
Sesampainya di rumah Lolita dengan perasaan dag dig dug. Embun pun dibuat semakin merasa bersalah. Ternyata Lolita tidak ada di rumah. Sahabatnya itu sedang dirawat di rumah sakit. Informasi yang didapatnya dari ART, Lolita kena penyakit tifus.
"Ya Allah..... Kenapa bisa Lolita kena penyakit tifus? Dia orangnya disiplin dan hidup dengan teratur. Makan teratur, istirahat pun selalu tepat waktu. Kenapa dia kena penyakit itu?" Embun bermonolog sambil menyetir. Raut wajah penuh kekhawatiran dan cemas jelas terlihat di wajah cantiknya.
"Apa dia tertekan, karena sudah mengetahui kebenarannya, bahwa Aku dan Abang Tara adalah suami istri? Ya Allah, apa yang harus kulakukan?" Embun masih bermonolog, kegelisahan semakin jelas terlihat dari gerak -gerik tubuhnya.
Sesampainya di rumah sakit, paling bagus di kota M. Tempat Lolita dirawat, dia langsung ke bagian administrasi, mencari kamar Lolita di rawat.
"Di lantai 3 ruang anggrek, kamar no 13B." Jawab perawat yang bertugas piket sore ini. Ya sekarang sudah pukul 17.00 WIB.
Embun bergegas, masuk ke lift. Dia tak henti-hentinya mengusap wajahnya yang sudah mengeluarkan keringat. Bahkan kini wajah putihnya semakin pucat. Embun sangat takut. Kalau sakitnya Lolita, karena dia. Maka, dia akan merasa sangat bersalah sekali.
Embun menatap lemah ruang Lolita dirawat. Dia merasa sangat takut untuk menghadapi wanita itu. Pasti nantinya, dia akan dicecar pertanyaan-pertanyaan yang membuat Embun susah untuk menjawabnya.
"Embun?" Embun menoleh kebelakang, karena namanya dipanggil seseorang. Dia tersenyum, berusaha menutupi rasa takut dan cemas dihatinya.
"Tante." Ucap Embun lirih, memperhatikan Ibunya Lolita mendekat ke arahnya.
"Mau jenguk Lolita? kenapa malah bengong di luar? ayo masuk!" Ibunya Lolita merangkul Embun, masuk ke ruangan itu.
Sesampainya di ruangan, Embun menatap enggan Lolita yang menampilkan ekspresi wajah tidak senang kepadanya. Sehingga Embun merasa sangat sedih. Sepertinya sahabat nya itu akan membencinya.
"Bagaimana keadaanmu Lol?" Ucap Embun lembut, meraih jemari sahabatnya itu dan menggenggamnya. Lolita menarik tangannya dari genggaman Embun.
Dug...
Embun terkejut dengan reaksi dinginnya Lolita. Dia melirik Ibunya Lolita, yang sedang sibuk memberesi pakai kotornya Lolita. Embun menarik napas legah, ternyata ibunya Lolita tidak melihat kejadian itu
__ADS_1
"Embun temani Lolita sebentar ya, Tante mau keluar, ada perlu." Ibunya Lolita menghampiri putrinya itu. Mengelus lengannya dengan lembut.
"Iya Tante." Jawab Embun sopan. Melirik Lolita yang kini tidak mau menatapnya.
"Untuk apa kamu kesini Bun? mau lihat aku tidak berdaya begini. Tega kamu ya lakuin ini samaku." Lolita langsung mengeluarkan uneg-uneg di hatinya. Dia sungguh kecewa kepada sahabatnya itu.
Embun hanya bisa menatap sendu sahabatnya itu. Dia tidak bisa membela dirinya lagi
Dia memang salah.
"Apasih yang tidak ku lakukan padamu Bunbun? menemanimu tidur di kost an mu, saat terjadi hujan badai, ku iyakan. Jadi obat nyamukmu, saat berjumpa dengan Mas Ardimu. Aku tidak keberatan. Tapi, lihat yang kamu lakukan padaku. Kau sedang menunjukkan kesombonganmu." Lolita terisak saat mengeluarkan semua uneg-uneg di hatinya.
Embun hanya bisa diam, hanya air mata yang kini yang menetes di pipi putihnya. Sebagai tanda, kalau dirinya juga sedih melihat kondisi Lolita saat ini.
