DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Disekap


__ADS_3

"AKU AKAN MENIKAHINYA!" tegas Ardhi menatap serius Tara dan Embun yang terperangah dengan kalimat yang keluar dari mulut pria itu.


Tara benar-benar tersentak. Dia sengaja mengancam Ardhi, dengan membawa kasus ini ke jalur hukum, agar pria itu tidak mengelak. Tapi, ternyata tidak sesulit itu meminta pertanggung jawaban dari Ardhi.


"Malam ini kami akan menikah. Aku akan persiapkan segala sekarang. Aku pamit dulu." Lagi-lagi Tara dan Embun terpelongok dengan ucapan dan kelakuan Ardhi. Pria itu benar-benar meninggalkan mereka di ruangan itu.


Tara dan Embun saling pandang dengan ekspresi bingung dan terkejut. Setelah kepergian Ardhi.


Kreek...


Pintu kembali di buka. Tara dan Embun menoleh ke arah pintu, masih dengan ekspresi wajah terkejutnya.


"Melati ada di rumah kalian kan?" Tanya Ardhi yang berdiri di ambang pintu dan masih memegang handle pintu itu. Dengan wajah seriusnya.


Embun mengangguk lemah. " Iya Mas." Jawabnya kemudian menoleh ke arah Tara yang juga masih terbengong-bengong.


"Baiklah, malam ini akan terjadi pernikahan di rumah kalian." Tegas Ardhi menutup pintu ruangan itu dengan pelan.


"Apa-apaan dia itu? menikah malam ini? dia pikir bisa mengurusnya dalam beberapa jam? dasar pria gila!" Ketus Tara menggeleng tidak percaya dengan tingkah anehnya Ardhi.


"Aku tidak mau kalau dia menikahi Melati secara sirih. Aku tidak akan membiarkannya. Lihat saja apa yang akan ku lakukan, nanti malam padanya, sempat dia kepikiran hanya ingin nikah siri." Tara tak henti-hentinya merepet. Embun hanya bisa tertawa kecil melihat kekesalan di rawut wajah suaminya itu. Dia sudah seperti ayahnya Melati saja. Sangat khawatir karena putrinya akan menikah.


"Koq jadi marah-marah sih Hasian? yang mau nikah itu Melati, bukan aku." Embun merangkum wajah tampannya Tara dan menggoyang-goyangkan wajah tampan yang lagi memerah itu.

__ADS_1


"Gak marah dek, hanya kesal saja. Setelah dia menodai anak gadis orang dia menghilang. Dan setelah diancam ingin dipenjarakan, dia langsung bilang mau menikah malam ini. Dipikir nya suamimu ini bodoh apa? dia tidak akan bisa lari begitu saja. Abang yakin mantan pacarmu itu hanya ingin menyelamatkan diri." Tara yang memang kesal kepada Ardhi dari awal, tak henti-hentinya memburuk-burukkan Ardhi. Ya begitulah manusia, kita akan selalu mencela orang yang kita benci. Apalagi Ardhi Adalah mantannya Embun.


"Mas Ardhi tidak seperti itu."


"Bela, bela saja pria itu. Kamu gak tahu gimana seorang pria. Apalagi dia seorang pengusaha sukses. Mana mungkin dia mau menikah dengan gadis seperti Melati, seorang pembantu." Tegas Tara penuh emosi. Embun semakin bingung saja lihat reaksi Tara yang menurut Embun terlalu berlebihan. Kenapa suaminya itu jadi marah-marah tak jelas.


Embun kesal dengan sikap Tara yang tiba-tiba jadi cerewet itu. Dia akhirnya memilih diam, mendudukkan bokongnya kembali di kursi meja makan. Tara juga melakukan hal sama. Sehingga keduanya kini duduk saling berhadapan.


"Mas Ardhi tidak seburuk apa yang Abang pikirkan. Dia tidak mau lari, dia mungkin hanya tidak tahu saja telah menodai Melati."


"Aneh sekali ucapan mu itu Hasian? dia tidak tahu dengan apa yang dilakukannya, Bulshitt..!" Tara menggeleng lemah.


"Iya, kata si Melati Mas Ardhi dalam keadaan mabuk saat itu." Jelas Embun, memegangi perutnya dengan ekspresi wajah memelas.


