
Tok.... tok....tok....
"Tara.... Tara sayang...!" suara Mama Mira terdengar samar oleh Embun. Dia pun terbangun, tapi masih memejamkan matanya.
"Embun, Embun.... Embun sayang... Buka pintunya Maen!" Suara Mama Mira semakin jelas didengar oleh Embun, apalagi Ibu Mertuanya itu memanggil namanya.
Embun pun berusaha membuka matanya yang terasa masih sangat berat seperti ditimpah batu besar. Saat itu juga, Dia terkejut melihat sosok Tara yang tidur menghadapnya dan paling menyebalkannya ternyata Embun melingkarkan tangannya di perut Tara.
Dengan cepat Embun menjauh dari tubuh Tara yang nampak masih tertidur pulas.
Dia terduduk dan dengan cepat menahan sarungnya agar tidak melorot dari bagian dadanya. Dia memegangi dadanya yang bergemuruh. Entah kenapa setiap dekat dengan Tara, Embun selalu merasa tidak tenang. Dia merasa tubuh Tara seperti punya Magnet yang membuatnya selalu mendekat.
"Embun, Tara, bangun sayang, waktu Magrib sudah dekat." Suara Mama Mira benar-benar membuat Embun tersadar penuh.
Dia pun mentoyor kepalanya sendiri, Dia kesal dengan dirinya yang selalu tidur dengan memeluk benda disekitarnya. Semoga Tara tidak mengetahui kelakuannya. Dia akan sangat malu, apabila Tara mengetahui kelakuannya saat tidur.
Huuffttt....!
Embun menghela napas dalam, beranjak dari ranjang dan mencari outher di kopernya untuk menutupi tubuh bagian atasnya.
"Embun, Tara....!" Suara Mama Mira semakin kuat terdengar.
"Iya Bou, sebentar." Suara Embun terdengar serak dan lemah.
Setelah mengenakan outhernya Embun berusaha membuka pintu kamar itu, anehnya Embun tidak bisa membukanya.
"Sebentar Bou, Aku tidak bisa membukanya. Sepertinya kuncinya macet." Jawab Embun dengan menaikkan satu oktaf suaranya. Sambil terus berusaha membuka pintu yang terkunci.
"Ooohhh apa Tara disitu Maen?"
"Iya Bou."
"Hanya Tara yang bisa membukanya. Sepertinya Dia menguncinya tadi." Ucapan Mama Mira membuat Embun terkejut dan terheran-heran. Aneh sekali kamar ini.
"Ohhh..." Jawab Embun bingung, menghentikan aksinya mengotak-atik kunci pintu itu.
"Bangunkan Tara sayang,!" perintah Mama Mira.
"Iya Bou." Embun berjalan menghampiri Tara yang masih tertidur pulas.
"Hei, Hei, bangun... Hei.... Bangun..!" ucap Embun dengan ketus, Dia merasa gengsi sekali bersikap manis kepada pria itu.
Tara tidak bergeming, suara Embun tidak mempengaruhi tidurnya yang pulas. Sepertinya Tara sangat kelelahan.
Embun pun akhirnya menyentuh punggung Tara, karena kini posisi nya Tara membelakangi Embun.
"Bangun...bangun....!" Embun menggoyang punggung Tara. Pria itupun berbalik, tapi masih menutup matanya.
"Bangun, Hei Bangun. Sudah Magrib." Embun menyentuh dan menggoyang dada Tara.
Grappp....
Tara menyambar tangan Embun, saat merasa sesuatu menyentuh dadanya. Dia pun menenggelamkan tangan Embun di dekapannya.
__ADS_1
Pukkk...
Embun memukul bahu Tara dengan keras. Dia kesal kepada Tara karena menyentuhnya.
Tara membuka mata, karena merasa sakit di bahunya.
"Koq main pukul." Ucap Tara menatap Embun yang membungkuk dihadapannya. Tangan kanan Embun, masih terbenam di dada bidangnya Tara.