"Tidak seperti itu Lol, aku memang salah. Tapi, tidak ada niatku mempermainkanmu." Ucap Embun sedih. Dia melap air matanya yang sudah membanjiri pipi putihnya.
"Kamu cepat sembuh ya? kalau memang karena diriku kamu sakit, aku minta maaf." Embun tidak mungkin mengatakan bagaimana perasaannya pada Tara saat ini.
Sepertinya akan lebih baik, semuanya kembali kepada rencana semula. Tara menceraikannya dan Dia kembali kepada Mas Ardhinya.
Hikmah yang di ambil dengan menikahnya dia dengan Tara adalah. Bahwa kesalahpahaman antara mereka berdua selesai. Tidak ada lagi kebencian yang amat sangat pada suaminya itu. Yang ada saat ini adalah rasa cinta. Tapi, cinta yang tidak bisa saling memiliki.
Mungkin inilah hukuman buat Embun dan Tara. Karena, telah mempermainkan ikatan suci pernikahan. Tak seharusnya Tara membuat perjanjian seperti itu.
"Coba kamu jujur dari awal, kalau kamu pulang kampung dan menikah dengan Paribanmu yang ternyata Tara. Mungkin kita masih bisa berhubungan baik, tanpa ada rasa kesal dan sakit hati. Tapi, sudahlah. Sudah nasibku dipermainkan sahabat sendiri.
"Tahu gak Embun, disitu aku merasa sangat kecewa padamu. Kita sahabatan, tapi kamu tega mengerjai aku seperti ini. Tidak mungkinkan, aku menikah dengan Abang Sutan. Padahal kamu istrinya." Ucap Lolita kesal. Dia sampai sakit memikirkan perlakuan Embun padanya. Teganya sahabat nya itu, berbohong.
__ADS_1
"Kenapa tidak mungkin? kami akan bercerai, kalian bisa melanjutkan hubungan kalian. Aku akan kembali kepada Mas Ardhi. Karena memang seperti itu kesepakatan kami di awal sebelum menikah." Ucap Embun getir, air matanya kini bercucuran. Dia tidak bisa membendung perasaannya yang terasa sangat sakit sekali.
Kenapa membenci dan mencintai Tara, sakitnya sama-sama membekas di hati.
"Apa maksud ucapanmu?" Lolita terkejut mendengar ucapan sahabatnya itu. Dia sampai mengubah posisinya menjadi duduk. Tatapannya penuh dengan selidik.
"Iya, kami menikah hanya setingan gitu. Tidak serius, kami menikah dalam sebuah perjanjian. Karena, kami tidak saling mencintai. Makanya aku, deketin kamu sama Abang Tara." Ucap Embun lirih, dia menarik napasnya dalam. Tidak menyangka kata-kata itu keluar dari mulutnya.
Lolita menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Jangan buat masalah baru dengan membuat cerita baru. Aku bisa menilainya Bunbun?" Ucap Lolita sinis, merasa kesal pada Embun yang nampak jelas menyembunyikan sesuatu.
"Aku lihat kalian berpelukan di kamar. Bahkan kamu tidak mengenakan apa-apa. Aku yakin itu, walau tubuhmu ditutupi selimut. Seintim itu, kamu bilang tidak ada rasa? jangan munafik Embun." Lolita berdecak kesal. Dia sangat menyayangkan kejadian ini. Kejadian ini bisa membuat hubungan mereka merenggang.
Embun melongok mendengar ucapan Lolita. Dia malu, menunduk, menutup wajahnya dengan tanganya.
Lama keduanya terdiam. Hingga terdengar tarikan napas Embun.
"Aku tidak ingin hubungan baik kita hancur, karena masalah ini. Saat ini, aku dengan sadar mengatakan bahwa, kamu bisa melanjutkan hubunganmu dengan Tara. Karena aku akan kembali kepada Mas Ardhi. Terlepas Tara atau kamu tidak mau melanjutkannya lagi. Itu tidak ada kaitannya lagi denganku.
"Lolita, aku hanya ingin pengertianmu. Ini juga berat untukku, tolong jangan musuhi aku. Aku pamit dulu. Moga kamu lekas sembuh ya sobat." Embun kembali melap air matanya, memeluk sahabatnya itu degan lembut. Lolita hanya diam termangu.
TBC.
Mampir ke karya baruku. Klik profilku judulnya ❤️Ayahku Suamiku ❤️
__ADS_1
Langsung di Favoritkan ya say. Mohon dukungannya, agar authornya semangat.