Tara yang membelakangi Embun, Akhirnya berbalik badan. Sesaat Embun terkejut melihat keberadaan Tara di tempat ini.


"Ngapain Dia ke sini?" Embun membathin, Dia melangkah cepat, menghampiri Tara dan Lolita.


"Eehh Embun, Abang Tara mau kasih botol minummu." Lolita nyerocos, tanpa ditanya. Ternyata pria dihadapannya di panggil dengan sebutan Tara, bukan Sutan.


Embun menatap datar Tara. Melihat sikap Embun, Tara jadi pesimis.


"Ini botol minum Adek." Embun meraihnya.


"Dia siapamu Embun?" Lolita bertanya penuh dengan rasa penasarannya.


Embun menatap tajam Tara. Dia memberi kode dengan matanya, agar Tara tidak banyak bicara.

__ADS_1


"Dia saudaraku, Eehhh... maksudku saudara jauh. Kebetulan selama skripsi ini. Aku akan tinggal di rumahnya." Jawab Embun, tidak berani menatap Tara, yang menampilkan ekspresi wajah kesal. Bisa-bisanya istrinya itu, mengatakannya sebagai saudara jauh.


"Aaaaakkuuu..!" Embun langsung memotong ucapan Tara.


__ADS_2