"Bangun,...! tidur seperti kerbau saja. Lepaskan tanganku." Ketus Embun menampilkan wajah masam kepada Tara.
Tara melihat ke dadanya, tangan Kanan Embun berontak dalam dekapannya. Dia pun melepaskan tangan Embun dan tersenyum manis.
"Pintunya tidak bisa dibuka. Mama ingin masuk." Embun berbicara dengan kesal.
Tara mengangguk.
"Pintu dibuka." Ucap Tara, pintu pun terbuka. Tara mengubah posisi tubuhnya dengan terlentang, meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal. Mungkin karena tidur menjelang Magrib.
Embun dibuat terheran-heran, Dia masih berdiri di sisi ranjang dengan bingung. Dia merasa kamar Tara begitu canggih. Semuanya bisa beroperasi hanya dengan perintah suaranya.
"Embun, Bou sudah bawakan makanan untuk kalian." Mama Mira yang sudah masuk ke kamar, langsung meletakkan makanan yang dibawahnya di meja dekat sofa yang ada di ruangan itu.
Setelah meletakkan makanan di atas meja. Mama Mira menghampiri Embun yang masih berdiri bengong di sisi ranjang.
Mama Mira menempelkan punggung tangannya di kening Embun. Tara memperhatikan kelakuan Mamanya itu dengan lekat.
"Kamu masih demam sayang." Embun mengangguk.
Mama Mira mendudukkan bokongnya di tepi ranjang, menatap putranya yang nampak bermalas-malasan.
"Kalian sholat dulu baru makan ya. Mama keluar dulu. Mau ambil obat herbal untuk Embun." Ucap Mama Mira, bangkit dari duduknya. Meninggalkan Embun yang masih berdiri dalam keadaan terbengong.
"Ayo berwudhu!" Tara meraih tangan Embun yang masih berdiri mematung. Sadar tangannya disentuh Tara Dia pun menepisnya.
"Aku tidak mau sholat, Aku lagi sakit." Embun kemudian bergerak ke arah ranjang, dan langsung menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Adek bisa marah-marah berarti masih ada tenaga untuk sholat." Ucap Tara lembut, Kini Tara sudah berdiri di sisi ranjang mereka.
"Aku lagi sakit, kalau kamu mau sholat, sana sholat. Jangan paksa orang." Ketus Embun dari balik selimut.
"Baiklah, tapi kalau Adek nanti baikan. Sholat nya dijamak ke Ashar ya?!" ucap Tara, Dia pun masuk ke kamar mandi.
"Dasar sok alim." Embun kesal sekali dipaksa-paksa untuk sholat.
Tara keluar dari kamar mandi, mendapati Embun masih sembunyi di balik selimut.
Tara pun memasuki ruang sholat, masih di dalam kamarnya. Setelah sholat Dia tidak lupa berdoa, meminta kepada Sang Khalik, agar pernikahan nya menjadi pernikahan yang diberkahi dan samawa. Walau hanya enam bulan.
"Ibun, makan yuk?" Ucap Tara lembut, memperhatikan selimut yang menutupi tubuh Embun.
"Makan saja duluan," Ucap Embun malas.
"Seorang istri akan mendapatkan pahala yang banyak, apabila menemani suaminya makan." Ucap Tara, mulai memancing Embun, yang mudah meledak.
__ADS_1
Benar saja, Embun langsung menyingkap selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Jangan mengatakan seperti itu lagi. Sekali lagi saya tekankan, pernikahan ini tidak benar. Jadi, jangan berharap lebih kepada saya." Ketus Embun, menatap kesal Tara yang berjalan ke arah meja tempat makanan berada.
"Oh iya ya, Aku lupa. Ya sudah sini makan. Aku tidak akan menganggapmu istri. Saat ini Aku akan menganggapmu sebagai saudari sesama muslim saja. Kamu kan lagi sakit. Ayo sini, atau Abang bawa makanannya ke situ." Ucap Tara tersenyum, tidak mau menanggapi serius ucapan Embun.