"Lapar, oh iya, kita belum mesan makanan." Tara pun menekan bel yang ada di ruangan itu. Tak butuh waktu lama pelayan pun masuk ke ruangan private itu, membawa menu makanan.


***


Sementara di waktu yang sama dan tempat yang berbeda. Ardhi sudah sampai di kantornya. Dia mencari keberadaan Rudi sang asisten yang tidak nampak batang hidungnya di kantor itu, padahal waktu ISOMA (Istirahat makan sholat) sudah habis.


Dengan penuh kekesalan Ardhi meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja kerjanya. Dia akan menelpon sang Asisten Rudi, yang akhir-akhir ini selalu lambat melaksanakan tugas.


"Di mana kamu?" suara Ardhi terdengar kesal dan tak sabaran melalui panggilan suara. Dia sedang menelepon Rudi, sang Asisten.

__ADS_1


"Saya lagi di Apartemen Bos." Jawabnya tenang.


"DI APARTEMEN? ini sudah habis waktu istirahat. Kenapa kamu masih di apartemen?" kali ini Ardhi benar-benar marah. Rudi sampai menjauhkan ponselnya dari kupingnya.


"Aku baru selesai menyelesaikan misi Bos." Rudi berlari ke sebuah kamar. Dia mematikan cepat panggilan dari Ardhi. Kemudian pria itu menghubungi Ardhi lagi melalui video call. Dengan kesal Ardhi mengangkat telepon itu. Berani-beraninya asistennya itu mematikan telepon darinya.


"MELATI..? mata Ardhi membelalak melihat layar ponselnya. Di situ ada Melati sedang duduk di sofa dengan kaki, tangan terikat dan mulutnya di sumpal. Melati nampak berusaha ingin melepas ikatan tangan dan kakinya.


"RUDI... apa yang kamu lakukan?" teriak Ardhi dalam panggilan video itu. Melati bisa mendengar suara Ardhi yang marah.


Mendengar Bos nya marah. Rudi mengubah tampilan camera jadi ke arahannya. "Aku baru selesai melaksanakan tugas Bos. Baru hari ini aku bisa menangkapnya. Beberapa hari ini dia selalu ditemani seorang pria. Jadi, Melati tidak bisa diajak bicara. Makanya aku culik Bos." Ardhi menggeleng penuh kefrustasian. Dia sampai menimpuk jidatnya sendiri. Masalah terus saja datang. Kalau seperti ini ceritanya Tara pasti akan benar-benar memenjarakannya.


"Aku akan ke sana sekarang. Lepaskan ikatan tangan dan kakinya!" seru Ardhi penuh kekesalan, pria itu pun mematikan panggilan video. Ardhi tadinya ingin meminta sang asisten melengkapi berkas, agar dirinya menikah dengan Melati secepatnya. Karena, dia baru tahu, bahwa Melati ada dikediaman Tara. Tapi, lihatlah asistennya itu sudah buat masalah.


Mengetahui Melatilah wanita yang dinodainya, membuat Ardhi sedikit legah. Setidaknya dia bisa lepas dari ancaman Anggun. Ardhi tidak tahu apa yang diinginkannya, saat ini. Yang jelas, setelah dia tahu, Melati wanita yang dinodainya, dia ingin bertanggung jawab pada wanita itu.


Dia juga tidak tahu, dorongan kuat apa yang membuatnya ingin menikahi Melati. Dia tidak mencintai wanita itu. Tapi, dia juga tidak membencinya. Ada rasa simpatik, ya hanya rasa simpatik Karena, Melati dinilainya adalah wanita baik dan pandai memasak.


Sesimpel itukah kriteria wanita yang akan jadi pendampingnya? ya bisa jadi. Karena, Ardhi bukanlah orang sombong. Dia juga awal nya berasal dari keluarga miskin. Kalau bukan berkat bantuan Pak Zainuddin. Mungkin Ardhi masih gembel.


Sesampainya di apartemennya. Ardhi langsung berjalan cepat menuju kamar tempat Melati disekap oleh Rudi. Sang asisten dengan sigap membuka pintu kamar itu. Nampaklah Melati yang langsung berlari kepojokan. Dia takut melihat Ardhi dan Rudi memasuki ruangan itu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2