Embun tercengang, kenapa pria dihadapannya ini, santuy gitu. Hatinya terbuat dari apa? kenapa tidak marah.
Melihat Embun tidak bergerak dari tempatnya. Tara pun akhirnya mendekati nya. mendudukkan bokongnya di tepi ranjang.
"Abang tidak mau sakit Adek tambah parah. Nantinya jadi merepotkan orang lain. Jadi Adek harus makan, terus kembali minum obat penurun panasnya ya?" Tara langsung menyodorkan satu suapan kepada Embun.
Entah magnet darimana yang datang, Embun pun nurut saja, membuka mulutnya yang masih terasa kaku dan air liurnya terasa pahit itu.
"Abang heran, kenapa kamu segitu bencinya kepada Abang? coba sebutkan satu alasan kuat yang mendasari kebencianmu." Ucap Tara penuh selidik. Walau Dia tahu alasan Embun membencinya pasti gara-gara Doly.
"Satu, karena Abang kamu jadi tidak menikah dengan Ardhi kan?" Tara menatap lekat Embun, yang menguyah makanan dengan pelan.
Embun mengangguk.
"Terus alasan kedua apa?"
"Doly.!" jawab Embun cepat.
"Ohhh iya, Abang baru ingat. Kamu tidak mau bertemu dengan Abang setelah kejadian itu. Baiklah Abang akan menjelaskan semuanya. Termasuk tentang Doly." Ucap Tara, kini Dia memasukkan makanan ke dalam mulutnya sendiri.
"Kamu menyukai Doly kan?" tanya Tara sambil tersenyum.
"Iya dulu, Aku menyukainya. Dia baik kepadaku. Tidak seperti kamu. Jahat...!" Jutek Embun, memiringkan mulutnya ke samping. Ekspresi wajah Embun jadi semakin menggemaskan.
"Tapi, sekarang Dia telah tiada. Dan Aku sudah mendapatkan penggantinya."
"Pak Ardhi?"
"Iya, dan kamu tetap akan Aku benci dari dulu, sekarang dan seterusnya." Tegas Embun, menantang Tara dengan melototkan matanya.
"Oh iya, baguslah. Tapi sekarang kamu harus makan banyak dulu, agar punya tenaga untuk begadang malam ini." Tara kembali menyuapi Embun. Dengan kesal Embun tetap saja menerima suapan Tara.
Mendengar pintu dibuka, Tara menatap ke arah pintu, melihat Mamanya yang datang membawa gelas besar, yang berisi ramuan herbal.
"Enak ya sayang makan dari suapan Tara?" Mama Nur meletakkan gelas berisi minuman herbal yang masih mengeluarkan kumpulan asap itu.
Mendengar ucapan Mama Mira, Embun menolak suapan dari Tara.
"Amang borumu juga seperti Tara. Senang sekali menyuapi Bou." Mama Mira kembali mengecek suhu tubuh Embun dengan meletakkan punggung tangannya di kening Embun.
"Kamu masih panas sayang, makan yang banyak ya biar cepat sembuh." Mama Mira, mengelus kepala Embun.
Embun tersenyum menatap Ibu Mertuanya yang begitu menyayanginya.
Selesai makan dan minum obat. Embun dan Tara kembali dirias. Kali ini mereka memakai baju adat pengantin. Setelah bagda isya acara kembali dilanjutkan. Dan kali ini, Tara dan Embun akan duduk manis di pelaminan menyaksikan tarian tor-tor dari semua pihak yang bergantian sesuai urutan masing-masing.
Untuk menutupi mata kantuk kedua mempelai. Maka mereka akan memakai kaca mata hitam, yang diberi nama dengan Marrebem. Acara manortor semalam pun di mulai hingga akan berlanjut keesokan harinya. Yang ditutup dengan tarian tor-tor kedua pengantin.
__ADS_1
Anggap saja ini Tara dan Embun. Mereka harus nampak bahagia saat pemotretan.